Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Menguasai Gudang Peledak


__ADS_3

Pak Harun mondar-mandir di kantornya. Di luar, dia terlihat tenang, tapi sebenarnya dia sangat gelisah. Masalah Istrinya adalah masalah sepele, tetapi nyawa puluhan juta orang adalah masalah besar.


Walikota Tantono datang dan memberikan telepon kepadanya, "Telepon dari penculik."


Di saat ini, Pak Harun malah jadi tenang, dia mengangguk dan tak lupa menekan tombol rekam dengan santai: "Halo, ini aku. Sekretaris pemerintah Kota Jakarta, katakan saja padaku, aku dapat bertanggung jawab."


Suara Arkan telah diproses oleh komputer, dan bukan lagi suara aslinya, tetapi masih saja terdengar nada bicara yang arogan, "Kami telah menguasai gudang bahan peledak kalian."


“Apa syaratmu?” Pak Harun berkata dengan tenang. Dia tahu betul jika pihak lain hanya ingin meledakkan gudang bahan peledak, maka dia tidak akan mengambil inisiatif untuk berbicara dengannya di telepon.


"Oh? Pak Harun memang cerdas, oke, kalau begitu aku akan terus terang. 2 triliun dan kepala Alex. Jika kedua hal ini dilakukan, maka kita dapat terus menjadi teman, jika tidak, puluhan juta nyawa di Jakarta akan mati bersama!"


“Apa istriku ada di tanganmu?” tanya Pak Harun tenang.


"Jangan banyak bicara, kamu harus menyetujui apapun yang aku katakan. Uang 2 triliun itu harus ada di dalam rekeningku dalam waktu 1x24 jam! Juga kepala Alex, jika tidak, tunggu saja ledakannya! Aku sudah berdiri di depan detonator alat peledaknya sekarang."


Telepon Pak Harun telah terhubung dengan alat perekam, dan akan langsung di sinkronkan kepada staf teknis kepolisian. Seorang penyelidik sedang melakukan analisis. Dia perlu mencoba mengulur waktu untuk staf kepolisian.


Pak Harun berkata, "Oke, uang bukan masalah, aku akan segera pergi ke bank. Tapi Alex tidak berada di bawah kendali kami sekarang, kami perlu waktu ..."

__ADS_1


 "Persetan, kamu mau mengulur waktu, huh? 24 jam, dengarkan baik-baik. Matilah kalian semua kalau tidak bisa memenuhi syaratku.” selesai berbicara, Arkan langsung menutup telepon.


Di sisi lain, Pak Harun seketika merasa pusing dan terduduk di sofa setelah tidak mendengar suara pihak lain.


Pasukan SWAT dari provinsi sudah dalam perjalanan, dan komandan Beni dari divisi militer juga telah bergabung dalam pertempuran. Sebuah kompi yang diperkuat dipindahkan dari pasukan operasi khusus untuk bekerja sama dengan pasukan SWAT di Jakarta. Semua orang berkumpul untuk membentuk kekuatan anti-******* terkuat dalam sejarah.


Pihak bank juga sedang mempersiapkan secara intensif, pertama mereka menyiapkan 2 triliun rupiah dan akan mengirimkannya kepada pihak tersebut terlebih dahulu. Setelah selang beberapa waktu, mereka juga dapat melacak informasi rekening pihak tersebut.


Setengah jam kemudian, regu serangan khusus anti-******* untuk gudang bahan peledak dengan lebih dari seratus tentara telah diam-diam berkumpul di sekitar gudang bahan peledak.


Kelompok kedua dipimpin oleh Mayor Darwin dari zona aman, mereka menyergap di daerah pantai dan siap siaga. Pasukan SWAT yang dikirim oleh pemerintah provinsi mendarat di garis pertahanan ketiga dengan helikopter, dan siap lepas landas kapan saja untuk memberikan bantuan udara.


