Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Merasa Panik


__ADS_3

“Eh, Tuan Alex, biar kuantar pulang.” Meskipun Aldo merasa sakit akibat terlempar barusan, tapi untung tulangnya tidak terluka.


“Ngak usah, aku pamit dulu.” Alex masuk ke dalam lift dan menutup pintunya karena tidak ingin berhubungan lebih jauh dengan mereka.


Aldo memejamkan mata sambil melambaikan tangan pada Abdul, “Laporkan ke Kak Gala besok.”


“Oke!” Jawab Abdul, kemudian dia menimpali, “Kak Aldo, sebenarnya aku sudah menelepon Kak Gala, tapi Kak Gala mengabaikanku.”


Aldo terlihat serius dan berkata, “Kak Gala pasti sibuk dengan hal lain. Sudahlah, besok aku sendiri yang akan melaporkan hal ini ke Kak Gala.”


Alex tidak mau berhubungan dengan mereka, jadi besoknya dia langsung check-out dari hotel ini setelah tinggal satu malam.


Namun, ada dua orang satpam yang menyusulnya saat dia pergi, “Tuan Alex, ke mana Anda? Kak Aldo barusan berpesan bahwa Anda dapat tinggal di Hotel Lestari secara gratis!”


Alex menggelengkan kepala dan berkata, “Aku punya janji dengan teman dan ngak tinggal di sini lagi, makasih.”


“Eh? Tuan Alex, jangan pergi!” Kedua satpam itu menjadi panik karena tidak bisa menghentikan Alex.


Sedangkan Alex sendiri telah memanggil sebuah taksi dan pergi dengan cepat.


Ketika satpam hendak mengikutinya, taksi yang ditumpangi Alex sudah tidak kelihatan lagi.


“Bos, lihatlah, gimana tempat ini?” Pamer Andi kepada Alex, “Tuh, gedung perkantoran dengan 18 lantai bisa untuk menampung ribuan karyawan, bahkan masalah makan dan tempat tinggal juga teratasi.”


“Em, bagus, hebat juga kau!” Alex menganggukkan kepala dengan puas, “Kalau gitu jadikan tempat ini sebagai pos keamanan keluarga Buana!”


“Keluarga Buana? Bos, ini ‘kan bisnismu sendiri, kok melibatkan keluarga Buana?” tanya Andi sambil mengerutkan dahi.


Alex menatapnya dan berkata, “Bukankah uangku juga uang kakak iparmu?”

__ADS_1


“Benar, benar, tentu saja benar! Bos, uangku juga uang kakak ipar, kamu boleh menggunakannya dengan sesuka hati.” Sanjung Andi.


Alex memberengnya, “Jangan sok dekat! Oh ya, kirim beberapa perusahaan kecil kemari untuk melawan Richard.”


“Ok! Akan segera kulakukan!” Lalu, Andi berkata lagi dengan senyum, “Bos, apa sih bagusnya berbisnis di sini?”


Alex berkata, “Kedepannya setelah mengalahkan Richard, kita akan menguasai tempat ini, dan jadi pemimpin.”


“Iya iya, sekarang aku ‘kan sudah punya identitas resmi, jadi ngak takut polisi lagi! Haha,” kata Andi sangat senang.


Alex menatap bangunan itu dan berkata “Um, anggap saja ini salah satu cabang dari PT. Atish.”


Andi berkata, “Aku ngak peduli dengan hal lainnya lho ya, tugasku cuma mencari dan menjaga tempat.”


“Baiklah, aku akan menelepon kakak iparmu agar dia mengirim orang ke sini.”


“Apa? Kamu menyewa gedung kantor di kota Tomohon dan dijadikan sebagai cabang PT. Atish? Ya Tuhan! Eh, emangnya bisnis yang kamu kembangkan ngak kegedean? Aku masih belum siap lho ya!” Meskipun Erika berharap bisnis keluarga Buana bisa berkembang besar, tapi dia merasa perkembangan ini terlalu pesat sehingga membuatnya kewalahan.


Alex berkata, “Kamu serahkan saja yang lain pada Jasmin, terus kamu bawa tim ke kota Tomohon dan membuka bisnis baru di sini.”


