
Selain itu, tadi Alex jelas-jelas mendapatkan tujuh dan delapan poin, sedangkan skor terburuk Edrick juga di atas sembilan poin.
Harus menembakkan lima peluru dalam sepuluh detik dan juga harus mendapatkan skor terbaik, persyaratan ini cukup berat.
“Laporkan hasil tembakan!” teriak Suseno.
Orang di sana segera membalas dengan semafor: Sasaran tembak satu, 49.5 poin.
Saat melihat ini, semua orang menghela nafas lega: Performa Edrick sudah sangat bagus!
Semafor terus melaporkan sasaran tembak dua, semua memandangnya dengan serius: 49.9 poin? Nggak mungkin, kan? Bagaimana bisa begitu?
Suseno juga tertegun, setelah terdiam sejenak, dia tiba-tiba berteriak, “Laporkan ulang!”
Tidak terima! Bagaimana mungkin Alex bisa mendapatkan hasil yang begitu bagus? Ini sangat mustahil, kan?
Alhasil, orang di sasaran tembak melaporkan ulang dan hasilnya tetap sama.
Edrick langsung murung dan menatap Alex dengan tatapan tidak percaya. Ia menggelengkan kepalanya sambil menggumamkan sesuatu.
Letnan Jenderal Egy berkata dengan keras, “Kompetisi pistol tembak cepat, Alex menang!”
Lalu, Letnan Jenderal Egy melihat Suseno, “Apakah kamu masih punya kepercayaan diri untuk kompetisi senapan runduk selanjutnya?”
Suseno berkata keras, “Lapor Komandan! Kami memiliki keyakinan untuk menang!”
Letnan Jenderal Egy berkata, “Jika kalian kalah lagi, takutnya kamu benar-benar akan menjadi bawahannya.”
Suseno memutar matanya dan berkata, “Nggak mungkin!”
“Baiklah, siapa yang akan bertarung dengan Alex untuk senapan runduk?” kata Letnan Jenderal Egy dengan santai.
Sebenarnya dia juga sangat kaget: Teknik menembak Alex benar-benar bisa dikategorikan sebagai penembak ulung!
“Jackie Samantra, maju!”
“Lapor Kapten, Jackie hadir!” Seorang pria kekar keluar dari barisan dan berteriak keras.
“Jackie, apakah kamu yakin dengan teknik senapan rundukmu?” Suseno terus menyemangati prajuritnya.
“Yakin!” Suara Jackie keras.
Alex masih mencoba pistol dengan menembak dua kali seperti tadi. Dia mendapatkan delapan dan sembilan poin, tampaknya jauh lebih baik daripada saat mencoba pistol tangan.
__ADS_1
“Alex, apakah kamu sudah siap?” tanya Suseno dengan keras.
“Sudah.” Alex memasukkan peluru.
Suseno mengangguk, “Kalian berdua dengarkan baik-baik. Waktunya dua menit, tembak dalam posisi berdiri, sepuluh peluru harus ditembakkan dalam waktu yang ditentukan, kemudian baru bandingkan hasilnya.”
“Ya!” jawab Alex.
“Baik!” jawab Jackie dengan keras.
“Bersiap… mulai!” teriak Suseno, dia juga mengepalkan tangannya untuk memberi isyarat 'Semangat' pada Jackie.
Dor! Senapan Alex berbunyi lebih dulu dan Jackie segera mengikuti: Dor! Dor!
Katanya dua menit, tapi nyatanya mereka berdua selesai menembak dalam waktu satu menit beberapa detik.
Dalam hal kecepatan, Alex satu detik lebih cepat.
“Laporkan hasil tembakan!” Suseno berteriak keras.
“Sasaran tembak satu, total 98.6 poin!”
“Lanjutkan!”
“Apa?!” Kali ini giliran Suseno yang tidak bisa tenang, “Alex mendapatkan 99.3 poin? Ini sepuluh peluru! Apakah anak ini berlatih tembak setiap hari? Jika tidak, dia tidak akan memiliki teknik tembak yang begitu luar biasa!”
Semua anggota pasukan khusus tercengang: Nggak mungkin, kan? Bahkan bisa mengalahkan Jackie? Bagaimana dia bisa melakukannya?
“Nak, hasil seperti ini sudah cukup untuk ikut olimpiade!” Letnan Jenderal Egy juga sangat terkejut. Sepuluh tembakan berturut-turut dan masih bisa mendapatkan hasil yang bagus bukanlah sesuatu yang bisa dicapai penembak biasa!
Alex menggelengkan kepala dengan santai, “Nggak punya waktu ikut.”
