
Alex menggelengkan kepalanya lagi dan berkata, "Seharusnya bukan. PT. Ferion nggak segesit itu dan sepertinya Yosen juga nggak mengenalku. Kalau nggak, tadi dia nggak akan bersikap seolah baru pertama kali bertemu denganku."
Roselline menatap Alex dengan curiga, "Kalau bukan PT. Ferion, lalu siapa itu?"
Alex menyipitkan matanya dan berkata, "Anggota keluarga Bezel."
Dia menoleh untuk melihat ke arah kota kecil. Sudah menjadi hal yang biasa untuk bertemu dengan anggota keluarga Bezel di dalam pertemuan orang kaya seperti ini, tetapi ini adalah waktu yang istimewa. Sekarang para generasi muda keluarga Bezel tinggal di rumah.
Hanya segelintir orang yang bisa keluar dari rumah keluarga Bezel, jadi seharusnya posisi anggota keluarga Bezel ini termasuk cukup baik dan bisa mendapatkan misi dari Harry.
Hanya dengan situasi seperti itu baru memungkinkan orang itu bisa keluar dari rumah keluarga Bezel.
Alex merasa ragu sejenak. Mungkin saja ini adalah orang pintar dari keluarga Bezel yang selama ini dia cari.
Akan tetapi, Alex juga tahu dia tidak akan bisa bertemu dengan anggota keluarga Bezel itu kalau dia kembali ke sana untuk mencarinya.
Oleh karena itu, masalah ini pun dianggap selesai di sini.
Roselline berkata dengan kesal, "Aku benar-benar nggak bisa menerimanya lagi. Aku pasti akan membuat mereka melihat kemampuan apa yang kumiliki. Ternyata mereka berani berulang kali menghalangi Biro Red Shield, benar-benar sudah nggak ingin hidup lagi!"
Kedua mata Alex berbinar setelah mendengar ucapan Roselline dan berkata, "Kalau begitu, kamu akan menggunakan seluruh kemampuan Biro Red Shield untuk menjatuhkan keluarga Bezel?"
Roselline mendengus, "Mimpimu indah sekali. Kamu harus tahu bagaimanapun juga, tujuan kedatangan kita adalah untuk mencari "Mata Air" dan sekarang lukisan itu masih belum ditemukan. Aku benar-benar nggak akan menggunakan terlalu banyak kekuasaan dan atasan pasti nggak akan menyetujuinya."
Alex hanya bisa mengangkat bahunya dan berkata, "Baiklah, kalau begitu lebih baik aku memikirkan sesuatu sendiri."
Roselline malah mendorong Alex. "Pikirkan cara untuk membuka ruangan rahasia itu dan lihat apakah ada "Mata Air" di dalamnya."
Alex merentangkan tangannya dan berkata, "Aku juga ingin melakukannya, tapi aku sudah sering keluar masuk rumah keluarga Bezel dan melihat penjaga yang berjaga di depan ruangan itu pasti yang terkuat di seluruh keluarga Bezel. Jadi, mustahil bagi kita bisa menyelinap ke dalam sana."
Roselline tidak punya pilihan selain menyerah, tetapi dia malah terseyum. "Untungnya mereka nggak tahu tujuan kedatangan kita ke sini dan malah mengira kita datang untuk menghancurkan mereka."
__ADS_1
Alex tersenyum dan berkata, "Benar, setidaknya mereka belum tahu kalau mereka memiliki lukisan mematikan di tangan mereka. Kalau bukan karena lukisan yang satu ini, Biro Red Shield nggak akan pergi mencari mereka."
Roselline menggelengkan kepalanya. "Kamu salah. Walaupun tanpa lukisan itu, kita masih tetap akan pergi mencari mereka. Lagi pula, keluarga Bezel juga menjadi semakin lancang dalam beberapa tahun terakhir. Mereka melakukan lebih banyak hal yang keterlaluan hingga melewati batas wajar, jadi atasan pasti akan menghancurkan keluarga bezel secepat mungkin."
Alex hanya mengangkat bahu setelah mendengarnya. Bagaimana dia bisa tahu apakah itu benar atau tidak?
Semua itu adalah hal yang belum terjadi.
Alex mengantar Roselline pulang sebelum kembali ke rumah. Saat ini Erika sudah tidur. Alex juga berganti pakaian dan pergi tidur, melingkarkan lengannya di sekitar Erika dan tidur dengan nyaman.
