Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Tidak Lebih Dari 3 Jurus


__ADS_3

Kali ini, Roselline hanya menggunakan satu tangan, sedangkan Ridwan menangkisnya dengan kedua tinjunya, tetapi dia tetap tidak bisa menghentikannya, tangan Roselline membuka paksa kedua tangan Ridwan, dan mengenai bahunya.


  Meskipun tidak mengenai bagian vital, tapi kekuatan pukulan ini sangat luar biasa, Ridwan merasa seluruh tubuhnya terguncang, dan jantungnya hampir copot.


  Namun, tidak lama kemudian dia menyemburkan darah dari dalam mulut.


  Pukulan Roselline ini melukai organ dalam Ridwan. Dia bersandar pada dinding karena kakinya lemas. Jika bukan karena adanya dinding, dia pasti sudah jatuh.


  Roselline tidak lagi menyerang, dia mencibir, "Pak Ridwan, jangan mengalah, kalau tidak terima, kita mulai saja lagi."


  Ridwan memarahinya di dalam hati, "Wanita sialan, aku sudah muntah darah karena pukulanmu tadi, mana mungkin bisa mulai lagi?"


  Ibnu dan Chandro berlari menghampiri, "Pak Ridwan, gimana keadaanmu?"


  Ridwan menyeka darah dari sudut mulutnya, lalu berkata, "Aku masih bisa bertahan. Sialan, wanita ini benar-benar sadis."


  Ibnu berbisik: "Sudahlah, Pak. Kita tidak perlu menyinggung Roselline hanya demi seorang Alex. Selain itu, belum terlambat bagi kita untuk membalas dendam di kemudian hari."


  Ridwan mengangguk, lalu berkata kepada Roselline: "Komandan Rose memang luar biasa, haha, aku sedang tidak enak badan karena masuk angin beberapa hari ini, aku bukan lawanmu. Aku menyerah."


  Roselline berkata: "Kalau begitu, serahkan mereka kepadaku."


  Ridwan tidak ingin menyerah begitu saja, jadi dia berkata, "Bagaimanapun, seorang petugas kami telah meninggal. Sekarang, keluarga almarhum sedang dalam perjalanan kemari. Bagaimana kalau kita putuskan nanti setelah keluarganya datang dan diberi penjelasan?"


  Roselline berkata: "Itu urusanmu perlu menjelaskan seperti apa padanya."


  Ekspresi wajah Ridwan sangat buruk. Benar-benar tidak enak dilihat. Dia mencoba yang terbaik untuk berurusan dengan Roselline, kecuali melepaskan tersangka. Tepat pada saat ini, datang lagi seorang tokoh penting. Seiring suara langkah kaki, beberapa orang berjalan masuk dari luar gedung, dipimpin oleh Komandan Norman selaku pemimpin Basinas.

__ADS_1


  “Pak Norman?” Pak Danu dan Ridwan buru-buru menyambut mereka. Setelah menyapa mereka, Pak Norman kemudian menyapa Roselline, "Komandan Rose, aku bergegas ke sini selesai menangani pekerjaan yang ada karena tahu kedatanganmu. Tidak kusangka masih saja terlambat. Kenapa? Apa para bajingan ini membuatmu marah lagi? Kamu tampaknya tidak senang."


  Roselline berkata dengan wajah datar: "Temperamen dan sifat anak buah Pak Norman benar-benar bagus. Mereka tidak mau bekerja sama denganku."


  Pak Norman segera bertanya kepada Ridwan: "Bukannya sudah kubilang untuk menyerahkan tersangka kepada Komandan Rose? Karena Red Shield telah mengambil alih kasus ini, maka sudah tidak ada hubungannya dengan kita. Kamu tidak mendengarnya, hah? ”


  Ridwan berkata sambil tersenyum, "Pak Norman, mana berani saya tidak mendengar perintah Anda? Saya sudah menyerahkannya. Namun, ini tidak adil bagi Pak Zakri maupun keluarganya. Istrinya sedang dalam perjalanan dari kampung kemari begitu mendengar kabar meninggal suaminya, saya rasa perlu ..."


  Ekspresi wajah Pak Norman menjadi muram, "Perlu apa? Apa hubungannya ini dengan Komandan Rose? Biarkan dia membawa orang- orang itu pergi dulu. Nanti biar kamu yang urus keluarga almarhum. Setujui dulu apapun syarat yang diajukannya. Kalau kamu tidak bisa memutuskannya, baru tanya padaku."


