Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Meminta Maaf


__ADS_3

Satriya berkata: "Aku punya ide. Kamu bisa mengirimi Yudha undangan makan siang hari ini atas nama Erika. Ketika dia datang, kamu bisa memikatnya dengan pesonamu, bukankah itu bagus?"


Riska berkata: "Oke. Kalau begitu akan kucoba."


Riska pulang ke rumah untuk berdandan lagi, dia berganti dengan gaun yang sangat seksi, kemudian menulis sebuah undangan, setelahnya dia memberikan undangan itu pada kurir untuk dikirimkan ke Yudha.


Setelah kembali ke perusahaan, Yudha tampak marah selagi melihat foto palsu itu, lalu tiba-tiba penjaga mengantarkan sebuah kiriman.


"Presdir Wibowo, ini surat Anda."


Yudha membukanya, tertulis: Presdir Wibowo, Mari kita diskusikan mengenai kontrak kerja sama dnegan Buana Group siang ini di restoran Pasola. Dari: Nona Buana.


Yudha sungguh berpikir bahwa orang yang mengirim surat itu adalah Erika, dia percaya bahwa keluarga Buana pasti akan meminta Erika untuk menegosiasikan kontrak dengannya. Oleh karena itu, Yudha pergi ke tempat pertemuan tepat waktu.


Ketika Yudha tiba di restoran Pasola, dia melihat bahwa yang menunggunya adalah seorang gadis cantik dengan riasan tebal. Gadis ini memang cukup cantik dan seksi. Namun, Yudha tidak suka, lalu bertanya, "Siapa kamu?"


Riska buru-buru berdiri, "Presdir Wibowo, aku Nona Buana, namaku Riska Buana. Kita sudah bertemu di Buana Group pagi ini."


Yudha ingat bahwa dia memang pernah melihat Riska, hanya saja dia mengenakan gaun putih pada saat itu, dan sekarang dia memakai gaun merah yang seksi.


Yudha bertanya: "Nona Buana, ada urusan apa mencariku?"


Riska menghampiri, "Presdir Wibowo, tidak bisakah kita berbicara sambil duduk?"


Yudha duduk, Riska menarik kursi dan duduk di sebelah Yudha, "Presdir Wibowo, aku sangat mengagumimu. Apalagi, keluarga Buana dan keluarga Wibowo kita sudah mulai bekerja sama. Aku baru fresh graduate yang belum memiliki pengalaman, aku ingin belajar lebih banyak dari Presdir Wibowo ... "


Saat berbicara, Riska menyandarkan dirinya pada Yudha, Yudha langsung mengerti maksudnya, kemudian mendorong Riska, lalu berdiri. "Nona Buana, aku sudah bilang sebelumnya bahwa aku hanya berbicara dengan Erika mengenai kerja sama. Tidak ada yang perlu aku bicarakan denganmu."


Riska tidak terima kemudian sengaja mengangkat gaunnya dan memperlihatkan kaki ramping dan putih, "Presdir Wibowo, sebenarnya aku tidak lebih buruk dari kakakku. Aku bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan. Selain itu, aku juga bisa melakukan apa saja ... "

__ADS_1


Yudha berkata dengan datar: "Maaf. Nona Buana, aku tidak tertarik padamu."


Riska sedikit bingung, "Presdir Wibowo, aku sangat menyukaimu."


Yudha mengabaikan Riska dan pergi!


Wajah Riska memerah karena telah dipermalukan, mau tidak mau dia harus pergi karena perencanaan dia sudah gagal. Satriya pun tidak bisa berbuat apa-apa setelah mendengar perkataan Riska.


Pada saat ini, Lasmi telah memutuskan menemui Erika secara pribadi untuk meminta maaf, dan berharap Erika akan melanjutkan kerjasama proyek dengan keluarga Wibowo secepat mungkin.


Mengetahui kedatangan Lasmi, Erika, Alex, Ferdi dan Saras keluar untuk menyambutnya.


“Bu, ada apa ini, kenapa Anda datang sendiri? Kami akan pergi menemuimu kapan saja jika Anda menelpon.” Saras berkata sambil tersenyum.


Lasmi berkata: "Keluarga Buana hampir bangkrut, aku mana berani tidak datang."


Lasmi melambaikan tangannya untuk menghentikan Erika.


Setelah memasuki ruang tamu dan duduk, Lasmi berkata, "Erika, Presdir Wibowo menunjukmu untuk membicarakan kerja sama dengannya. Apa yang kamu katakan pada Satriya saat dia datang memohon padamu?"


