
Pukul 2 siang, Erika dan Friska sedang sibuk bersama beberapa orang eksekutif PT. Atish, di sisi lain mereka sedang meluruskan hubungan di dalam perusahaan saat ini, di sisi lain mereka juga sedang merekrut karyawan baru.
Makanya, saat ini sudah ada antrian panjang di luar perusahaan, kebanyakan mereka yang datang melamar pekerjaan adalah mahasiswa/i yang baru lulus kuliah.
Alex tidak berani lengah, dia tahu kalau ini adalah Medan, dan kekuasaan keluarga Mahari tidak bisa diremehkan.
Tujuannya mencari masalah dengan Arnold kali ini juga karena ingin melihat reaksi keluarga Mahari.
Saat Suprianto sedang menghitung jumlah anak buahnya, Rian berkata tidak bisa datang karena kakinya terluka saat sedang berlatih.
Rian sendiri juga sangat pintar, dia tidak memberitahukan kejadian yang dialaminya kepada Suprianto dengan tujuan untuk melihat hasil dari perlawanan antara Suprianto dan Alex.
Hengky, Rega dan Martin sedang berjaga di depan pintu utama PT. Atish dengan beberapa penjaga lainnya, melihat pihak lawan datang berbondong-bondong, Martin bergegas melaporkannya kepada Alex, sedangkan Hengky menghadang di depan pintu bersama Rega dan yang lainnya.
“Berhenti, ada perlu apa?” tanya Rega menghentikan.
“Suruh Alex keluar! Aku Suprianto!” Suprianto yang tingkat ilmu bela dirinya sudah cukup tinggi, mengerucutkan bibir acuh tak acuh dengan rokok di mulutnya.
“Siapa Suprianto?” tanya Rega secara sengaja kepada Hengky.
Hengky menggelengkan kepala, “Entah, usir saja mereka.”
Percakapan antara keduanya yang santai tampak seperti tidak melihat ratusan orang yang sedang memegang tongkat pipa dan pisau di belakang Suprianto.
“Siapa kalian?” tanya Suprianto sambil menahan emosinya.
Arnold berbisik di dekat telinga Suprianto, dan membuatnya seketika meledak. Suprianto kemudian mengambil sebuah pipa besi dari tangan salah satu anak buahnya, lalu menyerang Hengky secepat angin!
Hengky sudah mengetahui kemampuan bela diri Suprianto saat dia mengambil pipa besi tersebut, oleh karena itu, dia sudah membuat persiapan awal untuk menghadapi orang seperti ini. Hengky memberi isyarat pada Rega untuk mundur, sedangkan dirinya maju untuk menghadapinya.
Pipa besi di tangan Suprianto mengayun di udara, tapi tidak mengenai Hengky barang ujung baju sekalipun!
__ADS_1
Saat Suprianto hendak mundur karena terkejut, Hengky malah melangkah maju dan berhasil merebut pipa besi di tangan Suprianto dengan jurus tangan kirinya yang akurat, sedangkan tangan kanannya menampar wajah Suprianto.
Meskipun suara tamparan tersebut tidak nyaring, tapi justru membuat para anak buah Suprianto tercengang!
Di antara para orang ini, Suprianto adalah orang yang paling jago berkelahi, tapi dia malah tidak bisa mengalahkan seorang satpam biasa dari pihak lawan? Sebenarnya siapa orang-orang ini?
Saat ini, ada beberapa orang di antara para mahasiswa yang datang melamar pekerjaan merekam kejadian itu!
Rega bertepuk tangan dan bersorak, “Bagus, Kak Hengky! Hajar saja! Biar aku yang usir mereka!”
Selesai mengatakannya, Rega pun menyerang ke arah kelompok lawan!
Dalam sekejap, suara rintihan kesakitan terdengar di mana-mana, Rega menyerang ke sana kemari tanpa halangan di antara ratusan orang lawan, dan membubarkan mereka dalam sekejap.
“Hahaha! Dasar sampah, beraninya datang cari masalah di PT. Atish!” ujar Rega saat berjalan kembali sambil memegang 2 pipa besi di tangan.
Ratusan orang dari belah pihak kini sudah dipukuli sebanyak belasan orang. Teman-teman mereka memapah mereka yang dipukuli sambil menahan jeritan kesakitan.
Wajah Suprianto masih terasa panas dan sakit, dia menatap Hengky dan berkata dengan wajah kesal, “Sialan, beraninya kamu memukulku, cari mati!”
