
“23 menit lagi! Cepat!” Alex berteriak, “Jangan tanyakan pertanyaan yang membosankan, konsentrasi saja!”
“Baik!” Pilot menerbangkan helikopter dengan kecepatan tertinggi, sedangkan Alex menatap waktu di layar dengan gugup sampai otot-otot di wajahnya terus berkedut.
Jarak apa yang dianggap sebagai jarak aman? Bisakah bom nirkabel ini kehilangan kontak dengan bom di lokasi konstruksi?
Alex terus memikirkan hal ini, tapi dia tidak bisa mendapatkan kesimpulan, yang bisa dia lakukan hanyalah mengikuti perasaannya!
“Lapor Jenderal Roselline, kami menemukan satu bom! Tolong beri instruksi.” Akhirnya kabar baik datang dari polisi khusus.
Sebelumnya Roselline sudah memberi tahu bagaimana cara mengatasi bom lewat komunikator. Oleh karena itu, dia berteriak, “Lekas laporkan lokasi kalian, helikopter akan segera tiba! Cepat, kalian harus bekerja sama dengan baik, coba yang terbaik untuk menjauh dari sini dan buang ke dalam laut, mengerti?!”
“Baik! Jenderal jangan khawatir, helikopter nomor 2 sudah tiba di atas tempat alat peledak dan akan segera mendarat.”
“Ketemu satu alat peledak di sini, kami meminta bantuan dari pihak polisi! Aku Andi, cepat!” Andi juga mendapatkan sebuah alat komunikator dari pihak polisi, oleh karena itu dia berteriak dengan senang, “29 menit lagi! Cepat!”
Roselline sendiri juga sangat senang, “Andi, aku Roselline, helikopter sudah terbang ke arah kalian, tolong kerja sama dengan mereka. Pastikan untuk melempar alat peledak ke dalam laut nanti! Mengerti?!”
Andi berteriak, “Mengerti! Cepat kirim helikopter kemari! Jangan banyak ngomong lagi!”
Andi yang memegang bom sangat panik karena bom ini dapat meledakkan seluruh bangunan.
Lima menit kemudian, satu per satu dari kedua helikopter itu lepas landas dan terbang menuju laut.
“Terus cari alat peledaknya! Harus serius!” Roselline khawatir, jika masih belum menemukan peledak lain… akibatnya benar-benar tak bisa dibayangkan!
“Lapor Jenderal Roselline. Di sini pusat informasi polisi khusus. Kami telah membuat perangkat pengacau sinyal, juga sedang mencari sinyal mencurigakan, tolong beri instruksi.”
“Bagus sekali! Roselline di sini, jika kalian mendapatkan sinyal yang mencurigakan, maka harus menemukan cara untuk memblokirnya! Jangan lewatkan satu pun sinyal mencurigakan! Selain itu, pastikan untuk menemukan sumber sinyal yang mencurigakan! Harus temukan! Mengerti?”
“Dimengerti, kami sedang melakukannya.”
“Lapor Jenderal Roselline, kami menemukan satu bom nirkabel, tolong beri instruksi.”
__ADS_1
“Bagus sekali, cari cara untuk melepaskannya!”
“Baik!”
“Lapor Jenderal Roselline, kami menemukan satu bom nirkabel, tolong beri instruksi.”
“Lepaskan sekarang!”
…
Jarum jam semakin dekat dengan angka 12 dan suasana di pelabuhan baru menjadi semakin tegang!
“10 menit lagi.” Roselline sangat khawatir. Jika salah satu bom meledak, maka hasil akhirnya adalah seluruh pelabuhan baru menjadi akan lautan api. Dia benar-benar tidak berani membayangkannya, jika sungguh terjadi insiden semacam ini, maka kerugian negara sangatlah besar!
Jenderal Roselline yang pernah mengalami berbagai pengalaman mengerikan sama sekali tidak mempertimbangkan keselamatan diri sendiri.
Selanjutnya, bom nirkabel terus ditemukan, tampaknya ini bukan bom utama yang memicu ledakan semua bom, hal ini membuat Roselline sedikit lega.
Tapi dia tetap sangat cemas: Alex brengsek, mengapa kamu ikut pergi ke laut dengan helikopter?
“Jenderal Roselline, bagaimana situasinya?” Pak Daniel dan pejabat senior pemerintah kota datang kemari.
“Pak Daniel! Mohon untuk segera meninggalkan tempat ini! Di sini cukup ada aku dan pihak polisi saja! Silakan segera ikut para warga untuk meninggalkan pelabuhan baru!” Begitu melihatnya, Roselline langsung berdiri.
