Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Gadis yang Terjebak


__ADS_3

Terlepas dari bahaya, keduanya berusaha untuk memindahkan sampah yang menghalangi jalur evakuasi anak-anak.


Lingkungannya sangat tidak memungkinkan, dan bahaya dapat terjadi kapan saja. Dalam situasi seperti itulah Alex dan Erika bekerja sama untuk membuka jalan dari reruntuhan yang hanya memungkinkan dilewati satu orang.


Kerja keras membuahkan hasil, lorong itu akhirnya bisa dilewati tanpa hambatan. Sekelompok anak laki-laki terjebak di sini. Alex berteriak, "Semuanya, keluar dari sini."


Beberapa dari mereka ada yang terluka, semua orang saling membantu dan mengevakuasi diri dari daerah berbahaya tepat waktu lewat lorong yang dibuka oleh Alex.


Alex bertanya kepada salah satu anak laki-laki yang menjadi ketua kelas, "Di mana teman perempuan di kelasmu?"


Ketua kelas berkata: "Mereka berada di dekat dinding. Karena runtuh di tengah, mereka benar-benar terhalang."


Alex bertanya: "Berapa orang gadis di kelasmu?"


Ketua kelas berkata: "Ada 24 orang. Aku mendengar mereka menangis di dalam tadi, paman, tolong selamatkan mereka."


Alex mengangguk, "Kamu keluar duluan. Aku pasti akan menyelamatkan mereka semua, satupun tidak kurang!"


Setelah mengeluarkan ketua kelas, Alex kembali membuka bagian yang tersisa. Pada saat ini, Pak Omar di luar berteriak: "Tuan Alex, nyonya Erika, gempanya mulai lagi, auditorium tidak akan bisa bertahan lebih lama. Ini terlalu berbahaya. Gimana kalau kalian berdua keluar dulu?"


Erika berkata: "Tidak bisa, Pak Omar. Masih ada 24 gadis yang terjebak, kita harus menyelamatkan mereka.”


Alex membuka lorong itu sedikit lagi, dia menemukan dua balok baja yang lebih tebal untuk menopang lorong itu, kemudian berteriak: "Yang ada di dalam, kemarilah."


Namun, yang terdengar dari dalam hanyalah suara tangisan, tidak ada satupun yang merangkak keluar.


Erika berkata: "Mereka mungkin ada kesulitan, aku akan memeriksanya."

__ADS_1


Alex berkata: "Erika, di dalam terlalu berbahaya, aku saja yang pergi."


Erika berkata: "Alex, mereka semua masih di bawah umur, dan mereka pasti ketakutan karena hal ini. Sedangkan kamu seorang pria, di saat panik seperti ini mereka pasti tidak akan mudah percaya pada pria. Biar aku saja. Kamu tunggu di sini." Setelah itu, dia langsung merangkak masuk.


Alex ingin menghentikannya dengan menarik pakaiannya, tetapi Erika berkata, "Alex, tidak ada waktu lagi. Lepaskan."


Alex ragu-ragu, "Erika, bawa pipa baja ini untuk menopang tempat yang berbahaya."


Erika mengiyakan, dia memegang ponsel di satu tangan untuk menerangi, dan memegang pipa baja di tangan satunya sambil merangkak maju di dalam lorong. Dia sangat cemas, dia sangat ingin menyelamatkan semua siswa ini segera. Pada saat ini, dia benar-benar lupa bahwa dia berada dalam situasi berbahaya, jika gempanya lebih kuat lagi, tumpukan reruntuhan tidak akan bisa bertahan dan akan menghancurkannya menjadi daging cincang.


Benar saja, ada situasi berbahaya di depan. Debu semen terus berjatuhan. Para siswi takut akan ambruk di tengah, jadi mereka tidak berani merangkak ke depan. Erika meletakkan pipa baja yang diberikan oleh Alex di sini untuk mencegah reruntuhan runtuh. Setelah maju beberapa meter lagi, dia akhirnya melihat wajah para siswi. Erika melambai dengan gembira, "Jangan menangis. Aku datang menyelamatkan kalian. Kemarilah dan keluar bersama Bibi."


"Kita tertolong."


"Bibi Erika, dia bibi Erika yang menyumbangkan uang untuk sekolah kita."


"Bibi Erika, kami di sini."


