Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Tidak Sanggup Menyinggungnya


__ADS_3

Sedangkan Bibi Oktavia tidak mengatakan sepatah kata pun. Bukan karena dia berani, melainkan dia benar-benar ketakutan!


Dia nggak pernah melihat orang yang menghancurkan toko seperti Alex!


Papan pembatas, huarz!


Satu meja lagi, huarz!


Piring dan sumpit di lemari desinfektan, huarz!


Kulkas pintu kaca untuk meletakkan bir dan minuman soda, huarz!


“Ah!” teriak bos wanita itu setelah sadar dari lamunannya, lalu berjalan ke arah Alex dengan marah, “Bajingan! Hentikan! Hentikan! Percaya nggak kamu kalau aku akan lapor polisi?”


“Huarz!” Alex terus menerus membanting barang, “Yang lapor polisi adalah pengecut! Silakan saja!”


Dexter nggak berani mendekati Alex karena dia dapat melihat Alex bukan menghancurkan barang itu dengan antusias, melainkan dengan sikap yang tenang dan tidak tampak marah sedikitpun, orang seperti ini sangat mengerikan.


Bos wanita menerjang ke arah Alex, tapi ditendang olehnya hingga terlempar jauh, “Laporlah! Nggak tahan lagi, kan?” Bang! Huarz!


Sebenarnya Alex sangat benci bos kecil sepertinya, bahkan uang hasil keringat Bibi Oktavia pun dipotongnya dengan sikap wajar seolah-olah dia dilahirkan untuk menindas orang kelas bawah seperti itu.


Dengan sikap dan status Alex, dia nggak akan menghancurkan toko ini jika bukan karena sudah kelewat batas.


“Ya Tuhan! Apa ini bandit?! Jangan hancurkan lagi! Hiks, jangan hancurkan lagi! Dexter, dasar nggak berguna, jangan cuma berdiri diam saja! Cepat pukul dia!” Bos wanita duduk di lantai sambil menatap Alex yang terus-menerus memecahkan barang dengan tatapan takut, tapi dia malah menyalahkan semua ini pada Dexter.


Seolah-olah bencana ini disebabkan oleh Dexter.


“Aku benar-benar buta baru sampai bisa menikah dengan pria tak berguna sepertimu, dia sudah menghancurkan toko kita, tapi kamu bahkan nggak berani berbuat apa-apa! Dexter, bukankah di dapur kita ada pisau?! Serang dia dengan pisau!”


Ya Tuhan! Bisa-bisanya wanita ini menghasut suaminya seperti itu, yakin ini suaminya?


“Jangan hancurkan lagi!” teriak Nova karena dia nggak sanggup melihatnya lagi.


“Jangan hancurkan lagi,” ucap Bibi Oktavia dengan suara serak.


Cherish masih saja menatap Alex dengan kaget sambil memikirkan satu hal: Bagaimana Alex ini mengatasi hal ini setelah melakukan kerusuhan yang begitu besar? Jika ganti rugi, maka dia harus mengganti setidaknya puluhan juta!

__ADS_1


“Oke, aku juga sudah lelah, istirahat dulu.” Alex meletakkan bangku dan duduk di atasnya sambil melihat keluar, “Aku ingin lihat master apa yang dipanggil Dexter.”


Ketika Abdul tiba di depan toko, masih terdengar suara bising dari dalam. Oleh karena itu, dia berteriak keras, “Pria brengsek mana yang berani semena-mena di tempatku? Masih nggak mau berhenti, hah?”


Dia buru-buru masuk ke dalam, lalu berteriak, “Hentikan! Cepat bersujud padaku biar aku ampuni!”


“Kak Abdul!” Bala bantuan Dexter akhirnya tiba, dia bergegas berkata, “Kak Abdul, mereka menghancurkan toko kami tanpa alasan! Lihatlah, mereka sudah menghancurkan begitu banyak barang, bagaimana aku bisa membuka toko lagi?!”


Bos wanita berkata, “Iya! Orang luar kota sama sekali nggak sopan! Mereka mengandalkan kemampuan bela dirinya untuk menggertak pemilik toko kecil seperti kami! Kak Abdul, kamu harus membantu kami.”


Namun, Kak Abdul nggak melihat mereka, melainkan melihat Alex yang duduk di tengah toko.


Karena lampu gantung dan beberapa lampu dinding juga pecah, mereka dapat melihat keadaan toko yang sangat berantakan, tapi nggak bisa melihat jelas wajah Alex karena cahaya yang redup.


“Bos wanita itu mengatakan siapa yang melapor polisi, maka dialah pengecut,” kata Alex ketika melihat Abdul.


