
Hengky berkata, “Aku ngak asal ngomong, aku cuma ngerasa Nona terlalu aneh begini! Mungkin saja dia kena santet!”
Tatapan matanya sangat tajam, dia ingin sekali menemukan orang itu dan membunuhnya sekarang juga.
“Santet? Maksudmu, kena aliran sesat?” Alex tercengang, tatapannya juga menjadi tajam, “Selain keluarga Mahari, siapa lagi yang bisa menargetkannya?”
Di detik ini, Alex hampir saja menerobos keluar! Kalau sampai nyawa Friska tidak bisa diselamatkan, maka dia pasti akan membuat keluarga Mahari membayarnya dengan darah!
Hengky berkata, “Keluarga Mahari, awas saja kalian! Tapi keluarga Mahari terlalu kuat, kita perlu merencanakannya dengan baik kalau ingin melenyapkan mereka.”
Alex yang sudah pernah mengalami berbagai macam perang segera menenangkan diri, “Uhm, yang perlu kita pikirkan sekarang ada cara menyelamatkan nyawa Friska! Heng, suruh orang ke PT. Atish untuk melihat rekaman cctv, kuharap bisa menemukan jejak orang yang mengancam nyawa Friska. Aku akan pergi menemui seseorang, mungkin saja ada gunanya untuk pengobatan Friska.”
“Oke! Rega, kamu jaga di sini, aku dan Kak Alex akan berpencar! Jangan sampai ada yang terjadi pada Nona!” pesan Hengky sebelum bergegas pergi.
Orang yang ingin dicari Alex adalah Jeremy Sitohang, orang-orang biasa memanggilnya Dewa Jerry. Dia memang pernah menjadi tentara bayaran selama beberapa waktu di Gang Beruang Hitam, kemudian dia pensiun dengan membawa luka dan pulang ke Indonesia.
Alex mengingat dengan jelas kalau waktu itu kepalanya terbentur sehingga mengakibatkan dia sedikit gila. Namun, kemudian Alex juga pernah menghubunginya lagi, dan dia bilang kalau dia punya kontak dengan beberapa organisasi ajaib.
Setelah datang ke kota Medan, Alex baru teringat kalau Jerry adalah orang Medan. Oleh karena itu, dia segera pergi dari rumah sakit dan mencari ke alamat yang pernah ditinggali Jerry sebelumnya menggunakan taksi.
Sebelum sampai di depan gang rumah Jerry, taksi yang ditumpanginya dihalangi oleh berbagai jenis mobil yang berhenti sembarangan di depan. Jadi, Alex pun turun dari taksi, lalu membayar ongkos dan berjalan kaki menuju gang tersebut.
Di dalam gang ada lumayan banyak orang, yang berpakaian bagus tidaklah sedikit, setiap kelompok terdiri dari sekitar 3 hingga 5 orang, mereka sedang membicarakan keajaiban Dewa Jerry.
“Eh, Dewa Jerry habis bantu aku lihat rumah, terus aku renov sesuai yang dia katakan, eh hasilnya putraku diterima di Universitas Indonesia!”
“Tahu ngak seajaib apa Dewa Jerry? Pas dia ngelihat aku, dia langsung bilang kalau pohon mangga di depan rumahku itu sumber penyakit keluargaku, dan bilang semua akan membaik kalau sudah ditebang, padahal aku belum bilang apa-apa.”
__ADS_1
“Eh, belum pada tahu, kan? Masih ada yang lebih ajaib lagi! Pas ngelihat aku, Dewa Jerry tanya, aku datang berobat untuk Istriku bukan. Terus dia bilang, Tenang saja, penyakit Istriku akan sembuh karena aku sudah menemukannya! Kalau ngak percaya, coba telpon. Bener dong! Sekali aku tanya, penyakit Istriku langsung sembuh ngak lama setelah itu! Hahaha! Aku memberi Dewa Jerry 20 juta sebagai rasa terima kasih! Hahaha… senang sekali aku tuh!”
Alex menggelengkan kepala sambil tersenyum pahit, padahal tentara bayaran super, eh sekarang malah jadi Dewa di mulut orang? Mungkin anak ini punya kemampuan super sekarang, selain bisa lihat arah angin, bisa lihat rumah hantu sama macam-macam penyakit aneh.
Sebuah antrian panjang memenuhi gang tersebut, kelihatannya ada sekitar belasan orang, sepertinya bisnis Dewa Jerry ramai juga.
Alex mengeluarkan ponsel untuk melihat jam, sekarang sudah jam 2 sore, dia lagi buru-buru! Jadi mau tak mau dia harus menerobos ke dalam antrian.
“Eh! Kamu! Enak saja. Ngak lihat apa orang lagi antri?” Seorang pemuda berambut cepak merasa tidak senang begitu melihat Alex menerobos antrian, “Lihat ngak? Yang di belakang itu semua datang lebih awal daripada kamu!”
