
Alex mengambil kontrak, kemudian membacanya sambil mengernyitkan dahi. Setelah itu, dia pun berkata sambil tersenyum, "Ada yang salah dengan kualitas bahan bangunan. Aku nggak pernah melihat hal seperti ini di sini. Kualitas yang kita butuhkan berbeda. Carilah orang untuk memeriksanya, nanti kita akan tahu siapa dalangnya."
Erika melihat peraturan kontrak yang ditunjuk Alex dan tiba-tiba menyadari sesuatu. Tadi dia terus mencari masalah ini dan sekarang akhirnya dia paham.
Alex tersenyum dan berkata, "Sepertinya beberapa orang yang kamu bawa kali ini akan mengkhianati kita."
Tentu saja, Erika tahu mengubah kontrak jelas merupakan sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang dalam PT. Atish dan hanya tim yang menyusun kontrak yang memenuhi syarat untuk melakukan hal semacam ini.
Hanya saja yang tidak Erika mengerti adalah sudah jelas orang-orang yang dibawanya telah dia pilih sendiri dan dia percaya pada mereka semua. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Alex mengusap kepala Erika, "Bukankah nanti kamu juga tahu setelah melakukan penyelidikan? Sekarang nggak ada gunanya berpikir terlalu banyak. Masalah kali ini juga bisa membuat kita lebih waspada. Nggak menutup kemungkinan orang yang kita bawa kemari akan setia pada kita dan kemungkinan akan berkhianat."
Erika hanya bisa mengangguk tak berdaya dan mengakui apa yang dikatakan Alex benar.
Alex hendak pergi setelah menangani semuanya. Tidak lama, Davin kembali membawa 30 hingga 40 pengawal.
"Begitu cepat membawa mereka kemari?" Alex memandang Davin dengan heran.
Davin juga agak bingung. Dia berkata, "Aku juga nggak mengerti. Aku cuma memberi tahu bos PT. Zrank kalau aku membutuhkan 30 pengawal dan mereka langsung menyerahkannya padaku. Mereka bilang selama uangnya cukup, berapa pun akan diberikan padaku. Mereka juga nggak tanya untuk apa para pengawal itu."
Alex tersenyum, "Kurasa aku tahu apa yang dipikirkan Trevor dan lainnya. Nggak kusangka akhir-akhir ini hidup mereka sedang mengalami pasang surut, tapi benar juga. Sekarang pihak resmi sedang memeriksa mereka dan keluarga Bazel nggak berencana untuk membantu perusahaan mereka lagi."
Davin tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, bukankah kita telah mendapatkan keuntungan?"
Alex menganggukkan kepala, "Ini adalah kesempatan yang bagus. Mungkin rencana Trevor berdua akan jauh lebih buruk. Para anggota perusahaan mereka benar-benar turun tangan untuk melawan tim keluarga Bazel yang setara dengan melawan keluarga Bazel secara langsung. Aku penasaran bagaimana akhirnya nanti."
Davin menganggukkan kepala dan langsung mengikuti perintah Alex untuk membawa para pengawal ini ke lokasi konstruksi.
Alex terus berjalan keluar. Begitu dia mencapai pintu masuk, dia melihat seseorang bergegas dengan bercucuran keringat.
__ADS_1
Alex memandang orang asing ini dengan penasaran dan pria paruh baya berjas hitam ini langsung berkata, "Kamu Pak Alex, 'kan?"
Alex menganggukkan kepala, "Ada apa?"
Pria paruh baya itu buru-buru berkata, "Namaku Sandiago, pelayan Tuan Muda Alif. Hari ini dia telah dibawa pergi oleh suruhan dari keluarga Bazel. Sebelum dia dibawa pergi, dia memintaku kemari mencarimu."
Alex mengernyitkan dahinya, "Kapan ini terjadi?"
"Baru satu jam yang lalu."
"Aku mengerti. Kamu kembalilah dulu untuk menenangkan keluarga Vixon. Aku akan membawa Alif kembali," pungkas Alex dengan datar.
Setelah berbicara, dia langsung pergi ke rumah keluarga Bazel.
Sandiago menatap Alex dengan bingung. Kalau pergi ke kediaman Bazel, bukankah itu sama saja dengan cari mati?
Akan tetapi, dia hanya seorang kepala pelayan, jadi dia juga tahu bahwa banyak hal yang tidak boleh dia ikut campur. Lebih baik dia mengurus urusannya sendiri. Dia pun bergegas pergi kembali menuju ke rumah keluarga Vixon.
