Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Racun Penta


__ADS_3

Murid Ehsan, Elis sedang berjalan di dalam hutan dengan mengenakan sepatu kain dan rambut disanggul, langkahnya ringan seperti sedang terbang, terlihat betapa hebatnya kemampuan yang dia miliki.


Tiba-tiba, dia melihat ke belakang sebuah pohon dengan waspada, “Siapa di sana? Keluar!”


Alex keluar dari belakang sebuah batu dan berkata, “Elis, aku datang mencari Ehsan.”


Tangan kiri Elis sedang membawa sebuah keranjang bambu, dia menggelengkan kepala dan berkata, “Guruku belum pulang dari perjalanannya, silakan pergi.


Alex berjalan mendekat ke arahnya, “Elis, Gurumu melukai orang kami dengan tenaga dalam, kalau ada solusinya, tolong bantu kami.”


Perkataannya terdengar sungkan, tapi langkah dan aura Alex memancarkan ancaman yang luar biasa besar.


Elis melangkah mundur secara reflek, “Jangan sembarangan bicara! Guruku ngak mungkin mencelakai orang. Lagipula, kalau Guruku sudah turun tangan, aku juga tidak mampu menyelamatkannya.”


Sebenarnya, yang ingin dia katakan adalah, kalau Guruku sudah turun tangan, maka orang itu pasti orang jahat.


Alex berkata, “Aku punya bukti perbuatannya, Anda bisa melihatnya dulu.” selesai berkata, Alex menyalakan ponselnya dan memutar video yang diunduh Hengky.


Elis sangat waspada terhadap Alex, dia terus melangkah mundur saat Alex mendekat, matanya sama sekali tidak melihat ke arah ponsel Alex, karena dia merasakan kekuatan yang membuatnya takut dari dalam diri Alex.


Melihat dia mundur, Alex pun meletakkan ponselnya di atas sebuah batu, lalu mundur beberapa langkah dan berkata, “Silakan dilihat baik-baik.“


Setelah Alex mundur hingga 10 meter jauhnya dan merasa sudah aman, barulah Elis maju untuk mengambil ponsel untuk melihat video itu sekali lagi, dia sangat kaget, “Kenapa bisa begini? Kenapa Guru melakukan itu?”


Di mata Elis, Gurunya adalah seorang ahli yang berhati baik, selain itu juga punya pengetahuan yang luas dan dalam. Oleh karena itu, Elis sangat mengagumi sang Guru, bahkan dia sendiri yang berinisiatif menjadi kekasih Gurunya. Setiap keduanya selesai bersenang-senang, Ehsan bahkan akan merasa sangat bersalah.


Namun, Elis akan selalu membujuk Gurunya kalau semua dosa akan ditanggung dirinya sendiri.


Sebenarnya, dia terlalu polos. Jika dipikir-pikir, Elis baru berumur sekitar 13 atau 14 tahun saat mengikuti Ehsan berlatih dan tinggal di tempat yang terpisah dengan dunia luar ini. Pria yang ditemuinya setiap hari hanyalah Ehsan. Semakin lama, perasaan pun muncul di antara keduanya. Kekaguman yang dimiliki Elis terhadap Ehsan sangat alami, tapi ini semua adalah rencana yang dibuat oleh Ehsan.

__ADS_1


“Gimana? Ehsan memang mencelakai Manager Friska di perusahaan kami, benar ‘kan?” Alex dapat merasakan kepolosan Elis, makanya dia menunjukkan sisi gelap Ehsan kepadanya dengan sabar.


Melihat Elis terdiam, Alex berkata, “Aku tahu kamu orang baik. Manager kami saat ini sedang dalam kondisi koma, kuharap kamu bisa menyelamatkannya.”


Elis menggelengkan kepala, “Jika dilihat dari teknik Guru, harusnya itu Racun Penta, aku masih belum bisa menawarkan racun itu.”


Alex jadi panik, lalu berkata, “Racun Penta? Apa bahayanya terhadap tubuh manusia?”


Elis berkata, “Aku pernah dengar Guru bilang kalau racun itu bisa membuat orang pingsan, tapi tidak akan membahayakan nyawa. Guruku juga punya pertimbangannya sendiri saat melakukannya, jadi nyawanya tidak apa-apa.” Meskipun berkata seperti ini terdengar sangat terpaksa, tapi dia akhirnya bisa menemukan alasan untuk membebaskan idolanya dari tuduhan.


