
Namun, bukan Alex yang terbelah menjadi dua, melainkan Rezky yang baru saja dikalahkan. Rezky ditendang dan dilumpuhkan oleh Alex, pada saat dia berdiri perlahan, lehernya malah dicekik oleh Alex dan ditarik untuk melindungi diri, dan dipotong oleh Olivia.
Setengah bagian atas tubuh Rezky terlempar hingga ke pelukan Liardo. Liardo terkejut oleh benda yang tiba-tiba terbang ke arahnya. Dia berteriak, tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk sementara waktu, Alex mengambil kesempatan untuk melancarkan sebuah tendangan.
Liardo memang sudah terluka sebelumnya, jadi dia sama sekali tidak bisa menghindarinya. Tubuhnya ditendang ke udara, dan terlempar dari atas gedung.
Mendengar suara teriakan itu, Sandi juga sadar bahwa pihaknya telah kehilangan dua personel lagi. Situasi saat ini sangat tidak menguntungkan bagi mereka, dia bersiul dan memanggil Olivia, "Ayo pergi dulu!"
Olivia juga khawatir dengan cedera adiknya. Dirinya mengesampingkan Alex, dan melompat ke bawah terlebih dahulu. Begitu melihat hidung Liardo berdarah dan entah masih hidup atau tidak, dia langsung membawanya pergi ke arah hutan disusul oleh Sandi.
Alex dan Nova tidak punya waktu untuk mengejar orang-orang ini, jadi mereka buru-buru menyelamatkan Saka yang terluka dan membawanya ke ambulans.
Melihat rekan-rekan yang berkorban, Nova menangis, "Para penjahat ini sangat licik, bisa-bisanya mereka membuat jebakan. Untungnya, kamu datang tepat waktu, Alex, jika tidak, tamatlah riwayatku."
Alex menepuk bahu Nova, "Bagaimanapun, aku lah yang memprovokasi tentara bayaran iblis. Aku pasti akan memusnahkan mereka cepat atau lambat. Kapten, mari kembali dan pikirkan lagi dengan hati-hati apa yang ingin dilakukan orang-orang ini selanjutnya? Aku pikir mereka tidak akan menyerah. Sangat mungkin mereka akan menggunakan cara lain untuk balas dendam."
Keesokan harinya.
Erwin dan putranya, Gery tiba-tiba muncul di Jakarta, semua ini sesuai dengan dugaan Alex. Belum lama ini, Gery dan Mega mengadakan upacara pertunangan yang megah.
Sekarang keluarga Utama sedang dalam krisis, mana mungkin keluarga Sutiono bisa lepas tangan?
__ADS_1
Erwin datang ke Jakarta kali ini karena diundang oleh calon menantunya, Mega. Mega dengan jelas memberi tahu Erwin tentang pola perkembangan dunia bawah tanah di Jakarta. Juga menjelaskan keadaan ayahnya dan dia saat ini, dan berharap Erwin dapat membantu.
Erwin juga selalu memperhatikan berita mengenai Alex. Alex lahir entah dari mana dan menguasai Jakarta. Apa asal usul sosok legendaris ini? Benar-benar tidak mengerti mengapa dia bersedia menjadi menantu keluarga Buana?
Sekarang, Alex menyerang dengan sekuat tenaga untuk menekan keluarga Utama dan menguasai Jakarta membuat menantunya Mega meminta bantuan. Sebelum Erwin datang, dia sudah mengadakan pertemuan darurat di rumah. Namun, sebagian besar keluarga Sutiono tidak ingin berurusan dengan Alex, terutama jika terjadi perang.
Lagi pula, banyak orang di keluarga Sutiono adalah pejabat di dunia militer dan politik. Menghindari terlibat dalam bisnis dan dunia bawah tanah juga belum tentu hal baik. Terlebih lagi, Alex hanya berkuasa di Jakarta, dan itu tidak mempengaruhi kepentingan keluarga Sutiono.
Keluarga tidak setuju untuk memulai perang dengan Alex, tetapi Erwin masih saja merasa bahwa dia harus datang ke Jakarta, dia ingin membantu keluarga Utama dan Alex berdamai.
Pertemuan pertama diadakan di ruang pertemuan VIP Restoran Akira Back milik keluarga Utama.
