
Sebagai pemimpin Gang Beruang Hitam, Andi nggak sudi membuang waktunya untuk sampah seperti Bob! Andi langsung menargetkan kaki kanan Bob setelah mematahkan kaki kirinya.
“Gak! Setan kamu!” Dengan mata kepalanya sendiri, Bob melihat luka yang nggak dapat disembuhkan muncul di kaki kirinya, dia pun jatuh tidak sadarkan diri lagi.
Carl yang menyaksikan peristiwa secara langsung itu mendadak merasa selangkangannya hangat, dia mengompol?
Seharusnya dari awal hati Carl sudah kebal karena telah melihat banyak kematian selama berada di Korps Marinir. Tapi dia malah ketakutan seperti ini setelah melihat cara keras Andi.
Andi membuat Bob terbangun lagi, “Katakan! Siapa pemimpin kalian? Ada di mana mereka?”
“Aku sudah menangkap orang Stevanus. Kamu datang ke kantor cabang PT. Atish sebentar, hati-hati di jalan.” Alex menghubungi Dakson melalui telepon.
“Hah? Syukurlah! Aku segera membawa orang ke sana!” Dakson langsung melompat dari kasurnya dan nggak peduli meski sudah jam dua malam begitu mendengarnya, “Berkumpul! Segera berkumpul! Tugas penting! Cepat!”
Sebenarnya saat ini pasukan Dakson sudah babak belur bertempur dengan Stevanus, master baru yang dipanggil itu juga belum tiba, sehingga Dakson pun bersembunyi.
Tapi Dakson merasa percaya diri mendengar Alex berhadapan dengan Stevanus. Alex adalah seorang master yang benar-benar kuat! Tentu saja dapat bekerjasama dengan Alex untuk melawan Stevanus adalah keputusan yang paling baik.
Walaupun dikatakan sebagai penggabungan, namun hanya ada tujuh orang yang tersisa di pihaknya.
Penyergapan yang dilakukan oleh Stevanus membuat Dakson kehilangan setengah pasukannya.
Dakson tiba di alun-alun di luar kantor cabang PT. Atish setengah jam kemudian, Alex bergegas pergi menyambutnya.
Sepanjang perjalanan, Dakson sudah merasa kalau Alex sudah membentuk jaringan pertahanan yang kuat di sekitar gedung ini. Kekuatan yang besar seperti itu pasti tidak akan lebih lemah dari Stevanus.
“Tuan Alex, senang berjumpa denganmu, sebenarnya apa yang terjadi?” Dakson tahu kalau ada orang Alex yang melindungi di sekitar, sehingga dia tidak sembunyi-sembunyi lagi dan berjabat tangan dengan Alex dengan terbuka.
Alex berkata, “Kami sudah menangkap dua orang kulit putih. Salah satunya bernama Bob, satunya lagi bernama Carl, tampaknya keduanya adalah penembak jitu.”
“Hah?” Dakson sangat senang, “Bagus! Apakah dua orang itu sudah mengaku? Di mana Stevanus bersembunyi? Apakah di Kediaman Japari?”
__ADS_1
Alex menggelengkan kepala, “Untuk saat ini mereka masih belum mengaku, tapi nggak lama lagi. Di samping itu, menurutmu apa yang akan dilakukan oleh Stevanus ketika mendadak kehilangan dua penembak jitu?”
Mata Dakson berbinar, “Berdasarkan keangkuhannya, Stevanus pasti akan membawa orang mencari ke sini! Tuan Alex sudah memasang perangkap, Stevanus pasti nggak dapat kabur!”
Berdasarkan pengamatannya terhadap rencana Alex, Dakson berani mengatakan kalau Alex tidak hanya seorang master sejati, tapi juga paham betul dengan masalah kemiliteran.
Sehingga Dakson berkata dengan tulus, “Tuan Alex, katakan saja apa yang perlu kami lakukan! Kami pasti akan bekerjasama denganmu dengan baik!”
Dakson yang awalnya arogan, hingga sekarang menjadi patuh, perubahan sikapnya kepada Alex menunjukkan pengakuannya terhadap Alex.
Alex menyipitkan matanya dan menuturkan, “Jenderal Dakson, kamu juga pasti sudah melihat penataanku selama perjalanan ke sini, itu adalah sebuah pengepungan! Tapi aku nggak berniat menghabisi Stevanus, tapi aku bertekad menghajarnya hingga kesakitan! Oleh sebab itu, aku akan memberikan sebuah celah, yakni satu-satunya jalan bagi Stevanus untuk mundur. Jenderal Dakson, jika kamu bersedia...”