Semua siswi merangkak dengan patuh begitu mendengar suara Erika, Erika meminta mereka untuk merangkak melewatinya satu per satu, dan merangkak keluar menyusuri lorong yang dibuka olehnya dan Alex. Tubuh gadis-gadis ini kecil, jadi tidak sulit bagi mereka untuk merangkak, mereka segera datang ke daerah aman di mana Alex berada, dan Alex menjemput mereka keluar.


Setelah semuanya selesai dikeluarkan, Alex bertanya pada siswi terakhir karena Erika tidak kunjung keluar, "Di mana bibi Erika?"


Gadis itu berkata: "Noviani masih di dalam. Kakinya terluka dan banyak darah. Dia ketakutan dan bersembunyi di dalam sambil menangis. Bibi Erika pergi untuk menyelamatkannya."


Setelah Alex mendengar ini, dia menjadi sangat cemas. Dia menghitung para siswi ini, dan totalnya baru 23 orang. Menurut perkataan ketua kelas, harusnya ada 24 siswa perempuan di kelas mereka. Sekarang, masih sisa 1 orang. Ketika dia mengatur siswi terakhir untuk meninggalkan zona bahaya, gadis itu berbisik: "Paman, apa kita sudah selamat?"


Alex menyentuh kepalanya, "Nak, lihat cahaya di depan, kamu akan selamat setelah keluar."

__ADS_1


"Terima kasih paman!"


Pada saat ini, Pak Juno di luar berteriak: "Alex, Erika, cepat keluar, auditorium akan segera runtuh."


Segera setelah itu, ada gempa susulan lagi. Segalanya terus berjatuhan dari atas. Situasinya sangat berbahaya. Tapi, Erika masih di dalam, bagaimana mungkin Alex bisa pergi? Dia berteriak di dalam, "Erika, cepatlah. Balok yang kita topang sudah bengkok, kumohon cepatlah. Kita tak akan bisa pergi jika terlambat."


Begitu Alex selesai berteriak, bagian lain runtuh lagi. Dia tiba-tiba panik sekali, hatinya seolah-olah teriris pisau.


Setelah menonton begitu banyak film pahlawan yang tak terhitung jumlahnya. Para pahlawan itu membuat pilihan bijak tanpa takut mati pada saat kritis. Dari situasi saat ini, Erika tidak ada bedanya dengan para pahlawan itu, atau mungkin dia bisa disebut sebagai pahlawan.


Karena berisik, Erika tidak mendengar begitu jelas panggilan Alex, tetapi dia mengerti bahwa Alex sedang mendesaknya untuk segera pergi. Bahaya tak henti datang di lorong itu, dan dia juga tahu bahwa dia ini sedang bertaruh nyawa.


Namun, masih ada satu orang yang terluka dan tidak melarikan diri tepat waktu karena ketakutan, aku harus menemukannya!


Erika menggunakan senter ponsel untuk mencari sebentar di dalam reruntuhan, dan akhirnya dia menemukan seorang gadis menangis di sudut dinding.


Karena cedera kakinya dan pendarahan, ditambah tidak leluasa untuk bergerak, jadi dia tidak mengungsi dengan yang lainnya.


Erika berteriak: "Noviani? Ini bibi Erika."


Noviani perlahan berhenti menangis begitu melihat cahaya ponsel dan mendengar Erika memanggilnya. Erika berkata dengan sabar: "Nov, berhenti menangis, aku akan menyelamatkanmu. Sini, merangkak ke arahku, aku bisa membawamu keluar."


Di bawah dorongan Erika dan kesabarannya, Noviani merangkak sambil menahan rasa sakit di kakinya. Erika akhirnya meraih tangan kecilnya. Dia menarik tangan Noviani, "Nov, jangan takut, Ayo, maju lagi."


Noviani akhirnya merangkak keluar dari reruntuhan, Erika berkata: "Nov, bibi percaya kamu ini pemberani, ikuti bibi ya, kita harus segera keluar. Kamu bisa melakukannya."


Erika menggunakan ponselnya untuk memandu jalan, dan gadis itu merangkak ke depan sambil menahan rasa sakit. Semenit kemudian, Alex yang berjaga di sana akhirnya melihat sedikit cahaya bergerak ke arah ini, tetapi suara berderit juga mulai terdengar. Melihat tempat ini tidak dapat bertahan lebih lama lagi, dia berteriak cemas: "Erika, cepat. Bentar lagi runtuh."

__ADS_1


__ADS_2