Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Barang Tiruan


__ADS_3

Alex langsung menyerahkan masalah ini untuk dikelola oleh Erika, karena istrinya adalah orang yang memiliki bakat bisnis sangat kuat dalam dunia bisnis.


Pada saat ini, Alex sedang duduk di atas bangku batu. Cuaca pada bulan ini sedikit sejuk.


Orang-orang biasa yang berlalu lalang di sekitar sama sekali nggak bisa melihat bahwa di sini pernah terjadi pertempuran brutal beberapa tahun yang lalu.


Roselline muncul di depan Alex saat Alex sedang mengamati sekeliling, gaun yang panjang nggak sesuai dengan kesannya dalam benak Alex.


Alex melihat Roselline dengan sedikit terkejut, “Kamu …”


“Misiku masih belum selesai. Barang yang aku inginkan masih ada di tanganmu, apa tujuanmu terus menahannya selama beberapa hari dan nggak memberikannya padaku?” Roselline menatap Alex dengan dingin.


Alex tersenyum, “Apa yang kamu katakan itu nggak benar, seolah-olah aku memiliki niat lain. Aku sedang menyelesaikan tugas yang kamu berikan padaku dengan tulus, tapi aku juga sedang sibuk dalam beberapa hari ini, jadi nggak ada waktu untuk bertemu denganmu.”


Roselline tentu saja nggak mempercayainya. Masalah PT. Atish kebanyakan diselesaikan oleh Erika, sedangkan Alex santai setiap hari tanpa pekerjaan. Setelah Erika selesai, Alex akan membawa Erika makan dan melihat pemandangan.


Akhir-akhir ini, Alex benar-benar hidup dengan santai.


Alex sekarang jelas sedang membohongi Roselline. Alex terus menunda tidak mau memberikan lukisan “Hari Esok” padanya pasti ada alasan lain.


Roselline menyipitkan mata melihat Alex dan dalam hatinya sedang memikirkan siasat licik Alex.


Alex mengeluarkan sebuah kotak dari bawah bangku batu dan meletakkannya ke samping.


“Ini adalah lukisan yang kamu inginkan, kamu boleh memeriksanya.”


Roselline mengira Alex akan menunda waktu yang sangat lama untuk menukar lukisan dalam pertemuan kali ini dan tidak menyangka Alex akan langsung menyerahkan lukisannya.


Hal ini malah membuat Roselline sedikit terkejut.

__ADS_1


Beberapa hari ini dia terus menunggu Alex menghubunginya. Dia bahkan telah mengirimnya beberapa pesan, tapi balasan yang dia dapatkan adalah “Tunggu, sedang sibuk, aku akan menghubungimu setelah nggak sibuk”.


Roselline membuka kotak itu dengan tatapan sedikit curiga, lalu dia melihat sebuah lukisan gulung yang terletak di dalamnya. Meskipun tidak membukanya, tapi aroma kuno yang menghembus kemari membuat Roselline mengerti bahwa ini adalah lukisan terkenal “Hari Esok” yang dia cari.


“Jangan melihatku dengan tatapan curiga seperti itu. Karena aku telah menyetujui misi ini, maka pasti akan menyelesaikan misi ini. Aku telah memberikan lukisan ini padamu, jika kamu nggak percaya, kamu boleh menyuruh ahli untuk memeriksanya.”


Alex sama sekali tidak khawatir untuk memeriksa lukisan ini. Lukisan “Hari Esok” yang ada di tangan Roselline itu diambil olehnya dari keluarga Japari. Jika lukisan ini palsu, itu berarti keluarga Japari nggak memiliki lukisan “Hari Esok”.


Roselline menganggukkan kepala dengan sangat yakin, “Kamu tenang saja, aku pasti akan mencari orang untuk memeriksanya. PT. Atish kamu juga telah berhasil masuk ke Sulawesi Utara, sekarang adalah situasi yang saling menguntungkan.”


Alex mengangkat bahunya, “Ini benar juga, tapi selalu dikendalikan oleh orang nggak terlalu nyaman. Karena telah bergabung ke Pasukan Khusus Red Shield, maka harus melakukan sesuatu. Kalau gak, kalian bagaimana mungkin bisa membiarkan PT. Atish membuat onar di Sulawesi Utara?”


PT. Atish bisa menetap ke Sulawesi Utara dengan begitu lancar karena atasan membiarkannya. Jika menyelesaikan masalah perusahaan, serta keluarga di Sulawesi Utara dan atasan ingin menghambat PT. Atish, PT. Atish juga tidak akan bisa mendapatkan penawaran dengan begitu mudah.


