Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Bab 586 Memang Kejam


__ADS_3

Sorot mata Alif berangsur-angsur menjadi dingin, "Kalau nggak, jangan salahkan aku karena bersikap kasar padamu dan aku nggak lagi tertarik pada apa pun yang kamu sebut sebagai kepala keluarga!"


Setelah selesai berbicara, dia langsung kembali ke rumahnya.


Alif tidak peduli dengan keributan yang terjadi di aula. Bagaimanapun, setelah menyelesaikan apa yang Alex serahkan kepadanya hari ini, dia tahu dia harus mengatakan hal seperti itu kepada keluarga Vixon.


Apapun yang dipikirkan Hasan dan orang-orang ini, dia sama sekali tidak ingin tahu asalkan mereka tidak mengganggu rencananya.


Setelah Rena mendengar Alif kembali, dia dengan cepat melangkah maju dan berkata dengan sangat cemas, "Alif, kudengar dari orang lain kalau kamu telah memutuskan hubunganmu dengan para tetua?"


Alif menganggukkan kepala, "Rena, kamu sudah bisa melakukan urusanmu sendiri dengan tenang, aku akan mengurus diriku sendiri. Putus ya putus. Kamu juga tahu status seperti apa yang kumiliki dalam keluarga ini."


Rena berkata dengan cemas, "Aku hanya khawatir mereka nggak akan membiarkanmu pergi begitu saja. Kamu juga tahu identitasmu sendiri. Ditambah lagi, masalah yang kamu buat ...."


Alif tahu Rena tahu segalanya, tetapi dia tidak pernah mengatakannya atau ikut campur dengan yang dia lakukan. Bagaimanapun, Rena selalu berpihak dengan keluarga Vixon dan telah berpartisipasi dalam pembangunan bisnis keluarga Vixon, tetapi kemudian pensiun demi menjaga dia.


Rena juga seorang peneliti dari keluarga Vixon.


Alif memeluk Rena dan berkata, "Jangan khawatir. Aku tahu kekhawatiran kamu, tapi aku mengetahuinya dengan baik. Kalau bukan karena mitra bisa dipercaya, aku nggak akan terlalu mencemaskannya."


Rena masih tidak merasa tenang. Tubuhnya agak gemetar, tetapi dia tidak lagi mengatakan apa pun.


Alif meminta Rena untuk beristirahat. Setelah menikmati makan malam yang dimasak oleh Rena, dia mengirim beberapa pesan teks di ponselnya dan berbaring di kasur untuk tidur.


Di pagi hari, lebih dari belasan pengawal mengepung halaman Alif. Saat ini, Hasan tengah menyipitkan mata ke arah rumah ini. Dia pun melambaikan tangan pada belasan pengawal ini tanpa ragu.


Ini adalah masalah keluarga Vixon. jadi tidak ada yang tahu apa yang terjadi di sini.


Alif ditangkap oleh pengawal dan Rena terus memohon, tetapi tidak ada gunanya. Dia malah ditendang oleh pengawal itu dan jatuh ke tanah.


Alif menatap pengawal yang menendang Rena dengan sengit, "Aku adalah orang yang tahu jelas akan budi dan dendam. Kalau kamu berani melakukan sesuatu padanya, aku akan membalasmu seratus kali lipat!"

__ADS_1


Pengawal itu mencibir, "Kamu sudah mau mati dan masih berani berbicara dengan begitu lantang. Apa kamu pikir masih bisa hidup setelah menyinggung kepala keluarga?"


Sekelompok pengawal langsung membawa Alif ke hadapan Hasan. Alif menatapnya dengan dingin.


Hasan tampak tak berdaya, "Alif, jangan salahkan aku. Kalau mau, salahkan saja apa yang telah kamu katakan tadi. Benar-benar keterlaluan. Kalau tidak melakukan pembersihan, keluarga Vixon pasti akan menjadi lelucon di mata orang lain."


Alif mencibir, "Saat itu kamu nggak punya alasan untuk membunuhku, jadi kamu terus menahannya. Itu sangat sulit, 'kan? Akhirnya hari ini kamu menemukan kesempatan, jadi kamu pasti sangat bahagia."