“Kamu beneran ngak bisa menyembuhkannya?” tanya Alex sekali lagi.


Elis menggelengkan kepala, lalu berkata, “Aku sungguh tidak bisa membantu kalian, maaf.”


“Maaf kalau begitu!” Alex langsung bertindak, dia menangkap Elis dan membopongnya kembali ke tempat tinggal Elis.


Sebenarnya, di juga membawa racun penta bersamanya, ini adalah salah satu pelindung yang diberikan Gurunya. Namun, gerakan Alex terlalu cepat, tepat saat Elis hendak mengeluarkan racun penta, dirinya sudah ditangkap.


Tak lama kemudian, Hengky pun tiba. Alex meminta Hengky untuk menjaga Elis, sedangkan dirinya berjaga di luar.


Belum sampai 30 menit, Ehsan pun kembali.


Dari jarak 100 meter dari tempat tinggalnya, Ehsan pun secara reflek meningkatkan kewaspadaannya. Bagaimanapun, dia tahu apa yang telah dia lakukan, kalau orang tersebut ingin balas dendam, itu mungkin-mungkin saja.


“Lis, ada di rumah ngak?” Ehsan menghentikan langkahnya, sekarang sisa 50 meter lagi dari tempat tinggalnya, dia berteriak dengan lantang.


Elis diikat oleh Hengky di dalam rumah, untuk berjaga-jaga, Hengky juga menyumbat mulutnya dengan sepotong kain bekas, oleh karena itu dia tidak dapat menjawab panggilan Ehsan.


Ehsan merasa ada yang tidak beres, dia menatap sebuah tempat di luar pintu dan berteriak, “Elis, jawab! Aku tahu kamu di rumah!”

__ADS_1


Sepasang mata bulat Elis berbinar, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi Hengky tidak menggubrisnya melainkan tetap berdiri di belakang pintu untuk menunggu kedatangan Ehsan.


“Ngak perlu coba lagi, dia memang ada di dalam.” Suara Alex tiba-tiba terdengar dari belakang Ehsan.


“Eh? A… apa yang kamu lakukan pada Elis?” Ehsan pernah ebrtemu Alex, hanya saja mereka belum sempat saling menyapa.


Dia membalikkan badan dan menatap Alex dengan waspada, “Apa maumu?”


Alex tersenyum tipis, lalu berkata, “Beraninya kamu mencelakai Friska, Ehsan, aku benar-benar muak padamu.”


“Jangan fitnah! Cepat katakan, apa yang kamu lakukan pada Elis?” Ehsan sangat panik, dia tahu kalau Alex dan Hengky adalah ahli bela diri.


“Tenang saja, Elis ngak apa-apa. Ehsan, apa Ibumu tahu kamu mencelakai orang?” ucap Alex.


“Brengsek! Beraninya kamu menghinaku?” Ehsan mengamati situasi, kakinya bergerak dan hendak kembali ke tempat tinggalnya, jelas di sana pasti ada senjata dan semacamnya.


Alex menyeringai, “Ehsan, kalau kamu ngak mencelakai Friska, aku juga tidak akan mencarimu sampai kemari. Elis juga tentunya tidak akan dalam bahaya. Memangnya kamu tidak tahu logika gampang seperti ini?”


“Jangan mundur lagi, di sini juga ngak ada jalan.” Saat suara Hengky terdengar, dirinya sudah berdiri di belakang Ehsan.


“Eh? Kalian…” Ehsan mulai bersiap dengan tangannya.


Alex segera waspada dan menendang bahunya, “Ehsan, lawan aku kalau berani! Sialan, beraninya cuma sama wanita doang!”


Ehsan terjatuh ke tanah, dia terlihat sangat menyedihkan setelah ditendang, “Friska ya? Aku ngak ngapa-ngapain dia.”


Alex tiba-tiba menariknya, sedangkan Hengky menendang kaki kanan Ehsan.


Krak! Elis yang diikat di dalam rumah dapat mendengar dengan jelas suara tulang kaki Ehsan yang patah! Dia tiba-tiba merasa sesak.

__ADS_1


__ADS_2