Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Aku Benar-benar Merasa Sedih


__ADS_3

“Bagaimana situasinya? Laporkan secara rinci!” Nova menjadi semangat lagi. Sebelumnya tidak mendapatkan info apa pun, jadi dia hanya bisa membubarkan tim, tapi dia enggan menyerah begitu saja.


Setelah mendengarkan laporan terperinci, Nova pun merenung, lalu dia bertanya, “Apa kamu bisa memastikan jika benar ada orang yang akan menyerang rumah Keluarga Japari?”


“Kapten Nova, aku hanya melihat Keluarga Japari menunjukkan sikap siap bertarung, jadi pasti ada orang yang akan menyerang keluarga mereka!”


“Baiklah, kalau begitu segera memberitahu hal ini pada SWAT dan bersiap-siap menerima perintah.” Nova segera menghubungi Bagus, lalu mengatakan situasi baru ini padanya dan Bagus pun setuju, “Baik, Kapten Nova! Pasukan kami akan melakukan persiapan dan menunggu perintahmu kapan saja.”


Nova tiba-tiba teringat sesuatu, “Oh ya, kita benar-benar dapat memobilisasi tim khusus militer dan masih ada satu master super yaitu Alex!”


Bagus sangat senang, “Benar! Kita semua bisa bertarung bersama-sama.”


Nova dan Bagus nggak tahu sebelumnya orang yang berperang dengan Dodo di puncak Gunung Mahatan adalah Alex.


“Apa? Katamu akan ada orang yang akan menyerang rumah Keluarga Japari di malam ini?” Alex sedang mendengar telepon Nova, lalu dia berkata, “Apa sejumlah besar polisi dan tentara khusus kalian juga ke sana?”


Nova mengangguk, “Mereka sudah mulai berangkat ke rumah Japari.”


“Haha, kalau begitu aku nggak usah pergi.” Sebenarnya Alex yang belum kembali ke cabang PT. Atish sudah menerima telepon dari Nova ketika di tengah jalan.


“Apa maksudmu? Apakah kamu nggak khawatir aku dalam bahaya?” Nova berkata dengan blak-blakan, tapi nada bicaranya ada rasa manja.


Alex berkata, “Kamu nggak usah khawatir karena kamu pasti nggak akan terkena bahaya setelah pasukan besar itu ke sana.”


“Maksudmu?” Nova mulai menebak hal ini dalam hati.


Alex berkata, “Kalau pasukan kalian ke sana, maka para penyerang pasti akan mengetahui aksi kalian. Jadi, menurutmu apakah para penyerang itu akan menyerang Keluarga Japari?”


“Apa yang kamu katakan benar juga.” Nova pun serba salah, kalau mereka ingin bertarung dalam skala besar, maka sulit bagi para pasukan untuk bersembunyi dengan baik.


Tapi, kalau membiarkan tim kecil ke sana, apa Nova bisa tenang? Apa bisa mengalahkan semua musuh?


“Jadi harus bagaimana?” Nova mulai meminta pendapat Alex.

__ADS_1


Alex berkata, “Kalau ada yang ingin menyerang Keluarga Japari, bukankah ini sesuai dengan harapanmu? Asal Richard kalah, maka kota Tomohon akan damai. Kemudian, kamu adalah orang yang akan mendapatkan keuntungan banyak, sekaligus bisa mendapatkan perhargaan. Oh ya, biarkan Stevanus bertarung dengan penyerang itu dan kamu sebaiknya jangan ikut serta.”


“Iya.” Nova benar-benar nggak kepikiran hal ini.


Alex terus berkata, “Meskipun mau membawa orang ke sana, aku merasa kalian hanya perlu mencari dua atau tiga tentara elit dari tim brigade dan polisi khusus. Ketika kedua belah pihak terluka, kalian baru menyerbu ke sana untuk mengatasi sisa masalah. Mengerti gak?”


Nova merasa perkataan Alex masuk akal. Jadi dia menelepon Bagus dan Suseno untuk menyampaikan maksud yang disampaikan oleh Alex. Mereka berdua pun mengerti, lalu segera memutuskan untuk membiarkan pasukan besar mereka bersembunyi di tengah jalan. Lalu mereka masing-masing hanya membawa dua pasukan elit untuk bersembunyi di sekitar rumah Keluarga Japari dan menunggu kesempatan.


Setelah pukul 11 malam, Alex kembali ke gedung cabang PT. Atish, tapi kebetulan dia bertemu dengan Friska. Sebenarnya Alex ingin berbalik dan mengabaikannya.


Tapi, Friska duluan melihatnya, “Alex, Dirut Alex, kenapa kamu baru kembali?”


