Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Musuh Waspada


__ADS_3

Di medan pertempuran, seseorang tidak boleh sampai salah menilai situasi, kalau tidak kapan saja maut dapat menjemput.


“Halaman nomor 18! Wanita cantik Asia berada di halaman nomor 18! Kelompok dua, perhatikan untuk bekerja sama dengan kami.” Akson merasa Roselline akan pergi ke halaman nomor 18 setelah menghilang.


Mereka memberi nomor pada bangunan di seluruh kediaman Keluarga Japari agar lebih mudah digunakan pada saat pertempuran.


“Kelompok dua terima, aku sendiri yang akan pergi mencari wanita cantik Asia itu dan menekannya ke tanah.” Morka berkata sambil tersenyum, “Aku ingin dia merasakan kehebatanku!”


Weling mendengus, “Morka, bisakah kamu lebih menahan diri? Jangan mengagetkan wanita cantik Asia.”


Sosok Morka muncul di bawah lampu di luar halaman nomor 18. Ketika dia berjalan, bahkan tanah juga berguncang.


Stevanus mau tidak mau mengerutkan kening, “Morka, kamu yang seperti ini sangat mudah untuk ditemukan!”


Morka tersenyum, “Aku memang ingin dia datang kemari!”


Meskipun Morka sangat arogan, tapi rute yang dia ambil sejalan dengan Akson. Jika Roselline muncul, Akson bisa menembaknya kapan saja.


Namun, anehnya langkah kaki Morka sudah cukup keras, Roselline yang seharusnya bersembunyi di halaman nomor 18 tidak muncul-muncul.


“Musuh sudah waspada!” teriak Morka dengan bahasa Inggris.


Bom! Bom!


Dor, dor, dor!


Bom!


Senapan, bom dan granat, semuanya mengarah ke halaman nomor 18. Terdengar suara tembakan, ledakan yang sangat keras dan kobaran api, tapi tetap saja tidak ada pergerakan sama sekali di halaman nomor 18.


“Kelompok dua, terobos.” Setelah menerima perintah, Morka melambaikan tangannya ke belakang. Segera, tiga prajurit muncul dari tempat persembunyian. Setelah melemparkan dua granat ke halaman nomor 18, mereka melompati tembok dan memasuki halaman dari arah yang berbeda!


Dor, dor, dor! Prajurit yang melompat terakhir menembak dengan gila untuk melindungi kelompok.


Bruk! Brak! Morka seperti buldoser langsung mendorong gerbang halaman nomor 18 sampai hancur dan berjalan masuk.


Serangan mendominasi seperti ini sudah menjadi kebiasaan Morka.

__ADS_1


“Bos, nggak ada orang di sini.”


Ketika Stevanus menerima laporan itu, dia langsung terkejut, “Bagaimana mungkin? Apakah dia punya sayap dan sudah terbang?”


Saat terdengar suara tembakan dan ledakan di sini, Alex setidaknya berjarak 200 meter dari lokasi penembakan tersebut. Dia bersembunyi di sudut dinding yang merupakan titik buta dari semua kamera CCTV.


Alex tidak langsung pergi menyelamatkan Roselline, karena dia tahu Roselline adalah seorang prajurit hebat yang berpengalaman. Roselline bisa menyelamatkan nyawanya sendiri dalam situasi sesulit apa pun.


Terutama di depan kelompok tidak terorganisir yang terbentuk untuk sementara ini, Roselline tidak akan terluka sama sekali.


Karena itu, Alex terus bersembunyi di posisinya dan tidak bergerak sama sekali.


“Hentikan pergerakan! Mundur,” perintah Stevanus.


Morka sangat tertekan, tapi dia terpaksa mundur ke posisinya dan terus mengintai.


Namun, posisinya sudah terekspos dan Roselline yang diam-diam mundur dari halaman nomor 18 melihatnya dengan jelas!


Akson terus menggunakan teropong senapan runduknya untuk melihat halaman nomor 18! Dia juga sangat tidak terima, “Aneh sekali, wanita cantik Asia ini sangat gesit! Bagaimana dia bisa kabur?”


Morka berkata, “Tidak terpikirkan! Semuanya waspada dan pastikan untuk mengepung halaman nomor 18 dalam jarak 100 meter! Bahkan seekor lalat pun nggak boleh terlewatkan!”


Hasil dari perintah Stevanus memberikan Alex kesempatan untuk masuk ke dalam.


