Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Pengepungan


__ADS_3

Pradana memahami satu hal. Pemuda ini awalnya adalah lawan yang sebanding dengannya, tetapi sekarang salah satu lengannya patah, jika dia masih bertanding dengannya, bukankah sama saja dengan cari mati? Memikirkan hal ini, dia memutuskan untuk beradu kekuatan kaki dengan Alex.


Pradana membungkuk dan menendang sendi lutut Alex berturut-turut dengan kedua kakinya. Kekuatan kakinya sejak awal memang kebih kuat dari tinjunya, sapuan beruntunnya, seperti dua kapak raksasa yang mencoba memotong kaki Alex.


Melihat serangannya yang ganas, alih-alih menghadapinya, Alex malah melompat dan menyerang tubuh bagian atas lawannya. Pertandingan antar ahli selalu memahami kelemahan lawan, Alex sekarang menargetkan lengannya yang terluka.


Pradana sama sekali tidak takut, dia berteriak, "Bagus sekali!", kemudian dia ingin meraih pergelangan kaki Alex, dan melemparkannya sekuat tenaga. Namun, dia tidak menyangka bahwa baru saja tangannya menyentuh kaki lawan, seluruh tubuh Alex seperti ikan, tiba-tiba menghilang begitu saja.


Hal ini membuat Pradana terkejut, jelas-jelas ada di depannya, mengapa tiba-tiba menghilang? Dia segera waspada dan melihat sekeliling, tapi dia malah mendengar Alex mencibir di belakangnya, "Pak Tua, aku ada di belakangmu, tapi kenapa kamu tidak bisa melihatnya?"


Meskipun suaranya kecil, tapi itu terdengar seperti guntur di telinga Pradana. Karena dengan persepsinya dan radius puluhan meter, nafas dan setiap gerakan musuh bisa dirasakannya, tapi kenapa sekarang dia sama sekali tidak menyadari lawan yang ada di belakangnya?


Meskipun terkejut, Pradana tetap beraksi. Namun, Alex tepat di belakangnya, hanya dengan sentuhan yang ringan, Pradana seketika berlutut dengan satu kaki.


Alex tidak memberinya lebih banyak kesempatan. Dia mengangkat kakinya ke ************ Pradana dan menendangnya. Krak, dia terhempas begitu saja. Dia berguling-guling dan menabrak pohon besar di sebelahnya sebelum dia berhenti.


Pradana duduk bersandar di pohon besar, baru saja akan berdiri, dia menemukan bahwa salah satu kakinya telah patah, dia tidak bisa mengerahkan kekuatan sama sekali, lalu terduduk lagi.


Alex berhenti di depannya dengan tenang. Perlahan mengangkat tangannya sambal memandang Pradana dengan senyuman penuh arti, "Pak Tua, bagaimana?"


Pradana menundukkan kepalanya tanpa bersuara, anak buahnya segera berkumpul di sekitar: "Instruktur, ada apa denganmu?"


"Semuanya, bunuh anak ini!"

__ADS_1


Orang-orang ini juga sedikit bingung. Instruktur mereka yang sangat pandai saja dipukuli hingga seperti ini, jika mereka maju, bukankah artinya mereka mengantarkan nyawa secara cuma-cuma?


Alex sangat santai, tetapi ketiga orang itu seperti terkena sengatan listrik, ada yang mundur dengan memegangi kaki, ada yang memegang kepala, dan ada yang merangkak.


Namun, pengepungan merekalah yang memberi Pradana kesempatan untuk bernafas. Dia mengangkat kepalanya dan mengeluarkan raungan besar, kemudian mentransfer seluruh kekuatan ke telapak tangan kirinya,  satu pukulan ini untuk Alex. Jika ini berhasil mengenainya, maka dia bisa mengubah kekalahan menjadi kemenangan! Dia ingin melawan Alex dengan pukulan terakhir apapun yang terjadi.


Alex mengeluarkan telapak tangannya untuk melawan telapak tangan Pradana. Pradana masih duduk bersandar di pohon, pukulan yang menggunakan seluruh tenaganya berhasil membuat Alex mundur beberapa langkah.


Kekuatan kaki Alex yang digunakan untuk menyeimbangkan badan, malah membuat sebuah lubang besar di tanah. Dia mencibir, lalu mengatur pernapasannya, tetapi lawannya masih duduk di sana dan tidak bisa bangun.


Hengky memegang tongkat panjang dan melompat dari samping: “Alex, kenapa masih membuang waktu dengan lelaki tua ini? Pukul saja dia sampai mati!” Begitu dia datang, bawahan Pradana yang telah menunggu di dalam hutan seketika bereaksi. Mereka keluar dari tempat persembunyian dan mengepung Hengky, sebuah pertandingan snegit terjadi lagi.


Saat ini, Pradana juga telah putus asa. Dia merasa kekuatannya menghilang sedikit demi sedikit, darahnya terkuras setetes demi setetes, tubuhnya sedang berada di ambang kehancuran, hal ini membuatnya merasa sangat menyedihkan.


