
Setelah menerima transferan tersebut, Alex menghela nafas dan berkata, “Ingat ya Rian, kalau kedepannya kamu menggangguku lagi, aku tidak akan mengampunimu semudah ini, akan kubunuh seluruh keluargamu! Aku tidak suka uang.”
Dia ketakutan hingga gemetaran mendengar perkataan Alex, “Baik, baik, Tuan Alex, aku mengerti.”
Alex berbalik dan berjalan pergi dengan santai, tanpa niat untuk mempercepat langkahnya.
Saat Rian bersujud, dia masih saja mengamati langkah Alex. Melihat Alex begitu santai, Rian justru tidak berani meminta anak buahnya untuk menghalanginya.
Kepercayaan diri Alex yang besar benar-benar mengejutkan Rian.
Rian sangat ketakutan, dia merasa dengan kemampuan Alex, setidaknya dia bisa dibandingkan dengan 5 macan milik Kennedy, sedangkan kelima macan ini, tak lain adalah kelima putra Kennedy, dari yang sulung sampai yang bungsu yaitu, Ghaston Mahari, Andreas Mahari, Bernard Mahari, Larry Mahari dan Nelson Mahari.
5 macan keluarga Mahari tidak hanya memiliki ilmu bela diri yang tinggi, tapi juga sangat jaya di aspeknya masing-masing, dan membagi kekuatan ekonomi keluarga Mahari saat ini menjadi 5 bagian, masing-masing dijalankan sendiri, tapi masih punya ikatan, mereka hampir mengendalikan semua bidang yang paling menghasilkan uang di Kota Medan.
Oleh karena itu, mana mungkin aset keluarga Mahari hanya ratusan triliun?
Menurut perkiraan Rian, Alex setidaknya akan seri dengan salah satu dari 5 macan tersebut, atau mungkin juga melawan 2 diantaranya seorang diri.
Namun, menurutnya, meskipun Alex hebat, tapi dia harusnya juga bukan lawan Tambo! Tambo sudah pensiun beberapa tahun, dan dia hanya bertugas melindungi Kennedy, dirinya sudah menjadi sebuah legenda di seluruh penjuru Indonesia.
Selama belasan tahun belakangan, Tambo hampir tidak pernah menampakkan dirinya, apalagi turun tangan.
Oleh karena itu, preman kecil seperti Rian sama sekali tidak mungkin bisa melihat tampangnya.
Meskipun beneran ketemu, takutnya Rian juga tidak kenal dengan Tambo.
Sedangkan Rian tak lain hanya preman kecil milik Suprianto Mahari, dan Suprianto adalah putra ke-2 dari Bernard.
Dengan kata lain, Rian masih terpaut sangat jauh dari inti keluarga Mahari.
__ADS_1
Setelah Alex pergi, Rian tertegun untuk waktu yang lama.
Dia perlu membuat suatu keputusan, awalnya dia membantu Charles untuk menyingkirkan bocah dari luar kota itu, dan hal ini hanyalah hal kecil, tapi sekarang sepertinya sudah menimbulkan masalah besar!
Alex membawa serta Istrinya ke Medan dan berkata akan mengakuisisi PT. Atish, Charles sebelumnya mengatakan lelucon ini kepada Rian. Namun, apa ini sungguh lelucon?
Rian mulai mempertimbangkan ulang masalah ini, dia tiba-tiba merasa Alex bisa melakukannya dengan mudah dengan kemampuannya itu!
Lalu, dia segera mengambil ponsel dan menelpon Charles, “Apa yang kamu lakukan, Charles?”
Charles buru-buru berkata, “Kak Rian, jangan buru-buru, sisa 200 juta sudah terkumpul, akan segera kutransfer padamu.”
Rian memarahinya, “Bukan itu yang kumaksud! Maksudku, apa kamu tahu siapa yang sudah kamu singgung?”
Charles berkata dengan heran, “Kak Rian, kan cuma pemuda yang baru datang ke Medan? Mau itu Erika sekalipun, aku juga tidak peduli!”
