
Di ruangan tertentu Biro Keamanan Publik, Darma dan putranya akhirnya bertemu.
“Ayah! Anda nggak apa-apa, kan?” Jimmy pun merasa takut ketika teringat dengan kejadian yang dialaminya tadi. Lalu dia memegang tangan ayahnya dan ini pertama kalinya dia tidak rela melepaskan tangan tersebut.
Sebenarnya Jimmy si anak nakal ini sering membuat Darma marah. Meskipun Darma masih ketakutan, tapi sikapnya dia terhadap Jimmy sangat dingin dan dia bertanya, “Kamu kok bisa ke sini?”
Jimmy memegang erat tangan ayahnya, “Ayah, hari ini aku dilindungi oleh polisi! Kudengar masalah ini berkaitan denganmu dan aku hampir saja dibunuh mereka!”
“Apa?!” Meskipun Darma sangat kecewa pada putranya, tapi dia tetap peduli terhadap putranya. Jadi, ketika mendengar hal tersebut, meskipun dirinya masih ketakutan, ia bertanya dengan nada khawatir. “Nak, si… siapa yang ingin membunuhmu? Bagaimana kamu bisa selamat?”
Jimmy merasa terharu, “Ayah maaf!”
Bang!
Untuk pertama kalinya, Jimmy berlutut pada ayahnya, “Selama ini aku nggak berbakti padamu, juga membuatmu marah. Anda jangan masukkan ke hati, sekarang aku minta maaf padamu.”
“Anak bodoh, cepat berdiri.” Darma pun menunjukkan kasih sayangnya sebagai seorang ayah dan memapah putranya berdiri, “Sebagai ayah, bagaimana mungkin dendam pada anaknya sendiri?”
“Iya, ayah…” Jimmy menangis, “Ayah, kali ini aku sudah melewati keadaan hidup dan mati, jadi aku harus berterima kasih pada polisi yang telah melindungiku. Sebenarnya, aku juga harus berterima kasih pada Anda karena Anda yang mendidikku hingga besar! Ayah, maafkan aku!”
Darma belum bisa menerima perubahan mendadak putranya untuk sementara waktu, jadi dia berkata dengan kaget, “Sudahlah, jangan akting padaku lagi.”
Jimmy berkata, “Ayah, aku ini sangat tulus, juga dengan tulus meminta maaf padamu! Kelak, asal aku masih hidup, maka Anda bisa melihat tindakanku! Aku berjanji akan belajar dengan baik dan tidak membuatmu khawatir lagi.”
“Baik. Nak, aku percaya padamu, berdirilah.” Bagaimanapun juga Darma sangat sayang pada putranya, “Aih, kamu katakan dulu, apa yang terjadi padamu? Apa kamu ketakutan?”
__ADS_1
Jimmy mengatakan pengalamannya pada Darma, lalu Darma menghela napas, “Kita memang telah menyinggung Richard! Tapi, aku nggak menyangka kalau dia nggak akan mengampuniku. Pengalamanku hari ini lebih mengerikan daripada mu.”
Dia juga menceritakan pengalamannya sendiri, terutama ketika dia didorong jatuh dari lantai empat. Jimmy pun tidak bisa menahan diri lagi, dia segera memeluknya, “Ayah!”
Darma menepuk punggungnya, “Anak bodoh, bukankah aku baik-baik saja? Saat itu, aku diselamatkan oleh seseorang! Orang itu sangat hebat, namanya Alex. Saat itu, aku berada di dalam situasi yang kacau, dia-lah yang melompat ke atas untuk menggendongku, lalu menggunakan dirinya sebagai matras sambil memelukku berguling beberapa meter. Seumur hidupku ini juga nggak bisa membalas budi, kamu lihat, bukankah aku baik-baik saja?”
Jimmy menganggukkan kepala, “Iya! Ayah memang nggak terluka.”
Darma menghela napas, “Ai, aku nggak luka ini karena pertolongan Alex, jadi aku harus berterima kasih padanya! Kalau bukan karenanya, mungkin aku akan lumpuh atau mati!”
Jimmy mengangguk, “Iya, Alex adalah dermawan keluarga kita! Aku harus mencari cara untuk berterima kasih padanya!”
Darma berkata, “Hari ini telah mengorbankan tiga petugas polisi. Hal ini membuatku sedih. Ini semua salahku karena aku tidak memperhatikan bahaya di sekitar sehingga membiarkan pihak polisi rugi besar. Jimmy, kamu sudah dewasa, jadi kamu harus belajar untuk memikirkan orang lain. Coba kamu pikirkan, para polisi yang bertugas hari ini pasti memiliki orang tua dan anak, bukankah mereka juga menunggu kepulangan para polisi tersebut?”