Pukul sembilan pagi, Alex membawa Rega dan Martin ke restoran. Karena terakhir kali sudah bertemu Erwin, maka kali ini tidak perlu memperkenalkan mereka lagi. Setelah keduanya berjabat tangan, Erwin mulai untuk masuk ke topik dan membicarakannya serangkaian hal yang terjadi di Jakarta belakangan ini. Terutama masalah Erika terpilih sebagai ketua bisnis, dan keluarga Wendy yang mengalami pembunuhan.
Erwin berkata: "Rangga sudah tua, dan dia juga sudah banyak bertanggung jawab atas posisi itu. Pensiun dan istirahat yang baik bukanlah hal buruk. Presdir Buana berbakat dan dapat diandalkan, ditambah dengan bantuanmu, dia pasti bisa melakukannya dengan baik."
"Tapi, Rangga sudah lama berada di posisi ini, setidaknya dia juga sudah banyak berkontribusi. Maksudku adalah mengapa keluarga Utama dan keluarga Buana tidak bisa menjalin kerja sama saja? Jika kalian bergabung untuk mengembangkan pangkalan kapal pesiar Teluk Indah, aku pikir ini jelas akan saling menguntungkan bagi kalian."
Alex mencibir, "Tuan Erwin. Maaf sebelumnya, masalah ini bukan hal yang bisa aku kendalikan. Ini terutama tergantung pada pengambilan keputusan pemerintah. Selain itu, pemerintah bermaksud agar keluarga Buana bekerja sama dengan keluarga Wibowo. Dari segi sumber daya keuangan, keluarga Wibowo pasti lebih baik dari keluarga Utama. Ini fakta, kan? Pemerintah berharap untuk menyerahkan proyek semacam ini kepada pebisnis yang dapat diandalkan..."
Rangga sangat marah sehingga menyela, "Alex, maksudmu, keluarga Utama kami tidak bisa diandalkan?"
__ADS_1
Alex berkata dengan santai: "Menggunakan cara kotor untuk mendapatkan sesuatu, Bisakah keluarga seperti ini diandalkan?"
Rangga menunjuk Alex, "Siapa katamu, aku?"
Alex berkata lagi: "Tuan Rangga, kamu telah berada di Jakarta selama bertahun-tahun. Ada sebuah pepatah berbunyi, orang sukses tidak menyalahkan orang lain, tapi mengambil tanggung jawab atas tindakannya. Namun, kamu melupakan kalimat ini, hanya dengan poin ini saja, kamu tidak pantas bekerja sama denganku!"
Setelah selesai berbicara, Alex berdiri dan berkata kepada Erwin: "Tuan Erwin, masih ada urusan di perusahaan, permisi!"
Melihat Alex pergi, wajah Erwin menjadi pucat, "Alex benar-benar sombong!"
Selesai pertemuan, Erwin kembali ke hotel, dan kesal.
Salah satu rombongan Erwin, Rendy Sutiono, berkata: "Paman, kurasa alasan utama sikap Alex begitu sombong adalah karena tuan Rangga juga hadir. Dia tidak mau mengalah di tempat umum seperti itu. Menurutku, karena kita dengan tulus ingin membujuk keduanya, Paman harus berbicara dengan Alex sendirian."
Erwin memikirkannya, "Masuk akal. Namun, menilai dari sikap Alex hari ini, apa dia akan membicarakannya denganku?"
Rendy berkata: "Paman, aku bersedia pergi bertukar pendapat dengannya secara pribadi untuk melihat apa dia bersedia bertemu denganmu. Akan sangat bagus kalau dia mau, jika tidak, maka kita akan pikirkan cara lain."
Erwin berkata: "Baiklah. Ren, kutunggu kabarmu."
Rendy segera pergi menemui Alex, ketika hari mulai gelap, Rendy kembali dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
Erwin bertanya: "Apa kata Alex?"
Rendy berkata: "Paman. Alex persis seperti yang kuduga. Dia bersedia menjalin pertemanan dengan keluarga kita. Tapi dia tidak ingin mengalah kepada siapa pun di pertemuan hari ini. Dia mengatakan, selama paman setuju dia menjadi bos di Jakarta, maka sisanya mudah dibicarakan. Aku tidak bisa memberitahu dia tentang masalah spesifiknya. Jadi, aku membuat janji dengannya jam 8 malam ini di Pabrik Kalengan Nusafood yang ada di pinggiran kota. Paman bisa membicarakannya dengan dia di sana.”