Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Hidup dan Mati


__ADS_3

Arkan juga mulai melihat dengan jelas situasi di lantai bawah, lalu dia berteriak, "Perhatian semua, mereka sudah naik, tembak!"


Sebuah senapan Gatling disiapkan di persimpangan di lantai dua. Senapan mesin ini sudah pasti iblis di medan perang! Mesin ini mendorong amunisi berbaris secara merata dengan menggoyangkan engkol, kemudian amunisi akan bergerak terus hingga ke lubang yang tersedia dan terkunci. Dengan total 6 barel, laju tembakan mencapai 200 peluru per menit.


Yang mengoperasikan senapan Gatling ini adalah Lintar 6. Seiring dengan suara teriakan, sederetan peluru dan cahaya hijau yang menyilaukan berterbangan di udara dari lantai dua menuju ke bawah.


Alex mendapatkan kembali penglihatannya tiga atau empat detik lebih awal dari para ******* ini, dan 4 detik inilah yang menjadi waktunya untuk menyelamatkan diri. Saat melihat senapan mesin dipasang, mereka segera melompat untuk menghindari. Nova bersembunyi di bawah tangga, sedangkan Alex melompat ke ambang jendela, seluruh tubuhnya tergantung di luar jendela.


Nova tidak bisa mengangkat kepalanya karena serangan peluru, melihat bahwa tangga akan terputus karenanya, Alex bergelantungan di jendela dengan satu tangan dan menembak dengan tangan yang satunya lagi. Dia tidak melihat penembak senapan mesin, jadi dia hanya menembaknya berdasarkan feeling, dan tembakannya tepat mengenai dahi Lintar 6!


Dalam seketika suara senapan mesin tidak lagi terdengar!


Nova melompat keluar dari bawah tangga dan naik ke lantai dua. Dia segera meraih Gatling, kemudian berteriak sambil memutar arah senjata, dan mulai menembak ke arah lantai 2. Senjata yang sama jika berada di tangan siapapun akan menjadi mimpi buruk bagi lawan!


Olivia menyayangkan kematian Lintar 6, dan sekarang dia dihantam badai peluru oleh Nova, dia sangat kesal. Melalui interkom, dia berkata kepada penembak jitu di lantai tiga: "Tangga lantai dua, bunuh penembak mesin itu!"


Penembak jitu di lantai tiga adalah Lintar 9, dia tidak mengerti dengan keadaan sekarang, "Komandan, bukankah penembak mesin itu orang kita?"


"Bodoh! Itu musuh, bunuh dia!"

__ADS_1


Lintar 9 masih tidak mengerti dengan perintahnya, dia masih bertanya-tanya dalam hati, "Apa-apaan ini? Apa Lintar 6 berkhianat? Jadi aku harus membunuh saudaraku sendiri? Jangan-jangan aku salah dengar?"


Dia mencondongkan tubuh dari area pengintaian di lantai tiga dan melihat ke bawah. Tak disangka begitu dia menunjukkan tubuh, sebuah peluru langsung mengenai dada Lintar 9. Alex kembali melepaskan tembakkan, dan Lintar 9 terjatuh dari lantai tiga.


Para anggota tentara bayaran Petir berangsur-angsur kehilangan nyawa, jika keadaan ini terus berlanjut, dirinya juga pasti akan mati. Tim penyerang khusus ini benar-benar tangguh sekali. Arkan yang menyadari parahnya situasi segera memberi perintah, "Oliv, ayo mundur! Kita pergi ke tumpukan bom, mati sekalipun juga harus mati bersama!"


Belum sampai 5 menit, peluru Gatling Nova sudah habis ditembakkan. Setelah memeriksa medan perang di lantai dua, dia menemukan beberapa ******* Petir telah terbunuh. Mayatnya telah hancur, dan sudah tidak tahu berapa banyak yang terbunuh.


Saat tiba di lantai tiga, ditemukan lagi dua mayat, tetapi sosok Arkan, Olivia, dan Sandi tidak ditemukan, mungkin mereka telah melarikan diri ke tempat lain.


Keduanya mengumpulkan anggota tim mereka dan menemukan bahwa selain satu anggota tim telah gugur, masih ada dua tentara lagi yang terluka. Meskipun tidak fatal, tapi hal ini cukup mempengaruhi pergerakan mereka. Nova meminta Evan tinggal untuk merawat dua orang yang terluka itu dan menghubungi komandan di luar, sedangkan dia dan Alex memimpin anggota tim lainnya keluar dari gedung dan mencari di tempat lain.


Pesawat pengintai udara mengirim pesan, “Ada lima ******* telah melarikan diri dari atas gedung menggunakan tali. Tampaknya mereka pergi ke pintu masuk bawah tanah, itu tempat penyimpanan bahan peledak."


