
Setelah Bryan mendengar laporan Nova, dia pun berkata dengan ragu, “Nggak mungkin kita bisa mendapatkan surat perintah penggeledahan tanpa bukti apa pun. Karena, Richard adalah gubernur! Kita harus mempertimbangkan statusnya. Bagaimana kalau kita atas namakan aksi ini dengan mengunjungi langsung ke sana!”
“Mengunjungi? Ngapain kamu seorang direktur kepolisian mengunjungi Richard?” Nova pun bingung.
Bryan tertawa, “Demi kamu menyelidiki status! Cari alasan saja sudah bisa. Aku nggak percaya kalau Richard berani menolak untuk bertemu aku.”
“Baik. Pak Bryan, jika kamu ingin ke rumah Richard, maka aku ikut pergi denganmu.” Nova menjadi antusias, meskipun dia tahu tidak akan menemukan petunjuk apa-apa. Tapi, bagaimana kalau menemukan beberapa petunjuk kecil?
Ketika mereka berdua kembali ke kota dengan mobil. Nova pun nggak tahan untuk bertanya, “Alex, apa yang kamu lakukan?”
Alex berkata, “Hari ini, museum seni kota Tomohon sedang mengadakan pameran lukisan terkenal, aku mau pergi dan melihatnya.”
“Lukisan terkenal? Alex, apa kamu pandai melihat lukisan?” Nova melihatnya dengan kaget.
Alex berkata dengan rendah hati, “Mengerti sedikit. Nggak boleh kah?”
“Tentu saja boleh! Jika kamu pandai gambar, maka kamu bisa meluangkan waktu untuk mengajariku!” Nova seolah-olah menemukan kesempatan untuk berduaan dengan Alex.
Alex tertawa, “Pertama-tama, Petugas Nova harus mempunyai waktu luang yang banyak.”
Nova menghela napas, “Sekarang aku sangat sibuk bahkan tidak ada waktu istirahat.”
Setelah mereka berpisah, Nova segera mencari Bryan.
“Haha, aku tahu kamu ini tidak sabar! Ayo, kita lakukan serangan mendadak dan langsung menuju ke rumah Richard!” Bryan segera berdiri ketika melihat Nova.
“Tuan Richard! Bryan Guptan, si direktur kepolisian kota, ingin bertemu Anda!” Satpam langsung menelepon ke panggilan internal Richard.
__ADS_1
“Apa? Bryan kemari? Berapa banyak orang yang dibawanya?” Richard terkejut: Apakah Bryan telah menemukan bukti?
“Hanya membawa seorang polisi wanita.”
“Oh.” Richard pun tenang setelah mendengar jawaban satpam, “Bagus. Biarkan mereka masuk, aku akan menunggu mereka di ruang tamu.”
“Haha, Pak Bryan selamat datang! Silakan duduk, pelayan sajikan teh!” Richard menyambut mereka dengan senyum.
Bryan juga tertawa, “Pak Richard, rumahmu memang megah, juga ada gaya pengusaha besar!”
Richard berkata, “Pak Bryan, bercanda saja. Sebenarnya dekorasi rumahku dirancang sesuai dengan spesifikasi istana. Hanya saja dengan ukuran lebih kecil.”
“Oh? Pak Richard, kamu ini mau menjadi raja di kota Tomohon ya!” kata Bryan ini memiliki maksud lain.
“Apa? Pak Bryan, kamu jangan asal bilang! Aku hanya mempelajari sedikit desain arsitektur. Bagaimana aku berani mengatakan diri sendiri raja? Kamu jangan menakutiku.” Richard berpura-pura terkejut.
Richard tertawa, “Pak Bryan, terus terang saja jika ada masalah. Aku, Richard nggak suka basa-basi.”
