
Oleh karena itu, Nova bekerja sama dengan Alex, dan pada saat yang sama, tangannya mencubit Alex dengan kuat. Meskipun Alex memanfaatkannya, tapi Nova tahu bahwa agar tidak ketahuan, dia harus melakukannya: "Sayang, ada orang yang mellihat kita di belakangmu, ayo pergi ..."
Alex menoleh dan berkata kepada pria berjenggot: “Belum pernah lihat? Jangan lihat-lihat.” Setelah itu, dia berkata kepada Nova: “Sayang, abaikan mereka, ayo ke atas dan buka kamar. "
Keduanya datang ke tangga dan menghilang dari pandangan ketiga orang itu. Nova segera memelototi Alex, menaikkan alisnya, dan mencubitnya dengan kuat. "Brengsek, apa belum cukup tadi, hah? Bisa-bisanya kamu mengucapkan kata-kata seperti tadi."
"Memangnya salahku? Bukankah itu keperluan kerja?" Alex tampak lugas dan percaya diri.
Nova juga tahu bahwa yang dia katakan benar. Alex berkata lagi: "Aku rasa kamu juga cukup menghayatinya. Panggilan barusan, 'Sayang, aduh, seluruh tubuhku jadi panas mendengarnya ..." Setelah berbicarai, pria ini bahkan menyipitkan matanya, terlihat sedang mengingat kembali.
“Cih!” Wajah Nova memerah, “Kurasa kamu memikirkan Erikamu, kan?” ...
Setelah beberapa saat, keduanya kembali lagi. Alex menempelkan telinganya ke pintu lagi, dan Nova bertanya, "Apa kamu mendengar apa yang mereka katakan?"
Alex memberi isyarat padanya untuk tidak berbicara. Setelah beberapa saat, dia menarik Nova ke atas.
Ketika bertemu pelayan wanita, dia berkata, “Nona, kami ingin nginap di sini, tolong bukakan satu kamar.” Nova tidak menyangka dia akan melakukan ini, tetapi menahan diri untuk tidak mengatakan apa-apa.
Pelayan tersenyum dan membawa mereka kembali ke bar untuk mendaftar. Lift di sebelahnya naik ke lantai ini, saat terbuka sedikit, pintunya tertutup lagi. Dalam sekejap, Nova juga melihat seseorang di dalam, orang itu adalah pria berjanggut yang mencurigakan tadi, Bayu. Ternyata pria ini gelisah dan memeriksanya lagi.
Segera, pelayan mendaftarkan kamar untuk mereka, Alex mengambil kartu kamar, dan setelah memasuki ruangan dengan Nova, dia menutup pintu dan berkata, "Mereka berbicara tentang narkoba. Pengedar narkoba ini sangat berhati-hati. Hering tidak pernah menampakkan diri. Selain itu, mereka sudah curiga bahwa kita berdua mungkin hanya mata-mata, lalu si Bayu itu datang untuk melihat-lihat lagi, jadi kita harus melanjutkan aktingnya. "
Nova melihatnya dengan kagum, lalu menepuk pundaknya: "Hebat juga, nak, kerja bagus! Sudah terlihat seperti polisi senior!"
__ADS_1
Alex pun bekerja sama dan berkata, "Terima kasih Kapten Ardiansyah atas pujiannya, aku akan terus berusaha."
Nova: "Oke, pertarungan sebenarnya belum dimulai. Sekarang pengedar narkoba sudah keluar, tapi kita tidak punya bukti, dan kita harus menangkap Hering."
Keduanya memperkirakan waktu sebentar, lalu turun dari lantai atas dan kembali ke aula. Musik di tempat itu masih sangat nyaring, para pria dan wanita masih menari-nari. Nova bersandar di bahu Alex, dan berkata di telinganya: "Sudah lihat? 5 meter di depan kiri, sepasang pria dan wanita itu diperkirakan sudah mendapatkan barangnya."
Alex juga menggoyangkan tubuhnya, dan melirik ke arah yang dibicarakan Nova. Benar saja, pasangan muda itu ada di sana, danada orang asing yang berbicara dengan mereka, tetapi sepertinya tidak ada kesepakatan. Pihak lain menggelengkan kepalanya dan ingin pergi.