Rian kembali memarahinya, “Aku kasih tahu ya, yang kamu singgung itu dewa pembunuh! Seorang dewa pembunuh yang super hebat! Oh ya, dia pernah bilang padamu akan mengakuisisi PT. Atish, dan itu pasti bukan lelucon! Jadi, cepat beritahu Ayahmu untuk bersiap-siap secepatnya! Pastikan pertahankan perusahaan kalian!”
Rian meneriakinya lagi, “Sialan, kamu kira aku tidak punya kerjaan sampai punya waktu untuk bercanda denganmu? Kakiku sudah dipatahkan Alex! Cepat sana telepon Ayahmu, waktunya sudah tidak banyak! Lagian aku bukan anggota keluarga Mahari, tapi masih saja mau repot-repot mengurusi masalah kalian, benar-benar buang waktu!”
Sebenarnya Rian bisa bersikap begini terhadap Charles semua karena Suprianto yang merendahkan keluarga Charles, kalau bukan karena Arnold Kavindra menikahi adik iparnya, Suprianto sama sekali tidak akan punya hubungan dengan Arnold!
Tentu saja, PT. Atish yang bisa sesukses saat ini juga karena adanya bantuan dari Suprianto.
Bagaimanapun juga, itu adalah adik iparnya, selain itu, adik iparnya juga sangat “pengertian”, sulit kalau Suprianto tidak membantunya.
“Nak, apa yang kamu bicarakan? Seorang pemuda dari luar kota mau mengakuisisi PT. Atish? Hahaha! Kamu habis main sama wanita mana sampai ngigau?” begitulah reaksi Arnold.
Charles buru-buru menjelaskan, “Oh iya, Yah. Yang aku bilang tadi itu semua perkataan Kak Rian, dia bilang Alex mematahkan kakinya!”
__ADS_1
“Hm?” Arnold akhirnya tersadar, “Kaki Rian dipatahkan? Sombong sekali anak itu! Kenapa Rian tidak minta orang keluarga Mahari untuk balas dendam? Pemuda itu pasti tidak bisa hidup lama, tidak perlu takut, Char!”
Charles tidak tahu harus berkata apa lagi, Ayahnya sama sekali tidak mau dengar, “Yah! Kamu kan Ayah kandungku! Buruan cari cara, siapapun yang mau membeli perusahaan kita, jangan dijual!”
Selesai mengatakannya, dia tiba-tiba merasa ada yang tidak beres, “Halo? Yah! Ngomong dong, Yah! Eh, putus?”
Ponsel Arnold direbut oleh seseorang, dan langsung dimatikan.
Sebuah pistol sedang menodong keningnya saat ini.
Di hadapannya juga ada seorang pemuda dengan tas kulit, dia sedang mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tas.
Selain itu, ada juga seorang wanita yang sedang tersenyum sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada yang sedang menatapnya.
“Tuan Arnold, silakan tanda tangan.” kata pemuda di hadapannya, dia memberikan sebuah bolpoin kepadanya dengan sopan, dan juga senyum di wajah.
“Tanda tangan? Untuk apa?” tanya Arnold bingung.
Pemuda tersebut tersenyum dan berkata, “Bukan apa-apa sih, cuma perjanjian pindah tangan saja, mulai saat ini, PT. Atish akan berganti pemilik.”
“Apa? Tidak akan!” Arnold seketika merasa pusing 7 keliling, “PT. Atish tidak dijual! Aku tidak jual! Berapapun tidak akan kujual!”
“Yakin?” kata wanita yang menyilangkan tangannya sambil tersenyum, “Stempelmu ada di dalam laci, aku bisa mengambilnya kapan saja. Tidak apa kalau tidak mau tanda tangan, tembak saja langsung!”
“Hah? Tidak, jangan, jangan tembak!” ucap Arnold yang sudah dibanjiri keringat, “Jangan!”
Pemuda di hadapannya mengambil ponselnya sendiri dengan santai, lalu berkata, “Oh iya, ada satu video, mungkin kamu tertarik.”
“Video apa?” muncul firasat buruk dari dalam hati Arnold.
__ADS_1
Video tersebut diputarkan, dan wajah Arnold menjadi pucat seketika. Yang sedang diputar adalah video detail transaksi pribadi yang dilakukannya dengan pejabat pemerintah, dan juga detail pembunuhan yang dilakukan Arnold terhadap beberapa gadis!