
Selama perjamuan berlangsung, Kennedy bersikap rendah hati, bahkan raja tikus juga tidak pernah melihat Kennedy begitu rendah hati pada seseorang.
Dengan demikian, raja tikus juga semakin rendah hati, selama perjamuan makan ini, mereka berdua melayani Alex dengan baik seperti pelayan.
Setelah Alex pergi, jantung Kennedy dan raja tikus masih berdetak sangat cepat dan belum tersadar dari lamunan.
Mereka melihat dengan jelas bahwa Alex melihat Kennedy membunuh orang dengan cara brutal tadi, tapi Alex masih bisa makan dengan nyaman, ekspresinya juga seperti biasa, bahkan bisa bercanda dan sangat tenang.
Temperamen ini pasti dilatih dari tumpukan orang mati!
Mengapa Alex yang begitu muda bisa memiliki pengalaman seperti itu? Kennedy benar-benar tidak habis pikir.
Dia bahkan memiliki pemikiran yang tidak realistis: Alex begitu hebat, betapa bagusnya jika dia adalah keturunan keluarga Mahari!
“Tuan Alex, apa Anda ngak takut Kennedy menaruh racun di dalam makanan?” Tanya Keano tak mengerti.
Alex tersenyum, “Kennedy bukanlah orang bodoh, jadi dia ngak akan berani menaruh racun. Kalau ngak, keluarga Mahari akan binasa lebih cepat.”
“Oh.” Keano akhirnya paham, “Tapi, Tuan Alex, jika kamu keracunan, maka siapa yang menghancurkan keluarga Mahari?”
Alex menunjuk ke atas, “Kekuatan suatu negara ngak bisa dilawan.”
Ketika mobil Keano hampir smapai di PT. Atish, Alex tiba-tiba tertawa, “Kapten Yudi sungguh perhatian padaku.”
“Apa Yudi mengutus orang untuk mengawasimu lagi?” Keano berkata dengan marah, “Di mana mereka? Aku akan menghajar mereka!”
“Ngak perlu, pengawasan mereka justru merupakan salah satu pelindung kita,” ucap Alex dengan santai.
Keano memandang Alex dengan kagum, “Astaga, ngak heran kakakku sangat suka padamu. Ini semua seolah-olah dalam ekspektasimu! Apa ini namanya? Oh iya, paranormal yang terlahir kembali.”
__ADS_1
Setelah menghentikan mobil, Keano mengikuti Alex masuk ke dalam lobi perusahaan, lalu melihat Jasmin menyambut mereka dengan senang.
“Kak, kamu…” Keano ingin mengatakan sesuatu.
Tapi, Jasmin tidak melihatnya, dan hanya melihat Alex, “Tuan Alex, ada hal yang ingin kutanyakan padamu, apa kamu punya waktu?”
“Em, tentu saja ada. Oh ya, apa Erika sudah pulang kerja?” Alex tersenyum.
“Erika masih di lokasi konstruksi, mungkin malam ini akan menginap di sana.” Jasmin menghela napas, “Erika terlalu rajin dan gigih.”
Keano tahu dirinya tidak cocok terus berada di sini untuk menjadi obat nyamuk, jadi dia pergi dengan diam-diam.
Jasmin berjalan di depan sambil mengiring Alex ke kamarnya.
“Tuan Alex, silakan masuk.” Wajah Jasmin sangat merah dan terlihat menawan.
Kaki kanan Alex yang sudah melangkah masuk ditarik kembali, lalu berkata dengan canggung, “Em, meskipun kamu adalah bos, tapi ini adalah kamar wanita, dan juga sangat bersih, rapi dan wangi. Sedangkan kakiku penuh dengan tanah, aku ngak berani masuk.”
Jadi, dia menarik Alex masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup pintu kamarnya.
Alex lekas menarik tangannya dari genggaman Jasmin, lalu duduk di bangku di depan meja teh kecil di dalam kamar. Mata cantik Jasmin berkedip, lalu dia berjalan ke depan meja dan menuangkan segelas teh untuk Alex, “Aku baru saja membuat teh ini, suhunya juga pas, ayo minumlah.”
