Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Tali Keberuntungan


__ADS_3

"Ini semua salahmu. Siapa yang memintamu berbicara omong kosong di pertemuan? Jika keluarga kita diusir dari keluarga Buana oleh Satriya, dan tidak ada sumber pendapatan di masa depan, putriku akan segera menceraikanmu."


Menghadapi kesulitan yang diberikan Saras Darmono, alis Alex Gunawan bergerak, dan ada tatapan mematikan di matanya.


Dia telah menelan penghinaan semacam ini selama setahun. Namun, mengingat kebaikan Erika, Alex tersenyum, aura pembunuhnya perlahan menghilang, "Bu, jangan marah. Besok aku akan bangun pagi dan berdoa untuk Erika untuk memastikan dia akan berhasil." Setelah itu, Alex kembali ke kamar.


Saras menunjuk ke arah punggung Alex yang sedang menjauh dengan jarinya, dan berkata, "Kenapa keluargaku bisa memiliki menantu sampah sepertimu? Erika, kamu harus menceraikannya."


Ferdi juga berkata: "Erika, kamu benar-benar perlu memikirkan ulang tentang pernikahanmu."


Erika menggelengkan kepalanya dan berkata, "Ayah, ibu, ketika kakek sedang sekarat, dia memegang tanganku dan menyuruhku untuk tidak meremehkan Alex. Jika bukan karena inisiatif Alex, maka jangan menceraikannya. Dia adalah satu-satunya orang di dunia ini yang dapat mengubah takdirku. Meskipun dia tidak berguna, tapi dia orang baik. Aku memiliki penilaian sendiri terhadap apa yang telah dia lakukan untukku setahun ini. "


"Yang lain ingin mengeluarkan kita dari perusahaan. Keluarga kita perlu bersatu dan bekerja keras untuk mengubah situasi, bukannya mengeluh satu sama lain. Besok, aku akan mencari cara untuk menemui Presdir Wibowo dan mencoba mendapatkan kontrak ini."


Ferdi menghela nafas dan menepuk pundak putrinya: "Erika, Ayah tidak berguna. Keluarga ini membutuhkanmu, maaf."


Saras memandang putrinya dengan bingung, dan bertanya dengan heran: "Jadi, kamu ingin hidup dengan sampah ini seumur hidup?"


Air mata Erika mengalir didampingi senyumannya!


Satu tahun pernikahan, dan hanya sebatas status. Sejak awal Erika tidak bisa menerima Alex, bahkan dia tidak pernah membiarkan Alex mendekati tubuhnya, pasangan yang tidur di kamar yang sama tetapi tempat tidur yang berbeda. Selama 1 tahun ini, Alex selalu tidur di lantai dengan beralas tikar.


Tapi waktu bisa mengubah segalanya. Dia perlahan-lahan menyadari bahwa pria di sampingnya diam-diam telah mencintai dirinya sendiri, melakukan segalanya untuk dirinya tanpa pamrih.


"Bu. Bahkan jika keluarga Buana mengusir kita dari perusahaan, putrimu ini tidak akan mengecewakanmu. Aku akan menghidupi kalian bertiga seumur hidup."


Alex yang berada di dalam kamar, tersentuh setelah mendengar kata-kata ini...


Begitu pintu terbuka, Erika masuk, wajahnya yang cantik penuh dengan air mata.

__ADS_1


"Alex, aku benar-benar tidak tahu apakah aku bisa melakukannya. Jika aku mengacaukannya dan diusir dari keluarga Buana, aku tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk mengubah takdir lagi."


Alex berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya untuk menghapus air matanya. "Erika, kamu bisa melakukannya."


Keesokan harinya, Erika bangun cukup pagi, tetapi ketika dia membuka matanya, Alex sudah pergi. Apakah dia benar-benar pergi untuk memohon doa yang terbaik buatku?


Karena waktu sudah tidak terlalu pagi, Erika mengabaikan urusan Alex, dan bersiap untuk pergi setelah merapikan diri.


Saras meraih tangan putrinya dan berkata, "Erika. Kamu selalu menjadi kebanggaan ibumu. Kali ini, kita tidak boleh membiarkan Satriya melihat lelucon keluarga kita."


Erika mengangguk dengan berat, "Bu, aku bisa melakukannya."