Pria di pasangan muda juga tampak sedikit kesal, dia mengomel, lalu berdiri dan berjalan keluar.
Nova berkata, "Oke, ini waktumu beraksi, pria tampan. Taklukkan wanita itu!"
Alex dengan sengaja berkata: "Sayang, baik sekali kamu mendorongku ke dalam pelukan wanita lain? Aku pikir dia seorang gadis yang nakal, aku mungkin tidak dapat kembali jika sudah pergi!"
Alex kesakitan, tetapi dia tampak tenang di luar. Setelah bergoyang sebentar, dia mengambil langkah dansa yang apik, dan mendatangi gadis cantik bernama Rita, kemudian mengusap dahinya dengan tangannya, "Hai! Cantik, bolehkah aku duduk di sebelahmu?"
Rita baru saja memesan minuman dan menyesapnya. Pelanggan lama merasa dia telah menaikkan harga terlalu banyak dan menolak untuk membeli darinya lagi, hal ini membuatnya merasa sedikit frustrasi. Mendengar seseorang menyapa, dia mendongak dan melihat seorang pria tampan.
Akhirnya dia merasa lebih baik, dia menunjuk ke tempat duduk di sebelahnya, dan menggeser pinggulnya, "Tentu saja, silakan duduk!"
Ketika dia melihat lebih dekat, dia mengenali Alex, jadi dia tersenyum dan bertanya, “Kak, di mana pacarmu? Bukankah kalian datang untuk buka kamar? Cepat sekali?” Baru 20 menit berlalu sejak keduanya membuka kamar, perkataan Rita tidak lain sedang menyindir.
Alex juga tahu maksudnya, tetapi dia tidak malu: "Hal semacam ini tidak bisa hanya melihat waktu, waktu harus tunduk pada kualitas! Bukankah begitu?"
__ADS_1
Rita berpikir bahwa dia memang lebih tampan, tetapi bermuka tebal. “Yah, kuharap kualitas kalian baik.” Lalu dia tersenyum dengan bodohnya.
Alex mengubah topik pembicaraan, "Kedua pacarmu cukup cakap, bukan? Apakah mereka sangat tahan lama?"
"Omong kosong apa itu? Dua pacar dari mana? " Wajah Rita memerah,"Semua hanya rekan bisnis, hanya teman biasa. "
"Oh oh!" Alex terus memuji tanpa malu-malu, "Maksudku, untuk gadis cantik sepertimu, tidak mungkin hanya ada satu pria yang memuja pesonamu!"
Rita sangat senang saat dipuji olehnya, lalu berkata, "Istrimu juga tidak buruk, tapi dia terlihat agak dingin. Wanita seharusnya lebih lembut. Jika terlalu cuek, pria tidak akan menyukainya. "
Alex mengangguk penuh semangat, menyatakan persetujuannya: "Memang, istriku memang begitu. Dia begitu serius sepanjang hari. Sama sekali tidak menarik."
Mendengarkan analoginya, Rita tidak bisa menahan tawa, "Kak, kamu lucu sekali! Siapa namamu dan apa pekerjaanmu?"
Alex menyibak rambutnya lagi dan memasang tampang dingin: “Kita sama-sama berbisnis, panggil saja aku kak Alex.” Setelah itu, dia mengulurkan tangannya ke Rita.
Keduanya berjabat tangan, Rita juga memperkenalkan dirinya, dan kemudian bertanya, "Bisnis apa yang kak Alex jalankan? Bagaimana kondisi belakangan ini?"
Alex bersandar, menghela napas dan berkata, "Bisnis restoran, biasa saja! Paruh pertama tahun ini baik-baik saja. Namun, untuk periode ini, entah kenapa bisnis beberapa kantor cabang tidak berjalan lancar!"
Rita mendekat dan berkata, "Wah! Kak Alex bahkan punya beberapa kantor cabang! Bos besar rupanya!"
"Mana ada!" Alex berkata dengan malas, "Di paruh pertama tahun ini aku masih bisa menghasilkan lumayan banyak uang, sebulan bisa menghasilkan kurang lebih 1 milyar. Namun, di paruh kedua hanya cukup untuk modal. Aku juga masih frustasi dengan masalah ini. Istriku juga terus memasang wajah cemberut, hah, hidup sungguh tak mudah!"
__ADS_1