Keesokan harinya, Davin mendekatinya saat dia pergi ke kantor pusat perusahaan dan berkata dengan nada terkejut, "Pak Alex, nggak kusangka kamu begitu tanggap. Kamu juga tahu ada salah satu dari kita yang berkhianat."
Alex berkata dengan datar, "Katakan padaku, sebenarnya apa yang ingin orang itu lakukan?"
Davin mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di depan Alex.
Semua foto di ponsel itu adalah paket kotak dengan titik merah kecil di paket itu. Semua titik kecil ini dialiri arus listrik dan bersinar merah.
Alex penasaran dan bertanya, "Bom-bom ini ditemukan di mana?"
Davin menjelaskan, "Bom-bom itu ditemukan di lokasi tersembunyi di beberapa lokasi konstruksi kita, tempat-tempat yang pada dasarnya nggak akan didatangi oleh siapa pun."
Raut wajah Alex terlihat suram. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan.
Dia tentu saja tahu apa yang sedang terjadi dan apa yang pihak lain lakukan.
Davin telah menjadi anggota tim pembongkaran bom untuk waktu tertentu, jadi dia kurang lebih mengerti tentang bom dan karena itulah dia berani mendekati bom hingga mengambil foto.
"Pak Alex, ayo cepat hancurkan benda-benda ini. Kalau nggak, akibatnya akan sangat berbahaya!" Davin berkata dengan panik.
Akan tetapi, Alex menggelengkan kepalanya. "Nggak perlu terburu-buru. Aku ingin menggunakan bom-bom ini lagi. Kamu nggak perlu mengkhawatirkan masalah ini. Aku akan mengaturnya sendiri."
__ADS_1
Davin pun berhenti menanyakan bom-bom ini setelah mendengar ucapan Alex dan berkata dengan marah, "Kita telah menangkap pengkhianat itu. Apa yang akan Pak Alex lakukan dengannya?"
Alex berkata dengan acuh, "Tentu saja kita akan menyerahkannya kepada polisi. Dia sudah menjadi dalang dari insiden teroris karena membawa bom. Biarkan pengadilan yang memutuskan."
Davin menganggukkan kepalanya dan pergi.
Setelah melihat Davin pergi, Alex mengeluarkan ponselnya dan duduk di sofa. Kantor ini sangat luas dan biasanya merupakan tempat Erika bekerja. Alex jarang tinggal di tempat ini.
Erika mulai bekerja setelah kembali, sementara Alex membuat janji dengan Ilody setelah menangani masalah bom dengan Davin.
Alex juga memberi tahu Andi tentang bom itu sebelum meninggalkan kantor.
Andi sedang berbaring di sofa, tetapi langsung melompat setelah mendengar apa yang Alex katakan melalui telepon, "Bajingan itu berani menyentuh bosku. Apa dia sudah bosan hidup?"
Alex berkata dengan tenang, "Jangan bicara omong kosong. Ada yang ingin kujelaskan padamu. Nanti bereskan untukku."
Andi terkekeh dan berkata, "Jangan khawatir, aku akan melaksanakan semua perintahmu."
Alex pun mengakhiri panggilannya. Saat ini, Ilody juga telah tiba di kantor dan langsung duduk di sofa dengan santai setelah melihat Alex.
Setelah Erika melihat Ilody, dia langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebelum meminta sekretarisnya untuk membuatkan secangkir teh.
Ilody bertanya dengan ragu, "Sekarang ada apa memanggilku kemari? Seperti yang kamu tahu, anggota Organisasi Wind biasanya nggak akan muncul di siang hari."
Alex berkata, "Stevan telah datang ke Provinsi Sulawesi Tenggara. Ada kemungkinan besar dia datang untuk membunuh istriku."
Ilody mengernyitkan dahi setelah mendengarnya. Dia tidak tahu siapa Stevan yang Alex bicarakan.
Alex berkata dengan sangat serius, "Stevan si penyamar. Kamu pasti ingat, 'kan? Saat itu kamu juga pernah melawannya."
Baru setelah itu Ilody ingat dan berkata dengan nada terkejut, "Maksudmu, Stevan ingin menyerang istrimu?"
__ADS_1
Alex menganggukkan kepalanya. "Itulah alasan mengapa aku sangat khawatir. Seperti yang kamu tahu, Stevan nggak hanya kuat, tetapi juga bisa menyamar dengan sempurna. Nggak akan ada cara untuk mencegahnya kalau dia ingin menyerang secara diam-diam."