
Keduanya bergegas menghentikan sebuah taksi, Alex langsung berkata, “Ke Rumah Sakit Umum.”
Dewa Jerry berkata dengan deg-deg’an, “Kak Alex, jangan gini dong! Aku ini cuma dewa gadungan! Kamu beneran mau bawa aku menyembuhkan orang?”
“Alex berkata dengan kesal, “Diam! Bicarakan nanti.”
Dewa Jerry terkekeh, “Oke deh, yang jelas apa perintahmu ya aku lakukan.”
Alex berkata, “Kamu pasti banyak koneksi sama orang-orang di bidang ini ‘kan di Medan?” melihat dia mengangguk, Alex kembali berkata, “Kalau gitu, punya hubungan dengan aliran hitam mana?”
“Aliran hitam apanya? Kak Alex, aku bergabung dengan Aliran Cendrawasih, itu organisasi ternama yang memang untuk menyelamatkan orang, jangan anggap kami jadi organisasi hitam, bikin sakit hati.” Dewa Jerry seketika jadi waspada, dia berkata dengan hati-hati.
Alex menggelengkan kepala dan berkata, “Emang aku bilang apa? Katakan dengan jujur, Aliran Cendrawasih kalian bisa santet orang ngak? Semacam ilmu yang bisa bikin orang koma?”
Dewa Jerry segera menggelengkan kepala dengan kuat, “Mana mungkin? Kami mana mungkin punya ilmu hitam begitu! Kak Alex, kamu lagi doyan baca novel hantu ya?”
“Kalau gitu jangan banyak bicara, kita bicarakan lagi saat sampai. Kamu harus bantu aku periksa masalah ini dengan teliti.” Alex memang sangat gelisah, begitu keduanya memasuki pintu rumah sakit, Alex langsung memperingatinya, “Je, dengar baik-baik ya! Jangan main rahasia-rahasiaan denganku, katakan sejujur-jujurnya! Kalau ngak… hmph!”
Dewa Jerry ketakutan hingga gemetaran, “Pastilah, Kak! Tenang saja, aku pasti akan mengatakan semuanya dengan jujur.”
Saat keduanya bergegas muncul di koridor, Rega segera bangkit dari kursi, “Hm? Kok bawa orang aneh?”
Erika sendiri juga tercengang, “Eh bener lho, ini pertama kalinya aku melihat orang berpenampilan seperti ini.”
Alex berjalan ke hadapan mereka dan memperkenalkan, “Ini rekan seperjuanganku, namanya Jeje. Dia datang kemari untuk memeriksa kondisi Friska.”
__ADS_1
Tak lama kemudian, Jerry datang ke depan ranjang Friska bersama Erika, Alex, dan Rega.
Jerry memeriksa mata Friska, kemudian memeriksa denyut nadinya, setelah itu mengamati wajahnya dengan cermat, “Hmm… Kak Alex, kondisinya agak spesial, meskipun aku pernah ilmu yang bisa membuatnya jadi seperti ini, tapi itu hanya legenda, tidak bisa dianggap nyata.”
Alex berkata, “Keluarga Mahari punya hubungan dekat dengan aliran mana?”
“Keluarga Mahari? Anak ketiganya ‘kan Larry Mahari! Semua orang tahu kalau Aliran Elang sudah menyebar luas di Medan, dan orang terhebat sekarang kalau ngak salah si Larry. Dengar-dengar dia sudah ditetapkan sebagai Ketua Aliran Elang, hanya saja, Aliran Elang juga memang Aliran ternama, jadi kenapa mereka harus melakukan ini?” ujar Jerry tidak habis pikir.
Tatapan mata Alex seketika menjadi dingin, “Larry ya, benar kalau gitu! Kalau bukan Larry yang turun tangan langsung, berarti ulah murid ataupun cucunya.”
Jerry berkata, “Kalau si Larry mau mencelakai nona ini, aku, Jeje, pasti akan melawannya sampai akhir!”
Erika dan Rega hampir saja ketawa mendengar orang ini memanggil dirinya sendiri “Jeje”.
Namun, suasana di sana terlalu berat, tidak ada yang bisa tertawa, bagaimanapun Friska masih terbaring di ranjang rumah sakit dan dalam kondisi kritis.
“Ehsan Wardoyo?” Alex merasa dia sama sekali tidak mengenal orang ini.
