Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 464 Langsung Menyerahkan Diri


__ADS_3

Figo terheran-heran menatap Raffi, Raffi berjalan menghampiri dan memberikan hormat, “Saudara, aku rasa kita sudah salah paham, bukan? Seharusnya nggak ada dendam di antara kita, bukan?”


Alex tersenyum dingin. “Kamu sudah tahu identitasku?”


Raut wajah Raffi semakin tidak enak dipandang, rasa takut terpancar pada wajahnya.


Dia tersenyum canggung, “Saat ini, nggak ada satupun orang di area ini yang nggak familiar dengan reputasi Tuan Alex.”


“Bagus kalau kamu tahu. Aku berikan dua pilihan untukmu, kamu bisa menyerahkan diri ke kantor polisi dan menceritakan semua hal yang kamu perbuat atau kamu bisa mencoba untuk melawan PT. Atish, tapi aku harap kamu pikirkan dulu kemampuanmu.”


Raffi sama sekali tidak berani menjawab dan tidak berani bergerak, tapi sangat jelas kalau Figo tidak takut. Dia menunjuk Alex dengan geram, “Jangan banyak omong kosong, kamu pikir kamu begitu hebat hanya karena namamu Alex Gunawan?”


Baru saja Figo melontarkan ucapannya, Alex langsung melesat ke hadapan Figo dengan gerakan yang sangat cepat. Hanya dalam sekejap mata saja, Alex sudah muncul di depan mata Figo.


Figo terkejut dan ingin memberikan serangan, sayangnya, gerakan Alex lebih cepat. Hanya satu tendangan saja, Figo sudah terhempas ke tembok.


Pukulan Alex yang keras itu sama sekali tidak bisa ditahan oleh orang semacam Figo. Sekujur tubuh Figo menabrak tembok hingga tembok retak.


Debu beton berjatuhan, Figo tidak bisa berkata-kata, dia membelalakkan matanya sambil menunjuk Alex, bola matanya memerah.


Pada akhirnya dia membuka mulutnya, lalu mengerang dan memuntahkan darah. Segera setelah itu, darah mengalir dari hidungnya.


Perlahan-lahan tubuh Figo menjadi lemas, lalu melorot ke bawah dari tembok.


Adegan ini membuat Raffi dan Belen terkejut bukan main, tentu saja mereka merasa takut saat melihat Alex menghajar Figo hingga menjadi seperti ini dengan begitu mudahnya.


Usai melakukan itu, Alex baru pergi dari ruangan ini sambil menggendong Nova dan Dika.


Raffi yang berada di dalam ruangan itu wajahnya tampak ketakutan, sedangkan Belen sedang menutup wajahnya.


Mereka benar-benar ketakutan setengah mati. Tadi Alex hanya berdiri di sebelah mereka saja, tapi itu sudah membuat mereka merasakan ancaman kematian.

__ADS_1


Raffi berjalan ke hadapan Figo. Dia meletakkan tangannya di bawah hidung Figo, lalu dia menarik kembali tangannya dengan segera, wajahnya tampak ketakutan, “Figo sudah mati!”


Bola mata Belen langsung memutar ke atas dan dia jatuh tidak sadarkan diri.


Dia tidak pernah bertemu dengan masalah semacam ini.


Di bawah gedung apartemen, Pak Bryan sudah datang membawa segerombolan pasukan, raut wajahnya langsung berubah saat melihat Alex bertiga. Dia bergegas menyuruh orang untuk membawa Nova dan yang lainnya ke rumah sakit.


Alex memandang wakil ketua Ahmad yang datang dengan tergesa-gesa, “Kamu tahu kalau mereka mau pergi mencari Raffi, tapi kenapa kamu tidak menghentikan mereka?”


Ahmad tertawa getir sambil menggelengkan kepala, “Kamu pikir aku bisa menghentikan Nova? Dia hanya akan menentangku dan melakukan apa yang dia mau. Dia sangat ingin membantumu.”


Alex merasa sedikit bersalah, “Seharusnya dari awal aku sudah menduga kalau Nova nggak akan tinggal diam dengan masalah ini. Tapi, aku nggak menyangka kalau dia akan pergi mencari Raffi seorang diri.”


Di rumah sakit, saat ini dokter sedang memberikan perawatan kepada Nova dan Dika, untungnya nyawa Nova tidak terancam, hanya saja satu tulang rusuknya patah.


Namun, luka Dika lebih parah lagi, tidak hanya lengannya yang patah, tapi beberapa tulang rusuknya juga patah, dia sudah jatuh tidak sadarkan diri.