Erika tidak tahu harus berbuat apa, matanya menoleh ke Alex, kemudian Alex segera berdiri dan berkata, "Nenek! Kebenaran tentang foto itu telah terungkap, Erika sama sekali tidak bersalah. Satriya harusnya tahu hal bodoh apa yang telah dia lakukan sehingga keluarga Wibowo tidak mau bekerja sama dengannya. Tapi nenek juga punya tanggung jawab karena salah memilih orang, kan? "


"Alex Gunawan! Atas dasar apa kamu berani berbicara seperti itu pada nenek?" Tegas Satriya.


Alex berkata, "Satriya, kamu melakukan hal tercela karena tidak punya kemampuan. Sekarang semuanya telah terungkap, atas dasar apa kamu masih berani berteriak di sini? Kalau kamu memang hebat, mengapa kamu menginginkan Erika mencari keluarga Wibowo untuk meneruskan kontraknya? "


Saras sedikit khawatir akan membuat Lasmi kesal, "Alex, sudah cukup."


Alex tersenyum tipis, lalu berkata: "Nenek, kamu selalu menjadi orang terpintar di keluarga Buana. Aku tidak punya maksud lain atas perkataanku hari ini. Aku hanya ingin Anda merenungkannya. Anda tidak seharusnya memecat Erika dari posisi penanggung jawab proyek. Beberapa orang tampaknya memang bisa diandalkan, tetapi sebenarnya tidak.

__ADS_1


Lasmi berkata, "Maksudmu, hanya Erika yang bisa melakukannya?"


Alex mengangguk dan berkata, "Benar! Keluarga Wibowo ingin membatalkan kontrak. Sekarang hanya Erika yang bisa maju untuk menyelamatkan situasi, benar?"


Lasmi mendengus, "Apa kamu tidak takut aku tidak menginginkan kontrak dengan keluarga Wibowo? Lalu mengusir kalian dari keluarga Buana?"


Alex tersenyum, "Anda tidak akan melakukan itu. Meskipun keluarga Buana bukanlah keluarga super kaya, tetapi kekayaan yang dikumpulkan oleh dirimu dan kakek sepanjang hidup cukup bagimu untuk hidup tenang di masa tua. Tapi kamu tetap ingin membuat keluarga Buana lebih maju. "


"Bekerja sama dengan keluarga Wibowo adalah peluang yang sulit ditemukan! Keluarga Buana kita tidak hanya akan meningkat secara ekonomi, tetapi juga dalam hubungan sosial. Siapa yang berani mengatakan bahwa ke depannya, keluarga Buana kita tidak bisa menggantikan keluarga Utama dan menjadi orang kaya nomor satu di kota Jakarta? "


Lasmi berpikir, lalu berkata dengan senyuman, "Alex, aku benar-benar tidak menyangka bahwa kamu memiliki ambisi seperti itu."


Satriya berkata: "Nenek, jangan dengarkan omong kosongnya. Apakah kamu percaya bahwa kita akan bisa lebih unggul dari keluarga Utama?"


Lasmi berbicara dengan tegas, "Tidak ada urusannya denganmu."


Satriya tidak berani berbicara karena ketakutan, Lasmi berdiri, lalu mengambil teko teh, kemudian dia menuangkan secangkir teh. Tindakan selanjutnya mengejutkan semua orang.


Lasmi memberikan teh itu untuk Erika dan berkata sambil tersenyum: "Erika. Nenek sudah semakin tua, jadi maklumi saja ya. Sebenarnya, nenek berbuat seperti itu juga untuk kepentingan keluarga. Aku khawatir kamu terlalu muda untuk bekerja sama dengan keluarga Wibowo. Sekarang keluarga Buana membutuhkanmu. Urusan keluarga Wibowo bergantung padamu. "


Kapan seorang Lasmi pernah berbicara dengan hormat seperti itu pada generasi yang lebih muda? Kehormatan yang belum pernah ada sebelumnya terjadi pada Erika.


Erika buru-buru berdiri karena ketakutan, dia memegang cangkir teh dengan kedua tangannya dan berkata, "Nenek, jika ada yang perlu aku lakukan, silakan katakan saja, aku akan melakukan yang terbaik."


Lasmi tersenyum dan menepuk punggung tangan Erika, "Kalau begitu minumlah secangkir teh ini dan segera pergi bertemu Presdir Wibowo!"


Erika mengangguk dan meminum teh itu, "Nenek, aku akan pergi menemui Presdir Wibowo sekarang."


Sebenarnya, Erika juga sedikit gugup, akankah Presdir Wibowo bertemu dengannya? Jika dia gagal, bukankah Satriya akan selalu menertawakannya?

__ADS_1


__ADS_2