Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Nggak Nyaman


__ADS_3

“Bajingan!” Alex pun segera berlari ke dalam hotel.


Eddie sudah mengambil Pedang Moonnya, lalu dia melambaikan pedangnya ke arah Alex untuk menghadang Alex masuk.


Karena lengan kanannya terluka, jadi dia menggunakan tangan kiri untuk memegang pedangnya sehingga kekuatannya tidak begitu kuat.


Sedangkan Alex menggunakan tombaknya untuk memukul belakang kepala Eddie.


Eddie pun pusing hingga tidak bisa melihat jelas pandangan di depan, lalu dia merasa sepasang kakinya sakit di waktu yang hampir bersamaan. Krek! Tulang kakinya patah?


Debug! Eddie pun berlutut di lantai, kemudian pingsan.


Ben yang duluan masuk ke lobi hotel dengan membawa pisau berlari agresif ke arah Nova yang sedang duduk di sofa, “Hei gadis, cepat kemari, ikut aku keluar!”


“Aaa!” Ketika melihat Ben memegang pisau, pelayan yang di bar itu pun terkejut dan ketakutan sampai kencing di celana, lalu pelayan itu terkulai lemas di kursi.


Pelayan itu menggunakan sudut matanya melihat ke arah Nova, lalu dia dengan kaget menyadari kalau wanita yang terlihat lemah lembut itu sedang berkelahi dengan pria yang memegang pisau itu!


Tiba-tiba Dannie menerobos masuk. Ketika dia hendak bersama Ben mengepung Nova, dia merasakan pukulan keras dari belakang kepalanya!


“Aaa!” Pada akhirnya, Dannie pun pingsan.


“Siapa?” Ketika Ben baru bertanya, wajah kirinya sudah ditendang oleh Nova sehingga membuatnya merasa pusing. Lalu, Nova melangkah ke depan dan meninju dahinya.


Debug! Ben pun pingsan di atas lantai tanpa mengatakan sepatah kata.


Pelayan yang di bar benar-benar tercengang: Apa yang terjadi? Apa mereka couple iblis?! Hebat sekali!


“Bagaimana dengan kondisi di luar?” Nova melihat ke luar hotel.


“Sudah babak belur!” Alex tersenyum.


“Di mana Jaz itu? Apa dia muncul?” Nova tiba-tiba teringat pada bocah itu.


Alex berkata, “Mungkin sedang bersembunyi di suatu tempat.”


Nova pun segera berlari ke luar, “Ayo cari dia!”

__ADS_1


Alex hanya bisa mengikutinya keluar sambil melirik sekitar. Tiba-tiba Alex merasa ada seseorang di kejauhan 300 meter. Sedangkan Jaz yang di lantai tiga masih melihat ke sini dengan teleskopnya.


“Di sana!” Alex menunjuk ke arah Jaz.


“Dia nggak bisa lari lagi!” Nova berlari ke sana, sedangkan Alex mengikutinya lagi. Ketika melewati sisi para murid yang tergeletak di lantai itu, mereka berusaha menjauhi Alex dan nggak berani menantang si master ini lagi.


Ketika Jaz melihat Alex dan Nova berlari ke arahnya dari teleskop, dia pun tercengang dan langsung berlari turun ke bawah.


Saat Jaz berlari ke depan mobilnya sendiri, Alex pun segera melewati Nova dan berlari cepat ke sana sehingga jaraknya dengan Jaz hanya tersisa belasan meter!


Bang! Setelah Jaz menutup pintu mobil, dia pun segera menyalakan mobil dan berniat melaju cepat ke depan!


Brum! Mesin mobil tiba-tiba meraung!


“Eh? Kok mobil ini tiba-tiba naik? Apa yang terjadi?” Jaz sangat kaget.


Ketika dia melihat ke depan mobil, dia pun tercengang!


Ternyata Alex sedang berdiri di depan mobil, lalu sepasang tangannya memegang bagian bawah mobil dan mengangkat mobil itu sehingga membuat bagian depan mobil terangkat.


Nova berteriak, “Jangan biarkan dia pergi!”


“Aaa…” teriak Jaz histeris karena ketakutan, dia merasa dirinya seperti babi yang disembelih!


Bang! Nova membuka pintu mobil. Ketika melihat dia masih berteriak, Nova pun berkata dengan mengerutkan dahi, “Kamu ini pria, perlukah kamu takut seperti ini? Cepat keluar! Kamu itu nggak terluka.”