“Tapi… meskipun Jasmin memang berpartisipasi dalam proyek ini sejak awal, tapi ‘kan ada banyak urusan yang ngak dapat segera diambil alih,” ujar Erika yang merasa serba salah.


“Ngak apa-apa, aku akan memberimu waktu 3 hari. Datanglah ke kota Tomohon setelah melakukan serah terima.”


“3 hari? Kamu bercanda ya! 3 hari mana cukup, setidaknya 5 hari tahu.” Erika merasa tak berdaya, tapi juga merasa antusias karena kota Tomohon akan menjadi tempat barunya!


“Baiklah, hanya 5 hari ya, cepat lakukan serah terimanya,” ujar Alex sebelum mengakhiri panggilan.


Berbeda dengan Erika yang perasaannya sedang campur aduk: Dulunya pria ini mengatakan kepadanya bahwa dia bisa memiliki seluruh dunia dan itu juga yang membuatnya tergoda. Tapi, dia malah merasa khawatir dan takut dirinya ngak bisa menjalankannya dengan baik ketika perang bisnis benar-benar dimulai.

__ADS_1


Selain itu, yang paling penting adalah dari mana asal modalnya? Erika sama sekali tidak tahu-menahu.


Alex keluar dari gedung kantor dan berjalan-jalan untuk melihat lingkungan di sekitar, dia merasa sangat puas. Pada saat ini, dia menerima telepon dari Nova, “Halo? Alex, di mana kamu?”


Alex juga sangat terkejut menerima telepon darinya, “Kalau aku bilang au lagi di Tomohon, kamu percaya?”


“Cih! Ngak usah menghiburku, mana mungkin kamu datang ke Tomohon?” Kata Nova tidak percaya.


“Kalau gitu aku share location deh, tapi apa Kapten Nova bisa menjemputku?” kata Alex. Alex merasa bersalah ketika wajah cantik Nova muncul di benaknya.


“Hah?” Nova tercengang, “Oke, kalau gitu cepat kirim lokasimu, aku akan mencarimu! Kita bicarakan lagi nanti setelah bertemu!”


Benarkah Alex datang ke Tomohon? Apa dia datang untuk mencariku? Nova merasa senang sampai tidak peduli lagi terhadap hal lain. Dia langsung mengemudikan mobilnya ke alamat yang dikirim oleh Alex.


Chh… sebuah mobil dengan plat nomor sipil yang disertai dengan bunyi nyaring rem mobil berhenti di samping Alex.


Alex berdiri sambil tersenyum. Begitu pintu terbuka, Nova yang mengenakan seragam polisi segera keluar dari mobil dengan buru-buru, lalu bergegas berjalan ke arah Alex. Namun, dia memelankan langkahnya saat hampir sampai di hadapan Alex karena ada banyak warga di sekitar. Kemudian dia berkata dengan antusias, “Nga… ngapain kamu datang ke Tomohon? Apa kamu mencariku?”


Alex ingin menyangkalnya, tapi dia menganggukkan kepala secara tak sadar ketika melihat tatapan tulusnya.


Namun, Nova malah menyindirnya dengan tatapan senang, “Terus kok kamu ngak nelpon aku kalau emang datang mencariku?”


Alex menyeringai karena dia benar-benar ngak bisa menjelaskan hal ini. Dia pun berkata, “Sebenarnya aku juga mengurus hal yang lain.”


“Oh.” Nova diam sejenak, lalu berkata, “Ayo naik ke mobil!”


“Ke mana?” Alex melihat ke kiri dan kanan, lalu membuka pintu mobil dan duduk di kursi co-driver. Tiba-tiba dia merasa seperti Erika sedang melihatnya dari samping.


Nova langsung memeluk Alex dan mencium wajahnya tanpa memedulikan keadaan sekitar.

__ADS_1


Di wajah Alex masih ada bekas saliva Nova, lalu dia berkata dengan mengerutkan kening, “Nov, bisakah kamu jangan terlalu serakah?”


“Cih! Siapa juga yang mau nyium kamu.” Nova memelototinya, tapi sebenarnya dia  sangat panik. Dia menyalakan mobil dan mengemudi dengan laju.


__ADS_2