Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Sangat Pintar


__ADS_3

Ayah dan anak keluarga Wardoyo yang telah menyelesaikan penandatanganan sudah benar-benar putus asa, Ehsan sendiri juga tidak habis pikir kalau bisnis keluarganya akan menjadi ganti rugi atas kesalahannya.


Mendengar Hengky yang masih ingin membunuh mereka, Ehsan pun berteriak, “Alex, kamu harus tepati perkataanmu!”


Alex mengangguk, “Heng, lepaskan saja mereka! Tapi, Ehsan, kamu harus angkat kaki dari Medan malam ini juga, kalau ketahuan olehku kamu masih berada di sini…”


Ehsan bergegas menganggukan kepala, “Oke, oke, kami jamin akan pergi dari Medan malam ini juga, aku akan segera pesan tiket!”


Hengky memperingatinya, “Karena kalian sudah memutuskan untuk pergi dari Medan, maka ini juga merupakan syarat pergantian nyawa kalian. Jadi ingat, jangan punya hubungan apapun lagi dengan orang yang ada di Medan kalau sudah pergi!”


“Oke, baik. Dika, cepat beritahu anggota keluarga kita, ayo pergi.” Ehsan merasakan ketakutan yang mendalam, dia tidak lagi berani mengatakan apa-apa.


Kemudian, Andika pun langsung menelpon istri dan juga anaknya untuk meminta mereka bersiap-siap untuk meninggalkan kota Medan, dan tidak akan pernah kembali lagi.


“Apa kami sudah boleh pergi?” Keadaan Andika sangat memalukan, tapi setelah saham dan perusahaan dialihkan kepada mereka, mereka memang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dibereskan.


Hengky melihat Alex, dan Alex mengangguk, “Oke! Ingat perjanjian kita. Kalau ngak, kalian ngak bakal bisa menanggung akibatnya!“


Andika memapah Ehsan berdiri dengan kesusahan, lalu menaiki mobil Cadillac miliknya dan pergi.


“Yah, kita beneran mau pergi dari sini?” Rasa sakit di wajah Andika tak tertahankan, rasa penat di dadanya tak punya tempat untuk dilampiaskan, sorot matanya sedingin bongkahan es, “Kita bisa lapor polisi sekarang, biar polisi yang tangani mereka!”


Ehsan menghela nafas, “Dika, emang kamu masih ngak tahu kalau Alex bukan orang sembarangan?! Kamu kira pihak kepolisian bisa menanganinya? Huh, aku punya firasat kalau Alex punya maksud lain! Tujuannya datang ke Medan sebenarnya bukan untuk melawan kita.”


“Hah? Yah, Anda sudah pikun ya? Dia sudah merebut jerih payah kita selama belasan tahun, tapi Anda bilang bukan melawan kita?” ucap Andika sulit percaya.

__ADS_1


Ehsan mengangguk, “Meskipun kita dibuat terpuruk begini olehnya, tapi ini juga salah Ayah karena terlalu percaya diri sudah menganggap remeh dia, ini sudah seharusnya jadi karma keluarga kita. Tapi saat menandatangani dokumen tadi, aku bisa melihat kalau Alex sangat familiar dengan prosedur-prosedurnya! Selain itu, dia juga sepertinya tidak peduli dengan aset keluarga Wardoyo yang tak seberapa itu… Semakin dipikir aku semakin takut, siapa sebenarnya Alex?”


Andika tertegun untuk waktu yang lama dengan hanya menggelengkan kepala, Ehsan kembali melanjutkan, “Dilihat dari setiap tindakan Alex, alasannya datang ke Medan harusnya keluarga Mahari!”


“Apa?! Dia benar-benar pandai bermimpi!” Andika tersontak kaget, “Mereka mau menghadapi keluarga Mahari? Itu sama saja cari mati!”


Ehsan berkata, “Entah pihak mana yang menang dalam perebutan ini, kita sebaiknya tidak terlibat dalam masalah ini kalau bisa pergi dengan damai. Dika, ini pilihan kita. Jika keluarga Mahari bisa melenyapkan Alex, maka belum terlambat jika kita kembali dan memulainya.”


Andika menggertakan gigi dan berkata, “Tapi, Yah, aku ngak ikhlas!”


Ehsan menghela nafas, “Ayah juga ngak ikhlas. Tapi, mana yang lebih penting, nyawa kita atau aset-aset itu? Kita ngak boleh mempertaruhkan nyawa seluruh keluarga.”


Andika menghela nafas berat, “Baiklah, Yah. Sebenarnya aku ingin menghubungi anggota keluarga Mahari untuk memberitahu mereka mengenai niat Alex melawan mereka agar mereka bisa membuat persiapan.”


