Menantu Hebat Seperti Dewa

Menantu Hebat Seperti Dewa
Aku Hanya Tangan Kanannya


__ADS_3

“Cari! Cepat cari! Lihat ke mana Gala itu pergi?!” Gavin merasa takut dan sangat terkejut: Apa yang terjadi tadi? Apakah pria tua berambut dan berjanggut putih itu ilusi atau peristiwa supernatural?


Aldi juga keluar dari dalam mobil, lalu melambaikan pistol sambil berkata dengan keras, “Cari Gala itu! Semuanya cari di sekitar sini dengan teliti, kita harus menemukan tahanan Gala! Cepat!”


Kemudian dia menelpon untuk melaporkan hal ini, “Halo? Pak Marvin, tahanan di culik di pertengahan jalan! Gala menghilang! Apa? Tidak apa-apa, kami baik-baik saja! Kami baru saja membalikkan mobilnya… um, begini, ketiga mobil kami terbalik! Kemudian, kami baru saja membalikkannya, lalu menyadari bahwa Gala menghilang! Pak Marvin, gimana ini?”


Marvin memarahinya, “Bisa gimana lagi? Cari orangnya! Cepat cari! Jika tidak ketemu, maka kamu nggak usah kembali!”


Dia benar-benar marah! Ada puluhan polisi khusus, ditambah polisi kriminal dan penjaga penjara, tapi mereka tidak bisa mengantar seorang tahanan ke pusat penahanan dengan aman! Meskipun ini diculik, tapi orang yang menculik itu hanya satu orang saja, kan? Ini benar-benar keterlaluan!


Mereka tentu saja nggak akan mendapat hasil apa-apa jika mereka berdiri diam di sana.


Ketika Raja Kaki Utara menolong Gala, dia nggak sempat menanyakan kabarnya. Tapi setelah dia berjalan sejauh satu kilometer dan berhenti, barulah ia melihat kalau kaki Gala sedang diperban. Wajahnya juga bengkak, jadi ia bertanya padanya, “Gala, kenapa kamu? Apa kamu terluka? Apakah polisi memukulmu ketika mereka menginterogasimu?”


“Pak, Alex si brengsek itu yang memukul kakiku dan ini nggak pasti bisa dipulihkan atau gak?!” Gala sangat kesal, “Pak, kamu harus membalaskan dendamku!”


“Alex? Bocah ini benar-benar kejam!” Raja Kaki Utara berkata dengan kesal, “Kamu tenang saja, aku pasti akan membunuhnya! Orang ini datang ke kota Tomohon untuk mencari mati!”


“Terima kasih Pak!” Gala terengah-engah sejenak. Sementara Raja Kaki Utara memapahnya untuk berjalan ke jalan raya. Di sana ada mobil yang dikendarai Aldo untuk menjemput mereka.


Setelah menempatkan Gala ke dalam mobil, Raja Kaki Utara memegang pintu mobil sambil menghela napas, “Gala, ayo! Mulai sekarang kamu harus pergi ke tempat yang jauh dan jangan kembali!”


“Pak!” Gala memegang tangan Raja Kaki Utara, “Pak, aku nggak ingin meninggalkanmu.”


Raja Kaki Utara membentaknya, “Bodoh! Jika kamu tinggal di kota Tomohon, maka kamu cepat atau lambat akan ditangkap oleh pihak polisi! Pergilah! Jauh-jauh dari kota Tomohon dan pergi ke Rusia untuk bersembunyi selama beberapa tahun. Gala, kita pasti akan bertemu lagi.”


“Baik Pak,” kata Gala dengan sedih.

__ADS_1


Sebenarnya, dia ada firasat kalau Raja Kaki Utara sudah 70 tahunan dan dia mungkin nggak akan bisa bertemunya setelah 10 tahun kemudian!


Perpisahan ini untuk selamanya.


Bang! Pintunya tertutup.


Gala menurunkan kaca mobilnya, “Pak!”


“Pergilah!” Raja Kaki Utara melambai tangan dan berbalik.


“Kak Gala, ayo pergi!” sapa Aldo sambil menginjak pedal gas dan mobil melaju kencang.


Gala menangis, “Apa aku benar-benar harus meninggalkan kota Tomohon? Ini adalah rumahku.”


Aldo juga merasa sedih, “Kak Gala, situasi nggak mendukung dan nggak ada cara lain lagi! Selama kamu meninggalkan informasi kontakmu, maka aku akan segera menghubungimu setelah situasi di sini membaik. Gimana?”