Alex menjelaskan, “Aku datang cari orang, bukan untuk berobat.”
“Cari teman? Siapa namanya? Kerja apa? Biar kubantu cari!” ujar pemuda berambut cepak dengan waspada.
Alex berdiri di depan pintu rumah dan berteriak ke dalam, “Jeje! Jeje!”
Ini adalah julukan khusus Jerry di Gang Beruang Hitam, dan hanya diketahui oleh rekan dekat saja.
“Eh! Oi! Siapa? Tunggu bentar!” Dewa Jerry keluar dengan terburu-buru dengan pakaian ala-ala Dewa, “Kak… Beruang? Eh, rupanya teman lama toh! Kok bisa kesini? Uhm, kalian pulang saja dulu! Sana pulang! Aku ada urusan hari ini!”
Bulu kuduk orang-orang yang ada di sana seketika berdiri, jadi si Dewa Jerry ini punya julukan spesial bernama Jeje!
Nama Jeje ini hebat banget? Sampai-sampai dia ngak mau berbisnis? Kalau gitu kita-kita juga panggil begitu sejak awal.
Pemuda berambut cepak barusan tidak terima, “Eh, Dewa Jerry, kami ini sudah nunggu setengah hari di sini! Terus kamu ngak mau praktek lagi cuma gara-gara dia manggil begitu? Ngak bisa gitu dong! Ngak adil!”
Raut Dewa Jerry menjadi suram, “Sana pergi jauh-jauh! Bubar semua! Kita bicarakan lagi besok, maaf.”
__ADS_1
Pemuda berambut cepak juga orangnya emosian, dia langsung marah besar sampai menaikkan lengan bajunya dan berjalan ke hadapan Dewa Jerry, “Dewa Jerry sialan, aku ngak mau tahu! Pokok hari ini kamu harus memeriksaku dulu!”
Pemuda berambut cepak yang bertubuh kekar ini mencengkram kerah baju Dewa Jerry. Dilihat dari perbedaan postur tubuh keduanya, sepertinya Dewa Jerry akan babak belur hari ini.
Namun, Alex tidak peduli, dia sama sekali tidak berniat untuk membantunya.
Segera, ada orang yang berargumen terhadap sikap Alex, dan berkata dengan suara pelan, “Teman Dewa Jerry pengecut banget ya? Orang sudah mau kena pukul, eh dia malah diam saja?”
Namun, yang tidak terbayangkan oleh mereka semua adalah, Dewa Jerry yang terlihat lemah, menusuk tulang rusuk bagian kiri pemuda berambut cepak dengan lembut, lalu menjentik lengan kanan pemuda itu, dan memberikannya tamparan pada waktu bersamaan.
Plak! Suara tamparan ini sangat nyaring! Sampai-sampai pemuda tersebut hampir terjatuh.
“Pergi jauh-jauh! Dengar ngak? Beraninya nyari gara-gara denganku, kamu tuh masih belum pantas!” Bagaimanapun juga, Dewa Jerry masih menyimpan keahliannya dulu.
Dewa Jerry yang terlihat galak, segera membungkuk hormat kepada Alex saat berbalik melihatnya setelah memukul pemuda berambut cepak, “Eh, Kak Alex, ayo pergi, kita cari tempat buat minum!”
“Eh, Dewa Jerry kok gitu, masih banyak yang lagi nunggu, bisa-bisanya dia mau minum sama orang lain! Benar-benar ngak punya aturan!” ucap seorang pria tua di antara kerumunan.
Dewa Jerry memelototinya dan berkata, “Di sini, akulah aturannya! Yang ngak mau nunggu, silakan pulang!”
Selesai berbicara, dia langsung menarik tangan Alex dengan akrab dan berjalan keluar. Orang-orang ini masih butuh bantuannya, jadi tidak ada yang berani menghalanginya lagi.
“Aku mencarimu karena ada urusan, ngak punya waktu buat minum denganmu. Selain itu, masalah ini menyangkut nyawa seseorang! Cepat ikut aku!” kata Alex sambil berjalan.
“Masalah apa? Kak…” Dewa Jerry mengecilkan suaranya, “Eh, yang bener? Kak, ada masalah yang ngak bisa kamu atasi? Jangan bercanda denganku.”
“Jangan banyak ngomong, ayo, kita cari taksi di luar, segera ikut denganku.” ujar Alex mengerutkan dahi.
__ADS_1
“Oke, oke, oke, gimana kalau aku ganti baju dulu?” tanya Dewa Jerry.
“Sudah, Ayo buruan!” Alex tidak ingin mengundur waktu barang sedetikpun, karena nyawa Friska sedang di ujung tanduk!