
Wendy sangat gembira, "Kak Alex, aku sudah menyiapkan pesta di restoranku siang ini, dan kuharap kak Alex akan datang."
Alex berpikir sejenak, "Oke. Kebetulan kami mau makan di luar, kalau begitu makan di tempatmu saja."
Wendy sangat gembira. Dia segera memimpin jalan dan membawa Alex ke suatu tempat dekat laut. Ada sebuah restoran seafood yang berhadapan dengan laut. Bangunan ini adalah bisnis Wendy sendiri, dan bisnisnya sangat ramai.
Alasan mengapa Alex menerima undangan Wendy terutama mengingat tempat ini adalah kampung halamannya. Wendy bukan orang yang keji. Hal-hal buruk yang dia lakukan saat mengikuti Rangga sebelumnya, tidak lain karena dia juga tidak punya solusi saat itu.
Masih ada beberapa kerabatnya di Desa Sango kampung halamannya, seperti kak Nindi, yang ada kalanya juga membutuhkan perlindungan orang seperti Wendy.
Setelah selesai menyantap hidangan seafood, Alex berkata kepada Wendy: "Wendy. Aku juga memperkenalkannya padamu tadi. Edi adalah teman kecilku. Nona Yunita ini adalah adik iparku. Dia baru saja dibeli dari klub Phoenix Golden milikmu dengan harga yang tinggi.”
Wendy berdiri, "Karena dia adalah saudara kak Alex, maka dia juga saudaraku. Edi, ikut aku ke klub Phoenix sore ini, akan kuminta mereka mengembalikan uangmu. Serahkan saja urusan adik ipar padaku."
Alex melambaikan tangannya, "Wendy, jangan salah paham. Aturan tetap aturan. Aku tidak ingin menggertak orang. Tujuanku memberitahumu adalah agar kamu mempekerjakan Yunita nantinya. "
Wendy menepuk dadanya, "Kak, kata-katamu adalah perintah, dan aku akan mengikutinya."
Alex berkata: "Tidak perlu gimana-gimana. Aku ingin Yunita tetap di klub Phoenix untuk membantumu mengatur pertunjukan. Tujuannya adalah untuk belajar manajemen darimu. Di masa mendatang, mungkin aku juga akan melakukan kegiatan seperti itu."
Wendy berulang kali berkata: "Baik. Jangan khawatir, kak, aku akan melakukan ini dengan baik."
__ADS_1
Alex tiba-tiba berkata, "Wendy, ada yang mau kutanyakan padamu."
Wendy berkata dengan hormat: "Kak Alex, tanyakan saja, aku akan mengatakan yang sebenarnya jika aku tahu."
Alex berkata: "Ada seorang pria bernama Elno di sekitar sini. Tingginya sekitar 170 cm, usianya kurang dari 40 tahun. Dia mahir dalam peledakan. Apa kamu kenal?"
Wendy berpikir sejenak, "Kak, apa maksudmu Elno Sutedjo? Dia ini anak kelima dalam keluarga, dan nama panggilannya Elno. Aku kenal dia, tapi tidak akrab. Aku dengar dia pernah bekerja di pertambangan. Akhir-akhir ini aku juga belum melihatnya. Kudengar dia merantau ke pusat sekarang."
Alex berkata, "Bantu aku selidiki keberadaannya, kalau ada kabar, langsung beritahu aku."
Wendy menjawab: "Tenang saja, aku akan mengirim seseorang untuk menemukannya segera. Asalkan dia masih bersembunyi di sekitar sini, aku pasti bisa menemukannya."
Alex mengemudi di depan, sedangkan mobil Wendy mengikuti dari belakang. Kedua mobil itu langsung menuju kembali ke timur sesudahnya.
Setelah kembali ke hotel, Alex berkata kepada Edi: "Kerjakan dulu urusanmu. Aku akan pergi ke sekolah malam ini."
Edi dan Yunita berpamitan pulang, setelahnya Alex berkata kepada Wendy lagi: "Wen, kamu juga pulang saja. Ingat untuk temukan keberadaan Elno sesegera mungkin."
Wendy berkata: "Kak, aku tiba-tiba teringat kalau putri Elno sepertinya sekolah di SMP 1. Aku tidak tahu dia kelas berapa, tapi aku tahu namanya Noviani Sutedjo. Bisa tidak kita dapatkan informasi darinya?"
Alex mengangguk, "Oke. Aku akan pergi menanyakannya sendiri."
__ADS_1
Malam itu, di kantin SMP 1, Pak Omar dari Dinas Pendidikan, dan Kepala Sekolah Juno, menyiapkan makan malam sederhana untuk menyambut Alex dan Erika.
Pak Salim berdiri terlebih dahulu dan bersulang untuk Alex, "Tuan Alex, nyonya Erika. Aku berterima kasih pada kalian mewakili pemerintah, DInas Pendidikan, dan semua guru dan siswa SMP 1 atas kebaikan kalian. Aku bersulang untuk kalian."
Alex dan Erika tersenyum dan bersulang bersama mereka.
Setelah itu, Pak Juno juga mengambil gelas, "Tuan Alex, aku masih memiliki beberapa kesan terhadapmu. Dulu saat kamu masih sekolah di sini, aku ini hanyalah ketua departemen. Aku ingat ada sekali kamu pernah berantem, kepala anak itu sampai berdarah karena dipukul dengan batu olehmu. Ayah anak itu tidak hanya seorang pengusaha kaya, tetapi juga punya latar belakang yang kuat. Sejak kecil kamu memang begitu, entah seberapa hebat latarnya, kamu pasti akan menonjoknya hingga babak belur kalau dia menindas yang lain, Haha."
Alex juga tertawa, "Ingatan Pak Juno hebat juga. Bagaimanapun, aku sangat tersentuh dengan penanganan Anda atas kejadian itu. Tidak hanya tidak mengeluarkanku karena kejadian ini, sebaliknya malah mencoba yang terbaik untuk melindungiku. Seharusnya aku yang bersulang untuk Anda."
Pak Juno menambahkan: "Karena aku menanyakan semua detail kejadian itu. Anak orang kaya itu selalu menindas siswa yang lebih lemah di sekolah. Dia benar-benar pembuli. Aku tak lain hanya tidak suka kelakuan buruknya itu. Tuan Alex, mari minum bersama."
Perjamuan berakhir dengan menyenangkan. Pak Juno berkata: "Tuan Alex, gedung sekolah dan asrama kami benar-benar sudah sangat tua. Ini sudah bisa dibilang bobrok. Jika terus begini, aku benar-benar khawatir akan ada insiden yang terjadi. Nyawa anak-anak tidak bisa disepelekan."
“Kami sudah berulang kali melapor ke atasan, meminta dana dan berencana membangun kembali gedung sekolah. Namun, sampai sekarang hasilnya nihil. Tapi kamu malah mendonasikan begitu banyak uang untuk sekolah sekaligus tanpa ragu-ragu. Ini sungguh menyelesaikan masalah besar bagi sekolah kami. Kami juga tidak punya cara lain untuk membalas kebaikanmu, jadi para guru dan siswa mengadakan pertunjukan seni. Aku harap Tuan Alex dan nyonya Erika dapat menontonnya. Mungkin hal ini dapat menghidupkan kembali ingatan pada masa sekolah kalian.”
Alex berkata: "Aku pasti akan menonton pertunjukan ini. Melihat para siswa kecil ini benar-benar membuatku teringat diriku pada saat itu. Kenangan masa kecil seperti film yang diputar kembali!"
__ADS_1