Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 559 Kecepatan 305 per Jam


__ADS_3

Preman itu mengangguk, tapi mereka penasaran dengan kondisi Farraz. Apa Alex membohongi mereka?


“Tadi Alex bilang Tuan Muda Farraz sudah dibunuhnya, apa itu benar?” tanya preman itu dengan hati-hati, sedangkan preman di sekitar hanya menatap Micky dengan penasaran. Mereka benar-benar penasaran akan hal ini.


Micky berekspresi masam. “Farraz memang sudah dibunuh oleh Alex, jadi sekarang kita harus menemukannya. Tadi kamu bilang sudah melihat dia, sekarang di mana dia?”


Preman itu menunjuk ke luar. “Dia sudah pergi.”


“Apa?! Bisa-bisanya kalian nggak menghalanginya?” Micky menatap sekelompok preman itu dengan kaget.


“Tuan Muda Farraz saja sudah mati, apa kita berani menghalanginya? Kalian saja bukan lawan Alex, apa kamu merasa kami bisa menghalanginya?” kata preman itu dengan tak berdaya.


“Kamu hanya perlu menghalangnya, lalu kami akan di waktu pertama ke sini setelah mendengar suara tembakan!” kata Micky dengan marah, dia benar-benar merasa kesal terhadap rekan bodoh ini.


Kalau para preman ini bisa menghalangi Alex, mereka pasti bisa mengepung Alex dan membunuhnya.


Tapi sekarang semua sudah terlambat, Micky hanya bisa menghela napas. “Tak ada cara lagi, kalau begitu harus ada yang bertanggung jawab akan hal ini. Kalian sebagai orang yang menjaga pintu barat pergi mengakui kesalahan pada keluarga Bazel.”


Perkataan Micky membuat para preman merasa tak senang, kenapa harus mereka yang mengakui kesalahan?


“Kamu bercanda, ya? Biarkan kami mengakui salah? Jelas-jelas kalian yang tak bisa membunuh Alex, sehingga membuat Tuan Muda Farraz meninggal. Bukankah dari awal kalian bilang hal ini nggak susah, kata kalian Alex hanya seorang diri saja, jadi kalian hanya perlu waktu beberapa menit dan sudah bisa membunuhnya?!”


Preman itu menyindir Micky, sedangkan Micky hanya menatap preman yang bicara itu dengan dingin. Lalu, Micky mengangkat pistolnya untuk menembak kepala preman itu.


Setelah preman lain melihat ini, mereka menunjuk Micky dengan tak senang. “Apa yang ingin kalian lakukan? Apa kalian ingin mati?”


Micky melambaikan tangan, semua tentara bayaran pun mengarahkan pistol mereka pada preman itu. Sedangkan Micky berkata dengan ekspresi tak senang, “Kalian harus tahu posisi kalian! Jangan kira aku nggak berani membunuh kalian.”


Para preman itu langsung mundur beberapa langkah begitu melihat mereka mengarahkan pistol ke kepala mereka. Ketika Micky melihat mereka sudah takut, dia baru berkata, “Pergi ke keluarga Bazel untuk mengakui kesalahan kalian, hal ini perlu ditanggung oleh kalian.”


“Jadi kamu? Kok kamu nggak pergi?” tanya salah satu preman.

__ADS_1


Ekspresi Micky menjadi masam. “Aku masih perlu mengejar Alex dan membunuhnya. Dia kira dia bisa kabur begitu saja. Kalau kami sudah menerima misi ini, dia hanya bisa mati di tangan kami!”


Selesai bicara, Micky membawa anak buahnya berlari keluar. Sedangkan mayat Farraz tentu saja diserahkan pada preman yang menjaga pintu ini.


Setelah Alex meletakkan Geya di samping tempat pengemudi, dia pun menginjak gas dengan cepat. Mobil ini sengaja dia letakkan di luar, karena takut akan membutuhkannya.


Mobil melaju dengan kecepatan 300 meter per jam, sedangkan Alex tahu kalau rumah sakit terdekat berjarak 40 km. Jadi, dengan kecepatan begini, dia bisa sampai di rumah sakit dalam waktu 8 menit.


Beberapa polisi lalu lintas membelalak mata begitu melihat CCTV jalan raya. Mereka hanya melihat sebuah mobil terbang melewati pemantaun mereka.


“Kecepatan ini!!!”


“Cepat periksa, siapa pemilik mobil ini? Siapa yang mengendarai mobil ini?!”