Semua juga tidak mungkin akan berjalan dengan begitu lancar saat menandatangani dokumen resmi.


Roselline berkata dengan acuh tak acuh, “Aku sudah bilang situasi saat ini saling menguntungkan. Keluarga Japari juga terus mengandalkan dirinya sebagai tiran di Sulawesi Utara untuk bertindak semena-mena, ingin berkuasa, bahkan nggak menghormati orang yang diutus oleh pemerintah. Sulawesi Utara membutuhkan kekuatan yang baru.”


Roselline tersenyum, “Karena PT. Atish ada kamu yang bisa melawan keluarga Japari. Meskipun Richard sangat hebat, juga nggak akan bisa lebih hebat dari mantan Ketua Aliran Elang.”


Alex mengangkat sepasang bahunya, “Aku sudah bukan Ketua Aliran Elang lagi. Karena telah bekerja sama Pasukan Khusus Red Shield, aku sudah nggak memiliki hubungan lagi dengan Aliran Elang sana.”


Roselline melirik Alex, dia tentu saja nggak akan percaya bahwa Alex nggak memiliki hubungan dengan Aliran Elang. Bukankah Alex mencari Andi, salah satu dari empat raja di dunia di Geng Beruang Hitam, saat bertempur dengan Monster terakhir kalinya?


Namun, selama Alex nggak melakukan hal yang merugikan negara, Roselline juga akan pura-pura nggak melihatnya.


Roselline menyerahkan sebuah dokumen ke tangan Alex. Dia datang menemui Alex kali ini, selain ingin mengambil lukisan “Hari Esok”, dia memiliki hal penting yang ingin dikatakan pada Alex.


Hal itu juga merupakan misi Alex selanjutnya.

__ADS_1


Alex tertegun. Karena dia baru selesai menyelesaikan masalah di sini dan PT. Atish juga baru menginjakkan kaki di wilayah Sulawesi Utara ini, tapi dokumen ini sepertinya ingin dia menuju ke wilayah lain.


Dia tertawa pahit sambil melihat Roselline, “Bukankah ini terlalu cepat?”


Roselline berkata dengan tersenyum, “Kamu jangan khawatir. Kamu lihat dokumen ini dulu, mengenai kapan perginya, kami akan mendiskusikannya denganmu.”


Alex merasa nggak berdaya.


Roselline telah berkata seperti ini, Alex juga nggak bisa menolaknya lagi dan hanya bisa mengambil dokumen tersebut.


Roselline membawa lukisan itu dengan tersenyum dan memberikan ruang waktu untuk Alex.


Alex duduk selama satu jam di taman sebelum pergi. Dia kembali ke kamarnya dan tersenyum.


“Bagaimana, apakah kalian sudah menemukan keanehannya?”


Andi dan lainnya sedang menganalisis lukisan di depan ini dengan sangat cermat di dalam kamar Alex.


Jika Roselline melihat lukisan ini pasti akan merasa sangat terkejut, karena lukisan ini sama dengan lukisan “Hari Esok” yang ada di tangan Roselline.


Ternyata Alex terus menunda dalam beberapa waktu karena masalah ini.


Dia menyalin lukisan ini, karena ini adalah peta harta karun kron. Tapi, Andi melihat Alex dengan ekspresi sedih.


“Bos, bukannya aku bacot, ini hanya peta yang nggak lengkap. Kamu menyuruh kami melihatnya, kami juga nggak tahu harus melihat apa.”


Mark di samping juga menggelengkan kepalanya, “Apa yang dikatakan Bos Andi tuh benar. Jika hanya sebuah lukisan peta ini, kami juga nggak bisa menemukan apa pun.”


“Sepertinya harus mengumpulkan lukisan lainnya, tapi masalah seperti ini masih membutuhkan beberapa waktu. Kalian simpan lukisan ini dulu.” Alex juga nggak mempersulit Andi dan lainnya.

__ADS_1


Namun, Andi berjalan kemari dengan tersenyum, “Bos, aku dengar kamu sedang bekerja sama dengan Roselline. Aku lihat masalah ini nggak begitu sederhana, apakah kamu juga ingin membuat Roselline menjadi kakak ipar?”


Alex berkata dengan kesal, “Apakah otakmu hanya berisi hal seperti ini? Kamu memiliki pemikiran seperti ini, kenapa nggak memajukan Geng Beruang Hitam saja dan mencari cara bagaimana memusnahkan Geng Serigala.”


__ADS_2