Roselline juga sudah menghilang. Stevanus dan yang lainnya mencari beberapa saat sampai mereka sudah hampir membalikkan area di sekitar halaman nomor 18, namun mereka juga tidak menemukan Roselline.


Richard datang ke tempat tinggal Raja Kaki Utara. “Tuan Besar, sepertinya ada orang yang memasuki halaman Keluarga Japari.”


Raja Kaki Utara tersenyum dan mengangguk. “Biarkan Stevanus yang menanganinya. Selama dia bisa menanganinya, aku lebih baik tidak turun tangan.”


“Ya.” Richard mengangguk, “Tuan Besar, Anda juga harus selalu mengawasinya.”


Dodo berkata sambil tersenyum, “Ya, tenang saja.”


Bahkan Dodo, Raja Kaki Utara, juga tidak menyangka ternyata orang yang mengunjungi Keluarga Japari malam ini adalah dua master, Alex dan Roselline.


Richard baru saja pergi, Alex menyelinap ke tempat tinggal Dodo.

__ADS_1


Slur! Bruk! Sebuah benda kecil menghantam jendela Dodo dan menembusnya. Setelah melewati jendela kaca, benda itu terjatuh.


“Um?” Dodo terkejut. Dari jalur terbang benda ini, sekilas saja dia sudah tahu orang yang menembakkan benda itu adalah seorang master yang hebat! Pengontrolan kekuatannya sangat akurat.


Bahkan Stevanus dan yang lainnya mungkin tidak bisa menghadapinya!


Dodo mendengus dan bergegas keluar, tapi mana mungkin masih ada orang di malam yang gelap?


Dodo kembali ke kamarnya dan baru menyadari terdapat secarik kertas di atas meja. Ia pun bergegas membacanya dan tertulis: Besok tengah malam di hutan kecil Mount Shell, kita bertanding sekali lagi. Datanglah sendiri tanpa penembak runduk. Anonim.


“Alex?” Dodo langsung mengetahui identitas pihak lain dan mencibir, “Tampaknya kesalahpahaman Alex padaku sangat mendalam. Hanya datang untuk menantang saja, apakah harus diam-diam seperti ini?”


Sebenarnya Dodo juga mengerti alasan Alex bertindak seperti ini. Bagaimanapun juga, waktu itu Stevanus muncul di puncak Gunung Mahatan sudah cukup untuk membuat Alex tidak mempercayai Dodo.


Dodo keluar dan menuju ke halaman nomor 18 yang paling ramai barusan.


“Guru? Jangan pergi ke arah sana, hati-hati dengan peluru.” Aldo kebetulan membawa orang untuk berpatroli di sini. Raja Kaki Utara yang berambut putih sangat mencolok, jadi dia buru-buru menghentikannya.


Dodo melambaikan tangannya dan berkata dengan arogan, “Kamu lanjut berpatroli, aku ke sana periksa sebentar.”


Aldo membungkuk dan berkata, “Guru, hati-hati.”


Raja Kaki Utara berkata sambil tersenyum, “Tidak masalah.”


Tak lama kemudian, dia melihat Stevanus yang marah. Tentu saja, meskipun Stevanus dan yang lainnya mencari Roselline, mereka juga bersembunyi dengan baik.


Setelah peluru dan granat berlalu, tempat ini benar-benar sunyi dan hanya tersisa api kecil yang masih menyala.


“Kakek Dodo.” Stevanus melambai ke arah Dodo dari bawah atap yang tersembunyi.


“Stevanus, apa yang sebenarnya terjadi barusan?” Sosok Dodo dalam sekejap sudah berada di samping Stevanus. Bahkan Stevanus yang sombong pun dikejutkan oleh teknik tubuhnya yang begitu cepat!


“Kakek Dodo, tadi ada seorang wanita yang menerobos masuk. Kami sedang mencarinya.” Stevanus terus mengamati sekeliling dengan waspada.


Dodo mengangguk, “Oh. Stevanus, di sekitar sini sudah tidak ada musuh lagi, jadi tidak perlu melanjutkan pencarian.”


“Oh? Baiklah, terima kasih Kakek Dodo.” Walaupun Stevanus berkata seperti ini, sebenarnya ia tidak yakin dengan kesimpulan santai Dodo.

__ADS_1


Stevanus juga sudah mencapai tingkat master, kemampuan meresponnya di medan pertempuran juga sangat hebat.


Namun, untuk ratusan meter halaman dan ditambah lagi jumlah anak buahnya yang banyak serta formasi mereka yang masih kacau balau, Stevanus sungguh tidak bisa membedakan ada musuh atau tidak.


__ADS_2