
Andi tidak memiliki pilihan lain. Dia juga ingin menghabisi Geng Serigala, tapi Geng Beruang Hitam sama saja seperti sekelompok orang tanpa pemimpin tanpa kehadiran Alex. Percuma saja bekerja sama karena Geng Beruang Hitam bisa menjadi sehebat ini berkat kepemimpinan Alex yang cekatan.
Saat ini, tidak ada sosok Alex di Geng Beruang Hitam dan tidak ada satupun dari 4 Raja Dunia yang yakin bisa melakukannya. Kalau sampai bertarung di markas musuh, Geng Serigala akan merampas seluruh sumber daya yang mereka miliki selagi bertarung.
Geng Beruang Hitam yang sekarang terbagi menjadi empat kubu kekuatan. Meskipun keempat kubu ini tidaklah lemah, tetap saja tidak mungkin sanggup melawan Geng Serigala.
Oleh sebab itu, Andi datang ke sini sambil berharap agar Alex bersedia kembali ke Geng Beruang Hitam dan menekan Geng Serigala.
“Bos, bukankah kamu tahu seperti apa kondisi Geng Beruang Hitam sekarang? Kalau kamu tidak kembali, geng kita pasti akan luluh lantak!”
Alex mengerutkan keningnya, tapi dia tetap menolak permohonan Andi, “Tidak. Aku sudah bilang pada kalian bahwa aku tidak akan kembali lagi saat memutuskan untuk keluar dari Geng Beruang Hitam. Pilih saja salah seorang yang paling kamu percaya untuk menjadi bos geng yang baru.”
Andi segera berkata dengan nada yang tegas, “Semuanya hanya mau tunduk padamu. Kalau sampai orang lain menjadi Bos Geng Beruang Hitam, itu sama saja dengan mereka mencari mati. Bagaimanapun juga, kamu adalah satu-satunya orang yang berhasil mengalahkan 4 Raja Dunia.”
Alex mengibas-ngibaskan tangannya, “Sudahlah. Kalian keluarkan saja dulu peta tidak lengkap yang tersembunyi dalam lukisan terkenal ini. Aku akan memikirkan cara untuk mendapatkan peta yang lain.”
Meskipun Alex bekerja sama dengan Red Shield dan bersedia untuk menjalankan misi serta tugas dari Red Shield demi keluarganya, bukan berarti dia tidak akan bersikap sedikit egois.
Siapa yang bisa memastikan Red Shield tidak akan melakukan apa-apa terhadapnya begitu dia sudah menyelesaikan semua tugasnya?
Manusia itu harus selalu mempersiapkan jalan keluar untuk diri sendiri.
Peta ini adalah salah satu jalan alternatif untuknya.
Setelah berpikir sejenak, Alex pun membongkar dokumen yang Roselline berikan kepadanya. Dia membaca kata pengantar yang tertera di atasnya dan kembali tenggelam dalam pikirannya.
“Kota Kendari, ya? Itu adalah kota tempat Keluarga Bazel berkuasa, bukan? Seingatku, mereka adalah yang paling terkenal di Provinsi Sulawesi Tenggara. Kota Kendari adalah kota yang paling maju di sana dan Keluarga Bazel menguasai sebagian besar sumber dayanya. Bahkan, bisa dibilang mereka menguasai hampir seluruh sumber daya di penjuru provinsi.”
“Keluarga Bazel ini bahkan lebih hebat daripada Keluarga Japari dan merupakan salah satu dari keluarga teratas di Indonesia.”
Alex tidak menyangka bahwa lawan berikutnya yang Roselline minta untuk diatasinya adalah Keluarga Bazel dari Kota Kendari.
“Keluarga Bazel dari Kota Kendari, ya? Apa ini lokasi untuk peta berikutnya?” tanya Andi sambil membungkuk dan membaca isi dokumen itu dengan penasaran.
__ADS_1
“Oh, aku pernah melihat lukisan ini sebelumnya. Ini adalah ‘Mata Air’ karya Harun Gunawan.”
Rasa penasaran Alex pun muncul setelah mendengar ucapan Andi. Dia tidak ingat bahwa Andi pernah berurusan dengan Keluarga Bazel.
Bagaimanapun juga, bisnis yang Geng Beruang Hitam jalankan waktu itu tidak banyak yang berlokasi di Indonesia. Oleh sebab itu, sedikit sekali anggota geng yang pernah datang ke Indonesia, kecuali untuk berlibur.
Andi sendiri lebih jarang lagi datang ke negara ini. Dia lebih memilih berlibur di Malaysia atau Singapura karena negara-negara seperti itulah yang cocok untuk berjalan-jalan dan bersenang-senang dengan para gadis.
Andi mengangguk dengan sangat yakin, “Tentu saja. Tujuanku datang ke Indonesia waktu itu adalah demi mengunjungi Keluarga Bazel di Provinsi Sulawesi Tenggara karena seorang gadis yang kukenal ditindas oleh salah satu dari mereka. Nama bajingan itu adalah Farrel Bazel. Aku memberi bocah itu pelajaran dengan mengebirinya.”