“Hah? Dia?!” Jerry berkata dengan pelan setelah tertegun sejenak, “Dia salah satu murid Larry, selain itu aku dengar dia tidak kalah jauh dari Larry, pantas saja dia cari masalah dengan kalian.”
Alex langsung berdiri, “Dia orangnya!”
Ehsan bisa dibilang seorang pebisnis sukses di kota Medan. Meskipun yang diikutinya adalah Larry yang tidak memperdulikan hal-hal duniawi, tapi bagaimanapun Larry adalah putra dari Kennedy. Ehsan memanfaatkan hubungan Gurunya, Larry, untuk menjalin hubungan dengan keluarga Mahari, oleh karena itu perusahaan kecil yang didirikannya bisa berkembang pesat. Hanya dalam waktu beberapa tahun, asetnya sudah mencapai lebih dari 2 triliun dan menjadi orang terkemuka yang diakui di dunia bisnis.
Tentu saja, perihal bisnis semua ditangani oleh putranya, dan Ehsan semakin mementingkan latihan dirinya. Kali ini, dia ingin memutuskan hubungan dengan PT. Atish juga karena dia mendapatkan berita PT. Atish diakuisisi paksa dari Bernard dan Nelson.
__ADS_1
Sedangkan, pertemuannya secara langsung dengan Friska dianggap sudah cukup terhormat dari sekian banyak bisnis yang pernah dilakukan keluarga Wardoyo. Semua orang tidak tahu kalau Ehsan menggunakan ilmu yang dimilikinya dan datang khusus kemari untuk mencelakai Friska.
Alex kembali ke kantor pusat PT. Atish dan memeriksa kembali rekaman cctv pertemuan Ehsan dan Friska dengan teliti, kemudian memutar kembali lagi sebanyak 2 kali.
“Di sini! Screenshot bagian ini untukku.” ujar Alex sambil menunjuk sebuah adegan. Di dalam video, Friska menyodorkan secangkir teh untuk Ehsan.
Ehsan mengambil cangkir dengan tangan kanan, dan tangan kirinya bergerak sebentar, gerakannya sama sekali tidak terlihat jelas. Di dalam video, tidak terlihat jelas apa yang dilakukan Ehsan. Jerry membuka matanya lebar-lebar, lalu berkata, “Kak, aku sama sekali tidak bisa melihat dengan jelas gerakan orang ini.”
Alex berkata, “Ehsan sangat cerdik, saat masuk ke kantor Friska, dia sudah tahu letak cctv ada di mana. Jadi, ada yang ngak beres dengan tangan kirinya! Coba kamu lihat lagi yang di depan ini, jelas-jelas dia mengeluarkan sesuatu dari tangan kirinya, lalu menjentikkan jarinya ke arah Friska.”
“Tenaga dalam?” ujar Jerry kaget.
“Mungkin ini yang dinamakan tenaga dalam, bisa memindahkan suatu kekuatan yang ada pada tangan lewat jentikan jari ke dalam tubuh lawan untuk mengacaukan kinerja organ dalam tubuh lawan. Dan semua ini, tanpa jejak.” jelas Alex sesuai dengan pemahamannya.
Hengky agak melamun, lalu dia berkata, “Bisa gitu? Benar-benar sulit dicegah! Lalu gimana sekarang? Apa Nona tidak bisa disembuhkan?”
Jerry berkata, “Karena Ehsan melukai Friska dengan tenaga dalam, maka tentu saja haru dia yang menyelamatkannya.”
Alex berkata, “Lakukan pencarian menyeluruh terhadap Ehsan! Begitu ada kabarnya, segera laporkan padaku!”
Ehsan yang sudah berumur lebih dari 50 tahun tidak berada di dalam kota Medan, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk tinggal di dalam pegunungan kecil yang indah yang berada sekitar 100 km dari kota Medan. Di sana, dia tidak hanya membangun sebuah villa bergaya klasik, tapi juga menyembunyikan seorang murid wanita, keduanya terlihat sebagai guru dan murid, tapi sebenarnya adalah sepasang kekasih, mereka hidup sederhana di dalam gunung, tapi tetap bisa bahagia.
__ADS_1
Sedangkan, Istri sah Ehsan tinggal di dalam kota, dia suka dengan keramaian kota, keduanya tinggal terpisah untuk waktu yang lama karena berbeda pendapat.