
Hati Alex tergerak. Dia tentu saja mengerti maksud Friska.
Tapi, Alex malah berkata, “Oh? Kalau begitu terima kasih, CEO Friska.”
Friska tiba-tiba merasa sakit hati sampai air matanya menetes ke punggung Alex.
Alex tercengang, “Kenapa kamu?”
“A… aku baik-baik saja.” Friska segera menyeka air matanya. “Mungkin ada debu yang masuk ke mataku.”
Alex berkata sambil tersenyum, “Oh, memang debu yang menyebalkan.”
Friska sudah selesai membantunya mengoleskan obat, lalu dalam hatinya, ia bergumam kesal: Yang menyebalkan adalah kamu!
Hatinya merasa sakit ketika menatap luka di punggung Alex, tapi tidak pantas bila ia mengungkapkan kesedihannya. Friska tiba-tiba berkata, “Apa kamu ingin kembali bertemu CEO Erika dengan kondisi begini? Kalau dia melihat ini, dia pasti akan sedih.”
“Em, betul juga!” Alex menepuk kepalanya, “Kalau begitu malam ini, aku tidur bersama Martin dan yang lainnya.”
Friska bersenandung, “Nggak perlu, kamu tidur saja di sini.”
“Apa?” Alex tercengang.
Friska segera menjelaskan, “Aku akan mencari kamar lain untuk istirahat.”
“Nggak boleh. Aku nggak bisa menjelaskan ke Erika kalau dia tahu aku tidur di kamarmu.” Alex berdiri. Ketika dia mengambil bajunya, dia baru menyadari kalau bajunya sudah kotor dan robek.
Friska berkata, “Tinggalkan saja baju itu di sini, lalu aku akan membantumu mencari satu baju.”
“Cari di mana?” Alex kebingungan.
“Tentu saja cari di tempat Martin karena mereka pasti ada baju.” Friska berjalan ke depan pintu.
“Jangan! Jangan mencari mereka! Kalau kamu bilang kamu meminjam baju untukku, mereka pasti akan mengada-ngada.” Alex segera menghentikannya.
__ADS_1
“Kalau begitu aku akan keluar dan membelikan baju untukmu!” Friska keluar dari kamar dan menutup pintu.
Kemudian dia mengunci pintu dari luar.
Setelah itu, Friska pun mencibir: Aku mau melihat bagaimana kamu bisa kabur lagi.
Setelah Friska keluar, dia melihat waktu melalui ponsel, ternyata sudah tengah malam! Toko pakaian mana yang masih buka di jam segini?
Friska benar-benar nggak ada cara lain. Dia hanya bisa pergi mencari Martin, lalu mengambil baju satpam yang bersih dari sana. Ketika dia berjalan di koridor tempat tinggal, kriet, pintu Erika tiba-tiba terbuka. Tapi Erika malah berjalan keluar menuju ke arah Friska.
Seketika Friska pun tersenyum canggung, “Em, halo CEO Erika.”
Erika tersenyum padanya sambil berkata, “Friska, apa yang kamu lakukan di tengah malam? Kenapa kamu memegang baju? Ih? Bukankah ini baju satpam?”
“Em…” Friska berpikir dengan cepat, tapi dia tidak dapat menemukan alasan yang baik, “Aku mau mencoba baju ini.”
“Kamu mau mencobanya? Apa yang mau kamu lakukan? Baiklah, aku mau melihatmu mencoba pakaian ini.” Erika berdiri di pintu kamar Friska dan menunggu Friska membuka pintu.
Seketika langkah Friska menjadi lambat sampai lebih lambat dari siput.
Dia berpura-pura mencari kuncinya. Tapi setelah meraba di dalam tasnya sangat lama, dia pun menarik tangannya yang kosong, lalu menepuk kepalanya, “Aduh. Tadi aku meninggalkan kunciku di ruang Martin. CEO Erika, kamu istirahat dulu, besok aku baru menunjukkan seragam satpamnya padamu.”
Erika melirik Friska dari atas sampai bawah, “Hmm! Malam ini, kamu terlihat sangat aneh. Bagaimana kalau aku menemanimu mencari kunci? Ini sudah tengah malam, kamu pasti akan takut.”