Selesai berbicara, dia sudah berjalan ke samping Alex, “Ih, kenapa tubuhmu jorok sekali? Kenapa masih ada noda darah? Apa kamu luka lagi?”


“Astaga!” Alex tiba-tiba mengulur tangan untuk menutupi mulutnya Friska, “Jangan teriak dan bisakah jangan asal bicara?”


Friska membelalakkan matanya sambil memutar pupil matanya tanpa mengatakan sepatah kata pun, tapi dia menggunakan isyarat mata melihat Alex: Lepaskan aku.


Alex segera melepaskan tangan, tiba-tiba merasa telapaknya sedikit lengket, ternyata terkena ludahnya Friska.


“Ngapain membuka kamar? Kalau ada masalah, ke kamarku saja.” Friska tahu akan hemat, jadi nggak berencana membuka kamar untuk Alex.


Alex ragu sejenak, baru berkata, “Boleh juga.” Lalu dia mengikuti Friska ke kamarnya.


Friska mengikuti di belakangnya, Friska juga sengaja menutupi pintu dan tiba-tiba merasa gugup: Apa dia sudah bersiap melakukan sesuatu itu padaku?


Sebenarnya dia bukan hanya merasa gugup, tapi malah sedikit antusias.


“Apakah kamu ada kotak P3K?” tanya Alex.


“Apa? Kotak P3K?” Friska yang sedang berpikir mengada-ngada pun tercengang. “Ngapain kamu mau barang itu?”


Alex mengerutkan kening, Friska pun segera merespon, “Oh, kamu terluka. Baik, ada kok, aku segera mencarinya.”

__ADS_1


Friska dengan cepat menemukan kotak P3K, lalu mengambilnya dan Alex bertanya lagi, “Apakah kamu ada bir putih dengan kadar alkohol tinggi? Kalau ada, ambil sebotol kemari.”


“Apa? Kamu masih mau minum bir?” Begitu Friska berkata begitu, dia pun ingin menampar dirinya: Hari ini, aku kenapa begitu bodoh? Bisa-bisanya menanyakan hal bodoh begini?


Dia tersenyum malu, lalu dia benar-benar menemukan bir putih dari kota Tomohon, lalu membuka tutup botolnya, “Semua sudah lengkap.”


Alex mulai membuka bajunya, sedangkan suasana hati Friska semakin gugup sampai ingin kabur.


Pakaian Alex penuh dengan darah, hal ini membuat Friska menjadi sedikit gusar, “Beberapa luka di punggungmu sudah terbuka. Kamu ini kenapa seperti anak-anak? Apa kamu berkelahi lagi?”


Alex tersenyum pahit, “Bukan berkelahi, tapi berkompetisi.”


“Kalau begitu kamu duduk diam dan aku akan membantumu mengoleskan obatnya.” Tiba-tiba muncul rasa kasih sayang seorang ibu dalam diri Friska. Dia mengambil bir putih untuk menuangkannya ke dalam cangkir kecil, kemudian mencelupkan kapas ke dalam baru membersihkan luka di punggung Alex.


“Shhh.” Alex menarik napas dingin.


Tangan Friska bergetar dan kapas itu jatuh ke tanah, “Apa sangat sakit?”


“Nggak apa-apa, kamu lanjutkan saja.” Alex menyemangatinya dengan suara rendah.


Friska berkata, “Baik, kamu tahan sedikit.” Dia terus mengoleskan obat dan mencoba mengalihkan perhatian Alex dan mulai bertanya, “Oh ya, bukankah Erika sudah pulang? Kenapa kamu nggak membiarkannya membantumu mengoleskan obat?”


Ketika mengatakan hal ini, Friska pun merasa menyesal: Apa yang kukatakan ini? Kalau Alex bersedia menginap di sini, maka itu hal yang aku inginkan! Kenapa aku bisa mengatakan hal bodoh ini?


“Aku nggak ingin dia sedih,” kata Alex dengan serius.


“Apa?” Friska pun tercengang. Dia demi nggak ingin Erika sedih, dia lebih bersedia diam-diam mengobati semua luka ini.


Alex benar-benar sangat baik pada Erika! Dalam hati Friska pun muncul rasa cemburu!


“Terus oleskan!” kata Alex.


“Oh,” jawab Friska. Lalu dia tiba-tiba bertanya, “Alex, kamu khawatir Erika akan sedih, apa kamu nggak khawatir aku akan sedih?”

__ADS_1


“Apa?” Alex tercengang, “Kamu bisa sedih? Apa kamu bercanda?”


Friska mengoleskan obat pada tubuhnya, lalu berkata, “Siapa yang bercanda padamu? Aku tentu saja akan sedih kalau kamu terus menyakiti tubuhmu!”


__ADS_2