Bryan berkata dengan senyum, “Sebenarnya, aku mencari Pak Richard sekalian berkunjung kemari. Bagaimanapun juga, aku sudah bekerja di kota Tomohon empat tahun, juga sudah mendengar lama reputasi Pak Richard, tapi aku nggak pernah berkunjung ke sini. Kebetulan hari ini ada waktu, jadi aku kemari. Pak Richard nggak akan mengusirku, kan?”
Richard lekas menggelengkan kepala, “Pak Bryan, jangan berkata begitu! Meskipun nyaliku sangat besar, aku juga nggak berani mengusir Anda! Silakan minum tehnya, teh oolong ini adalah teh yang terbaik, harganya 10 juta/ 50 gram.”
“Apa?” Bryan yang baru saja minum pun terkejut sampai tangan gemetar, “Oh Tuhan! 10 juta/ 50 gram? Pak Richard, aku merasa sedang melakukan kejahatan ketika minum teh ini. Ini terlalu boros!”
Richard menyipitkan mata sambil berkata, “Apa Pak Bryan sedang menyindirku?”
Bryan menggelengkan kepala, “Bagaimana mungkin? Ini pertama kalinya dalam hidupku bisa minum teh yang begitu enak karena ikut datang ke rumah Pak Richard! Oh ya, apa teh ini ada stok, bisakah memberiku sedikit daun teh ini?”
__ADS_1
Richard tercengang, “Em. Jika Pak Bryan suka, aku tentu saja akan memberimu satu tas.”
Bryan tertawa, lalu melihat ke arah Nova sambil berkata, “Nova, jika aku menerima teh dari Pak Richard, apakah itu dianggap suap?”
Nova menjawab, “Wajar saja teman dengan teman memberi hadiah, lagipula ini hanya sedikit daun teh. Seharusnya nggak termasuk penyuapan, kan? Selain itu, dengan status Pak Richard, dia juga nggak akan memintamu membantunya mengurus masalah, jadi kamu bisa mengambilnya dengan tenang.”
“Iya! Kata Nova sangat masuk akal! Aduh, aku masih ada satu masalah…” Terdengar ini, Bryan pun melihat wajah Richard.
“Oh? Pak Bryan, silakan katakan.” Richard memberi kode pada Rafatar yang di samping.
Rafatar berkata, “Jika Pak Bryan ingin mengatakan hal ini pada Tuan Richard saja, maka aku dan Petugas Nova bisa keluar dulu.”
Bryan menggelengkan kepala, “Aku ini paling jujur, juga nggak ada masalah yang nggak bisa dikatakan pada kalian! Sebenarnya aku ingin mengatakan, jika kediaman Pak Richard didesain sesuai istana. Lalu, aku belum pernah ke istana karena pekerjaanku yang sibuk! Aih.”
Rafatar segera mengerti, “Oh! Maksud Pak Bryan adalah ingin mengelilingi kediaman Tuan Richard, ya?”
Bryan mengangguk, “Anak muda, kamu sangat pintar.”
Rafatar berkata sambil tersenyum, “Terima kasih pujian Pak Bryan. Jika ingin mengelilingi kediaman Tuan Richard, mungkin Pak Bryan perlu meluang waktu yang lebih banyak.”
“Nggak apa-apa, hari ini aku ada banyak waktu! Pak Richard, bolehkah kami jalan sendiri? Kami merasa malu karena mengganggu waktu kalian.” Bryan berdiri dan berjalan keluar.
“Ah? Pak Bryan, jika kamu ingin mengelilingi tempat ini, maka biarkan Rafatar menemani kalian! Aku sudah tua, jadi tidak terbiasa berjalan sangat lama. Maaf.”
Rafatar dengan senang hati memperkenalkan setiap karakteristik bangunan, bahkan mengatakan siapa yang tinggal di tempat itu.
Nova tiba-tiba merasa skala kediaman Richard ini sungguh besar setelah mendengar penjelasan Rafatar. Lalu, dia merasa kediaman ini sebanding dengan Prambanan.
__ADS_1