Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Siap-Siap Mundur


__ADS_3

Stevanus melihat gedung di seberang dan merasa ada yang tidak beres karena terlalu hening. Apakah ada ruang yang dibuka dalam gedung itu?


Bob dan Carl sudah ditangkap, seharusnya mereka sedang diinterogasi saat ini. Kenapa tidak ada satupun ruangan yang lampunya menyala? Ini aneh sekali.


“Dua orang satu tim, semuanya berpencar, jaraknya 50 meter, sembunyi baik-baik,” perintah Stevanus, “Jangan buru-buru serang, tunggu waktu yang tepat.”


Klak! Mark yang bersembunyi di genting menjentikkan jari, “Bos, musuh sudah masuk! Serang gak?”


Terdengar suara Alex di komunikator, “Jangan buru-buru, sebisa mungkin bunuh semuanya.”


“Siap!” Mark mengamati musuh melalui pembidik senapan jitu, satu orang, dua orang, tiga orang…


Mark sedikit kesal ketika berhitung sampai 12 orang, “Totalnya baru 12 orang, serius?”


Alex berkata, “Dakson, berapa jumlah mereka?”


Dakson menjawab di komunikator, “Sepertinya 17 orang, mereka punya banyak pengalaman tempur dan pandai sembunyi, harus temukan satu per satu.”


Mark berkata, “Oke, 17 orang, kan? Tenang saja, semuanya akan muncul begitu ditembak.”


Andi berkata, “Mark, jangan berbual terus, nanti kupotong bonus 5 juta dolar kalau malam ini kamu gagal bunuh mereka semua.”


“Ah?” Mark merintih, “Bos, kamu kejam sekali? 5 juta dolar! Ya Tuhan, lima kali misi baru bisa aku kumpulkan uang sebanyak itu! Wuu…”


Andi berkata dengan penuh kemenangan, “Aku orang yang tepat janji.”


“Aku Jack, sekarang ketemu yang ketiga belas dan keempat belas. Seharusnya masih ada tiga lagi, pandai sekali sembunyi, sementara belum ketemu.”


Alex berkata, “Bagus, perhatikan lagi, jangan buru-buru tembak.”


Stevanus paling pandai bersembunyi. Dia terus bersembunyi di pojokan gelap dan sama sekali tidak bergerak, lalu mengamati keadaan di sekitar melalui teropong.


Tiba-tiba Stevanus berkata di komunikator karena muncul firasat tidak enak dalam hati, “Siap-siap mundur!”


“Apa? Letnan Stevanus, mundur sekarang?” tanya Arianto yang berhubungan paling dekat dengan Bob.


Stevanus berusaha menahan amarah, “Apa kamu meragukan perintahku? Arianto, harus mundur sekarang juga! Kalau gak kita semua akan mati nanti!”


“Bagaimana mungkin? Hanya dengan mereka?” Arianto tetap enggan patuh.

__ADS_1


Stevanus berkata, “Sampai sekarang kita belum menemukan posisi mereka, tapi aku yakin mereka pasti sedang sembunyi di bangunan sekitar. Arianto, laksanakan perintah, mundur sekarang juga!”


“Baik.” Walau Arianto enggan, tetapi sebagai tim yang bertugas untuk mengawal di belakang, dia pun menjadi garda terdepan saat mundur, maka dia harus bertanggung jawab atas keselamatan jalan mundur di depan sana.


“Eh? Bos, mereka mau mundur?” Mark langsung menyadari kejanggalan dari pergerakan lawan, “Ayo serang mereka!”


Pasukan tujuh orang yang dipimpin oleh Dakson sedang bersembunyi di jalan mundur yang akan dilewati oleh pasukan Stevanus. Sekarang mereka tidak dapat melihat Stevanus dan 16 anggota Stevanus, tetapi Dakson langsung bersemangat mendengar Mark mengatakan mereka hendak mundur, “Saudara-saudara, ambil senjata kalian, sudah saatnya balas dendam untuk para saudara kita!”


“Siap, Jenderal!” Semua orang memegang senjata masing-masing dan menunggu kesempatan.


Mark berseru di radio komunikasi, “Bos, aku mulai ya!”


Dor! Senapan jitu menembak, salah seorang dari pasukan Stevanus tertembak dan tumbang di tanah.