Gala mengangguk, “Iya, terima kasih Bung Aldo.”


“Iya. Aldo, bantu aku mengucapkan terima kasih pada Tuan Richard.” Gala menoleh dengan enggan, “Kota Tomohon, aku sudah mau pergi!”


Selesai bicara, dia memejamkan mata dan tidak membuka matanya.


Dia pergi dengan tergesa-gesa. Sebenarnya dia masih punya istri dan anak di sini, bahkan ada orang tuanya di sini!


Alasan kenapa Raja Kaki Utara pergi begitu mendesak, karena dia harus melakukan satu hal. Richard mengatakan, dia akan bertemu Borez malam ini, jika Richard tidak mengandalkan kemampuannya, maka hatinya akan cemas.


Pukul dua pagi, di sebuah garasi terbengkalai. Richard membawa Aldo serta 20 anak buah yang membawa pisau dan mereka menunggu di ruang terbuka dengan momentum yang kuat.

__ADS_1


Chh! Ketika terdengar suara pengereman yang keras. Richard serta anak buah melihat ke arah pintu garasi terbengkalai secara tidak sadar.


Tak perlu dikatakan lagi, orang yang berjalan di depan itu tentu saja adalah Borez si penjual narkoba. Tubuhnya menggantung tas peluru, juga ada dua pistol di tangannya, lalu memikul senapan mikro, tampaknya seperti seorang bandit yang keluar dari mobil untuk bertarung.


Orang di belakangnya dilengkapi dengan senapan mikro dan tas peluru. Belasan orang berjalan kemari dengan sok dan mengarahkan senjata mereka ke sekitar dengan waspada.


“Apa kamu adalah Richard?” Meskipun bahasa Indonesia Borez cukup fasih, tapi penuh dengan rasa aneh seperti orang asing yang berbicara bahasa Indonesia.


“Borez? Bos Borez?” Richard tersenyum. Dia mengenakan baju tradisional Indonesia tanpa membawa senjata apa pun dan berjalan ke depan Boris dengan pelan, “Sudah merepotkan Bos Borez datang dari kejauhan.”


Borez menggelengkan kepalanya, “Aku bukan bos, aku hanya tangan kanannya.”


Borez berkata bahasa Indonesia yang blak-blakan dengan sikap bangga, “Benar! Borez adalah namaku. Nama kakakku adalah Barni, dia adalah bos kami. Dia juga seorang komandan di Myanmar.”


“Ah? Komandan Barni?!” Richard juga terkejut. Jenderal adalah jenderal militer yang memimpin 2000 orang lebih! Tidak bisa disinggung.


Borez menjelaskan dengan jelas, “Benar. Dia adalah bos, sementara aku adalah adik kandung Barni.”


Richard mengangguk, “Oh, ternyata begitu! Jika tangan kanannya yang datang ke kota Tomohon secara pribadi pasti membawa banyak barang, kan? Kali ini, kamu butuh berapa banyak uang tunai?”


“40 milyar!” Borez mengelus jenggotnya, “Uang tunai, harus uang tunai.”


“Um. Bos Borez, begini. Aku akan menyiapkan uang tunai 10 milyar. Bagaimanapun juga ini adalah uang tunai milyaran, jadi sangat susah membawanya ke sini,” kata Richard dengan jujur. Uang tunai milyaran itu seberat ratusan kilogram, jadi sulit untuk dibawa-bawa.


“Haha!” Borez tersenyum dingin, “Bos Richard, maksudmu adalah kamu nggak bisa menerima barang-barang kami yang banyak ini? Benarkah?”


Richard menggelengkan kepalanya, “Bos Borez, kamu jangan salah paham! Aku hanya nggak menyangka kalau Bos Borez membawa begitu banyak barang. Meskipun aku segera menyiapkan uang tunai 40 milyar itu sekarang, aku juga membutuhkan waktu dua hari karena nggak mudah menarik begitu banyak uang dari bank dan peraturan mereka terlalu banyak.”

__ADS_1


“Oh, kalau gitu kamu ambil barang senilai 10 miliar dulu! Bos Richard, peraturan kami adalah langsung bayar dan langsung ambil barang,” kata Borez tanpa kompromi.


“Selain itu, aku hanya menunggu Bos Richard sehari. Jika kamu tidak bisa mengumpulkan sisa 30 miliar di besok malam, maka aku akan menjual barang ini ke orang lain.” Borez melihat Richard dengan dingin, tampaknya nggak melihat hubungan persahabatan.


__ADS_2