
Mega berkata, "Ger, aku sudah lapor polisi."
Gery bertanya, "Apa katanya?"
Mega berkata, "Pihak kepolisian telah meminta Alex ke kantor polisi. Tetapi mereka mengatakan Alex memiliki bukti alibinya setelah diselidiki. Banyak orang dapat membuktikan bahwa Alex tidak berada di tempat kejadian pada saat itu. Karena bukti tidak cukup, dia akhirnya dibebaskan."
Gery bertanya, "Di mana Alex sekarang?"
Mega berkata, “Hotel Emperor."
Gery berkata dengan marah, "Polisi dan Alex pasti bersekongkol. Mereka tentu saja akan melindunginya. Dia harus membayar kematian ayahku dengan nyawanya. Semuanya, kita cari Alex sekarang."
Gery pergi ke Hotel Emperor dengan membawa belasan orangnya, ditambah dengan beberapa orang kepercayaan keluarga Utama.
Alex memang dibawa pergi oleh polisi untuk diinterogasi. Dia juga merasa sangat terkejut, "Erwin diserang bom di sebuah pabrik kaleng di pinggiran kota, dan tewas? Apa hubungannya denganku? "
Tidak lama kemudian Alex baru paham, katanya Erwin diundang oleh dirinya untuk bernegosiasi di pabrik kaleng, dan saat Erwin ke sana, dia malah tewas terbunuh.
"Siapa yang sengaja menyeretku ke dalam rencana ini dan menjadi pembunuh Erwin?"
Hengky berkata: "Kak, niat mereka jelas ingin memanfaatkan keluarga Sutiono untuk berurusan denganmu. Kurasa ini pasti kerjaan Rangga.”
Alex mengerutkan alisnya sembari berpikir, "Erwin adalah besannya, dia membunuh Erwin hanya untuk berurusan denganku? Bukankah itu terlalu kejam?"
Rega dan Martin datang dengan terburu-buru, "Gawat, kak. Banyak sekali orang yang datang kemari, mereka juga bilang ingin balas dendam."
Alex berdiri, "Ayo, kita lihat."
Mereka langsung bertemu Gery saat keluar. Tatapan kebencian terlihat jelas di mata Gery. Dia langsung menangkap Alex, tetapi Alex mendorongnya. "Gery, bicarakan baik-baik, kalau kamu mau turun tangan, memangnya aku takut padamu?"
__ADS_1
Gery seperti anjing gila, "Alex, kamu meledakkan ayahku dengan trik kotormu itu, apa maumu sebenarnya? Aku harus membunuhmu untuk membalaskan dendam ayahku."
Gery kembali maju, ilmu bela dirinya sangat berbeda jauh di bawah Alex, hanya dengan mengibas tangan saja Alex bisa membuat Gery terlempar hingga hampir muntah darah. “Alex, kamu memukulku? Tak akan kuberi ampun.” Gery segera mengeluarkan pistol dari tubuhnya!
Alex sudah siap payung sejak awal. Dia tahu bahwa Gery pasti akan bertindak lebih untuk balas dendam. Dengan ilmunya yang jauh di bawahnya, tetapi tetap ingin datang balas dendam, dia pastinya akan membawa senjata.
Melihat Gery mengeluarkan pistol, Alex melompat ke hadapannya dan meraih pergelangan tangan Gery dengan kuat, dan mengangkatnya.
Tembakan ini mengenai langit-langit hotel.
Keadaan di koridor menjadi kacau balau seiring berbunyinya suara tembakan, dan bawahan Gery berteriak serempak, "Balas dendam untuk Tuan Erwin, serang."
Rombongan orang ini berbondong-bondong menyerang petugas keamanan Hotel Emperor.
Melihat situasi sudah di luar kendali, Alex menyambar pistol Gery dan menembakkan 2 peluru ke langit-langit, "Hentikan!"
Gery berteriak, "Hentikan aktingmu itu, siapa lagi yang berani membunuh ayahku selain kamu? Semuanya, jangan dengarkan dia, ayo serang."
