
Amel terkekeh, "Menyerahlah. Apa kamu tahu berapa banyak orang yang sedang menunggumu di luar kantor polisi? Kamu mau aku bantu kamu melarikan diri dari sini? Kamu kira aku punya kekuatan super?"
Raut wajah Morgan langsung berubah. Dia tentu saja tahu apa maksud Amel.
Orang dari keluarga Bazel sudah datang, jumlah mereka juga sangat banyak. Artinya, mereka datang untuk menghabisi dirinya dan Trevor. Bagaimanapun juga, Sinarwan memang sangat mungkin berbuat seperti itu.
"Bajingan!!!" Morgan langsung menghantam meja. Dia tahu dirinya sedang berada dalam bahaya dan harus mencari cara untuk bertahan hidup.
Tepat pada saat ini, Argo berjalan masuk, lalu membisikkan sesuatu kepada Amel lagi. Setelah mendengarnya, Amel mengangguk, "Oke, sepertinya perkembanganmu di sana lumayan."
Argo mengangguk, lalu berjalan keluar.
Morgan langsung penasaran, perkembangan apa?
Dia tahu bahwa Trevor diinterogasi oleh Argo. Itu berarti interogasinya dengan Trevor berjalan lancar.
Ekspresi Morgan langsung menjadi muram. Dalam sesaat, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dalam keadaan normal, dia akan percaya pada Trevor. Bagaimanapun juga, mereka memegang rahasia satu sama lain yang bisa saling menghancurkan.
Namun sekarang, semuanya sudah berbeda. Orang keluarga Bazel sedang menunggu mereka di luar. Mereka hanya bisa mempertahankan nyawa mereka di dalam kantor polisi ini.
Apabila mereka keluar dari kantor polisi, orang keluarga Bazel pasti akan menghabisi mereka. Keluarga Bazel begitu berkuasa, apa yang tidak bisa mereka lakukan?
Amel menatap Morgan dengan tenang. Dia tidak menanyakan apa-apa lagi dan hanya berkata dengan acuh tak acuh, "Sepertinya kamu nggak perlu pergi lagi. Duduklah di sini. Kita akan tahu hasilnya setelah interogasi temanmu selesai."
Saat ini, Morgan pun curiga bahwa Trevor sudah mengkhianatinya. Setelah memikirkannya, dia merasa Trevor punya alasan kuat untuk melakukan hal itu. Sekarang, orang keluarga Bazel sedang menunggu di luar. Jadi, mereka harus mencari cara untuk tinggal di tempat ini. Namun, untuk tinggal di tempat ini, mereka harus punya alasan untuk ditahan.
Mereka tidak mungkin menyerang polisi, kecuali jika sudah bosan hidup.
Dengan begitu, cara yang tersisa hanyalah mengaku dosa. Akan tetapi, ada perbedaan yang sangat besar antara pelaku utama dan pelaku pembantu.
__ADS_1
Oleh karena itu, Morgan sudah tidak percaya Trevor akan menjaga rahasia.
Morgan menggertakkan giginya. Amel sudah keluar, jadi hanya tinggal dia sendiri di dalam ruang interogasi. Dia pun duduk di bangku dan mulai menyusun rencana dengan teliti.
Amel berjalan keluar. Saat melihat lalu lintas yang hiruk pikuk, dia pun tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Alex berdiri di sampingnya dan berkata, "Sepertinya ada kemajuan, ya."
Amel mengangguk, "Sekarang, kami sedang perang psikologis. Kalau kami tenang-tenang saja, mereka justru akan jadi cemas. Lagian, mereka berdua juga percaya kalau tempat ini sudah dikepung keluarga Bazel yang ingin membunuh mereka."
Alex berkata sambil tersenyum, "Kalau mereka sudah percaya tentang itu, semuanya akan mudah ditangani. Mereka pasti akan tersiksa."
Amel tersenyum masam, "Aku nggak sangka pada akhirnya, kamu tetap harus turun tangan untuk membantu. Tapi benar, mereka pasti sangat tersiksa saat ini."
Alex tertawa, lalu berkata, "Mereka pasti akan segera ngaku. Begitu mereka sudah saling mencurigai, rasa curiga itu akan makin besar seiring berjalannya waktu. Pada akhirnya, mereka akan saling mengkhianati. Seberapa jauh mereka akan berkhianat tergantung pada seberapa kejam mereka."