Kelompok pertama tim anti-terorisme, yang dipimpin oleh Inspektur Gilang dibagi menjadi empat tim, dan akan perlahan-lahan menyusup dari pinggiran pos pembangkit listrik dari 4 arah, dia mengingatkan para anggota untuk tidak menembak sembarangan dan pastikan untuk berhasil menjatuhkan musuh begitu berpapasan.


Inspektur Gilang melambaikan tangannya, "Masuk!" Para prajurit dari kelompok pertama di sudut tenggara menghindari sinar lampu dan mendekati ruang kendali di bawah naungan gelapnya malam.


Sedangkan, tim serangan khusus di tiga arah lainnya juga berhasil melewati dinding dan berkumpul ke arah ruang kendali utama. Ruang kendali utama adalah sebuah bangunan kecil berbentuk seperti bunker bundar dengan sebuah halaman kecil di depannya.


Inspektur Gilang melihat sebentar dan memutuskan untuk melewati koridor di sisi halaman. DIa melambaikan tangannya kepada dua anggota di kelompok pertama untuk bergerak maju secepat mungkin, mereka bergegas di bawah perlindungan tanaman di kawasan koridor.

__ADS_1


Tiba-tiba, terdengar suara tembakan di langit malam, prajurit yang berada di baris terdepan terjatuh ke tanah dan tidak bergerak lagi.


Inspektur Gilang segera menggunakan walkie-talkie untuk mengirim perintah kepada semua orang, "Perhatikan persembunyian kalian, musuh punya penembak jitu!" Dia kembali berseru dengan cemas: "Pengamat, segera cari tahu posisi penembak jitu dan bunuh!"


Sebelum kalimatnya selesai, suara tembakan kembali terdengar, dan dua anggota SWAT tewas tertembak di tempat.


Koresponden yang berada di sebelahnya menemukan masalah, "Pak, sepertinya ada yang tidak beres. Musuh mungkin sedang memantau kita. Mereka dapat melihat keberadaan kita dari kamera, sedangkan kita tidak tahu di mana mereka bersembunyi. Hal ini tidak bisa terus berlanjut."


Inspektur Gilang marah, "Pantas saja mereka bisa begitu akurat! Temukan kameranya dan hancurkan dulu!"


Keheningan yang mengerikan kembali melanda. 10 menit sudah berlalu, pengamat melaporkan, "Kamera-kamera itu dipasang di tempat yang sangat tersembunyi, kami tidak dapat menemukannya dalam waktu singkat. Penembak jitu kami juga tidak dapat menemukannya.”


Waktu sangat mendesak, mereka tidak bisa hanya menunggu seperti ini. Dua suara tembakan kembali terdengar dari bagian utara, "Apa itu?"


Segera sebuah kabar dari Tim Serangan Khusus Utara tiba, "Dua anggota tim kami gugur lagi. Pak, kita bisa mengepung paksa dari empat penjuru. Jika hanya menyergap di sini terus, mungkin keberadaan kita semua sudah ketahuan dan hanya bisa menunggu diserang."


Selama panggilan tersambung, tiga anggota tim lainnya kembali tertembak, kali ini dua tewas dan satu terluka.


Wakil Inspektur, Reno berkata, "Pak, kita benar-benar tidak boleh menunggu lagi! Saya akan maju ke sana, dengan begitu setidaknya kita masih bisa melakukan perlawanan. Saya tidak percaya para bajingan ini akan berani meledakkan gudang bahan peledak!”

__ADS_1


Inspektur Gilang mengerutkan kening, banyak yang harus dipikirkannya dalam sesaat, dan sekarang dia hanya bisa bertaruh. Jika tetap menunggu, maka mereka pasti akan mati. Akan tetapi, jika menyerang paksa, mereka setidaknya masih punya kesempatan hidup, tetapi itu juga berarti mempertaruhkan nyawa puluhan juta penduduk.


Inspektur Gilang akhirnya mengambil keputusan dan memberi perintah kepada tiga kelompok lainnya: "Dua kelompok di utara dan barat menembak, dan kelompok tenggara akan menyerang. Kelompok timur tetap bersiap untuk penyergapan! Dengarkan perintahku, tembak!"


__ADS_2