
Meskipun Rico mencoba menyangkalnya di hadapan polisi, tapi setelah Nova menunjukkan video yang direkam oleh Alex saat berada di ruang interogasi, Rico pun menundukkan kepalanya.
Rico benar-benar pasrah setelah melihat bukti dari tukang kunci dan si pria perkasa. Kemudian pihak polisi membawa tukang kunci, pria perkasa dan Rico untuk memastikan tempat kejadian.
Sejauh ini fakta bahwa Rico diam-diam meletakkan uang tunai 10 miliar di rumah Jody untuk menjatuhkan Jody telah bisa dipastikan dan tidak dapat dibantah lagi.
Nova tidak sempat menghela napas lega karena dia perlu menyerahkan materi yang disusun pihak polisi ke tingkat provinsi!
Meskipun Nova tidak berpartisipasi dalam seluruh proses interogasi, tapi rekan-rekannya tetap memihak padanya, selain itu fakta lebih meyakinkan daripada argumentasi.
Keesokan siangnya Jody dibebaskan oleh BPK dan pulang ke rumah. Atasannya meminta Jody untuk beristirahat selama beberapa hari sebelum kembali bekerja.
“Ayah…” Nova telah menunggu di rumah beberapa saat. Dia bergegas berlari ke pelukan sang ayah sambil menangis begitu melihat ayahnya membuka pintu. Nova memegang tangan Jody dan berkata, “Yah, aku tahu kamu pasti difitnah, tapi aku dipaksa untuk menghindari hal ini, juga ngak boleh ikut serta dalam penyelidikan, untungnya ada seorang temanku datang ke Tomohon dan membantumu membersihkan tuduhan ini.”
Jody sudah dipenjara selama beberapa hari, tapi tidak ada yang mempengaruhi perasaannya, dia berkata sambil tersenyum, “Gadis bodoh, kamu adalah polisi yang hebat, emangnya kamu nggak tahu kalau yang asli ngak bisa dipalsukan? Aku ngak pernah berbohong seumur hidup ini, jangankan 10 miliar, bahkan rupa uang 200 juta saja aku enggak tahu, haha. Sudah, sudah, jangan khawatir, ayah ‘kan baik-baik saja.”
Jody tersenyum ketika melihat Nova menangis, lalu berkata, “Dasar bodoh, tadi kamu bilang temanmu? Teman apa? Teman di kepolisian atau…”
Nova berkata, “Dia bukan polisi, tapi dia lebih hebat daripada polisi. Oh ya, lagian ayah juga lagi nggak kerja, gimana kalau malam ini kita undang dia makan?”
“Ah?” Jody mulai memperhatikan, “Orang macam apa yang bisa membuat putriku hati-hati gini?”
“Ayah…” ucap Nova sambil bertingkah manja.
Melihat sikap putrinya yang begini, Jody pun semakin yakin dengan pemikirannya: Apa putriku jatuh cinta? Aku ingin lihat pria seperti apa yang bisa disukai putriku, tapi orang itu juga harus bisa lolos dari mataku.
Jam enam malam, di ruang VIP Hotel Saruka, Nova dan ayahnya sudah tiba lebih awal dan memesan tempat untuk menunggu kedatangan Alex.
__ADS_1
“Katakan, apakah pria itu tipe yang kamu suka?” Jody menatap putri kesayangannya dengan senyum.
Mata Nova berbinar, lalu berkata dengan gugup, “Em, Ayah, bisakah jangan menanyakan topik sensitif seperti itu?”
“Hmm! Kamu pikir aku ngak bisa melihatnya? Oh ya, apakah bocah itu menyukaimu?” Jody tentu saja peduli dengan masalah pernikahan putrinya.
“Em…” Nova sangat canggung.
“Apa? Putriku menyukainya, tapi eraninya dia ngak menyukai putriku? Hebat bener dia, minta dihajar ya!” kata Jody dengan lantang.
“Ah? Jangan! Ayah, jangan turun tangan padanya.” Nova terkejut. Jika Ayahnya benar-benar turun tangan, Ayahnya pasti akan terluka parah karena kemampuan Alex amat hebat, bahkan bisa membuat ayahnya terluka tanpa perlu perlawanannya.
