
Leni dan Siska mendirikan restoran seafood bersama, dan Alex menginvestasikan 22 miliar untuk mereka tanpa ragu-ragu. Keduanya juga sangat berterima kasih.
Hampir semua kerabat keluarga Buana yang diundang datang hari ini menerima banyak sponsor bisnis. Untuk paman-paman yang lebih tua dan tidak bisa berbisnis lagi, Alex masing-masing memberi mereka 2 miliar sebagai dana pensiun.
Harapan terbesar Ferdi, ayah mertuanya, adalah memiliki sebuah pusat olahraga dan rekreasi. Alex telah mempersiapkannya untuk waktu yang lama dan menghabiskan 300 miliar untuk membeli sebuah pusat olahraga di Jakarta, acara olahraga skala besar di Jakarta seperti pertandingan basket, tenis meja, dan pertandingan bulu tangkis hampir semuanya diadakan di tempat ini. Ferdi bisa dikatakan sangat puas.
Sejak keluarga Alex dan Erika pindah ke Villa No. 9 di Gunung Runju, status keluarga Buana telah menaungi kekayaan keluarga Utama yang dulu di Jakarta.
Orang-orang di seluruh Jakarta juga menunjukkan kebaikan mereka kepada Alex, niat mereka sangat jelas. Alex pasti akan menggantikan Rangga di masa depan dan menjadi pemimpin kalangan konglomerat di Jakarta. Jika mereka tidak memiliki hubungan yang baik dengan Alex, khawatirnya mereka akan kehilangan segalanya.
Akan tetapi, Alex selalu menjaga jarak dari kelompok orang ini, tidak ada hadiah dari pihak lain yang akan diterimanya, dan juga tidak akan berpartisipasi dalam acara makan yang diadakan pihak lain.
Friska bertanya karena penasaran: "Alex, bukankah kamu berencana untuk mengangkat status Erika jadi yang tertinggi di Jakarta dulu? Sekarang, sepertinya kamu tidak tertarik lagi?"
Alex tersenyum tipis, "Rencana tidak bisa mengikuti perubahan. Sekarang situasinya telah berubah, aku sudah ditargetkan. Jadi ada beberapa hal yang tidak boleh terlalu berlebihan."
Friska mengerutkan kening: "Siapa?"
Alex berkata, "Roselline!"
Friska terkejut, "Roselline? Kapten Pasukan Khusus Red Shield yang baru menjabat itu? Aku dengar wanita ini sangat hebat! Belum berumur 30 tahun saja sudah menjabat jadi bos Red Shield, perlu diketahui kalau pasukan khusus ini berada di bawah pimpinan Komandan Dimas. Dia sudah mencarimu?"
Alex mengangguk: "Untungnya, aku tidak membuat masalah akhir-akhir ini. Terutama, aku telah membantu pemerintah untuk memberantas kejahatan dan tidak melakukan hal yang ilegal. Namun, dia akan selalu mengamatiku."
Friska mengangguk: "Kamu tidak boleh melakukan hal yang aneh karena sudah ditargetkan oleh pembunuh seperti Roselline. Wanita ini kejam dan memiliki kekuasaan."
__ADS_1
Alex berkata, "Makanya, aku ingin melakukan lebih banyak amal sekarang. Aku telah berdiskusi dengan Erika. Besok, aku akan pergi ke kampung halamanku di Jakarta Timur untuk berinvestasi dalam beberapa proyek kesejahteraan masyarakat. Yang paling aku pikirkan adalah SMP di sana. Kudengar gedungnya hampir roboh karena sudah lama tidak direnovasi. Tidak ada dana untuk membangun kembali di sana, sedangkan alokasi dana yang diajukan masih belum ada tanggapan."
Friska setuju: "Investasi dalam pendidikan adalah hal yang sangat berarti. Jika kamu mensponsorinya, masukkan juga aku. Namun, aku akan kembali besok untuk menghadiri upacara peringatan para paman dan anggota lain yang gugur, jadi aku tidak bisa pergi bersamamu. Tolong talangin dulu bagianku, akan kubayar saat kembali nanti. Oke?"