“Mundur! Cepat mundur!” Stevanus merasakan datangnya bahaya yang amat besar, situasi sangat terdesak.


Arianto berteriak, “Jangan mundur lewat jalan tadi, hati-hati disergap!”


Mark menggigit lolipop sambil melihat Arianto, “Sialan, licik juga dia. Biar aku yang menarik perhatian mereka untuk keluar.”


“Dor!” Mark menembak tembok di samping Arianto.


Dor! Dor! Peluru Mark terus mengikuti Arianto.


“Sialan!” Mark sangat marah. Keterampilan militer Arianto sungguh luar biasa, bahkan dengan sempurna mengelakkan tiga tembakan Mark.


Dor! Mark memutar senapan dan menembak anggota tentara angkatan laut yang lain.


“Keparat!” kata Stevanus dengan marah. “Di mana penembak jitu kita? Sudah mati semua?”


Dor! Penembak jitu dari pasukan Stevanus balas menembak.


“Sialan!” Mark menyusutkan kepala dan tiarap di tanah, lalu diam tidak bergerak.


“Mark, bagaimana kamu? Nggak mati, kan?” kata Andi sambil membidikkan senapan pada sebuah tim berisi dua orang dari pasukan Stevanus.


Dor! Dor!  Senapan Andi menyemburkan lidah api. Tim dua orang itu serentak tertembak, badannya kejang-kejang dan jatuh di tanah.


“Bos, jangan diam saja oke? Mereka juga punya penembak jitu! Sembunyi baik-baik.”

__ADS_1


Andi merasa lega saat mendengar suara Mark, “Bagus kamu masih hidup.”


Andi segera memutar badan dan bersembunyi di belakang tembok setelah pelurunya habis.


Dor! Sebuah peluru senapan jitu menembak kemari. Kepala Andi pasti akan pecah kalau mundur setengah detik lebih lambat.


“Wah!” teriak Mark dengan semangat. Dia mengarahkan moncong senapan jitu pada penembak jitu yang menembak Andi sambil bergumam, “Ayo keluar! Ayo lanjut lagi! Satu, dua, tiga!”


Dor! Penembak jitu itu muncul lagi di jarak tiga meter setelah hening beberapa detik, tetapi kepalanya langsung ditembak oleh Mark dan dia tumbang di tanah.


“Oke!” Mark tertawa, “Sudah bunuh penembak jitu mereka.”


Tiba-tiba Andi bertanya, “Bos, di mana kamu?”


Tetapi tidak ada jawaban dari Alex.


Damian membawa Marvel, Markus, dan belasan saudara memasuki pertempuran. Tetapi berdasarkan perintah dari Alex, tugas utama mereka adalah menonton, tidak boleh sembarangan menembak atau menampakkan diri, karena lawan yang dihadapi malam ini adalah tentara senior yang sangat berpengalaman dalam perang. Akan ada korban jiwa jika tidak berhati-hati.


Keterampilan menembak Mark mendapatkan rasa kagum dari Damian dan lainnya.


Kegagahan Andi juga membuat Damian dan lainnya tercengang. Inilah prajurit yang telah bermandikan darah dan api medan perang.


Dor! Dor! Berikutnya, suara tembakan terdengar sedikit kacau, pihak lawan mulai menyerang balik.


“Kepung mereka!” Tiba-tiba terdengar suara Alex.


“Siap!” Andi tentu sangat telepati dengan Alex di medan perang, Andi langsung berseru, “Jack, ayo kerja! Jangan terus sembunyi saja.”


Dor! Dor! Andi beserta Jack dan saudara yang lain serentak menembak, mengepung pasukan Stevanus dari dua sisi.


“Mundur!” teriak Stevanus lagi. Dia dan Arianto masing-masing membawa anggota tim ke arah barat dan timur, menyelinap ke dalam gang.


Mark yang berada di atas mulai gugup, “Sialan, mereka mau jadi tikus?”


Tiba-tiba muncul percikan api di sebuah atap rumah, langsung ditujukan pada Andi.


“Wah!” Andi bergegas menyusutkan badan dan bersembunyi di balik tembok. Tembok itu langsung tertembak.


Sementara itu, Jack juga sedang diserang tembakan lawan dan terus bersembunyi.

__ADS_1


Dor! Mark menjatuhkan satu lawan lagi. Pertempuran memasuki tahap sengit.


__ADS_2