
Meskipun Andika mengiyakan, tapi saat dia pergi terburu-buru dengan tas kantornya, dia justru tidak menganggap penting pesan Ayahnya.
Karena menurutnya, orang-orang yang berada di kelompok seperti itu tidak akan berani menerobos ke vilanya secara terang-terangan.
"Halo, Tuan Andika." Terdengar suara seperti ini saat Andika baru saja duduk di dalam mobil Cadillac miliknya.
"Hah?" Andika secara reflek ingin membuka pintu untuk kabur, tapi sebilah pisau dingin sudah berada di lehernya, "Jangan bergerak!"
"Si... Siapa kalian?" Walaupun takut di dalam hati, tapi Andika tetap berlagak tenang.
Alex berkata, "Ehsan beraninya mencelakai kami, jadi sejak detik itu, dia sudah ditakdirkan untuk kehilangan semuanya."
"Hah? Jadi kalian orang itu? Berani sekali kalian! Sekarang ini hukum yang berbicara!" Bagaimanapun juga Andika adalah mahasiswa terbaik yang pernah menempuh pendidikan tinggi, makanya dia berkata seperti itu.
"Brengsek, banyak bacot." Hengky langsung memukulnya hingga pingsan, kemudian menyeretnya keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam vila bersama Alex.
6 orang pengawal biasa yang berada di dalam vila sudah dipukuli hingga pingsan oleh Hengky sedari tadi dan diikat jadi satu.
"Eh?! Alex, kenapa kalian bisa kesini?" Ehsan terjatuh dari kasur saking kagetnya hingga berkeringat karena kesakitan.
Setelah dilihat baik-baik orang yang diseret Hengky, semua harapan Ehsan jadi pupus, "Dika? Kenapa kamu? Kenapa kalian menangkap putraku? Urusan di luar jangan libatkan anggota keluarga, kalian ini ngak punya aturan!"
Alex tidak menggubris teriakan Ehsan, dia sembarangan menarik sebuah kursi dan duduk, “Hm? Ehsan, orang ngak tahu malu kayak kamu masih ingat aturan? Oke, tadi kamu bilang jangan libatkan keluarga ya? Kalau gitu, manager Friska juga keluarga kami toh? Terus kamu bisa gitu mencelakai seorang wanita? Yang duluan ngak taat aturan itu kamu, jadi jangan salahkan aku ngak berbelas kasih.”
Ehsan berusaha menopang tubuhnya di lantai dan duduk bersandar pada dinding, lalu berkata, “Alex, akan kusetujui semua syaratmu. Tolong lepaskan putraku!”
“Hahaha, bukannya kamu pandai bermain trik? Ehsan, aku kasih kamu kesempatan sekarang, kalau kamu bisa kabur dari hadapanku, maka dendam di antara kita akan selesai sampai di sini!” ucap Alex penuh percaya diri.
Ehsan seketika melihat sebuah harapan, “Benar katamu?”
Alex mengangguk, “Tentu.”
__ADS_1
“Oke, ingat ucapanmu!” Ehsan mengalihkan pandangan ke Andika yang berada di tangan Hengky, “Kalau aku bisa kabur selama 1 jam tanpa ditangkap oleh kalian, maka lepaskan putraku. Setelah itu ngak ada lagi hubungan apa-apa di antara kita.”
Alex mengangguk, “Oke, bagus! Aku mau kamu kalah telak!”
“Hajar!” Tanpa berbasa-basi lagi, Ehsan langsung mengeluarkan entah barang apa dan melemparkannya ke arah HEngky!
Dia tidak berani sembarangan menyerang Alex karena takut akan gagal.
Dengan menyerang Hengky, Alex juga tidak akan punya waktu untuk memperhatikannya, dan barulah dia bisa kembali mengeluarkan asap beracun dan melarikan diri.
Ehsan masih saja sangat percaya diri untuk memakai trik lama.
Siapa sangka, Alex tiba-tiba mengulurkan tangan dari samping dan mengeluarkan sebuah tenaga tak terlihat dari tangannya, dan tenaga itu adalah racun penta! Dia menembakkannya ke arah Ehsan dan menghentikan trik Ehsan di tengah jalan.