Walikota Daniel menggelengkan kepala, lalu berkata, “Jenderal Roselline, kamu adalah pasukan elit negara, dan juga pejuang sejati, tapi aku Daniel Bambang juga pejabat negara dan termasuk salah satu di antara pejuang negara! Jadi bagaimana mungkin aku meninggalkan tempat ini sebelum bahaya hilang? Jika aku sungguh berbuat begitu, bagaimana aku bisa menghadapi negaraku di masa depan dan bagaimana menghadapi pemimpin yang telah mendidikku?”
“Lapor Jenderal Roselline, kami menemukan bom nirkabel lagi dan sedang melepaskannya.”
“Bagus sekali, terus cari!” Perintah Roselline melalui komunikator.
Kemudian, dia mematikan komunikator dan berkata dengan serius, “Pak Daniel, pos komando kami sangat dekat dengan pelabuhan baru, jaraknya ngak lebih dari 5 km. Jika terjadi ledakan, dan terlebih lagi tempat ini dikelilingi gunung, maka kami sulit memastikan keamanan pos komando, jadi Pak Daniel, Anda harus pergi. Ini adalah perintah!”
“Aku ngak mau pergi, aku, Daniel Bambang ingin berjuang bersama para pasukan! Aku ngak boleh meninggalkan para pasukan dalam bahaya!” Kata Walikota Daniel.
__ADS_1
“Seseorang, ikat Daniel, lalu bawa ke mobil dan lekas pergi!” Ucap Roselline sambil melihat dua polisi dan berteriak, “Ini adalah perintah!”
“Baik!” Jawab kedua petugas polisi tersebut, lalu menahan Walikota Daniel dan menyeretnya ke mobil polisi.
“Lepaskan aku!” Walikota Daniel melawan.
Roselline berteriak, “Ini adalah perintah! Anda harus patuh! Di sini aku adalah komandan dengan pangkat tertinggi!”
Setelah itu, Roselline memandang para pejabat pemerintah lainnya, “Kalian juga segera pergi dari sini, tidak boleh berkomentar, cepat!”
Para pejabat tinggi saling memandang, lalu melihat jam tangan mereka, saat ini masih tersisa 7 menit sebelum jam 12 tengah malam!
“Pergilah, semuanya, aku, Olga, ngak berani ikut bubar, atau Jenderal Roselline akan membunuhku. Ngak ada gunanya kalian di sini, sebaiknya pergi saja.” Memang Pak Olga sangat berpengalaman dalam menghadapi ini, hanya satu candaan saja sudah bisa membujuk para pejabat itu pergi.
Roselline berteriak ke arah komunikator, “Semua tim segera melapor, apakah di sana masih ada warga?”
Tim Andi melapor, “Lapor Jenderal Roselline, aku Mark, tidak ditemukan adanya warga di sini!”
“Oke!” Roselline berkata dengan serius, “Apakah masih ada warga dan pekerja di pelabuhan?”
Jacob selaku ketua tim penjinak bom menjawab, “Lapor Jenderal Roselline, aku Jacob, saat ini anggota kami tidak menemui warga maupun pekerja, mereka semuanya sudah pergi.”
Kemudian, Roselline menelepon Erika, “Ka, apa para pekerja di lokasi konstruksi sudah bubar?”
Erika berkata, “Saat ini sudah bubar semuanya, ngak ada orang lagi.”
“Oke kalau gitu.” Roselline menutup telepon dan berkata pada Pak Olga, “Pak Olga, waktunya menguji kemampuan kita! Aku meminta kalian untuk membawa semua staf di pihak kalian untuk pergi secepatnya.”
“Apa?” Pak Olga mengira dirinya salah dengar, “Kapten Yudi, apa aku salah dengar?”
Yudi tersenyum pahit, “Pak Olga, kamu ngak salah dengar, Jenderal Roselline memerintahkanmu untuk pergi.”
Pak Olga memutar pergelangan tangannya, lalu melihat jam tangan, “Bukankah cuma tersisa 2 menit?! Meskipun aku pergi, juga ngak sempat lagi. Jenderal Roselline, mari kita menghadapi bahaya ini bersama-sama!”
__ADS_1
Roselline menatap ke arah lokasi konstruksi, bangunan tempat tinggal, dan akhirnya menatap ke arah pelabuhan, “Pak Olga, yang kita hadapi adalah orang yang ngak takut mati, sedangkan tugas mereka adalah menghancurkan pelabuhan baru kita, jadi tempat ini sungguh amat berbahaya.”