Setelah melewati lorong bawah tanah yang panjang, mereka akhirnya sampai di sebuah pintu aula. Bisa dipastikan saat ini kalau musuh berada di dalam, tetapi entah di mana mereka bersembunyi, bahayanya terlalu besar jika masuk begitu saja.


Nova memanggil seorang pemimpin tim, dan menyiapkan dua peluncur granat kedap suara, dua bom granat ditembakkan melewati jendela kaca dan memasuki aula.


Dua buah granat masuk ke dalam aula dan meledak, lalu mengeluarkan asap, seiring bunyi percikan, asap yang dikeluarkan juga semakin besar. Ini adalah bom asap untuk membius saraf.

__ADS_1


Dalam 10 detik, asap dapat mencapai ketinggian rendah 2000 meter persegi. Setelah seseorang menghirup lebih dari 15 miliampere gas ini, sistem saraf mereka mungkin akan mengalami efek kelumpuhan yang kuat, dan bahkan dapat menyebabkan syok.


Aula ini sejak awal memang sebuah ruang tertutup, jadi efek dari bom gas semacam ini akan semakin baik. Asap putih perlahan menyebar kemari, tampak seperti negeri dongeng, tetapi sebenarnya itu sangat berbahaya. Sepuluh menit kemudian, Nova yang merasa waktunya sudah cukup, memerintahkan, "Pakai masker gas, bersiap, maju!"


Dia menendang pintu aula hingga terbuka dan bergegas masuk. Asapnya sudah berangsur-angsur menghilang sekarang, jadi mereka dapat melihat dengan jelas barisan pipa di dinding. Di dalam ruangan di aula tersebut terdapat sebuah mesin yang sedang bekerja, tetapi tidak ada orang yang terlihat.


Kemana perginya semua ******* itu? Apa kami salah tempat? Para penyerang khusus memegang senjata mereka dengan waspada, sebuah firasat buruk perlahan-lahan muncul di benak mereka. Semua orang berpasangan dalam bentuk saling membelakangi, dan masuk satu per satu ke dalam.


Tiba-tiba terdengar bunyi ledakan, matahari seolah-olah meledak di bagian tengah atap dan memancarkan cahaya yang kuat. Ruangan aula seketika menjadi sangat terang sehingga penglihatan setiap orang terganggu. Cahaya yang menyilaukan itu membuat para penyerang khusus buta untuk sementara waktu.


Sialan, mereka membalasnya. Tadi saat di ruang kendali utama, Evan menggunakan suar pada musuh, dan sekarang musuh menggunakannya pada mereka. Karena tidak dapat melihat apapun, otak mereka juga seketika jadi mati rasa dan seluruh tubuh seolah-olah terpaku di tempat.


Syut, syut! Terdengar suara pisau diayunkan di udara, lalu disusul oleh suara gesekan logam, kemudian suara pisau menebas rompi anti tubuh, suara jeritan ditebas seketika memenuhi ruangan.


Para ******* menghindari bom asap yang ada di aula, dan kemudian melakukan serangan balik dengan suar. Melihat para penyerang khusus tidak dapat membuka mata, mereka mengenakan masker gas dan langsung menyerang ke arah mereka dengan pisau. Saat ini hampir semua orang bertindak secara membabi buta, mereka hanya mengandalkan pengalaman tempur dan pendengaran untuk mempertaruhkan hidup dan mati, dalam sekejap, daging dan darah berterbangan, aula tersebut menjadi neraka di bumi.


Setelah 3 menit yang panjang berlalu, efek suar cahaya yang kuat juga sudah menghilang. Semua orang perlahan membuka mata mereka dan melihat ke lantai. Mayat-mayat tergeletak di mana-mana. Nova memeriksa anggota timnya dan rupanya 3 orang telah gugur.


Sedangkan pihak Arkan, selain Sandi yang terluka parah, hampir tidak ada yang tersisa lagi. Alex mengarahkan pisau tepat di dada Arkan, sedangkan pedang panjang Arkan bertumpu di leher Nova.

__ADS_1


“Jangan bergerak!” Sandi yang sedang tergeletak di tumpukan mayat tiba-tiba mengangkat tangan kanannya, “Detonator bom ada di tanganku! Kita semua akan mati kalau aku menekannya.” Setelah mengatakannya, dia kembali memuntahkan darah lagi.


Pada saat ini, Olivia keluar dari sebuah kamar sambil membawa Nyonya Ningsih, "Kapten Ardiansyah, kita bertemu lagi. Apa kalian pikir, kalian sudah menang? Menurutku belum tentu, Nyonya Ningsih masih berada di tangan kami, detonator juga masih ada di tangan kami!"


__ADS_2