
Hal semacam ini, tentu saja, disebabkan oleh Ghaston. Pasokan bahan baku telah terputus. Aku mau lihat gimana kalian bisa melakukan rekonstruksi pelabuhan!
Friska dan Jasmin membawa orang dan segera mencari cara untuk menghubungi pemasok semen dan baja.
Ratusan penduduk desa sekitar, dari laki-laki, perempuan dan anak-anak, semuanya datang ke lokasi konstruksi dan mengambil batang baja dan peralatan yang ada, ketika para pekerja menghadang, para penduduk akan mengepung mereka dan menghajarnya.
Saat menerima laporan tersebut, Erika segera memanggil polisi!
Setelah polisi tiba, semua penduduk desa pun pergi.
Polisi membuat transkrip pada para pekerja, dan kemudian mengatakan mereka akan mencari penduduk desa terdekat untuk membuat transkrip, lalu pergi.
Segera setelah polisi pergi, penduduk desa datang lagi. Mereka mencoba segala cara untuk menyebabkan kerusakan dan mempengaruhi proses kemajuan konstruksi.
Erika terus memanggil polisi, setelah polisi tiba, penduduk desa menghilang lagi, dan mereka membuat transkrip lagi untuk sejenak.
Melihat para pekerja berbaris untuk membuat transkrip, Erika merasa cemas, "Selalu seperti ini, gimana kerjanya coba!"
Polisi sibuk di sini selama lebih dari satu jam, mereka pergi lagi setelah menyelesaikan transkrip, dan penduduk desa yang membuat masalah datang lagi.
Erika hampir didorong jatuh ke tanah oleh dua ibu-ibu ketika menghentikan mereka.
Mau tidak mau, meskipun tahu memanggil polisi juga tidak berguna, tapi yang bisa dilakukan hanyalah itu. Oleh karena itu, polisi datang lagi dan kembali membuat transkrip!
Erika sangat marah, dia menelepon Alex dan menceritakan masalah ini.
“Hmm? Aku akan segera ke sana.” Alex meminta Rega untuk mengemudi ke lokasi pembangunan. Begitu sampai dia melihat penduduk desa sedang melakukan kerusakan dalam berbagai bentuk!
Rega mengepalkan tinjunya karena marah, dan hendak bergegas untuk turun tangan.
“Tunggu!” Alex meraih Rega, “Jangan main tangan, bicarakan baik-baik.”
Rega berkata marah, "Kak Alex, orang-orang terlalu keterlaluan! Mana bisa bicara-baik-baik dengan mereka? Ngak akan berguna! Tinju doang yang bisa menyelesaikannya!”
Alex masih dengan tegas menghentikannya, dan keduanya datang ke bengkel tempat Erika berada.
“Benar-benar bikin emosi!” Erika hampir meneteskan air mata ketika melihat Alex.
__ADS_1
Alex berjalan mendekat, memegang tangannya, dan berkata dengan lembut, "Jangan khawatir, ini masalah sepele. Kamu minta para pekerja untuk memperbaiki pagarnya, biar aku yang menyelesaikan masalah penduduk desa."
"Gimana kamu menyelesaikannya? Jangan main tangan lho ya! Kalau ngak, kita akan mendapat lebih banyak masalah." Erika juga tahu bahwa masalah semacam ini pasti ada dalangnya, dan begitu ada yang terluka, situasinya akan sulit diatasi.
“Tahu kok, udah kamu tenang saja. Aku akan mengambil tindakan yang tepat.” Alex terus menghibur.
Para pekerja mulai memperbaiki pagar. Alex keluar dan berjalan di sekitar lokasi konstruksi. Dia melihat banyak penduduk desa sedang mengemasi barang-barang mereka dan hendak membawanya pergi. Alex tidak menghentikannya, dia hanya melihat mereka sambil tersenyum.
“Eh, nak, kamu bukan bos lokasi konstruksi?" Seorang ibu-ibu memulai percakapan dengan Alex.
Alex menggelengkan kepalanya, "Aku cuma datang lihat saja. Proyek rekonstruksi pelabuhan gede juga ya."
“Iya! Proyeknya sangat besar, bosnya pasti sudah menghasilkan banyak uang! Tapi kami malah ngak dibagi, benar-benar ngak tahu diri,” kata Ibu itu merasa dirinya benar.
Alex mengangguk, "Iya nih, kalau aku jadi bosnya, semua orang di desa terdekat pasti akan mendapatkan uang saku 20 juta."
“Aduh kamu ini pintar ngomong ya.” Ibu itu tertawa terbahak-bahak sambil menutup mulutnya, “Tapi 20 juta per orang jelas ngak cukup! Setidaknya 100 juta per orang baru cukup."