Hasan terlihat kesal, "Kamu benar-benar nggak mengerti aku. Kalau bukan karena apa yang kamu lakukan hari ini, mana mungkin aku ingin membunuhmu?"


Alif menatap Hasan dengan tatapan jijik.


Para pengawal di sekitar mengepung Alif dan salah satu pengawal mengeluarkan belati.


Mereka berniat untuk langsung membunuh Alif di sini


"Nggak sabar, 'kan? Kalian bahkan nggak repot-repot membawaku ke tempat tersembunyi dan langsung membunuhku di sini?" Alif menatap Hasan dengan dingin.


Alif tersenyum.


Rena datang ke Hasan saat ini dan berlutut, "Tuan Besar, kumohon ampuni Alif. Kami akan pergi dari sini, nggak masalah kalau harus meninggalkan negara ini. Tolong ampunilah dia!"


Hasan menatap Rena sambil mencibir, "Apa katamu? Mengampuninya? Coba tanyakan padanya apakah dia akan melepaskanku. Kali ini dia bilang akan membunuh siapa pun yang menghalangi jalannya, bukankah aku juga telah menghalangi jalannya dan dia akan membunuhku?"


Alif menganggukkan kepala dengan sangat tegas, "Tentu saja. Kalau malam ini aku masih hidup, setidaknya aku akan meninggalkan rumah keluarga Vixon, tapi aku nggak menyangka kalian benar-benar nggak membuatku kecewa."


Hasan melambaikan tangannya, "Jangan banyak omong kosong, semua orang juga beristirahat. Ayo cepat selesaikan masalah ini."


Seorang pengawal mendekat sambil mengangkat belati dan mengarahkannya ke leher Alif.


Rena bergegas melangkah maju dan memeluk kaki pengawal itu, tetapi sayangnya dia malah ditendang hingga jatuh terjerembab ke atas tanah.

__ADS_1


Niat membunuh di sorot mata Alif terlihat semakin sengit.


Pengawal itu menikam belati ke bawah.


Akan tetapi pada saat ini, sebuah batu mengenai belati dan membuat belati itu melayang pergi. Alif sama sekali tidak terluka.


Para pengawal di sekitar sangat terkejut. Entah apa yang terjadi barusan?


Pada saat ini, terdengar sebuah suara dari pohon tidak jauh dari sana, "Kurasa sebaiknya kalian lupakan saja masalah ini, bagaimana? Anggap saja kalian memberiku muka."


Semua orang terkejut. Mereka pasti tidak menyadari ada orang lain di atas pohon.


Batu barusan benar-benar mengenai belati dari jarak sepuluh meter.


Hasan terkejut. Dia tidak pernah mengira Alif akan memiliki penyelamat dan sepertinya orang ini juga sangat kuat.


Dia menelungkupkan kedua tangannya ke arah Alex, "Sepertinya kamu telah salah sangka. Ini adalah urusan keluarga kami dan nggak baik bagi orang luar untuk ikut campur."


Alex melambaikan tangannya, "Kurangi omong kosong. Aku adalah penolong yang diundang oleh Alif. Bukankah kamu akan membunuhnya? Kebetulan dia juga memberitahuku kalau dia ingin membunuhmu."


Raut wajah Hasan berubah drastis dan langsung berkata pada para pengawalnya, "Sedang melamunkan apa? Cepat serang dia!"


Mereka pun bergegas menuju Alex, tetapi setelah mendekati Alex, semua pengawal menghentikan langkah mereka.


Meski jumlah mereka banyak, tidak ada yang berani terus bergerak maju.


Alex memegang sebuah senapan mesin ringan di tangannya dan mengarahkannya ke arah mereka.


Semua pengawal berkeringat dingin karena takut Alex akan langsung membunuh mereka begitu melangkah maju.


Saat ini, Hasan di samping juga melihat senapan mesin ringan di tangan Alex dan tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Dia pun menunjuk ke arah Alex, "Kalau ada sesuatu yang harus dibicarakan, ayo bicarakan baik-baik! Kita adalah orang beradab, nggak perlu menggunakan senjata. Membunuh atau menyakiti orang dengan senjata merupakan kejahatan besar. Kamu akan masuk penjara atau lebih parahnya yaitu ditembak mati!"

__ADS_1


__ADS_2