Alex tertawa, "Tentu saja boleh. Friska, tolong sampaikan rasa bela sungkawaku kepada mereka."
Friska berkata, "Tentu."
Keesokan harinya, Alex dan Erika datang ke kecamatan di Jakarta Timur. Ketika mereka tiba, langit sudah gelap. Alex bertanya: "Erika, kita makan malam dulu, setelah itu ke hotel. Kamu mau makan apa?"
Erika tersenyum manis, "Aku tidak lapar, apa saja boleh."
Alex menunjuk ke sebuah kios kaki lima di kejauhan, "Aku sering makan di sana pas masih SMP. Rasanya enak, murah lagi, jadi ingin mencoba rasanya lagi."
Jadi, keduanya datang ke kios sambil bergandengan tangan, Alex memesan iga sapi, dan beberapa sayur lainnya, serta bir. Saat keduanya sedang makan dengan senangnya, tiba-tiba datang seorang pemabuk. Pemabuk itu mungkin ingin pergi ke toilet, dan ketika melewati meja ini, dia tiba-tiba melihat Erika yang cantik. Pemabuk itu belum pernah melihat wanita secantik itu, "Cantik sekali cewek ini, rambut hitam, wajah yang indah, bibir merah, ada dua lesung pipi juga saat senyum, wah sungguh cantik."
Pemabuk itu berhenti, "Hei, dik, gimana kalau minum dengan kakak? Tenang saja, kakak kasih kamu upah kok, 400 ribu cukup?"
Erika memberinya tatapan jijik.
“Sialan, hei, jangan tidak tahu diri ya! Aku berbaik hati mengundangmu untuk minum, tetapi kamu malah tidak setuju? Dengar ya, di Jakarta Timur, tidak ada yang berani menantang seorang Dicky, apalagi memarahiku.
Dicky berkata sambil menyeringai, dan mengulurkan tangan untuk menangkap Erika. Karena marah, Erika menyiram setengah gelas birnya ke wajah pemabuk itu. Dicky seketika marah besar, tetapi dia memang minum banyak, jadi gerakannya agak lamban, dan tidak bisa menangkap Erika. Erika berdiri dari kursi dan bersembunyi di belakang Alex.
Alex mengambil botol dan memukulnya ke kepala Dicky! Botol pecah di kepalanya dan mengakibatnya kepala Dicky berdarah. "Pergi dari sini kalau tahu diri."
__ADS_1
Dicky jatuh ke tanah sambil menutupi wajahnya setelah kepalanya dipukul. Dia berteriak: "Kemari, cepat! Aku dipukuli."
Tidak masalah jika Dicky berteriak seperti ini, tapi tiba-tiba belasan orang yang ada di meja kejauhan seketika datang, "Kak, ada apa ini?"
"Kak Dicky, ada apa denganmu?"
"Ya. Kenapa sampai berdarah? Siapa yang memukulmu?"
Dicky menutupi kepalanya dengan satu tangan, dan menunjuk Alex dengan tangan lainnya: "Dia orangnya."
Sekitar 20 preman segera mengepung meja Alex hendak turun tangan.
Tiba-tiba, seseorang berteriak: "Hentikan!"
Semua orang melihat ke belakang bersama, seorang pria kekar yang duduk di samping meja Alex berdiri dari kursinya. Dia memakai jaket berwarna hitam. Penampilannya sangat bersih, matanya tajam, sangat jelas kalau dia bukan orang biasa.
Anak buah Dicky tertegun sejenak, lalu bertanya, "Siapa kamu? Mau ikut campur?"
Pria muda itu menunjuk Dicky, "Baru saja, kamu mabuk dan melecehkan gadis itu, jadi kamu dipukuli. Jangan karena kalian ini orang sini, jadi bisa seenaknya menggertak orang dengan jumlah. Aku tidak suka melihat hal seperti ini."
Melihat pemuda ini, mata Alex seketika berbinar, "Eh, bukankah ini teman SMP ku, Edi Widjaya?"
Saat masih sekolah, Edi memang suka melawan ketidakadilan.
"Edi, masih kenal aku tidak?"
__ADS_1