Para mahasiswa yang datang melamar pekerjaan bersorak ,”Wuaah! Satpam PT. Atish hebat banget!”
“Bener tuh, para preman ini pasti tidak akan berani lagi cari masalah dengan Pt. Atish!”
“Ini artinya pilihan kita melamar di sini sudah tepat!”
“Ya pastilah! Kita tunggu saja interviewnya dengan sabar!”
Hengky melambaikan tangan pada Suprianto seperti sedang mengusir lalat, lalu berkata, “Sana pergi! Jangan malu-maluin di sini! Aku saja jadi malu kena kalian.”
Dia menyipitkan matanya untuk melihat Charles, “Tuan Arnold, kurasa kamu masih tidak sadar kondisi!”
__ADS_1
Arnold menyembunyikan kepalanya karena terkejut, lalu bersembunyi di antara kerumunan dan perlahan menjauh.
Kamu pikir Suprianto akan menyerah? Dia berjalan menjauh sejauh puluhan meter, lalu memerintahkan anak buahnya untuk tidak mundur, melainkan tetap berjaga di sini!
Ini adalah strategi yang tidak tahu malu, dengan begitu banyak orangku yang menjaga di depan pintumu, dan yang aku tempati juga jalanan, bisa apa kamu?
Di saat bersamaan, Suprianto juga menelpon Ayahnya, Bernard, "Yah, aku dipukul orang barusan…"
Bernard juga marah besar setelah mendengar perkataan Suprianto! Namun, Bernard bukanlah preman yang akan membunuh orang sembarangan di jalanan, oleh karena itu, dia segera kepikiran: Pihak lain pasti tahu kekuatan keluarga Mahari setelah datang ke Medan. Namun, dalam kondisi seperti ini, dia masih saja berani memukul Suprianto, tahu apa maksudnya ini?
Pihak lain punya persiapan sebelum datang?! Bernard tiba-tiba merasa sesak nafas, dia segera mencari adik ke-5 yang punya hubungan paling baik dengannya untuk merundingkan masalah ini, yaitu Nelson, "Nel, Supri kena masalah, coba bantu aku pikirkan solusi."
Nelson yang mendengarnya langsung berdiri dari kursinya, "Sombong sekali dia! Beraninya menantang keluarga Mahari, mana boleh dibiarkan? Kak, aku akan pergi bereskan mereka!"
“Tunggu.” Bernard segera menggelengkan kepala, “2 satpam biasa mereka saja bisa mengalahkan ratusan orangnya Supri, itu artinya ada orang hebat di antara mereka! Tidak boleh diremehkan.”
“Lalu gimana? Apa keluarga kita harus takut pada mereka?” ujar Nelson sambil membelalakan matanya.
“Bernard berkata, “Mereka mendapatkan PT. Atish dengan cara ilegal. Kita juga sebenarnya bisa menggunakan cara yang sama! Keluarga Mahari sudah lama berdiam diri, mungkin orang-orang sudah lupa bagaimana kita membangun keluarga dari nol.”
Nelson mengangguk dengan serius, “Oke! Kak, katakan saja aku pasti akan membantumu.”
Suprianto yang berjaga di depan gedung PT. Atish memang berhasil mencegat para mahasiswa yang datang melamar perkerjaan, tapi di antara para mahasiswa tersebut, segera ada yang menelpon polisi.
Hasilnya, pihak kepolisian menggerakkan lumayan banyak petugas untuk berpatroli di sekitar PT. Atish sehingga Suprianto dan rombongannya mau tak mau harus pergi.
5 hari berlalu, Erika segera menyadari bahwa perusahaan lain yang sebelumnya bekerja sama dengan PT. Atish satu per satu mengakhiri kontrak dan tidak lagi bekerja sama dengan PT. Atish!
“Lex, ini daftar perusahaan-perusahaan yang mengakhiri kontrak. Kalau PT. Atish kehilangan kerja sama dengan para perusahaan ini, maka akan membawa dampak putusnya rantai modal dan perlahan menuju kebangkrutan.” ujar Erika sembari menyerahkan dokumen ke hadapan Alex.
Friska mendekat dan melihat berkas-berkas tersebut, lalu berkata, “Uhm, dana bukanlah masalah. Masalahnya adalah, PT. Atish memang akan mengalami kesulitan jika kehilangan semua kerja sama ini.”
__ADS_1
Alex berkata sambil tersenyum, “Jelas sekali kalau keluarga Mahari sedang mencari masalah dengan kita.”
Friska berkata, “Aku akan segera menyelidikinya! Jangan sampai mereka berhasil.”