"Eh? Kok banyak amat? Siapa yang bilang?" Alex mengedipkan matanya, "Aku juga tinggal dekat sini, baru saja pindah, jadi aku harus dapat juga dong!"
Alex berkata, "Aku benar-benar tinggal di desa dekat sini. Baru saja pindah ke sini belum sebulan, jadi ya jelas aku juga penduduk desa sini!"
Ibu itu berkata, "Kalau begitu kamu harus bergabung dengan organisasi kamu kalau mau dapat uang. Jika ngak, kamu juga ngak akan dapat bagian meskipun pihak pengembang memberi ganti rugi."
"Bergabung dengan organisasi kalian? Boleh! Aku akan segera mendaftar! Bisa dapat 100 juta masa ngak mau! Haha! Kak, di mana aku harus mendaftar?" Alex terus mencari informasi dari jawabannya.
Ibu itu berkata, "Noh, pria besar di kejauhan terus melihat kita! Namun, mereka ngak berani melakukan apa-apa, kalau berani, mereka pasti akan ditangkap! Si Tonggos Budi bilang polisi ada di pihak kita."
“Si Tonggos Budi? Kalau begitu aku bisa mendaftar dengannya, kan? Lalu datang merampok barang?” Alex menggosok tangannya dengan gembira.
Wajah ibu itu jadi tidak senang, "Eh nak, ngomong apa kamu? Bagaimana ini bisa disebut 'merampok' barang? Ini disebut membantu mereka beres-beres."
Alex memukul kepalanya sendiri, lalu berkata, "Aduh, iya Kak, kamu sangat berpendidikan! Kamu benar sekali! Haha. Tunggu bentar ya, aku akan pergi cari Si Tonggos Budi dulu, nanti aku akan balik lagi untuk bantu mereka ‘beres-beres’!"
Kemudian, Alex berjalan keluar dari lokasi konstruksi.
Rega sedikit khawatir, dia mengamati dari kejauhan.
__ADS_1
Saat itu hari sudah sore, dan penduduk desa yang telah mengemasi beberapa barang mulai membawanya ke rumah mereka.
Bayangannya begitu berantakan, sosok-sosok berserakan, dan bahkan bercampur dengan tawa.
"Kakak ipar, kamu cuma ngambil beberapa batang baja doang?"
"Tahu apa kamu, batang baja sekarang mahal tahu."
“Hei! Eh kakak ipar, kemarin aku pulang membawa 5 karung semen! Jadi, hari ini kakakku akan memperbaiki motor gerobak di rumah. Besok, kami akan menggunakannya untuk mengangkut semen ke rumah! Pas sekali bisa buat perbaikan rumah, hahaha!"
"Iya tuh, minta juga tuh adik-adikmu untuk datang membantu juga!"
"Dia masih ada 2 anak di rumah, ngak bisa datang! Motor gerobak saja sudah cukup kok!"
Rega sangat kesal mendengar percakapan semacam ini: Ini bukan milik kalian, kok bisa-bisanya masih bilang mau pakai motor gerobak?! Benar-benar ngak tahu malu banget jadi orang.
Para penduduk desa ini juga cukup besar hati, Alex dan Rega berada di antara mereka, dan pergi bersama mereka. Tapi mereka bahkan tidak peduli, lagian mereka berdua tidak menghentikan mereka.
Kemudian segera setelah itu, sekelompok orang tiba di sebuah desa, dan kemudian melewati sebuah tempat yang mirip dengan kandang ternak, setiap orang yang lewat di sana pasti akan meletakkan sedikit barang-barang yang ada di tangannya.
Misalnya, mereka yang mengambil batang baja akan meletakkan dua batang.
Mereka yang membawa semen akan meletakkan satu karung.
Beberapa yang mengambil peralatan juga akan meletakkan sedikit.
Ada seorang pemuda yang duduk di kursi malas di kandang ternak, dia tersenyum dan menyapa setiap orang yang lewat, dan kemudian menunjukkan gigi tonggosnya.
Alex mundur beberapa langkah, dia berdiri sedikit lebih jauh untuk memperhatikan apa yang dilakukan Si Tonggos Budi.
Penduduk desa yang lewat akan mengobrol sebentar dengan Si Tonggos Budi, dan kemudian pergi sambil tersenyum.
Akhirnya, jumlah penduduk desa yang kembali perlahan berkurang. Ketika Si Tonggos Budi hendak memindahkan kursi malas ke dalam gubuk, dia melihat Alex yang masih berdiri di sekitar sana, "Eh? Nak, ngapain kamu di situ? Kemari!"
Alex berjalan perlahan, "Kamu ya yang namanya Si Tonggos Budi?"
Si Tonggos Budi berteriak dengan marah, "Kurang ajar, beraninya kamu memanggilku Si Tonggos Budi? Minta dihajar ya?" Dia mengayunkan tangan hendak menampar Alex!
__ADS_1