“Tentu saja bersedia! Haha!” Dakson tertawa terbahak-bahak, “Tuan Alex, aku akan segera membuat perencanaan! Sampai jumpa!”
Dakson membawa ketujuh orangnya dan sirna dengan segera.
Mark berjalan menghampiri, “Bos, apakah orang itu dapat dipercaya?”
Mark menunjukkan senjata laras panjangnya, “Tenang saja bos, asalkan orang itu menunjukkan gelagat ingin mencelakai kita, maka aku nggak akan ragu-ragu untuk meledakkan kepalanya!”
“Iya, tujuan kita tetaplah melukai Stevanus,” kata Alex.
“Baik!” Mark menerima perintah. Bayangannya segera melesat dan menghilang di dalam kegelapan. Dia pergi mencari lokasi penembakan yang terbaik.
Penembak jitu Mark adalah keberadaan yang istimewa di dalam pasukan Andi. Mark bersembunyi dan memberikan bantuan di saat orang lain sedang bertempur. Di saat orang lain belum tiba, dia sudah menunggu di posisinya.
“Komandan Stevanus, Bob dan Carl nggak dapat dihubungi!” Emosi Stevanus langsung meledak ketika mendapatkan laporan tersebut!
“Apa? Apakah ternyata Bob dan Carl ditangkap pada waktu yang sama? Dua bedebah itu!” Sreet! Stevanus mengeluarkan pistolnya, “Saudara-saudara, kita harus menyelamatkan mereka!”
“Baik! Semuanya bersiaplah! Target kita adalah kantor cabang PT. Atish!” seru prajurit penerus perintah dengan nyaring. Para prajurit terlatih tersebut langsung merangkak bangun dari ranjang dalam diam dan segera berpakaian, dilengkapi dengan senjata dan amunisi. Hanya dalam beberapa menit saja mereka sudah membentuk pasukan yang rapi dan berdiri di hadapan Stevanus.
__ADS_1
Dua puluh orang dikurang tiga orang, untuk saat ini masih tersisa tujuh belas orang.
Jika nggak ada penambahan prajurit, pertempuran akan selalu membuat anggota pasukan berkurang.
Stevanus berjalan di hadapan pasukan, dalam sekejap dia kembali tenang lagi, “Saudara-saudara, Bob dan Carl adalah saudara kita! Tertangkapnya kedua orang itu paling nggak menunjukkan kalau pihak Alex memang memiliki master yang hebat! Oleh sebab itu, aku berharap semuanya dapat bersungguh-sungguh pada pertempuran selanjutnya! Sama sekali nggak boleh meremehkan musuh sedikit pun! Meremehkan musuh berarti kematian!”
Stevanus mengangkat tatapan matanya dan menoleh ke arah kantor cabang PT. Atish, “Kemungkinan besar yang menunggu kita di sana adalah sebuah pengepungan yang haus akan darah! Oleh sebab itu, kita harus memastikan keselamatan ketika mendekati posisi lima ratus meter dari pihak lawan, setelahnya baru bisa meneruskan perjalanan, nggak boleh gegabah sedikit pun! Mengerti gak?”
“Mengerti!”
“Bagus sekali, aku percaya kalau saudara-saudara sekalian adalah yang terbaik! Berangkat!” perintah Stevanus, tujuh belas orang itu masuk ke dalam kegelapan malam yang dingin bersama-sama.
Jam tiga subuh, semua lampu di seluruh ruangan gedung PT. Atish mati.
Seluruh gedung berada di dalam kegelapan, tampak seperti monster yang sangat besar.
Tidak ada gerak-gerik apa pun di sekitar gedung yang sunyi, bahkan tidak ada penjaga keamanan yang berpatroli.
Udara dingin yang menusuk tulang, walaupun hanya angin sepoi-sepoi, tapi tetap membuat wajah yang tertiup menjadi beku.
“Formasi penyerangan! Perhatikan keselamatan!” Dari jarak lima ratus meter, pasukan penyerangan yang terbentuk dari tujuh belas orang itu menggunakan taktik kamuflase untuk mendekati gedung kantor cabang PT. Atish dengan sabar dan perlahan-lahan.
“Aman!”
“Aman!”
“Aman!”
Dengan saling memberikan laporan seperti itu, tujuh belas orang tersebut membentuk pasukan sepanjang seratus meter, berbelok ke sebuah jalan, berputar di sebuah sudut, gedung target ada di depan mereka dari jarak dua ratus meter.
“Sembunyi, jangan gegabah!” perintah Stevanus. Tujuh belas orang itu diam-diam mulai bersembunyi, nggak ada satupun orang di jalanan.
__ADS_1