Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Gempa


__ADS_3

Setelah makan malam, Alex dan Erika mengikuti Pak Juno dan rombongannya ke auditorium sekolah.


Tempatnya tidak kecil, panggungnya cukup besar, dan kursi penontonnya juga terdiri dari 2 baris. Para murid membawa bangku mereka sendiri dan berbaris di auditorium sesuai dengan kelas untuk menunggu kedatangan tamu VIP.


Pak Omar berpidato terlebih dahulu, lalu Pak Juno menambahkan. Kemudian, Alex dan Erika naik ke atas panggung. Erika memegang kartu donasi berwarna merah dengan nilai 66 miliar. Begitu mereka naik ke atas panggung, mereka langsung disambut oleh tepuk tangan meriah dari para guru dan siswa sekolah tersebut.


Dua perwakilan siswa yang terdiri dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, berlari ke atas panggung dan mempersembahkan bunga kepada Alex dan Erika. Erika dengan senang hati menerima bunga itu dan berkata dalam hatinya: "Beramal memang hal bagus!"


Alex juga menyiapkan pidato. Bahasanya yang lucu membuat para guru dan siswa tertawa lepas. Setelah selesai, Alex turun dari panggung.


Pak Juno selaku kepala sekolah mengumumkan bahwa acara akan dimulai.


Terdapat total lebih dari 10 acara, dan setiap acara dirangkai dan dilatih dengan cermat oleh setiap kelas. Anak-anak menggunakan acara mereka yang sederhana sebagai imbalan atas donasi Alex. Alex sangat menyukai semua acara ini, setelah setiap acara selesai, dia akan memberikan tepuk tangan yang meriah.


Di tengah acara, Erika berbisik kepada Alex: "Yang, aku mau ke toilet. Di sana terlalu gelap, aku tidak berani pergi sendirian. Temani aku ya?"


Alex berkata, "Oke, ayo.."


Setelah berpamitan dengan Pak Juno, Alex dan Erika berdiri, berjalan keluar dari auditorium, dan pergi ke toilet yang ada di luar.


Dalam perjalanan kembali, Erika tiba-tiba memeluk Alex, "Alex, aku baru merasakan kebahagiaan yang sebenarnya hari ini."


Alex bertanya, "Lalu kebahagiaan apa yang kamu rasakan?"


Erika dengan senang hati berkata: "Donasi kita, rasa terima kasih para siswa, melihat rasa terima kasih yang terpancarkan dari mata mereka, aku benar-benar sangat bersemangat. Aku benar-benar berharap bisa melakukan amal seperti ini seumur hidup."


Alex tersenyum, "Tidak ada masalah. Aku akan menemanimu beramal seumur hidupku."


Saat berbicara, Alex mengulurkan tangannya untuk merangkul pinggang ramping Erika, Erika tersipu, "Ini sekolah, jangan."


Alex berkata dengan suara rendah, "Mereka lagi nonton di auditorium, aku cuma cium bentar."


“Tidak, pas pulang saja ya?"

__ADS_1


Namun, Alex memeluknya sangat erat. Matanya penuh dengan hawa nafsu saat menatap wajah Erika yang tersipu malu. Mulut Alex menyeringai, dia meratapi ekspresi marah Erika dengan hati-hati, Erika memang cantik. Yang paling mengesankan adalah hidungnya yang mancung, yang menambahkan sedikit keseksian pada kecantikannya, beberapa helai rambutnya menempel di wajahnya karena gugup sampai berkeringat yang malah membuatnya terlihat semakin menggoda.


“Kamu sangat cantik.” Alex menempelkan bibirnya ke bibir Erika. Erika menutup matanya karena tidak bisa menghindar, dan menikmati ciuman Alex.


Baru saja kedua bibir itu saling bertemu, Alex tiba-tiba merasa tanah bergoyang.


Dia segera tersadar, "Gawat, ada gempa."


Erika langsung membuka matanya karena kaget, "Apa, gempa?"


Dia merasakannya sebentar, dan benar saja, ada getaran kuat yang diikuti oleh suara gemuruh yang datang dari arah auditorium.


Kemudian terjadi kekacauan besar di auditorium, "Awas, auditorium runtuh."