Setelah itu, kertas yang terbang cepat tadi terjatuh ke lantai seperti kertas biasa setelah dihentikan, energi yang ada di atasnya juga menghilang sepenuhnya.
“Ba… bagaimana bisa?” Ehsan sungguh kaget, meskipun gurunya Larry saja tidak mungkin bisa menghentikan jurusnya tiba-tiba seperti Alex.
Melihat kalau orang yang ingin diserang adalah dirinya, Hengky tak tahan untuk memarahinya, “Masih berani kamu nyerang aku?! Benar-benar brengsek!”
“Yah! Ada apa ini? Kenapa mereka bisa ada di sini? Cepat lapor polisi!” Wajah Andika terasa perih, dia berkata dengan panik.
Buk! Hengky menendang perut Andika.
Andika berteriak histeris, dirinya terlempar sejauh 200 meter sebelum menggeliat di lantai karena kesakitan.
“Jangan pukul putraku!” setelah jurus pertama, Ehsan tidak lagi punya tenaga untuk mengeluarkan jurus kedua karena di satu sisi dia terluka dan mempengaruhi kekuatannya, di sisi lain, dia juga tidak dapat menggunakan jurusnya bertubi-tubi meskipun tidak dalam keadaan terluka.
Kabur sendiri? Tapi putranya masih di sini!
Alex melambaikan tangan pada Hengky, dan Hengky menghentikan pukulannya terhadap Andika.
__ADS_1
“Kalau kamu ngak mulai kabur, maka kami akan mulai membunuh putramu.” ujar Alex datar.
“Tidak! Jangan bunuh putraku! Aku bisa kasih apa saja yang kamu mau! Ambil saja nyawaku kalau mau!” Saking paniknya kedua bola mata Ehsan pun hampir copot, kalau putranya mati, maka keluarga Wardoyo akan putus keturunan.
Alex mengeluarkan setumpuk dokumen, lalu menyerahkannya kepada A;ex, “Oke, aku ngak akan bunuh Andika, tapi kamu harus mengalihkan kepemilikan perusahaan di bawah nama keluarga Wardoyo.”
“Oke, oke, oke, akan kulakukan.” Ehsan tahu dirinya yang salah duluan, Alex sudah cukup baik dengan tidak membunuh mereka.
“Tidak! Ayah! Jangan! Itu jerih payah kita seumur hidup!” Meskipun Andika telah dihajar hingga babak belur, tapi dia masih saja lebih menyayangkan harta daripada nyawa.
Hengky melompat ke depan dan menginjak kaki Ehsan yang patah!
“Akhh!” Ehsan tetap mengeluarkan suara teriakan histeris meskipun sudah berusaha menahannya.
“Jangan! Dasar bajingan! Lepaskan Ayahku! Kalian ini sedang melanggar hukum!” teriak Andika, tapi malah dihentikan oleh Ehsan, “Dika, tanda tangan saja!”
Walaupun tidak rela, tapi saat ini keduanya berada di tangan musuh, dan kedua pihak juga punya dendam, yang bisa dia lakukan hanya menghela nafas diam-diam.
Alex berkata sambil tersenyum, “Sebenarnya, aku tetap bisa mengendalikan perusahaan kalian kalau kalian ngak tanda tangan.”
“Oke! Kami akan tanda tangan!” Ehsan melanjutkan, “Hanya saja, aku ingin tahu, siapa kamu sebenarnya? Kenapa bisa begitu kejam?”
Alex berkata sambil tersenyum, “Identitasku untuk sementara rahasia. Kalau kalian bersikeras ingin tahu, aku juga bisa ngasih tahu kalian. Namun, begitu kamu tahu identitasku, maka aku harus membunuhmu. Jadi, masih mau tahu?”
Ehsan tidak habis pikir sejak kapan dirinya dan keluarga Mahari menyinggung musuh muda sehebat ini.
Pengalihan saham di tangannya beserta saham dalam bentuk lainnya diselesaikan dengan cepat.
Alex menyimpan dokumen tersebut, lalu menyimpan juga kartu bank milik Ehsan dan putranya sebelum mengangguk dan berkata, “Heng, kamu urus mereka ya.”
“Hahaha! Kalau gitu aku akan mulai memotong!” ujar Hengky tertawa puas.
__ADS_1