Setelah mendengar hasil tembakan lagi, Jackie langsung terduduk di tanah dan tertegun sambil menggumamkan sesuatu.
Anggota pasukan khusus hendak melakukan satu gerakan: Bersiap untuk memapah Jackie yang sangat terpukul! Tapi mereka semua nggak berani bergerak! Harus menjaga barisan! Komandan masih ada di sini!
Wajah Suseno juga sangat jelek, tapi dia bahkan lebih marah saat melihat tampang Jackie, “Jackie! Berdiri!”
Nova memelototi Suseno dengan tajam dan melengkungkan bibirnya yang indah dengan meremehkan.
Saat mendengar kata-kata itu, Jackie segera berdiri dan kembali ke barisan.
Semua anggota pasukan khusus melihatnya dengan tatapan menghibur, tapi nggak ada yang berani bicara sembarangan di dalam tim.
__ADS_1
Ketika semua orang melihat Alex lagi, tatapan mereka sulit percaya: Bagaimana orang ini melatih teknik tembaknya? Seluruh tim pasukan khusus mengetahui seberapa kerasnya Jackie dan Edrick dalam berlatih menembak!!
Prak, prak! Nova nggak takut dibenci, dia bisa-bisanya langsung tepuk tangan.
Ferdy Kursan, kapten SWAT mau tidak mau juga bertepuk tangan! Bryan, ketua biro juga bertepuk tangan!
Tim pasukan khusus wilayah militer benar-benar sangat malu setelah kompetisi teknik tembak!
“Ah!” Suseno berteriak keras, mengepalkan kedua tangan erat-erat dan angkat tinggi-tinggi, “Selalu siap!”
Anggota pasukan khusus mau tidak mau juga berteriak bersama, “Selalu siap! Datang untuk bertarung, bertarung hanya bisa menang!”
Suseno balik kanan dan menghadap Alex, “Aku sekarang menantangmu bertarung ilmu bela diri. Mohon petunjuknya!”
Alex tersenyum kecut, “Kalian sudah kalah dua babak, apakah kamu masih ingin lima babak tiga kali menang?”
Suseno berkata dengan keras, “Lima babak tiga kali menang juga boleh!”
Letnan Jenderal Egy mengangguk, “Ya, jika lima babak tiga kali menang, tim pasukan khusus masih ada peluang untuk membalikkan situasi.”
Suseno mengepalkan tangan ke Alex, “Ayo mulai!”
Alex berkata main-main, “Kapten Suseno, jika babak ini aku menang, dua babak selanjutnya nggak perlu lagi, kan?”
Suseno ragu-ragu sejenak, “Eh…”
Letnan Jenderal Egy berkata, “Kurasa lebih baik menyelesaikan semua babak.” Sebenarnya dia sangat menantikan kualitas militer Alex: Seberapa banyak kejutan yang bisa dia berikan padaku?
Pantas saja orang seperti Roselline juga bisa memperlakukannya secara khusus! Orang ini memang luar biasa!
Suseno melakukan pemanasan di tempat sebentar sebelum dia menghadapi Alex dengan penuh semangat. Dia menurunkan tubuhnya dan berdiri kuat menatap Alex dengan dingin. Tatapan seperti ini adalah tatapan seorang prajurit yang sudah berpengalaman.
Di sisi lain, Alex berdiri dengan tenang. Nggak terlihat sedikitpun tanda-tanda sudah pemanasan, kemudian dia menurunkan tubuhnya dan menggerakkan tangannya ke Suseno, artinya: Sudah bisa mulai.
Sebenarnya Alex sudah melihat dari tangan, mata, tubuh dan langkah Suseno, Suseno memiliki pemahaman yang sangat baik tentang ilmu bela diri. Sekarang dia sudah berada di tingkat master, setidaknya level menengah atau lebih tinggi! Tidak heran bisa menjadi kapten besar pasukan khusus, tentu itu bukan hanya nama saja.
Anggota pasukan khusus juga melebarkan mata memperhatikan pertempuran ini.
Mereka tentu saja yakin dengan kapten besar mereka! Selama pelatihan biasa, terutama dalam simulasi pertempuran, nggak ada satu anggota pun yang bisa melawan Suseno lebih dari tiga gerakan.
Jadi anggota pasukan khusus sangat mengagumi kapten besar mereka!
Anggota tim ini tahu betul selama kapten besar mengerahkan seluruh kekuatannya, mereka bahkan nggak bisa melawan satu gerakan pun! Tinju kapten besar terlalu berat!
__ADS_1