Alex pergi ke rumah keluarga Bazel sendirian. Saat ini, wajahnya dipenuhi dengan senyuman dan tidak takut orang-orang dari keluarga Bazel akan menyerangnya. Dia mendekati satpam keluarga Bazel dan berkata sambil tersenyum, "Tolong masuk dan sampaikan kalau Alex dari PT. Atish ingin bertemu dengan Harry."
Raut wajah satpam ini berubah setelah mendengar nama Alex. Dia tahu keluarga Bazel sedang bersitegang dengan PT. Atish. Bukankah saat ini Alex datang kemari hanya untuk membuat keributan?
Tentu saja, dia sebagai seorang satpam tidak berani mengacau dengan hal semacam ini, jadi dia bergegas ke posnya untuk menelepon dan langsung mendapatkan jawaban.
Dia berjalan keluar dan menatap Alex, "Kamu tunggu di sini. Kepala pelayan akan keluar dan membawamu masuk."
Alex tetap santai di sana. Bagaimanapun, pihak lain sudah tahu dia akan datang, jadi setidaknya Alif aman. Lagi pula, Alif bisa dianggap sebagai alat tawar-menawar.
Setelah sepuluh menit, akhirnya Alex bertemu dengan kepala pelayan berjanggut yang berusia 40-an. Dia mengenakan tuksedo hitam, sebuah topi dan kruk di tangannya yang sangat mirip dengan kepala pelayan di negara asing.
__ADS_1
Bisa menjadi kepala pelayan keluarga Bazel otomatis harus terlihat bermartabat.
Alex sama sekali tidak terkejut melihat ini. Kepala pelayan berkata sambil tersenyum, "Pak Alex, ya? Silakan ikut aku. Tuan Besar sudah menunggumu di lobi."
Alex mengangkat bahunya dengan acuh, "Tuan Besar kalian menungguku di lobi? Kurasa bukan dia yang menunggu di lobi, melainkan pembunuh, 'kan?"
Kepala pelayan tersenyum pahit dan berkata, "Aku nggak tahu tentang ini, tapi sebelum aku kemari, aku melihat Tuan Besar di lobi. Kalau nggak percaya, nanti kamu akan tahu sendiri."
Alex mengangkat bahunya lagi, "Kudengar Harry membawa Alif ke sini?"
Kepala pelayan menggelengkan kepalanya, "Aku nggak tahu tentang ini, aku hanya seorang pelayan yang hanya bertanggung jawab untuk menjaga pola makan dan kehidupan tuanku. Aku nggak tahu hal lainnya. Kalau ingin mengetahui sesuatu, kamu harus bertanya pada tuanku."
Tentu saja, Alex tidak akan percaya pada ucapan kepala pelayan ini begitu saja, tetapi karena kepala pelayan tidak mau mengatakannya, dia pun tidak bisa memaksanya.
Akan tetapi, setidaknya dia bisa memastikan Alif masih hidup.
Hanya saja Alex terkejut pergerakan sekelompok orang ini terasa lebih cepat. Mereka langsung membawa Alif pergi tidak lama setelah dia meninggalkan keluarga Vixon hanya karena seseorang menduga Alif memiliki hubungan kerja sama dengannya baru berani melakukan ini.
Kalau tidak, keluarga dan pengusaha lainnya akan sangat terkejut seandainya Alif dibawa pergi tanpa alasan.
Setelah mengikuti kepala pelayan ke lobi, dia melihat Harry duduk di bangku dan Steven berdiri di samping Harry. Seorang Alam Grandmaster lain yang telah dilumpuhkan olehnya sudah tidak ada di sana.
Sepertinya dia telah dipulangkan. Bagaimanapun, kedua lengan orang itu patah dan kekuatannya semakin melemah. Tidak akan ada gunanya dia tetap tinggal di sini.
Lebih baik dipulangkan.
Alex duduk di bangku, meminta orang menyajikan teh dan menatap sambil tersenyum, "Aku benar-benar minta maaf, Harry. Akhirnya kita bertemu lagi."
Harry berkata dengan acuh, "Katakan, ada masalah apa? Karena Pak Alex dari PT. Atish nggak gentar untuk datang ke rumahku, aku harus memenuhi persyaratan yang kamu berikan."
__ADS_1