  Karena Pak Norman memberi instruksi, Ridwan juga tidak berani melanggar perintah dan harus melepaskan Alex, Erika dan Nova.


  Ketiganya berjalan keluar dari ruang tahanan, Alex tersenyum pahit saat melihat bahwa kali ini Roselline lah yang membantunya, "Komandan Rose, terima kasih banyak."


  Roselline berkata, "Alex, apa kamu mengaku kalah dalam permainan ini?"


  Alex mengangguk dan berkata, "Ya, aku kalah!"


  Setelah Roselline membawa ketiga orang itu pergi, Pak Norman kembali memberikan perintah sebelum pergi.


  Setelah semua orang pergi, Ridwan menggertakkan giginya, dan dua orang lainnya juga kesal sekali. Pada saat ini, ponsel Ridwan berdering, "Pak Ridwan, ini Dewita, saya sudah sampai, di mana saya bisa menemuimu?"


  Dewita adalah istri Zakri, wakil direktur Divisi Operasi Basinas. Mendengar suaminya meninggal di sini, Dewita segera meminta cuti dari tempatnya bekerja, dan bergegas kemari.


  Karena Ridwan dan Zakri sudah saling kenal sebelumnya, dan Ridwan juga pernah menginap di rumah Zakri saat pergi dinas, jadi dia juga sangat akrab dengan Dewita. Dewita sudah bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi pada suaminya saat dalam perjalanan.


  Ridwan memberitahunya, "Dewi, Zakri terluka setelah bertarung dengan orang. Aku akan menceritakannya padamu setelah sampai nanti."

__ADS_1


  Begitulah, Dewita bergegas datang dengan cemas, dan kemudian sampai ke markas Basinas sesuai dengan arahan Ridwan.


  Ridwan menyambutnya secara pribadi, "Sudah datang ya."


  Dewita bertanya dengan cemas: "Pak Ridwan, ada apa dengan suamiku? Kamu bilang dia terluka dan harus dirawat di rumah sakit. Mengapa kamu tidak memintaku ke rumah sakit?"


  Ridwan berkata: "Sudah terlambat. Aku akan membawamu bertemu dengannya."


  “Sudah terlambat?” Firasat buruk muncul dari dalam hati Dewita. Ketika melihat jenazah Zakri, dia tidak bisa menahan tangisnya.


  Dewita menangis sambil bertanya, "Pak Ridwan, ada apa ini? Siapa yang membunuh suamiku?"


  Ridwan berkata: "Kami punya cctv di sini, ayo, akan kutunjukkan padamu."


  Kemudian, Ridwan membawa Dewita untuk melihat rekaman cctv. Rekaman itu sedang mengulangi konflik antara Nova dan Zakri. Keduanya mulai bertarung. Nova menjatuhkan Zakri ke tanah, lalu Zakri tidak pernah bangkit lagi.


  “Si, siapa wanita ini?” Dewita bertanya sambil menggertakkan giginya.


  Ridwan berkata: "Nova, kapten kriminal dari kepolisian Jakarta."


  “Wanita ini benar-benar tidak bisa dimaafkan. Sebagai perwira polisi, bagaimana bisa dia membunuh petugas Basinas? Ada dendam apa dia dengan suamiku?” Dewita bertanya.


  Ridwan berkata: "Pasti ada dendam, jika tidak, tidak mungkin dia memukulnya seperti itu. Namun, perselisihan ini dimulai dari seseorang bernama Alex. Kami menangkap Alex, kamu pasti pernah mendengar namanya, kan? Nova datang untuk melindungi Alex, tapi akhirnya dia malah bertengkar dengan Zakri dan berkelahi."


  Dewita berkata dengan marah, "Benar- benar keterlaluan, di mana dia sekarang? Aku ingin meminta penjelasannya."


  Ridwan menghela nafas dan berkata: "Nyawa dibayar nyawa sudah seharusnya. Tetapi dia memiliki koneksi yang sangat besar, sehingga para pemimpin datang untuk membawa mereka pergi. Katanya kasus ini telah diambil alih oleh Red Shield. Jadi ya, mereka baru saja dibawa pergi."

__ADS_1


 


 


__ADS_2