Hari ini adalah hari Jumat, begitu banyak orang datang ke Wibowo Group untuk mencari Presdir Wibowo. Kebanyakan dari mereka adalah bos dari industri konstruksi dan industri bahan bangunan.


Hanya saja dua orang satpam yang kokoh di depan pintu perusahaan memperingatkan bahwa Presdir Wibowo sedang rapat, mereka yang belum membuat janji sebelumnya tidak diperbolehkan masuk!


Gunung Murat di sebelah barat kota, Alex meminta sebuah tali keberuntungan. Setelah turun gunung, dia menghubungi nomor Haris Wibowo, kepala keluarga Wibowo.


"Ini Alex Gunawan, lakukan sesuatu untukku."


"Apa, Bos Gunawan, kamu berada di kota Jakarta?"


"Haris, jangan beri tahu siapa pun jika aku ada di kota Jakarta."


"Baiklah, Bos Gunawan, aku akan menurutinya, apa yang bisa aku lakukan untukmu?"


"Cabang yang dirikan Keluarga Wibowo di kota Jakarta untuk mengembangkan Teluk Indah. Perusahaan yang melakukan pembangunan harus memprioritaskan Nona Erika Buana ..."


"Ya bos, nyawaku ini milikmu, serahkan urusan kecil ini padaku!"

__ADS_1


Alex menutup telepon dengan puas.


Dari jam 8 pagi hingga jam 10.30 siang, Erika dan sepuluh bos lainnya telah dihalang di luar gerbang kantor cabang. Mereka hanya bisa menunggu dengan diam dan tak berdaya.


Di tengah keadaan, beberapa bos menggelengkan kepala dan menghela nafas, merasa bahwa mereka tidak punya kesempatan hari ini, jadi mereka masuk ke dalam mobil dan pergi!


Di dalam mobil Audi hitam tidak jauh dari sana, Satriya dengan penuh kemenangan berkata kepada adiknya, Riska: "Apa yang aku bilang? Dia selalu merasa bahwa dia mampu dan hebat. Tapi tidakkah sama saja, bahkan dia tidak bisa bertemu dengan Presdir Wibowo? "


Riska berkata: "Aku tidak berpikir orang-orang ini bisa mendapatkan kontrak. Erika lebih tidak mungkin lagi. Kak, jangan menunggu lagi, kita hanya akan membuang-buang waktu di sini."


Satriya menyalakan mobil sambil tertawa, "Mari kita tunggu dia gagal dan keluar dari perusahaan keluarga Buana dengan sendirinya."


Erika menunggu setengah jam lagi, dia melihat jam tangannya dengan cemas, ini sudah hampir pukul sebelas.


Senin depan, Teluk Indah akan mengumumkan pihak yang bekerja sama. Jika tidak dapat menandatangani kontrak hari ini, maka tidak akan ada kesempatan lagi.


Tampaknya rapat Presdir Wibowo pagi ini tidak akan berakhir. Tanpa bertemu Presdir Wibowo, kontrak mungkin tidak bisa ditandatangani.


“Erika, tali keberuntunganmu!” Alex melempar sepedanya, berlari dengan keringat bercucuran, dan menyerahkan tali keberuntungan berwarna merah.


Erika mengerutkan kening. Dia ingin memarahi Alex beberapa kata, tetapi ketika dia melihat keringat Alex yang telah membasahi pakaiannya, dia tidak bisa menahan perasaan dan menerima tali keberuntungan dengan tangannya, "Alex, kamu telah bekerja keras."


Alex bertanya: "Bagaimana kontraknya?"


Erika tersenyum pahit dan menunjuk ke pintu perusahaan, "Aku bahkan tidak memasuki pintu. Petugas keamanan mengatakan bahwa Presdir Wibowo sedang rapat. Siapa pun yang belum membuat janji tidak akan diizinkan masuk."


Alex berkata: "Erika, aku telah meminta tali keberuntungan, kamu dapat pergi dan mencoba keberuntunganmu lagi. Mungkin, Presdir Wibowo sedang menunggumu untuk merundingkan kontrak."


Erika tidak berharap apapun, dia berjalan mendatangi dua penjaga keamanan, "Permisi, nama saya Erika Buana, saya adalah perwakilan bisnis dari Buana Group, dan aku ingin mendiskusikan kerjasama bisnis dengan perusahaan Anda ..."

__ADS_1


__ADS_2