Ketika pertarungan bersenjata skala besar antara kedua belah pihak akan kembali terjadi, Nova tiba tepat waktu dengan tim polisi.
Ternyata Nova sudah menebak kalau Gery tidak akan berdiam diri setelah datang ke Jakarta, makanya dia mengirim polisi dengan samaran untuk memantau tindakannya. Benar saja, Gery mengumpulkan sekelompok orang dan datang membuat masalah di tempat Alex. Mengetahui hal ini, informan segera memberitahu Nova, dan dirinya segera membawa pasukan kemari.
“Jangan bergerak, siapapun yang berani bergerak akan ku tembak!” Nova mengeluarkan pistolnya dan melepaskan tembakan ke langit-langit.
Bagaimanapun, polisi tetaplah polisi, semua orang yang datang membuat onar tidak berani bergerak.
Nova memandang Gery seraya berkata, "Gery, pihak kepolisian sedang menyelidiki kasus kematian ayahmu, tetapi kamu mencari masalah dengan Alex. Apa maksudmu ini? Kamu tidak percaya pada polisi? "
Gery berkata: "Aku memang tidak percaya pada kalian. Kamu punya hubungan spesial dengan Alex, jadi pasti akan membelanya. Aku harus balas dendam karena dia membunuh ayahku."
__ADS_1
Alex menyerahkan pistol yang disitanya kepada Nova, "Kapten Ardiansyah, ini pistol yang dibawa oleh pembuat onar."
Nova memandang Gery, "Gery, apakah ini senjatamu?"
Gery berkata, "Bukan."
Segera seorang pria muda dari keluarga Sutiono berkata, "Kapten Ardiansyah, itu punyaku."
Nova melambaikan tangannya, "Bawa dia dulu."
Dua orang polisi membawa pergi bocah itu terlebih dahulu, dan Nova kembali berkata kepada Gery: "Mengumpulkan orang banyak untuk membuat onar tanpa mengetahui kebenaran, aku seharusnya menangkapmu. Tapi karena kamu sedang berkabung atas kematian ayahmu, aku akan melepaskanmu. Namun, Gery, kamu tidak boleh membuat masalah lagi. Jakarta adalah kota hukum. Tidak mungkin bagimu untuk bertindak seenaknya!"
Alex berkata, "Gery, jangan gegabah. Mengapa kamu tidak memikirkan keseluruhan ceritanya dengan tenang? Aku tidak mengerti, mengapa aku bisa muncul di pabrik untuk bernegosiasi dengan ayahmu?"
Galih yang berada di sebelah Gery berkata: "Alex, jangan berdalih. Tuan Erwin dengan tulus ingin berdamai denganmu, makanya kami mengirim Rendy mencarimu. Kamu sendiri yang menentukan waktu dan tempatnya, mau membantah sekarang?"
Alex mengerutkan kening, "Rendy? Aku bahkan tidak mengenal dia, panggil dia sekarang."
Mega mendorong Rendy, "Sana, hadapi dia, ingat, katakan saja apa yang harus kamu katakan."
Rendy segera berkata, "Alex, aku Rendy. Tuan Erwin mengirimku untuk membuat janji temu denganmu, dan kamu telah menyetujuinya. Dikarenakan kamu adalah tuan rumah, maka Tuan Erwin juga setuju dengan waktu dan tempat yang kamu tentukan. Apa kamu ingin mengelak sekarang?”
Alex berkata dengan marah: "Omong kosong! Kapan kamu bertemu denganku? Di mana tempatnya?"
Rendy terdiam beberapa saat, wajahnya memerah, "Alex, jika kamu tidak mengakuinya, itu artinya menyangkal."
Nova berkata: "Rendy, sekarang katakan padaku, di mana kamu bertemu Alex?"
Rendy berkata, "Di sini, waktu itu dia ada di ruangan kantor ini ketika pas aku datang."
__ADS_1