“Kenapa?” Jody membelalak mata, “Emang bocah itu berani memukulku? Apa kamu kira Ayahmu ini sangat lemah?”
Nova berkata dalam hati: Aku saja amat lemah di depannya, apalagi ayah.
Alex mengenakan jaket berwarna biru kehitaman yang dipadukan dengan celana jeans. Dia berjalan masuk dengan santai, lalu menyapa, “Em, Paman Jody ya? Apa kabar.”
Jody tidak menjawabnya, melainkan membuka lebar matanya untuk melirik Alex dari atas sampai bawah berulang kali, lalu bertanya, “Nak, berapa umurmu?”
“Em, 26.” Sebenarnya Alex mengerti bahwa dia sedang menanyakannya dengan identitas sebagai calon mertua, tapi karena dia tidak berkata secara langsung, maka Alex juga tidak bisa menjelaskannya.
“Oh, apa kerjaanmu? Berapa gajimu?” tanya Jody.
“Em, belum ada pekerjaan, gaji…” kata Alex dengan asal-asalan.
“Kalau ngak ada pekerjaan, berarti ngak ada gaji?” Jody membereng Nova, maknanya adalah: Kamu ini cari pasangan seperti apa sampai enggak ada pekerjaan! Jadi apa gunanya selama ini kamu menjadi polisi?
__ADS_1
Nova tersenyum pahit, “Ayah, bisakah kamu jangan khawatir tentang itu? Alex, kamu ingin makan apa? Pesan saja.”
Jody mendengus, “Jika mau pesan makanan, bukannya seharusnya aku sebagai senior yang pesan dulu?”
Alex lekas mengangguk, “Betul betul, tentu saja Paman Jody yang pesan, aku ngak pilih makan kok.”
Akhirnya empat masakan disajikan, sedangkan Nova buru-buru menuangkan minuman untuk kedua pria itu, “Mari Alex, terima kasih telah menolong ayahku, mari bersulang!”
Nova mengangkat gelas jusnya, sedangkan Jody melirik Alex, “Nak, kalau kamu bukan polisi, terus gimana kamu bisa lebih hebat dari putriku? Katakan yang jujur.”
Alex berkata, “Paman Jody, Nova adalah polisi, jadi metode yang digunakan untuk menangani kasus juga metode polisi, sedangkan aku bisa melakukan apa saja demi tujuanku, aku berani melakukan terobosan sehingga lebih efisien, hanya itu saja.”
“Berarti itu pakai cara kotor?” Ekspresi Jody langsung muram.
“Ayah! Apa yang kamu katakan?!” Nova marah, “Dia susah payah menolongmu, emangnya untuk melihatmu menghinanya? Jika nggak bersedia berterima kasih padanya, kamu bisa pergi. Kami yang akan makan bersama.”
Wajah Jody menjadi dingin dan tiba-tiba tertawa, “Huh, putriku sayang! Aku sungguh memanjakanmu sampai berani melawan Ayah. Hei nak, kedepannya hidupmu pasti sengsara, haha.”
Saat Alex membuka mulut hendak menjelaskan, Nova justru berkata dulu, “Ayah! Dia sudah menikah! Kamu jangan asal menjodohkan orang.”
“Apa?! Kamu sudah menikah?” Jody membelalak mata, “Kalau begitu, ngapain kamu bersama dengan Nova?”
Nova rasanya ingin menangis saking kesalnya, “Ayah! Kami akan pergi kalau kamu masih ngomongin itu. Makan saja sendiri!”
“Iya, iya, putriku sudah dewasa, sudah berpihak sama orang! Mari nak, bagaimanapun kamu yang menyelamatkanku, jadi aku harus berterima kasih padamu, kita harus minum sepuasnya hari ini.”
Jody pun mengatakan lebih banyak setelah minum bir, juga tidak begitu serius lagi. Dia bahkan bercanda dengan Alex dan menyadari bahwa jawaban Alex dalam berbagai hal sangat tepat dan memiliki wawasan yang sangat baik meskipun dia tidak banyak berbicara.
__ADS_1
Jody sangat puas dengan Alex, terutama ketika melihat tatapan putrinya pada Alex. Jody tahu putrinya sudah jatuh cinta padanya, tapi sayangnya bocah ini sudah menikah.