Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Tidak Ada Aturan


__ADS_3

Dakson menatap mata Alex, “Kalau begitu, aku ingin mendengar penjelasanmu.”


Alex berkata, “Jenderal Dakson, sebenarnya aku gak ingin menjelaskan apa-apa. Karena aku gak melakukannya, jadi Jenderal Dakson akan semakin mencurigaiku jika aku menjelaskannya. Kupikir, jika Jenderal Dakson mengundangku kemari, pasti sudah ada jawaban sendiri.”


“Oh?” Dakson melihat Mr. Brown di samping, “Alex, meskipun kamu sangat berani, juga berani datang sendirian. Tapi, kamu nggak bisa membuktikan kalau kamu tak bersalah! Jadi, aku gak keberatan membunuhmu jika kamu sudah kemari! Negara kalian ada pepatah seperti ini, lebih baik salah membunuh daripada melepaskan seorang tersangka pergi.”


Huh! Puluhan pengawal di halaman membentuk sebuah kelompok, lalu mereka lekas mengarahkan pistol ke dalam ruang utama dengan akurat.


Saat ini, jika Alex berlari keluar, dia pasti akan menjadi saringan.


Alex tetap duduk tenang ketika menghadapi kondisi begitu bahaya. Dia menyipitkan mata sambil menatap Dakson, “Oh? Jika Jenderal Dakson membunuhku, apakah Jenderal Dakson nggak takut melepaskan pembunuh yang sebenarnya?”


Dakson berkata dengan tegas, “Kamu adalah pembunuh sebenarnya!” Srsh! Dia mengeluarkan pistolnya, lalu menarik pelatuk dan mengarahkan ke kepala Alex dengan jarak dekat.


Ketika menghadapi ancaman begini. Alex setidaknya ada ratusan cara untuk menghindari peluru sebelum Dakson menembak. Pada saat yang sama, dia juga bisa menangkap Dakson, bahkan bisa menggunakan pistolnya untuk menembaknya!


Oleh karena itu, Alex tidak merasa takut meski berhadapan dengan banyak moncong senjata. Bahkan ia menggunakan dahinya untuk mendekati pistol Dakson dan pelan-pelan berdiri, “Jenderal Dakson, aku tidak akan menjadi bahan pengorbananmu. Jadi, sebaiknya kamu pertimbangkan dulu!”


“Jenderal Dakson jangan antusias, letakkan pistolnya, letakkan pistolnya. Mari kita bicarakan dengan baik.” Mr. Brown menghentikan Dakson.


“Apa yang perlu dikatakan? Dendam membunuh saudara itu sangat penting! Aku harus membunuhnya!” Jari telunjuk Dakson yang di pelatuk gemetar.


Mr. Brown menjelaskan, “Jangan, jangan, jangan. Jenderal Dakson, sebelumnya aku sudah mengatakan padamu kalau Alex bukanlah pembunuh sebenarnya. Apakah kamu masih belum mengerti? Jika Tuan Alex berani kemari seorang diri, maka bukan hanya karena dia berani, yang paling penting karena dia nggak merasa bersalah!”


Jari telunjuk Dakson gemetar sejenak, lalu dia menyimpan pistolnya, baru duduk di posisinya dan menatap Alex dengan marah, “Meskipun kamu bukan pembunuhnya, tapi kamu harus membuktikan kamu nggak bersalah.”


Alex tidak duduk, melainkan menatap Dakson sambil berkata, “Dakson, jujur saja aku sama sekali nggak ada hubungan dengan hal ini. Tapi, kamu tiba-tiba mengundangku kemari, jadi sekarang aku hanyalah tamumu. Apa ini cara kamu memperlakukan tamu?! Selain itu, apa hubunganku dengan kamu nggak bisa menemukan pembunuh saudaramu? Kenapa aku harus membuktikan diriku nggak bersalah?! Kamu kira dunia ini milik kota Taranesa?”


Saat ini, Dakson yang tinggi pun marah sampai ekspresinya berubah total, “Brengsek! Beraninya kamu berkata begitu padaku? Aku harus membunuhmu sekarang!”


Dean memeluk Dakson, “Jenderal jangan antusias, katakanlah dengan baik.”


Sebenarnya Dean juga mulai percaya kalau pembunuh Borez bukanlah Alex.


Oleh karena itu, dia terus menatap Alex setelah dihadang oleh Dean dan Mr. Brown, “Si marga Gunawan, apa kamu nggak takut mati?”

