Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Tidak Takut Mati


__ADS_3

Alex berkata dengan marah: "Sembarangan, cepat pergi sekarang juga. Jika kamu tidak pergi, aku akan melemparmu ke bawah."


Erika buru-buru berkata: "Alex, Nova, kalian ini yang satu teman baikku, dan yang satu lagi adalah pendampingku. Aku tidak ingin kalian mati bersamaku. Pergilah, aku akan memotong kabelnya sendiri."


Alex merasa tersentuh. Melihat mata Erika yang berlinang air mata, dia memegang erat tangan kecilnya yang dingin dan berkata: "Erika, aku ini suamimu, bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu, bahkan jika harus mati, kita juga harus mati bersama."


Nova juga memegang tangan Erika, "Erika. Terlepas dari teman sekelas, aku adalah seorang polisi, kapten tim kriminal kepolisian Jakarta. Tugasku adalah melindungi semua warga yang ada di Jakarta. Aku tidak bertanggung jawab namanya jika meninggalkanmu di sini. "


Melihat tekad Nova, Alex berhenti membujuknya. Setelah meneliti lebih lanjut bom itu, Alex mengambil pisau dan terlihat ragu.


Nova bertanya: "Alex, bagaimana cara membongkarnya?"


Alex berkata: "Harus putuskan sekring diantara 3 kabel ini. Namun, kemungkinannya sangat kecil."


Erika berkata: "Alex, apa pun yang kamu pilih, aku tidak akan menyalahkanmu. Entah hidup atau mati, selama bersama denganmu, itu sudah lebih dari cukup!"


Alex menghela nafas, "Kalau begitu coba saja keberuntunganku, potong biru!"


Alex bertanya-tanya dalam hatinya, "Bendera perang tentara bayaran iblis berwarna biru, dan perintah Pencabut Nyawa mereka juga berwarna biru. Sekering bom ini kemungkinan besar berwarna biru. Karena waktunya hampir habis, jadi aku hanya bisa bertaruh. "


Waktu hanya tersisa 5 detik, kali ini Alex tidak ragu-ragu untuk memotong kabel biru. Erika dan Nova menutup mata mereka karena ketakutan.


Bip! Bip! Setelah berbunyi dua kali, perasaan tegang yang menyelimuti Alex sebelumnya pun hilang begitu melihat lampu sinyal telah mati.


Erika sangat senang saat membuka matanya dan melihat bahwa bom itu tidak meledak. Dia memeluk Alex: “Kita menang, Alex.” Setelah berbicara, dia tidak bisa menahan diri untuk memeluk Alex dan menciumnya. Alex juga memeluknya, keduanya menikmati ciuman kemenangan yang penuh gairah.


Nova juga merasa lega, "Alex, taruhan kita benar, memang yang biru!"

__ADS_1


Setelah selesai berbicara, dia tidak mendengar jawaban Alex. Begitu mengangkat kepalanya, dia melihat bahwa Alex dan Erika sedang berciuman di sampingnya.


Wajahnya memerah saat menyaksikan adegan itu, tapi kemudian disusul oleh kesedihan. Jika Erika dikelilingi oleh api saat ini, maka Nova telah jatuh ke sungai es.


Laki-laki pujaannya adalah suami dari sahabatku. Adakah yang lebih kejam daripada ini di dunia?


Ketika turun ke bawah, Alex melihat ada luka di lengan kiri Erika yang masih berdarah, "Erika, kamu terluka?"


Erika mengangguk, "Saat ditangkap, aku sempat memberontak, jadinya tergores."


Alex berkata, "Lukanya tidak serius. Nanti biar dokter di ambulans yang membalut lukamu.."


Setelah sampai di bawah, Sekretaris Harun dan Inspektur Gilang menyapanya, "Alex, Nova, kalian benar-benar tidak mengecewakanku! Kalian adalah pahlawan kami, semua orang di Jakarta akan mengingat perjuangan kalian."


Alex tersenyum, "Pak Harun, Anda terlalu berlebihan."


Inspektur Gilang mengarahkan polisi untuk membersihkan tempat kejadian. Para petugas polisi sibuk keluar-masuk. Semua orang mengira insiden besar yang terjadi hari ini sudah berakhir.


Asalkan Axel memberi tahu siapa dalangnya, maka pihak polisi dapat memusnahkan mereka semua sekaligus.


Melihat cedera di lengan Erika, Saras bertanya, "Erika, apakah ini serius?"


Erika berkata, "Bu, tidak apa-apa, ini hanya kegores dikit."


Alex menunjuk, "Ada dokter di dalam ambulans, Bu, bawa Erika untuk membalut lukanya."


Erika dan Saras pergi ke ambulans terdekat. Saras melihat ke arah pengemudi berseragam medis putih dan berkata, "Dok, tolong balut luka putriku."

__ADS_1


Dokter menoleh dan memandang Erika yang berdiri di pintu mobil, lalu tersenyum tipis dan berkata, "Oke, naiklah dulu."


Tepat ketika Erika masuk ke mobil, dokter tersebut tiba-tiba mengulurkan tangan dan menepuk leher Erika.


Erika tiba-tiba pingsan. Saras sangat ketakutan, "A, apa yang kamu lakukan?"


Dokter itu menyeringai dan menarik Saras ke dalam mobil, “Jangan macam-macam, jangan berteriak, atau aku akan membunuhmu.” Kemudian dia duduk di kursi pengemudi, menyalakan mobil, dan juga mengeluarkan perintah melalui walkie- talkie.


"Misi Kris gagal. Segera lakukan rencana B. Ken, Neil, bunuh mereka semua!" Orang yang memberi perintah ditutupi aura pembunuh. Dia tak lain adalah komandan tentara bayaran iblis, Dennis!


Mengira serangan kali ini telah usai, pihak polisi sibuk memilah-milah medan perang untuk menyelamatkan yang terluka. Tiba-tiba suar biru muncul di udara.


Sekretaris Harun melihat ke arah suar dan bertanya pada Inspektur Gilang di sebelahnya, "Inspektur, siapa yang melakukannya?"


Inspektur Gilang berkata, "Pak, pertarungan mungkin belum berakhir."


Begitu Inspektur Gilang selesai berbicara, dua tim tentara bayaran iblis muncul dari dua persimpangan jalan Museum.


Hal yang paling menakutkan adalah senjata yang ada di tangan para tentara bayaran ini bukanlah berbagai jenis senjata api, melainkan sebuah roket per orangnya.


Kekuatan roket jenis ini terlalu besar. Jika tentara bayaran iblis meluncurkannya bersama, maka ratusan polisi yang hadir akan terbunuh semua dalam sekejap.


Untungnya, para tentara bayaran iblis masih berada dalam jarak tertentu dari pihak polisi, dan belum berada dalam lingkup penyerangan roket.


Nova adalah orang pertama yang menyadarinya, "Siaga. Penembak jitu, cepat bunuh tentara roket musuh."


Beberapa penembak jitu yang baru saja meletakkan senjata langsung buru-buru menyiapkan senjata mereka lagi dan bersiap untuk membunuh tentara roket tersebut. Pada saat ini, di antara delapan tentara bayaran iblis yang mengepung dari dua arah, salah satunya sudah tidak sabar dan menembakkan roket ke arah pihak polisi.

__ADS_1


Boom! Dua mobil polisi di ujung terjauh terlempar ke udara, tapi untungnya tidak ada korban jiwa.


"Semuanya, maju dan bunuh semua polisi yang ada. Kita harus membalaskan dendam untuk saudara-saudara yang mati!" Teriak tentara roket.


__ADS_2