“Ha? Nggak usah, aku nggak takut kok.” Friska membuat gerakan yang sangat jantan, “Ilmu bela diriku sangat baik, bagaimana aku bisa takut? CEO Erika, kamu cepat kembali dan istirahatlah.”
Selesai berbicara, dia bergegas ke arah lift, lalu masuk sebelum pintu lift tertutup.
Martin sedang memimpin sekelompok satpam untuk menjaga malam, lalu dia melihat Friska keluar dari dalam lift, jadi bergegas menyambutnya dengan senyum, “Yah, CEO Friska, kenapa Anda kembali lagi? Apa baju ini nggak cocok? Kalau gak aku akan mengambilkan baju yang baru untukmu?”
Friska asal menjelaskan, “Oke. Karena pekerjaanku, jadi aku membutuhkan dua baju satpam. Tadi aku lupa, jadi hanya mengambil satu baju saja.”
“Oh, nggak apa-apa. Aku akan segera menyiapkan baju baru untukmu.” Sikap Martin sangat baik.
__ADS_1
Friska sengaja berdiam di sini sebentar sebelum kembali naik dengan lift.
“Ha? CEO Erika, kamu masih di sini?” Ketika lift terbuka, Friska pun melihat Erika sedang menatapnya dengan mata membelalak.
“Kenapa kamu mengambil satu baju satpam lagi? Apa yang mau kamu lakukan?” Erika menatapnya dengan tersenyum.
Masalah sudah begini, jadi Friska nggak bisa menghindar lagi, dia hanya bisa berkata dengan jujur.
“CEO Erika, sekarang aku hanya bisa berkata dengan jujur, tapi kamu nggak boleh salah paham pada kami setelah mendengar hal ini.” Sikap Friska sangat serius.
Erika mengangguk dengan senyum, “Iya, kamu tenang saja. Aku nggak akan salah paham, kamu katakan saja.”
“Malam ini, aku bertemu dengan Dirut Alex yang baru kembali, tapi aku melihat lukanya terbuka, jadi aku membawanya ke kamarku untuk mengoles obat.”
“Oh, apa sudah selesai dioles?” Erika terlihat sangat polos.
“Sudah. Tapi, dia takut kamu akan sedih saat melihat lukanya. Jadi dia ingin mencari tempat untuk istirahat, tapi ketika dia mau keluar, aku melihat bajunya sudah robek. Barulah aku mencari satpam untuk membantunya meminjamkan baju.”
Begitu Friska selesai berbicara, dia pun menunjukkan ekspresi pasrah, “CEO Erika, aku sudah berkata dengan jujur. Kalau kamu nggak percaya, aku juga nggak bisa berbuat apa-apa.”
Selesai berbicara, dia segera mengambil kunci untuk membuka pintu kamarnya, kemudian berjalan masuk, “Alex, aku sudah menemukan baju untukmu! Oh ya, CEO Erika juga datang kemari.”
“Apa?” Alex pun panik, bagaimanapun juga dia benar-benar tidak bisa menjelaskan hal dia bersembunyi di kamar Friska.
“Bagaimana lukamu? Kenapa kamu berkelahi dengan orang lagi?” Erika melihat kapas di lantai yang masih berlumuran darah. Hatinya langsung terasa sakit dan dirinya bergegas ke samping Alex untuk memeriksa luka di punggungnya, “Kenapa kamu nggak pandai menjaga dirimu sendiri?”
“Hehe.” Alex hanya bisa tertawa bodoh, lalu melihat Friska yang berarti: Bagaimana kamu menjelaskan kepadanya?
Friska menggeleng dengan senyum, lalu menggunakan jari telunjuknya untuk membuat gerakan diam, yang artinya: Jangan asal bicara.
“Katakan dengan jujur, kamu keluar malam-malam begini untuk berkelahi dengan siapa?” Erika menatap Alex dengan marah, “Apakah kamu nggak tahu lukamu belum sembuh, jadi mudah terbuka lagi?”
“Aku tahu. Tapi pria itu yang ingin bersaing denganku, lalu dia mengancamku dengan nyawamu, jadi aku harus pergi,” kata Alex dengan jujur sambil tersenyum pahit.
__ADS_1