
Erwin tidak mengerti, "Kenapa negosiasinya harus di pinggiran kota? Kalian tahu di mana posisi pabrik kalengan ini?”
Rendy berkata: "Aku sudah menanyakannya, letaknya tepat di pinggiran kota, tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kita, kurang lebih hanya 10 menit. Alex tidak ingin membahasnya di hotel, mungkinkah karena dia tidak ingin orang lain tahu kalau dia datang mencarimu lagi karena takut malu?“
Erwin berkata: "Mungkin saja. Karena dia setuju, maka aku akan menemuinya."
Putro Sutiono yang berdiri di sebelahnya berkata, "Kak, kenapa negosiasinya di tempat sepi begitu? Jangan- jangan ada jebakan?"
Erwin berpikir sejenak, "Ini Jakarta. Aku tidak percaya Alex berani menyerangku secara terang-terangan. Bahkan jika dia punya pemikiran begitu, apa aku bisa dibunuh begitu mudah? Ren, segera bersiap-siap, kita akan ke sana tepat waktu malam ini."
Pukul 19:30 malam itu, Rendy mengantar Erwin ke pabrik kalengan yang jaraknya 30 mil dari pusat kota ditemani oleh Putro, Rio, Galih, dan Viona.
Setelah mobil ke luar dari pusat kota, daerah ini sudah termasuk dalam wilayah perbatasan antara perkotaan dan desa dimana terdapat sedikit lampu jalan dan juga ada hutan lebat. Putro berkata dengan gelisah: "Kak, jangan-jangan beneran ada jebakan? Kita kembali saja, firasatku mengatakan ada yang tidak beres."
Erwin tertawa, "Hei, kamu kebanyakan mikir. Alex dan aku tidak punya dendam apapun. Aku tidak lain hanyalah perantara di antara mereka. Dia tidak akan menyerangku, ayo."
Putro mengangguk dan tidak berbicara lagi, tetapi dia terus merasa tidak tenang. Rendy mengemudikan mobil ke pabrik kaleng yang telah disepakati dan berhenti di gerbang.
Setelah mobil berhenti, kelima orang itu turun dari mobil. DI sekeliling pabrik kalengan ini sangat sunyi. Tidak ada seorangpun di gerbang, hanya ada lampu yang menyala di gedung kantor. Putro semakin curiga, "Kak, semakin kulihat semakin tidak beres, pikirkanlah lagi."
Pada saat ini, Erwin juga jadi kurang yakin, "Apa sebenarnya yang ingin dilakukan Alex? untuk apa bernegosiasi di tempat sepi begini, apa dia benar-benar ingin menyerangku?"
Tepat di saat itu, empat orang muda berjalan keluar dari gedung kantor menuju gerbang, dan bertanya, "Permisi, apakah Tuan Erwin ada?"
Erwin segera turun dari mobil, lalu melangkah maju, "Aku Erwin, di mana Tuan Alex?"
"Tuan Alex sedang menunggu Anda di gedung kantor. Silakan lewat sini."
Erwin melangkah masuk, saat Putro dan yang lainnya hendak mengikuti, mereka malah dihentikan oleh empat orang itu, "Maaf kalian tidak bisa masuk. Tuan Alex hanya ingin bertemu dengan Tuan Erwin."
Erwin berbalik dan berkata, "Kalian tunggu saja di sini."
__ADS_1
Putro berteriak: "Hati-hati, kak."
Erwin berjalan ke dalam gedung sendirian. Pabrik kaleng ini adalah pabrik terbengkalai, terlebih lagi gedung kantor yang sudah sangat berantakan. Ada sebuah ruangan terang di lantai pertama, dan Alex diperkirakan ada di ruangan tersebut, oleh karena itu Erwin berjalan menuju ke sana.
Saat membuka pintu yang tidak ditutup rapat, dia melihat Alex berdiri membelakangi pintu dengan kedua tangan di belakang. Erwin masuk sambil berkata, "Apa kabar Tuan Alex, aku sudah datang."
Alex tidak berbicara, maupun berbalik. Erwin berkata dalam hati, "Anak ini benar-benar kurang ajar. Sudahlah, lebih baik aku bersabar agar tidak ada konflik besar antara kedua kami nantinya."