“Eh? Tuan Alex! Kamu ya?” Abdul akhirnya melihatnya dengan jelas, rupanya dia adalah Tuan Alex yang mengalahkan Kak Aldo dengan mudah itu!


Dia berjalan ke hadapan Alex dan memberi hormat padanya, “Tuan Alex, aku nggak tahu Anda ke sini, maaf sebelumnya.”


“Beri gaji? Apa yang terjadi?” Abdul menatap Dexter dengan tajam.


Dexter dan istrinya terkejut, mereka tidak menyangka Kak Abdul akan begitu hormat pada orang yang menghancurkan tokonya, siapa dia?!


Entah siapa pun lawannya, yang pasti mereka pasti nggak bisa menyinggungnya.


Keduanya saling menatap dan tidak berani berbicara.


“Bibi Oktavia, katakan sudah berapa lama kamu kerja di sini? Lalu berapa gaji yang dijanjikan mereka untukmu? Nggak usah takut, aku akan melindungimu!” ucap Nova ketika Abdul hendak marah.


Oktavia tahu niat baik Alex dan Nova, tapi sekarang dia nggak tega menyakiti bos toko ini lagi, jadi dia berkata, “Sesuai dengan perkataan bos, berikan aku gaji setengah bulan saja, totalnya satu juta empat ratus ribu.”


“Kasih uang!” teriak Abdul terhadap Dexter dan istrinya!


“Ah, iya iya.” Bos wanita segera mengeluarkan setumpuk uang dari kantong, lalu menghitung empat belas lembar dan memberikannya kepada Oktavia dengan hati-hati.


Abdul melihat Alex dan berkata, “Tuan Alex, apa lagi yang perlu mereka lakukan?”

__ADS_1


Alex menggelengkan kepala, “Awalnya aku nggak mau menghancurkan toko ini, tapi bos wanita ini sangat menjengkelkan sampai aku saja nggak tahan. Maaf ya.”


Abdul memelototi Dexter dan istrinya, lalu berkata, “Tuan Alex, kamu nggak usah urus hal ini! Dexter, katakan, apa kamu mau melapor polisi?”


“Nggak berani, nggak berani.” Dexter diam-diam berkata: Tampaknya Kak Abdul sangat akrab dengan Tuan Alex.


Abdul berkata, “Jika kamu nggak lapor polisi, maka aku akan beritahu kalian bagaimana mengatasi hal ini. Kalian berdua sudah menyinggung Tuan Alex, sedangkan dia menghancurkan toko kalian, jadi kalian sudah impas, nggak saling utang lagi! Mengerti?”


“Apa?” Dexter agak kurang mengerti.


Bos wanita berkata dengan muram, “Iya, Kak Abdul, kami sudah mengerti.”


Pada detik ini, meskipun bos wanita sangat galak, tapi dia tidak lagi berkata ingin melapor polisi.


“Tuan Alex, mari kita ganti tempat, aku akan mentraktirmu makan,” ujar Abdul sambil tersenyum.


Alex menggelengkan kepala, “Abdul, makasih atas masalah hari ini. Tapi, aku masih perlu mengatasi hal lain, jadi lain kali saja.”


Abdul berkata, “Kalau begitu aku nggak akan memaksa. Tapi, Tuan Alex, aku akan menyambutmu kapan saja! Haha.”


Selesai bicara, Abdul pun pergi.


Awalnya Alex hanya bertiga, sekarang mereka menjadi berempat.


“Bibi, di mana kamu tinggal, aku akan mengantarmu pulang,” tanya Nova yang bertanggung jawab untuk mengemudi.


Oktavia berkata, “Sudah, nggak usah antar, aku pulang sendiri saja. Aku masih perlu membeli obat untuk ibuku di pertengahan jalan.”


Nova berkata, “Tentu saja aku harus mengantarmu! Bibi Oktavia, dulunya kamu sangat baik padaku, sekarang aku juga hanya mengantarmu, memangnya nggak boleh? Ayo naik ke mobil.”


“Tapi tubuhku sangat jorok,” ucap Oktavia dengan hati-hati.


“Nggak apa-apa, ayo naik!” Nova berjalan ke sana dan memapahnya.


Di tengah jalan, Oktavia menghabiskan uang empat ratus ribu an untuk membeli obat, lalu Nova mengantarnya pulang sesuai dengan instruksi Oktavia.


“Bibi, rumahmu jauh sekali?” Nova agak kurang mengerti: Kenapa tidak mencari pekerjaan di dekat sini saja?

__ADS_1


__ADS_2