Amel mengangguk, "Tapi mereka masih menahan diri. Untungnya, Robert dan Gordon masih belum pulang. Kalau mereka sudah pulang, hal ini pasti nggak bisa dijalankan. Kamu juga tahu kalau Gordon ...."
Amel menyetujui tindakan Alex. Lagi pula, Alex adalah anggota Biro Red Shield. Tidak masalah baginya untuk bertemu dengan tersangka. Apabila bahkan Max juga tidak berani menghentikannya, tidak ada orang di kantor polisi ini yang bisa menghentikannya.
Saat ini, Morgan sudah kewalahan. Dia benar-benar tidak tahu apa yang akan diperbuat Trevor. Meskipun sudah bekerja sama sekian tahun, Trevor selalu bisa melakukan sesuatu di luar dugaannya pada saat-saat genting. Jadi, dia tidak bisa menebak apakah Trevor akan mengakui hal-hal itu.
Tepat pada saat ini, pintu ruang interogasi dibuka. Alex berjalan masuk, lalu berkata sambil tersenyum, "Maaf, Morgan, kita bertemu lagi."
Ekspresi Morgan langsung berubah, "Kenapa kamu bisa masuk kemari?"
Dia langsung menatap Amel yang ada di belakang Alex dan bertanya, "Kamu sedang melanggar peraturan. Kenapa orang biasa boleh masuk ke ruang interogasi?"
Amel menutup pintu dengan tenang, lalu pergi ke ruang pemantauan untuk melihat situasi di dalam ruang interogasi.
__ADS_1
Alex duduk di kursi yang ada di hadapan Morgan, lalu berkata sambil tersenyum, "Sebenarnya maksud kedatanganku sangat sederhana. Apa kamu mau pertimbangkan untuk menjual PT. Zrank?"
Begitu mendengar kata-kata Alex, Morgan langsung mencibir, "Ternyata begitu. Kamu ingin mendapatkan PT. Zrank? Sayang sekali, aku nggak berniat menjualnya."
Alex terkekeh, "Benarkah? Kalau begitu, tunggu saja hingga perusahaanmu itu berjamur."
Alex tidak ingin banyak bicara dengan Morgan. Dia tahu Morgan sedang berpegangan pada kartu AS terakhirnya. Namun, Alex sama sekali tidak khawatir karena tahu Morgan pasti lebih gelisah daripada dirinya dalam situasi seperti ini.
Alex berdiri dan berjalan ke arah pintu sambil berkata, "Ya sudah kalau begitu. Aku kira kamu mau menukar PT. Zrank dengan nyawamu."
Setelah mendengar hal itu, Morgan buru-buru berteriak, "Tunggu."
Alex sama sekali tidak menoleh. Dia terus berjalan ke arah pintu dan sudah memegang gagang pintu dengan satu tangan.
Morgan langsung panik dan tidak berhenti berpikir. Pada akhirnya, dia berkata, "Aku setuju! Aku akan menjualnya padamu!"
Alex baru tidak jadi pergi dan menoleh ke arah Morgan. Morgan sedang duduk dengan ekspresi putus asa.
Dia mendesah, "Aku bisa memberimu PT. Zrank, tapi kamu harus bayar enam triliun."
Alex kembali duduk, lalu menatap Morgan sambil tersenyum mengejek, "Apa otakmu bermasalah? Berapa uang yang aku tawarkan sebelumnya?"
Morgan sangat marah, "Kamu jangan keterlaluan! Ini bukan lagi transaksi jual-beli. Kamu sedang menghina PT. Zrank!"
Alex menjawab sambil tersenyum, "Aku memang mau menghina PT. Zrank. Tapi sekarang, kalian hanya punya satu kesempatan untuk hidup. Nggak ada yang berani membantu kalian selain aku."
Morgan langsung gemetar. Dia tentu saja tahu kata-kata Alex memang benar. Hanya PT. Atish yang bisa membantu mereka melarikan diri dari tempat ini.
Jadi, Morgan tidak punya pilihan lain.
__ADS_1
Dia menggertakkan giginya, "Baik, satu triliun."
Alex berkata sambil tersenyum, "Oke, tunggulah di sini. Aku akan menyuruh pengacara datang untuk mengurusnya. Aku pergi jenguk teman baikmu dulu. Seharusnya dia juga nggak akan ragu. Bagaimanapun juga, ini adalah satu-satunya cara melindungi nyawa kalian."