Jaz keluar dari mobil dengan susah payah, tapi dia nggak berani bergerak sedikit pun, hanya berdiri patuh di samping untuk menunggu keputusan Alex.


Tak disangka Jaz si tuan muda yang semena-mena di kota AL ternyata bisa begitu patuh! Jaz benar-benar takut dengan kekuatan bertarung Alex.


Ketika Nova menyeret Jaz sampai depan pintu hotel, Alex pun ikut menyeret Eddie masuk ke dalam hotel.


Dannie yang di sudut pun baru tersadar. Ketika dia melihat Alex berjalan ke dalam, dia ketakutan sampai gemetar, bahkan kencing di celana! Dia benar-benar trauma dengan kemampuan bertarung Alex.


Alex berkata, “Cepat bilang ke Adi kalau putranya, Jaz dan Eddie sudah kutangkap. Kalau dia mau menyelamatkan mereka, maka bawa uang tunai 40 miliar kemari.”


Dannie menjawab dengan takut. Ketika dia melihat sepasang kaki ayahnya patah, dia pun tahu nggak bisa kabur, hanya bisa berkata dengan panik, “Em, pahlawan, kaki ayahku patah dan dia perlu segera ke rumah sakit.”

__ADS_1


“Diobati? Kalau begitu aku tanya padamu, kalau ayahmu mematahkan kakiku, apa kamu akan membawaku ke rumah sakit?” tanya Alex sambil menatap Dannie dengan penuh makna.


“Apa?” Dannie tercengang, “Aku nggak tahu.”


“Pergi sana!” Nova menendangnya, lalu Dannie segera berbalik dan lari!


Nova yang berhasil menendang Dannie merasa sepatunya berkilau, jadi dia menundukkan kepala untuk melihat. Seketika, dia merasa jijik, “Astaga! Bocah itu takut sampai kencing di celana!”


“Haha!” Alex menarik Eddie masuk ke dalam lift.


Eddie berteriak kesakitan, “Pahlawan, pelan sedikit.”


Alex malah menendang kakinya Eddie, “Eddie, sebagai pesilat tingkat master, kamu tidak bertanggung jawab dan malah menjadi anak buahnya Adi. Benar-benar membuat malu diri sendiri saja! Bisa-bisanya kamu berani meminta ampun?”


“Au…” Eddie sakit sampai tubuhnya gemetar.


Nova pun mengerutkan kening sambil berkata, “Sudahlah, jangan menghukumnya lagi karena aku merasa sangat nggak nyaman.”


Eddie baru tahu Nova ini adalah dewi yang baik! Sangat baik hati.


Eddie sengaja mengeluh sakit tanpa henti untuk mendapatkan simpati dari Nova.


Nova pun berkata dengan bingung, “Apa kamu sebagai master nggak bisa menahan rasa sakit seperti ini? Bisa-bisanya orang sepertimu dipanggil ‘Master Eddie’. Menurutku, kamu ganti nama saja jadi si Eddie pengecut.”


Wajah Eddie pun memerah sampai tidak berani lagi mengeluh sakit.


Ketika Jaz melihat Alex memberi hukuman pada Eddie, Jaz tidak berani mengedipkan matanya, hanya melihat dengan tubuh gemetar dan hampir pingsan karena ketakutan.


Setelah membawa Jaz ke kamar Alex, Nova pun mengaitkan tangannya untuk memanggilnya, “Jaz, kemari kamu!”


Seluruh tubuh Jaz gemetar sampai giginya bergemeletuk, “Iya, pahlawan, ada apa?”


Nova berkata, “Kamu ikat Eddie itu. Kalau kamu nggak mengikatnya dengan kuat, hati-hati dengan kaki dan tanganmu!”


“Ha? Baik, baik, aku pasti akan mengikatnya dengan kuat!” Pada saat ini, Jaz pun melupakan hubungan guru dan murid. Dia segera mencari tali yang kuat, lalu mengikat Eddie seperti bakcang dengan simpul yang pernah dia pelajari.


Eddie yang kasihan diikat menjadi bakcang oleh muridnya dan sambil berkeringat menahan rasa sakit, ia menatap Jaz dengan tatapan memohon.

__ADS_1


Sayangnya Jaz mengabaikannya. Ketika Jaz mengikat kaki Eddie yang patah, dia tidak mengurangi tenaganya sehingga membuat Eddie pingsan karena tak tahan dengan rasa sakit itu.


__ADS_2