
Si gendut hanya tertawa canggung setelah mendengar itu, "Dulu aku nggak tahu apa-apa. Aku benar-benar minta maaf. Aku nggak tahu kalau kamu adalah master yang hebat."
Alex hanya tersenyum tipis setelah mendengar ini. Tentu saja dia sadar saat ini citranya telah melebihi apa yang bisa diterima oleh si gendut.
Dia mengira Alex hanya pewawancara biasa, tetapi sekarang dia menyadari orang ini adalah master hebat yang kuat, sekaligus ketua PT. Atish dan anggota Biro Red Shield.
Semua ini terlalu mengejutkan bagi si gendut, ditambah lagi sekarang Alex telah mencarinya dan ingin bekerja dengannya. Hal ini terasa seperti mimpi.
Si gendut tahu siapa dia dan di mana nilai yang bisa dia berikan.
Dia menatap Alex dan berkata, "Aku tahu kamu mencariku untuk bekerja sama dalam menjatuhkan PT. Ferion. Meskipun aku di PT. Ferion, kamu harus tahu kalau ayahku telah mengatur beberapa posisi kosong untukku. Dengan kata lain, posisi di mana aku nggak memiliki wewenang."
Alex tersenyum. "Awalnya aku berpikir untuk merekrutmu demi membereskan masalah PT. Ferion, tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku menemukan kamu adalah seorang pria berpengetahuan tetapi tertutup dan nggak suka memamerkan bakatmu. Kalau aku melepaskan pria berbakat sepertimu, itu akan menjadi kerugian bagi PT. Atish."
Si gendut itu tersenyum karena malu.
Alex berkata dengan datar, "Terserah padamu saja. Nggak peduli apa pun identitasmu, aku tetap merasa harus merekrutmu. Bagaimanapun juga, Provinsi Sulawesi Tenggara masih membutuhkan seseorang untuk memimpin cabang perusahaan ini. Kalau kita nggak menemukan orang lokal yang akrab dengan Provinsi Sulawesi Tenggara, kelak akan agak sulit untuk melakukan pekerjaan kita."
Si gendut itu hanya mendengarkan Alex tanpa mengatakan apa pun, tetapi pada akhirnya dia setuju dan bersedia masuk untuk bekerja di PT. Atish.
Ini tentu saja merupakan hal yang baik bagi Alex.
Setelah mengantar si gendut pergi, dia menerima telepon dari Amel.
Sambil berdiri di pintu masuk kedai kopi, dia agak terkejut mendengar apa yang dikatakan Amel.
__ADS_1
"Aku benar-benar minta maaf, Alex. Aku nggak menyangka masalah ini akan begitu sulit. Anwar ini menolak untuk mengakui melakukan sesuatu lebih dari sepuluh tahun yang lalu, juga membalikkan semua bukti dan pengakuan. Sekarang walaupun Morgan dan Trevor tunduk, sama sekali nggak ada cara untuk membuat Anwar mengakui kesalahannya."
Amel menatap Anwar yang terlihat tenang di dalam ruang interogasi dengan pasrah. Anwar sama sekali nggak terlihat takut dan melihat sekeliling dengan senyuman penuh percaya diri di wajahnya.
Alex bisa membayangkan ekspresi sombong Anwar. Bagaimanapun juga, Amel tidak bisa menghukumnya sekarang.
Anwar berbicara di ruang interogasi dengan datar, "Aku tahu kamu bisa mendengarku. Masih ada banyak hal yang harus kulakukan di perusahaanku. Kalau nggak ada bukti lain, cepat lepaskan aku. Aku harus kembali ke perusahaan untuk bekerja."
Amel sangat tidak berdaya. Dia mendengar ucapan Anwar dan tentu saja Alex mendengarnya melalui ponsel. Alex memikirkannya dan berkata, "Kalau begitu mari kita lepaskan dia dulu. Bagaimanapun juga dia tidak bisa pergi. Bisnis Anwar tetap berada di Provinsi Sulawesi Tenggara dan dia harus berada di sini setiap saat."
Amel tahu Alex benar, jadi dia hanya bisa menghela napas dan menjawab, "Ya sudahlah. Aku masih sangat kesal. Jelas sekarang Morgan dan Trevor telah diringkus, tapi Anwar masih buron!"