Erwin berjalan beberapa langkah ke depan lagi ke hadapan Alex, dia mengulurkan tangannya dan berencana untuk berjabat tangan dengan Alex, "Tuan Alex, aku sudah sampai."
Begitu Erwin mengulurkan tangannya, dia tiba-tiba mendengar suara aneh yang menyerupai suara detak jarum jam.
“Hm? Ada apa ini?” Dia menoleh ke depan Alex, dan langsung tertegun.
Mana ada Alex di depannya? Yang berdiri di depannya tak lain hanyalah sebuah patung manekin yang memakai pakaian, ditambah dengan bom waktu yang sedang menghitung mundur.
“Gawat!” Erwin berusaha keras ke luar untuk bersembunyi begitu menyadari ada yang tidak beres.
Bom meledak diikuti suara ledakan yang nyaring.
Ledakan bom menghancurkan jendela, dan juga membuat Erwin terlempar keluar jendela.
“Gawat, kakak dalam bahaya.” Putro ingin segera masuk begitu menyadari situasi.
Namun, 4 pria berbaju hitam terlebih dahulu turun tangan, dan salah satu dari mereka memanfaatkan ketidaksiapan Putro dan menusuk pinggangnya dari belakang dengan pisau tajam.
Putro menjerit kesakitan saat terjatuh ke tanah.
Rendy dan yang lainnya berjuang keras untuk melawan, melihat bahwa mereka tidak bisa menyelesaikannya dengan cepat, para pria berbaju hitam itu saling mengedipkan mata dan segera pergi meninggalkan pabrik dan dengan cepat menghilang di dalam hutan.
“Tuan Erwin terluka.” Rendy mengangkat Erwin yang berlumuran darah. Sebelah kaki Erwin sudah hilang akibat ledakan, karena lukanya yang parah, dia sudah dalam keadaam koma sekarang. "
__ADS_1
“Paman Putro juga terluka,” teriak Rio.
"Panggil ambulans," kata Rendy pada Galih.
“Sudah.” jawab Galih.
"Cepat beritahu Tuan Rangga!"
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil sport hitam melaju dengan kecepatan penuh kemari, setelah berhenti, seorang wanita langsing berbaju hitam berlari keluar dari mobil, wanita itu adalah Mega.
Mega tampak cemas dan berlari dengan cepat, "Apa yang terjadi?"
Rendy berteriak: "Pamanku diserang Alex."
Mega bertanya saat memeriksa luka Erwin, "Apa yang terjadi? Ada apa sebenarnya?"
Rendy berkata: "Alex meminta pamanku datang ke sini untuk bernegosiasi. Tapi siapa sangka dia rupanya ingin membunuh orang dengan bom. Benar-benar biadab."
Di saat seperti ini, Rio berteriak: "Paman Putro sudah kritis."
Mega buru-buru berbalik, dan yang dia lihat adalah Putro yang sedang terus menerus batuk darah. Darah yang dia muntahkan semuanya adalah darah hitam. Dia menghabiskan sedikit tenaga terakhirnya untuk berkata pada Mega sambil menunjuk, "Mega, pisau itu beracun. Kami tertipu! Alex si bajingan ini, kamu harus... membalaskan dendam kami!" Setelah berbicara, dia mati karena kehabisan napas.
Mega bertanya dengan panik: "Mengapa ambulans belum datang?"
Setelah beberapa menit, ambulans akhirnya tiba, dan semua orang buru-buru membawa Erwin dan Putro ke dalam ambulans. Mega juga pergi ke rumah sakit dengan ambulans. Erwin terluka parah, jadi tentu saja Gery harus diberitahu tentang kejadian ini. Alasan Gery tidak datang ke Jakarta dengan ayahnya kali ini adalah karena dia sedang dalam perjalanan bisnis.
Begitu menerima telepon dari tunangannya, Gery yang baru saja kembali dari perjalanan bisnis, bergegas menuju ke Jakarta.
Dua jam kemudian, Gery tiba di Rumah Sakit Umum Jakarta. Setelah melalui pertolongan dari tim medis, dokter mengumumkan bahwa Erwin meninggal.
Tubuh Gery menjadi lemas, jika bukan karena Mega memeluknya, dia pasti sudah jatuh terduduk di tanah. Gery menggertakkan giginya dan berkata, "Alex, aku bersumpah akan membunuhmu!"
__ADS_1