“Kecepatannya sudah mencapai 350 per jam, apa dia sedang mengendarai mobil?”


Semua polisi lalu lintas dengan cepat memastikan informasi mobil ini. Tak lama, nama Andi muncul di layar komputer, tapi setelah mereka memperbesar rekaman CCTV, mereka melihat setubuh Geya yang penuh dengan darah.


Semua polisi dengan tertib melaksanakan perintah kapten dengan cepat.


“Lihat, ke mana dia pergi?”


“Kapten, dia pergi ke RS. Memi.”


“Kalau begitu beri tahu lokasinya pada polisi militer.”


Setelah mendengar laporan dari tim polisi lalu lintas, Argo dan Amel segera berangkat. Mereka tidak menyangka ada orang yang bernyali besar sampai berani membawa mayat sambil melaju cepat di jalan raya.


“Apakah dia ingin menghancurkan mayat itu di suatu tempat?” Amel mengerutkan dahi.


Amel sedang menunggu polisi lalu lintas mengirim foto orang itu ke ponsel, sedangkan Argo membawa Amel pergi ke RS. Memi.

__ADS_1


“Siapa tahu? Mungkin orang itu mengira tak ada yang tahu perbuatannya. Di depan kasus pembunuhan, kasus mengemudi cepat di jalan ini termasuk ringan,” kata Argo dengan tenang.


Amel mengangguk. “Tak peduli bagaimanapun juga, sekarang lebih baik kita pergi ke RS. Memi untuk melihat apa yang mau dilakukan orang itu.”


Tapi, tak lama pusat perhatian mereka berada di ponsel Amel, bahkan isi di dalam membuat Amel dan Argo kaget.


“Alex?!” Amel tak menyangka orang yang membawa mayat dan melaju cepat di malam hari adalah Alex. Amel percaya Alex bukanlah orang yang bisa melakukan hal pembunuhan.


Jadi, Amel segera menelepon Alex, tapi Argo malah berkata, “Sekarang dia sedang mengemudi, pasti nggak ada waktu untuk mengangkat teleponmu. Selain itu, kamu coba lihat mayat ini, apa mirip dengan Geya?”


Karena Geya membatalkan pernikahannya dengan Farraz di pesta pernikahan, sehingga membuat keluarga Bazel malu. Jadi, Geya pun terkenal di Provinsi Sulawesi Tenggara.


Dulu Argo pernah melihat foto Geya, jadi dengan mudah mengenalnya.


Argo berpikir sejenak, baru berkata, “Mungkin saja Geya terlibat masalah, sedangkan Alex datang untuk menolong Geya. Sekarang sedang membawa Geya ke rumah sakit untuk diobati!”


Amel setuju dengan perkataan Argo. Lalu, Amel berkata, “Tapi, hal ini pasti nggak begitu sederhana. Sekarang Geya di tengah opini publik dan Alex yang menolong Geya di Hotel Gana. Kalau mereka bersama, pasti hal ini berhubungan dengan keluarga Bazel!”


Argo mengacungkan jempol. “Jadi, sekarang kita ada dua pilihan, satu kembali, lalu nggak ikut campur hal ini. Lagian pihak polisi sebaiknya jangan ikut campur dengan masalah keluarga Bazel, biarkan organisasi yang lebih tinggi mengatur saja.”


Amel menggeleng. “Nggak boleh! Kita harus tahu kejelasan tentang hal ini. Ini kewajiban kita sebagai polisi!”


Argo hanya tersenyum pahit. “Kalau begitu kita hanya bisa memilih cara kedua, pergi menanyakan hal ini pada Alex. Kalau ini benar-benar perbuatan keluarga Bazel, kita harus pergi ke kediaman Bazel untuk menangkap orang.”


Argo tahu tidak mungkin mereka bisa menangkap orang di kediaman Bazel. Mungkin baru sampai di depan kediaman, sudah dihalangi orang.


Jadi, dia lebih memilih tidak ikut campur, bagaimanapun juga, meski mereka ikut campur, hasilnya juga sia-sia.


Tapi, Amel tak peduli akan hal ini dan bersikeras ikut campur hal ini. Argo hanya bisa mengeluarkan ponsel, lalu melapor hal ini pada Max, karena dia tahu hal ini tidak bisa diatasinya.


Amel tentu saja tahu tindakan kecil Argo ini, tapi dia tidak peduli. Lagian mereka sudah keluar melakukan tugas, jadi Max harus tahu hal ini.

__ADS_1


__ADS_2