Alex tersenyum dan berkata, "Jangan khawatir, Anwar ini nggak akan bisa bertahan lama. Dia juga salah satu orang yang akan kita tangkap. Dia telah menggunakan PT. Mega untuk melakukan banyak hal yang bertentangan dengan moralitas selama bertahun-tahun dan aku sudah tahu semua tentang itu. Aku nggak akan pernah mengampuninya.
Amel berkata tanpa daya, "Aku tahu, sekarang aku sudah nggak bisa berbuat apa-apa dan merepotkanmu lagi."
Amel tentu saja percaya pada Alex. Bagaimanapun juga, hanya Alex yang bisa menangkap Morgan dan Trevor. Semua ini berkat Alex.
Sementara mereka hanya bisa menonton dari samping. Kalau bukan karena campur tangan Alex, dia tidak akan pernah bisa menangkap Morgan dan Trevor dalam hidup ini, apalagi membuat keduanya mengakui kejahatan mereka.
Mungkin saja mereka akan mati di tangan keduanya karena pekerjaan penyamaran mereka.
Setelah Alex menutup telepon, dia menyipitkan matanya, "PT. Mega? Aku sibuk dengan urusan lain jadi aku nggak peduli dengan kalian, tapi bukan berarti aku akan membiarkan kalian lolos. Tunggu saja."
Alex tahu selanjutnya dia harus bersitegang dengan PT Mega. Tetapi sebelum itu, dia masih harus membuat semua perusahaan yang bekerja sama dengan keluarga Bazel dan percaya pada keluarga Bazel.
__ADS_1
Hanya dengan begitu rencananya bisa diselesaikan dengan lebih baik.
Ini adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh Alex. Oleh karena itu, apa pun yang terjadi, dia harus menjatuhkan PT. Ferion terlebih dahulu. Selama PT. Ferion goyah, perusahaan lain akan lebih mudah untuk ditangani.
Jadi, dia masih harus fokus pada masalah PT. Ferion.
Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Davin. Sekarang dia tidak bisa mengandalkan pihak si gendut dan telah berbicara dengan bos PT. Ferion.
Oliver berpendirian teguh. Alex mengetahui hal ini karena seseorang dari keluarga Bazel telah mengancam nyawa para bos ini sebelumnya yang membuat Oliver menolak pendapatnya dengan tegas dan agak gentar.
Seolah sedang menghindari sebuah wabah.
"Hanya saja keuntungannya nggak cukup besar. Selama seseorang bisa masuk ke dalam perusahaan, akan mudah untuk menemukan celah di PT. Ferion."
Alex mengetahui hal ini dengan baik, jadi dia tersenyum dan memutuskan untuk tetap pergi bekerja keesokan harinya, karena dia telah diberitahu oleh pihak PT. Ferion kalau dia harus tetap bekerja.
"Ini adalah celah. Oliver nggak tahu kalau aku akan bekerja di perusahaannya. Sepertinya dia nggak akan menanyakan hal-hal sepele dalam urusan personalia ini." Alex tersenyum tipis.
Sesampainya di rumah, Alex melihat Erika memasak dan menunggunya. Dia pun tersenyum tipis dan berkata, "Aku agak nggak terbiasa dengan kamu memasak untukku setiap hari."
Erika menggelengkan kepalanya. "Aku hanya berusaha untuk bisa mengubah diriku menjadi istri yang baik."
Alex memeluk Erika. "Kamu sudah menjadi istri terbaik untukku. Kalau kamu lebih sempurna, aku benar-benar nggak layak untukmu."
Erika buru-buru berkata, "Omong kosong, jelas sekali aku pikir aku nggak cukup baik untukmu. Kok kamu yang nggak cukup baik untukku? Kamu sangat luar biasa. Mungkin hanya segelintir wanita di dunia ini yang akan membencimu dan ada banyak yang suka padamu!"
__ADS_1
Alex berpura-pura terkejut dan bertanya, "Benarkah begitu? Kok aku nggak tahu itu? Katakan padaku, siapa yang naksir aku?"
Erika memutar pupil matanya dan berkata, "Apa kamu sendiri nggak tahu? Tapi lupakan saja, aku tahu kamu bukan orang yang sembarangan dan hanya nggak ingin mengecewakan gadis-gadis itu, jadi aku nggak akan menyulitkanmu, selama aku tahu kamu baik padaku."