Alex berkata dengan cemas, “ Ayo pergi."


Di dalam auditorium, acara terpaksa dihentikan sedari tadi.


Yang runtuh bukanlah auditorium, melainkan kursi penonton di baris atas auditorium. Dan juga hanya di bagian sudut. Jika auditorium runtuh, maka konsekuensinya tidak terbayangkan.


Banyak siswa di atas tempat duduk juga jatuh dan banyak yang terluka.


Wajah Pak Omar dan Pak Juno memucat, Pak Omar berkata dengan cemas, "Jangan ribut semuanya, Pak Juno, cepat bawa semua siswa mengungsi."


Pak Juno buru-buru mengambil pengeras suara, "Semua guru dan siswa, jangan panik. Yang ada di dekat pintu keluar dulu, kita akan evakuasi dengan tertib."


Tempat yang awalnya berantakan, mulai menjadi teratur di bawah komando Pak Juno.


Guru masing-masing kelas mulai mengungsi dengan cepat bersama murid-muridnya.


Para siswa di tempat duduk bagian atas sudah dievakuasi, sedangkan siswa yang terluka juga sudah dibawa keluar dari auditorium dan ditempatkan dengan baik untuk sementara.


Pada saat ini, Alex dan Erika sudah kembali. Alex bertanya dengan cemas: "Pak Omar, berapa banyak siswa yang berada di bawah reruntuhan?"

__ADS_1


Pak Omar berkata: "Seharusnya sekitar tiga puluh atau empat puluh."


Di bawah reruntuhan, terdengar suara tangisan, dan jelas bahwa para siswa yang berada di bawahnya sangat ketakutan.


Untungnya, tempat ini tepat di sebelah dinding, dan saat barisan atas tempat duduk runtuh menyisakan sebuah ruang yang cukup tinggi di tengah.


Pada saat ini, ada sebuah gelombang gempa susulan lagi. Tempat duduk di barisan atas kembali runtuh. Terutama, penyangga baja di auditorium juga tidak dapat menahan akibat gempa. Sebagian besar campuran beton dan baja jatuh dari atap.


Situasi di auditorium sangat berbahaya, Pak Juno berteriak: "Pak Omar, Anda pergi dari sini dulu. Ini terlalu berbahaya."


Pak Omar dengan tegas berkata: "Omong kosong, lusinan anak masih terkubur di bawah sana. Kita harus menyelamatkan mereka sebelum auditorium runtuh."


"Pak Juno, segera hubungi pemadam kebakaran dan pusat darurat."


Alex berteriak: "Semuanya, menyelamatkan anak-anak lebih penting. Singkirkan puing-puing ini dan selamatkan mereka."


Alex memimpin. Dia mulai menyingkirkan reruntuhan di depan matanya tanpa memperdulikan bahaya yang akan datang. Dia ingin menggunakan kekuatan supernya untuk membuka jalan bagi anak-anak yang terkubur di bawah reruntuhan.


Erika juga menghampiri untuk membantu, keduanya bekerja sama untuk menggali reruntuhan.


Karena kekuatan Alex sangat besar, benda berat yang tidak bisa diangkat bahkan 3 orang biasa sekaligus, bisa dengan mudah dipindahkan oleh Alex sendiri.


Pak Omar membawa serta para pemimpin dan guru untuk ikut serta dalam operasi penyelamatan ini.


Segera, Alex menggali sebuah lubang sedalam 8 meter yang dapat dilalui satu orang.


“Anak-anak, jangan takut, paman datang menyelamatkan kalian. Tunggu sebentar.” Balok baja setebal 10 cm di depan menghalangi jalan Alex.


Butuh waktu lama bagi Alex untuk menopang balok baja ini, Erika yang ada di belakang berkata: "Hati-hati."


Alex menoleh untuk melihat Erika, "Di sini bahaya, kamu keluar dulu."


Erika dengan keras kepala berkata: "Tidak. Aku tidak takut bahaya, aku ingin menemanimu."

__ADS_1


Alex berkata, "Oke. Ketika aku sudah membuka lorong di depan, aku akan mengirim anak-anak keluar, kamu bisa membantuku mengeluarkan mereka."


__ADS_2