Sorot tawa nampak di mata Andi.
Alex tidak tertarik dengan permasalahan cinta dan benci Andi, dia hanya ingin tahu seperti apa rupa lukisan “Mata Air” ini.
Kalau dia tahu seperti apa rupanya, maka akan lebih mudah baginya untuk menemukannya.
“Bicara saja langsung ke intinya. Bentuk ‘Mata Air’ itu seperti apa?” tanya Alex sambil menatap Andi dengan kesal.
Andi berpikir sejenak sebelum menjawab, “Seingatku, lukisan itu dipenuhi dengan cat merah yang sangat terang atau semacamnya.”
Andi menepuk dadanya, “Jangan khawatir, aku ingat betul rumah Keluarga Bazel. Aku pasti bisa menemukan lokasi lukisan itu begitu masuk ke dalamnya.”
“Baiklah, bagus sekali. Kalau begitu, kuserahkan tugas ini padamu,” sahut Alex sambil tersenyum.
Akan tetapi, Alex tahu dia tidak boleh terburu-buru pergi ke Kota Kendari. Dia harus menyusun rencana yang matang dan dia juga masih harus menunggu agar kondisi PT. Atish bisa sepenuhnya stabil di Provinsi Sulawesi Barat.
Meskipun dia tahu para pengusaha di Provinsi Sulawesi Barat itu akan membuka jalan bagi PT. Atish, tetap saja ada beberapa rintangan yang harus dihadapi.
Para pengusaha itu memiliki koneksi dan sumber daya yang lebih kuat daripada PT. Atish karena mengandalkan keberadaan mereka di Provinsi Sulawesi Barat untuk waktu yang sangat lama, jadi mereka berencana untuk merampas PT. Atish.
Mereka memang sama sekali tidak memikirkan perasaan Alex.
Kring! Kring! Kring!
__ADS_1
Ponsel Alex tiba-tiba berdering saat dia sedang sibuk berpikir. Ternyata yang meneleponnya adalah Erika.
Alex pun mengangkat panggilan itu.
“Ada apa, Sayang?”
“Aku dalam perjalanan pulang sekarang, tapi mobilku dihentikan dan ada banyak sekali orang yang berkumpul di luar!” jawab Erika dengan ketakutan.
Alex mengernyit dan ekspresinya terlihat marah, “Apa-apaan ini? Ternyata masih ada juga yang berani melakukan sesuatu terhadapmu di Provinsi Sulawesi Barat ini?! Kamu ada di mana sekarang? Aku akan segera menemuimu! Aku akan menyuruh Martin untuk membawa orang-orangnya dan melindungimu! Jangan sampai kamu terluka!”
Erika memberitahukan posisinya kepada Alex, lalu Alex segera menyimpan ponselnya dan berlari ke luar.
Saat ini, mengendarai mobil tidaklah secepat kalau Alex menggunakan seluruh kekuatannya untuk mengambil jalan pintas. Gerakan Alex bagaikan bayangan yang secepat kilat melintasi jalanan dan gang-gang kecil, sampai-sampai orang yang melihatnya merasa pandangan mereka saja yang kabur.
Andi dan yang lainnya sudah mempersenjatai diri masing-masing dan bergegas menuju posisi Alex. Walaupun mereka tidak secepat Alex, bantuan yang bisa mereka berikan pasti tidak akan sia-sia.
Mereka bisa tiba di lokasi pertempuran tepat waktu selama Alex memerlukan mereka.
Alex terlihat sangat marah. Saat ini, semua sumber daya Keluarga Japari di Provinsi Sulawesi Barat sudah menjadi milik PT. Atish. Bisa dibilang, reputasi dan martabat Erika tidak dapat ditandingi oleh siapa pun di provinsi ini.
Posisinya setara dengan Richard pada masa kejayaan Keluarga Japari.
Jadi, mana mungkin ada orang yang berani melakukan sesuatu terhadap Erika di jalan raya?
Kejadian ini sama sekali tidak masuk akal.
Erika bersembunyi di dalam mobil yang merupakan mobil anti peluru tingkat tinggi. Mobil ini seharga 10 juta USD dan mampu menahan segala jenis peluru serta bom C4.
Bahkan peluru dari senapan otomatis saja hanya akan membuat bodi mobil ini sedikit penyok.
Erika masih terhitung aman berada di dalam mobil meski dia sedikit ketakutan melihat semua orang yang mengepungnya.
Sementara itu, Martin duduk di kursi pengemudi dengan ekspresi muram. Dia menggenggam senapan otomatisnya erat-erat, tapi tidak berani membuka jendela mobil karena itu berarti dia akan memberikan kesempatan bagi orang-orang yang mengepung mobil untuk menjatuhkan bom ke dalam mobil.
__ADS_1
Dia tidak yakin apakah mereka semua itu menggenggam bom atau tidak.