Pradana tiba-tiba mengertakkan gigi dan menggigit setengah lidahnya, “puftt”, darah segar menyembur keluar. Alex menyampingkan tubuh untuk menghindari noda darah, kemudian melihat lawan mengeluarkan satu pukulan lagi, seolah-olah telah menggunakan kekuatan terakhir dari seluruh tubuhnya.


Pukulan terakhir ini benar-benar kuat, hembusan angin menyapu pakaian Alex dan mengenai sebuah pohon besar, pohon itupun tumbang.


Sedangkan Pradana memuntahkan darah lagi, dan tubuhnya seperti genangan air, duduk lumpuh bersandar di batang pohon besar.


Dia tidak menyangka bahwa iblis yang telah membunuh nyawa yang tak terhitung jumlahnya dan tak pernah gagal, sekarang akan kalah dan bahkan kehilangan nyawanya.


Begitu Pradana meninggal, anak buahnya dengan cepat menyerang dan mengalahkan Hengky, lalu bergegas menhampiri Pradana. Melihat lehernya miring ke satu sisi, dan juga darah yang masih mengalir dari mulutnya, bagian dadanya telah berlumuran darah.

__ADS_1


Orang-orang ini biasanya memiliki hubungan yang sangat baik dengan Pradana, bisa dikatakan hubungan mereka lebih dari sekedar guru dan murid, melainkan seorang teman. Tadinya mereka sempat berpikir untuk membantunya, tetapi lelaki tua ini selalu menganggap dirinya hebat, tidak suka orang lain membantunya, akibatnya dia malah dipukul sampai mati di hadapannya.


Melihat mereka datang, Pradana mencoba mengangkat jarinya dan mengatakan sesuatu dengan napas terakhirnya, tapi hanya "Beruang Hitam... Bunuh ..." yang diucapkan, dan dia tidak bisa mengatakannya lagi. Begitu jarinya jatuh, dia benar-benar tidak bernafas lagi.


Beberapa orang ini memanggilnya lagi, tetapi Pradana sudah tidak bisa mendengarnya. Kelima orang itu kembali menatap Alex dengan mata merah: "Kamu! Apakah kamu yang membunuh instruktur kami?"


Alex berdiri di sana dan menjawab dengan dingin, "Dia pantas mendapatkannya!"


Fabian memikirkan beberapa kata terakhir yang dikatakan Pradana, lalu berdiri dengan marah dan bertanya: "Kamu dari Gang Beruang Hitam? Siapa namamu? Apa kamu berani mengataknnya secara langsung?" Empat orang yang tersisa juga melangkah maju untuk mengepung Alex.


"Apa yang harus ditakutkan?" Alex berkata sambil tersenyum: "Kamu bisa memeriksanya, aku Alex Gunawan! Kalian semua dari organisasi Pencabut Nyawa, kan? Ambil nyawaku kalau bisa.”


Itu benar-benar dia! Mereka saling memandang ketakutan. Namun, mereka memiliki hubungan yang sangat baik dengan Pradana. Begitu memikirkan kematiannya yang tragis, api balas dendam berkobar di dalam hati mereka, lalu berkata: "Tidak peduli siapa dia, dia harus membayar dengan nyawa karena membunuh Instruktur kita! "


Pikiran Fabian relatif tenang, dia memikirkan situasinya barusan, berpikir bahwa alasan Pradana kalah dari Alex terutama karena dia sudah terluka dan kehilangan sedikit kekuatan. Sekarang mereka berlima mungkin tidak akan kalah. Apalagi di kompetisi sebelumnya, Alex pasti menghabiskan banyak tenaga.


Memikirkan hal ini, Fabian tiba-tiba memerintahkan: “Semuanya, bunuh Alex untuk membalaskan dendam instruktur!” Empat orang lainnya setuju dan berdiri berbaris.


Namun, seiring teriakan Fabian, posisi mereka juga terus berubah, hingga akhirnya mengepung Alex ke tengah lingkaran.


Awalnya Alex tidak menganggap mereka sama sekali, merasa bahwa tidak peduli seberapa hebat mereka, mereka tidak akan lebih hebat dari Pradana, jadi tidak perlu terlalu banyak usaha untuk menjatuhkan beberapa tikus kecil.


Tetapi ketika mereka mulai beradu kekuatan, itu sama sekali tidak benar. Karena dia menyerang Fabian yang ada di tengah, targetnya malah tiba-tiba mundur, sementara lawan di kedua sisi menyerang dari samping. Baru saja Alex menyerang lawan dari dua sisi, dia menemukan bahwa posisi mereka tiba-tiba menjadi bentuk segitiga.

__ADS_1


Hingga saat ini, Alex baru menyadari bahwa beberapa orang ini lebih sulit dihadapi daripada Pradana. Meskipun keterampilan individu dari orang-orang ini tidak baik, tapi mereka bekerja sama dengan baik dan membentuk tingkat kematian yang tinggi.


__ADS_2