Selesai berbicara, dia pun ingin mengambilkan cangkir tersebut untuk Alex, sedangkan Alex juga mengulurkan tangan untuk mengambil cangkir tersebut. Kemudian, Jasmin mengulurkan tangan untuk memegang tangan Alex dan mengambil cangkir teh bersama-sama.
Jantung Jasmin berdetak kencang, dia sangat gugup!
Tapi, dia tidak melepaskan tangan Alex, melainkan menatap wajah Alex sambil melamun.
Alex tentu saja tahu apa yang dipikirkannya, oleh karena itu dia segera menarik tangan dan berkata dengan santai, “Jasmin, ada apa?”
__ADS_1
Jasmin menarik kembali tangannya, lalu menundukkan kepala seolah-olah sedang memilah pemikirannya sebelum berkata dengan pelan, “Tuan Alex, terima kasih telah membantu keluarga Malik balas dendam dan membunuh kedua putra Kennedy!”
Selesai berbicara, dia membungkukkan badan kepada Alex, “Situasi kota Medan sudah pelan-pelan stabil, semua wilayah keluarga Mahari yang kamu minta aku ambil alih saat ini sedang ditata ulang menjadi bagian dari PT. Atish. Apalagi selanjutnya? Apa kamu akan meninggalkan Erika di kota Medan? Apa kamu akan meninggalkan kota Medan?”
Mata cantiknya berkaca-kaca, “Apa kamu tidak khawatir jika meninggalkan kami di kota Medan?”
“Bukan, Erika ngak akan menetap di kota Medan, sedangkan kota Medan adalah kampung halamanmu, kan? Kamu sebagai bos Aliran Rajawali kelak akan menjadi pemimpin di kota Medan, juga menjadi pahlawan, apakah itu ngak oke?” Selesai Alex meminum habis teh itu, dia pun meletakkan cangkirnya.
Jasmin segera menuangkan teh lagi untuknya, “Iya! Tuan Alex, yang kamu katakan memang terdengar indah, tapi itu bagi orang biasa. Namun, pernah ngak kamu berpikir, meskipun aku sangat hebat, tapi aku juga seorang wanita! Aku juga memiliki ketergantungan yang kuat, sejak kamu muncul di dalam hidupku, kamu menjadi ketergantunganku dan kamu juga tidak mengecewakanku.”
Dia melangkah maju selangkah sambil memegang cangkir teh dengan kedua tangannya, lalu memberikannya kepada Alex dengan sikap hormat, “Tuan Alex, silakan minum.”
“Em…ngak usah begitu sopan.” Alex buru-buru menerima cangkir teh tersebut, jemari mereka saling menyentuh sehingga membuat Jasmin merasa seperti tersengat listrik dan seluruh tubuhnya kaku.
Alex buru-buru meminum teh untuk menutupi rasa canggung di antara mereka kedua.
Jasmin tiba-tiba berkata, “Aku tahu kamu akan pergi, tapi aku ngak ingin membiarkanmu pergi! Tuan Alex, bisakah kamu membiarkanku memelukmu?”
“Em, ini…” Alex ragu sejenak, sedangkan Jasmin sudah melangkah ke depan dengan berani, dan langsung memeluk pinggang Alex. Tubuhnya yang lembut dan harum memeluk Alex dengan erat, seolah-olah takut Alex kabur.
Alex tahu Jasmin suka pada dirinya, tapi dia sudah memiliki Erika, dan juga punya hubungan dengan Nova secara pribadi sehingga dia merasa bersalah pada Erika. Oleh karena itu, dia membuka sepasang tangannya ketika dipeluk erat oleh Jasmin dan tidak memeluk Jasmin.
“Apa kamu begitu membenciku sampai ngak mau memelukku?” Jasmin menangis sedih dan tampaknya sangat kasihan.
“Em.” Alex tentu saja tidak membenci Jasmin. Alex pun tidak tega melukai hatinya ketika menghadapi Jasmin yang antusias dan permintaannya yang inisiatif, jadi dia memeluknya pelan sebagai simbolis.
“Bisakah kamu menciumku? Berikan aku kenangan terbaik.” Jasmin menangis, lalu memejamkan mata dengan kuat, dan berjinjit untuk menciumnya.
Rasa tak rela itu tidak bisa diungkapkan.
__ADS_1
Alex mencoba menahan dirinya, tapi tenggorokannya terasa kering, dan tidak tahan ingin menciumnya…