“Aku tahu kalau kamu nggak akan melupakan masalah ini begitu saja. Aku juga akan memberikan bantuan kepadamu sebisa mungkin. Katakan saja kalau kamu membutuhkan sesuatu,” kata Ahmad dengan penuh ketulusan.


Ahmad mengulum bibirnya sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dia tahu kalau masalah ini pasti akan menjadi lebih mudah asalkan Alex turun tangan, tapi bukankah ini terlalu mudah?


Mereka bahkan tidak perlu mencari bukti lagi, tinggal menunggu Raffi untuk menyerahkan diri ke kantor polisi saja.


Bagi Ahmad, tentu saja itu adalah hal yang baik.


“Aku akan meliburkan Nova selama beberapa waktu setelah ini, jadi kamu nggak perlu mencemaskan keamanannya.” Ahmad berpikir sejenak. Dia sudah mengatakan semua yang bisa dilakukannya.


Alex hanya terdiam saja. Dia duduk di sebelah ranjang Nova yang sudah diobati itu sambil menggenggam tangan Nova.


Tangan gadis ini tidak begitu lembut, karena dia sudah terbiasa memegang pistol dan berlatih sepanjang tahun, telapak tangannya sedikit kasar.

__ADS_1


Tapi tidak terlihat sangat kasar, di samping itu, jari jemarinya ramping dengan bentuk yang sangat indah.


Benar-benar jari jemari yang cantik.


Alex duduk di atas bangku. Ahmad tidak mengganggunya lagi, dia membawa anak buahnya pergi dari kamar Nova untuk menjenguk Dika.


“Kenapa kamu begitu dungu? Raffi hanyalah seorang penjahat kecil saja, semudah membalikkan telapak tangan kalau aku mau menanganinya. Tapi kalau kamu terluka, aku akan sangat sedih. Kamu telah melakukan hal yang bodoh.”


Alex menghela napasnya, tapi saat ini Nova masih tidak sadarkan diri dan tidak bisa membalas perkataannya.


Raffi baru pergi ke kantor polisi setelah mengurus masalah Belen dan anak-anaknya. Dia tersenyum kepada petugas polisi yang menyambutnya di kantor polisi, “Halo, aku ke sini untuk menyerahkan diri.”


Petugas polisi sedikit terheran memandang Raffi. Raffi melanjutkan perkataannya, “Sebenarnya, akulah otak di balik pembunuhan jembatan Deli.”


Raut wajah polisi muda itu baru berubah, dia langsung memborgol Raffi.


Bagaimanapun juga, pembunuhan jembatan Deli adalah masalah yang sangat serius, bahkan pasukan bersenjata telah dikerahkan gara-gara masalah itu. Selain itu, juga banyak orang yang mati di dalam masalah jembatan Deli itu.


Di samping itu, dalang di balik masalah jembatan Deli tidak pernah muncul, sehingga pihak polisi juga sangat tertekan. Tidak disangka, ternyata pria di depan inilah dalangnya!


Ahmad langsung pergi ke ruang interogasi setelah Raffi ditangkap. Ahmad mengamati orang di depannya itu dengan erat. Dia tahu dengan Raffi, apalagi saat tiba di Kota Manado, dia sudah mencatat nama semua orang yang perlu dia perhatikan.


Raffi adalah salah satunya.


Walaupun katanya Raffi melakukan bisnis ilegal, dia juga telah melakukan banyak hal melewati batasnya, hanya saja pihak polisi tidak bisa mendapatkan bukti yang konkret.


Kala itu Richard masih hidup, dia adalah payung yang menaungi hampir semua bisnis ilegal, sehingga sulit bagi para petugas polisi untuk mendapatkan bukti.


“Kamu mau bertanggung jawab atas semua masalah ini?” Ahmad menatap Raffi dengan sangat serius.


Raffi pun tertawa, “Apa maksudmu? Aku sendirilah yang melakukan semua masalah itu, perkataanmu sedikit aneh.”

__ADS_1


Ahmad tertawa terkekeh, “Kamu pikir kamu bisa membohongiku? Aku sudah mencatat semua pihak yang memiliki kekuasaan di Kota Manado. Aku tahu dengan siapa kamu bekerja sama.”


Kening Raffi mengerut, “Apa maksudmu? Aku bahkan sudah menyerahkan diri, tapi kamu masih nggak percaya denganku. Aku tahu kalau kamu mau menjatuhkan semua orang, tapi kamu jangan berharap bisa mendapatkan sesuatu dari mulutku.”


__ADS_2