__ADS_1


Alex berkata, “Takut! Tapi, apa kalian bisa membunuhku?!”


“Haha! Sombong sekali! Alex, kamu sungguh sombong! Maukah kamu mencobanya?” Dakson tentu saja bukanlah orang yang mudah di singgung dan siapa yang berani melawannya di kota Taranesa?


Tentu saja ada yang menyinggungnya, tapi orang itu sudah mati.


Dean dan Mr. Brown juga bingung dengan sikap Alex yang begitu sombong. Oleh karena itu, mereka tidak mengatakan apa-apa terhadap tantangan Dakson.


Alex memandang Dakson dengan acuh tak acuh, “Jenderal Dakson, katakanlah tantanganmu! Apa kamu mau menganggapku sebagai musuh?”


Dakson berkata, “Alex, asalkan kamu bisa mengalahkan 16 penembak di luar, maka kamu akan menjadi temanku selamanya.”


“Menang? Cara menangnya? Apa kamu ingin mereka menggunakan pistol, kemudian membiarkanku menang?” Alex sama sekali nggak takut dan melindungi keuntungan sendiri.


Dakson berkata, “Bukan. Alex, kamu hanya perlu menggunakan ilmu bela dirimu mengalahkan mereka! Maksudku semua orang nggak perlu menggunakan senjata.”


Sebenarnya Alex nggak peduli mereka pakai pistol atau gak, karena dia sudah memprediksi bahwa dirinya bisa kabur dari sini dengan kemampuannya.


Dakson merasa bahwa orang-orang bersenjata itu sangat hebat dan sama sekali tidak ada yang bisa menerobos.


“Ini mudah sekali.” Alex pun merasa lega, “Mereka hanyalah sekelompok orang biasa saja. Aku berani mengatakan, jika hari ini, aku ingin membunuh kalian, maka kalian nggak bisa kabur.”


Mr. Brown berekspresi dingin, “Alex, kamu sungguh sombong.”


Dean cemberut, “Alex, meskipun kemampuan bela dirimu amat baik, tapi janganlah berkata begitu sombong!”


Dean tahu jelas kalau 16 penembak di luar bukanlah orang biasa!


Beberapa dari mereka adalah master muay thai, juga ada master petinju dari barat, lalu ada master karate dari Negara H. Ini semua adalah master yang diundang Jenderal Dakson dari berbagai negara dengan harga mahal!


Mereka bukan hanya penembak saja.


“Baiklah, aku nggak akan merendahkan kalian lagi.” Alex melihat ke luar, “Dakson, katakanlah, bagaimana caraku mengalahkan 16 penembak itu?”


Dakson berkata, “Mari kita katakan di luar!”

__ADS_1


Jenderal Dakson sendiri pernah mengalami pelatihan khusus yang sulit. Di antara empat bersaudara, dia adalah orang yang terkuat dalam pertempuran.


Selain itu, dia mahir dalam berbagai macam peperangan. Sementara pasukan yang dipimpinnya merupakan pasukan paling kuat di antara pasukan Barni.


Kalau tidak, masalah datang ke kota Tomohon untuk membalas dendam tidak akan jatuh ke Dakson.


Alex berjalan ke luar, Dakson berkata pada 16 penembak itu, “Kalian sudah dianggap orang tak berguna! Apa kalian sudah mengerti?”


“Apa?”


“Brengsek!”


“Bajingan!”


“Sialan!”


Enam belas penembak melambaikan senapan mereka, bayonet mereka pun berbinar. Seolah-olah, mereka akan mencabik-cabik orang yang berkata begitu.


Sementara Mr. Brown dan Dean juga dua orang yang paling hebat di antara mereka.


Tapi, Dakson tidak berencana membiarkan mereka ikut serta. Mereka juga merasa 16 penembak ini sudah cukup untuk menghadapi Alex.


Dakson benar-benar pandai membuat pasukannya merasakan benci. Dia menunjuk ke arah Alex, “Dia yang katakan! Apa kalian ingin mencabik-cabiknya?”


“Ya!”


“Tentu saja!”


“Harus!”


Huarz, mereka melempar senapan ke samping, lalu 16 orang itu menyingsingkan lengan baju dan mengepung ke arah Alex.


“Mari kita mulai! Peraturan hari ini adalah gak ada peraturan!” Dakson tertawa.


Di mata Dakson, pertempuran berdarah bukanlah hal besar!

__ADS_1


Dia sama sekali nggak peduli meskipun Alex meninggal di sini!


__ADS_2