“Iya, kata Ayah sangat benar! Aku sudah mengerti.” Jimmy menangis, “Aku benar-benar sudah tahu salah. Kelak aku harus belajar dari Anda dan menjadi orang yang berguna untuk negara!”
Kasih sayang antara ayah dan anak terlihat sangat harmonis.
Kalau Alex tahu tindakannya hari ini bisa membuat hubungan ayah-anak seperti itu menjadi harmonis, maka dia pasti akan merasa sangat bangga.
Sebenarnya pihak polisi juga melindungi kedua anggota dari komite penawaran. Untungnya, di sana tidak terjadi hal yang begitu mengenaskan, tapi mereka juga terkena serangan. Oleh karena itu, Marvin pun sangat sibuk, sementara Bryan merasa sedih.
Tapi, Alex malah sangat santai. Selama urusan polisi tidak melibatkan Nova, maka semua itu tidak berhubungan dengannya. Sebenarnya dia tidak bersedia membantu pihak kepolisian menangani kasus. Kalau dia memang ingin, kenapa tidak sekalian saja dia menjadi polisi?
Sebelumnya, dia juga sudah mengatur Andi untuk menangkap beberapa anggota komite penawaran serta keluarga mereka. Makanya, pihak kepolisian tidak menemui banyak masalah. Semua karena penanganan Andi yang tepat.
__ADS_1
Alex berpikir dengan gelisah: Sekarang, aku sudah bisa menjadi ketua polisi di kota Tomohon! Karena aku sudah membantunya mengatasi hal yang sulit ini.
“Kenapa kamu?” Erika baru saja selesai mandi, lalu dia menunjukkan sisi menawannya pada Alex. Dia mendekati pria itu dan bersandar di tubuhnya, sehingga Alex bisa mencium aroma wanginya dan langsung terpesona.
Alex pun memeluk Erika sambil menggelengkan kepalanya, “Nggak apa-apa, aku hanya sedang melamun.”
Erika menggunakan wajahnya menyeka wajah Alex sambil menanyakan hal ini, “Bukankah Nova datang mencarimu? A… apakah nggak terjadi apa-apa dengannya setelah keluar lama dengannya?”
Alex mencubit pipinya, “Apa kamu berharap kami melakukan sesuatu? Apa kamu berharap aku menerimanya dan menjadikannya sebagai istri keduaku?”
“Ck! Apa kamu berani?” Erika meliriknya dan tersenyum acuh tak acuh.
Alex segera meminta ampun, “Nggak berani! Sayang, aku, Alex hanya ingin bersama denganmu sampai tua dan nggak ingin ada istri kedua.”
Tangan Erika memegang bagian pinggang Alex, “Beraninya kamu mempertimbangkannya menjadi istri kedua.”
“Um, aku hanya bercanda saja, mana mungkin aku berani melakukannya.” Alex berkata dengan serius.
Erika pun melepaskan dekapannya pada pinggang Alex. Namun, ketika Alex mengira nggak akan terjadi apa-apa lagi, Erika tiba-tiba menatapnya, “Alex, sebenarnya aku tahu kalau Nova menyukaimu, sedangkan kamu juga sangat mengkhawatirkannya.”
“Apa?” Alex pun kebingungan, “Apa maksudmu?”
“Sebenarnya, Nova adalah wanita yang baik, nggak ada niat jahat, hanya tahu kerja. Bahkan, dia sulit untuk menemukan orang yang bersedia menikah dengannya karena pekerjaannya yang nggak teratur ini, juga nggak ada pria yang mau menerimanya. Pada saat yang sama, dia juga nggak suka dengan pria biasa.” Mata Erika pun terlihat tidak senang ketika mengatakan masalah sahabatnya. Sejujurnya, dia sangat memahami sahabatnya.
“Oh.” Alex menyatakan setuju.
__ADS_1
Erika pun melanjutkan, “Sebenarnya, kami pernah mengatakan secara pribadi bahwa kami ingin menikah dengan pria yang sama, tapi undang-undang pernikahan nggak mengizinkan. Kalau Nova bersedia, maka kamu boleh menjaganya, mau itu dari pekerjaannya, kehidupannya bahkan… kamu pasti mengerti.”
“Aku mengerti apa?” Alex nggak berani mengatakan bahwa dia sudah ada hubungan intim dengan Nova. Dia merasa bersalah ketika menghadapi Erika, bahkan takut dia akan marah.