Ehsan menggelengkan kepala dan tersenyum pahit, lalu berkata, “Mereka hanya akan menganggap kabar ini sebagai lelucon kalau kamu menelponnya. Sudahlah, jangan cari hinaan lagi, mending kita pergi dulu dari sini.”


Setelah kejadian itu, Ehsan sangat bersyukur dengan keputusannya hari ini, karena di kemudian hari dia memang melihat kemusnahan keluarga Mahari! Sehingga dia tidak berani lagi memiliki niat untuk melawan Alex!


“Kak Alex, mereka dibiarkan pergi gitu saja? Gimana kalau mereka mengadu pada keluarga Mahari?” Rupanya Hengky juga penuh dengan tanda tanya.


Alex tersenyum tipis dan berkata, “Mereka cari mati namanya kalau punya pikiran lain!” ujar Alex kemudian mengutak-atik ponselnya, “Hanya dengan 1 perintahku, maka mobil mereka akan meledak!”


Hengky menjulurkan lidahnya dan mengacungkan jempol pada Alex, “Luar biasa, kak.”


Alex berkata, “Aku memang tidak berniat melepaskan mereka karena berani menyakiti Friska, tapi Ehsan sangat pintar dengan tidak mempermainkanku.”

__ADS_1


Kedua juga bergegas naik ke mobil dan pergi, di tengah perjalanan, Alex langsung menghubungi sebuah bank luar negeri lewat telepon dan meminta mereka untuk mentransfer uang sebesar 4 triliun rupiah ke nomor rekening yang sudah dia tunjuk, setelah memverifikasi ulang beberapa kali identitas Alex, barulah mereka setuju untuk melakukan transaksi.


“Wah! Dananya sudah masuk!” Bahkan Friska sendiri juga sulit percaya saat menerima sms bukti transfer, “1, 2, 3, 4…. memang 4 triliun! Astaga!”


Bukannya Friska tidak pernah melihat uang sebanyak ini di dalam rekening bank, tapi bisa mengumpulkan uang sebanyak ini dalam waktu 1 hari memang sungguh luar biasa.


“Hm? Beneran udah ada?” Hati Erika juga berdetak hebat, “4 triliun lho ini, bukan 400 juta.”


Jasmin juga mendekat dan menghitung jumlah nol tersebut dengan teliti, lalu mengangguk dengan pasti, “Memang 4 triliun! Presdir Erika, Manager Friska, kita ngak perlu mengkhawatirkan dana lagi sekarang!”


Erika sudah tidak tahan, jadi dia menelpon Alex, “Katakan dengan jujur, kamu dapat uang sebanyak itu dari mana? Pinjaman juga ngak mungkin bisa secepat ini.”


“Pinjam kok.” jawab Alex singkat.


“Pinjam? Siapa yang bisa minjemin kamu uang sebanyak ini?” Erika masih tidak percaya.


“Seorang teman, dia ngak mau namanya diketahui. Kamu tenang saja, asal usul uang ini aku jamin ngak bermasalah.”


“Oke deh kalau gitu, yang jelas dengan uang sebanyak ini semuanya pasti akan lancar.” Erika mengakhiri panggilan karena tidak bisa mengetahui jawaban yang diinginkan.


3 hari berlalu, persiapan dokumen penawaran Friska, Erika dan Jasmin bertiga juga sudah hampir selesai, semuanya sudah siap untuk menunggu acara tender 10 hari kemudian.


Kebiasaan yang dipelihara Larry adalah tidak akan berada di rumah untuk waktu yang lama biasanya, entah kemana dia akan pergi untuk berlatih. Oleh karena itu, sama sekali tidak ada yang menanyai keberadaannya yang tiba-tiba menghilang beberapa hari. Termasuk Astrid yang tiba-tiba menghilang dari muka bumi juga tidak ada yang bertanya.


Sementara Kennedy memikirkan satu hal: Bid Rigging atau Tender Kolusif.

__ADS_1


Karena keluarga Mahari menginginkan proyek rekonstruksi pelabuhan Medan, maka pada saat tender nanti, pastinya tidak boleh membiarkan perusahaan lain di luar rencana ikut dalam pemungutan suara. Kalau tidak, sangat mungkin akan terjadi masalah.


“Ton, sudah kamu selidiki dengan jelas? Berapa total perusahaan yang ikut tender?” tanya Kennedy kepada seorang pemuda paruh baya di sampingnya sambil memutar 2 buah bola terapi tangan.


__ADS_2