
“Akhhh!” teriak histeris Ehsan, dia terjatuh ke tanah, rasa sakit membuat sekujur tubuhnya dibasahi oleh keringat, dia berusaha menghirup udara, “Heng, bicarakan baik-baik.”
Amarah Hengky sudah berkobar-kobar sejak tadi, dia langsung menginjak tulang kaki Ehsan yang patah tadinya dengan wajah suram.
Ehsan menjerit kesakitan, “Akhhh… tidak! Jangan! Kalian mau apa? Akan kulakukan!”
Alex mengeluarkan sebilah pisau, sedangkan Hengky menyeret Elis keluar dari rumah dan menyuruhnya berlutut di sebelah untuk menyaksikan bagaimana Gurunya disiksa dengan mata kepala sendiri.
Mata Elis sudah dibanjiri air mata, tapi karena mulutnya disumbat dengan kain, dia hanya bisa menunduk tanpa bersuara.
Alex menggambar di wajah Ehsan dengan pisau di tangannya sambil berkata, “Ehsan, aku hanya akan bertanya 1 hal, kalau ngak bisa jawab, pisau ini akan langsung menancap di lehermu, aku tidak pernah bergurau.”
Sekujur tubuh Ehsan gemetaran karena kesakitan, dia buru-buru mengangguk, “Ya, ya, aku tahu.”
Alex bertanya dengan ekspresi rumit, “Cepat beritahu aku, gimana caranya menyelamatkan Friska?”
“A… aku benar-benar tidak punya cara menyelamatkannya! Racun penta di tanganku ini diberikan Guruku, Larry. Aku ngak bisa membuatnya, jadi tentu saja ngak bisa menawarnya.” ucap Ehsan dengan mata berbinar.
Plak! Amarah Alex sudah sampai di puncak, dia menampar wajah Ehsan sekuat tenaga sehingga meninggalkan bekas 4 jari merah.
Dia berkata dengan kejam, “Cepat katakan! Siapa yang bisa menawar racun sialan ini?!”
Ehsan melirik Elis sebentar, lalu berkata dengan pasrah, “Itu ngak sulit. Orang itu tentu saja Guruku, Larry. Dan hanya dia yang bisa mendapatkan posisi Ketua Aliran Elang. Aku ngak lain hanya murid biasa.”
“Di mana Larry tinggal?” tanya Alex lagi.
Ehsan menjawab, “Guru ngak punya tempat tinggal tetap, kadang dia akan melakukan perjalanan, aku sendiri juga ngak tahu…”
Selesai mengatakannya, mata Ehsan jadi terang, dia tiba-tiba mengangkat tangan dan melemparkan sesuatu ke arah Hengky!
Alex terkejut, karena dia melihat dengan jelas ada secerca cahaya keemasan yang melintas di tangan Ehsan! Cahaya itu ditembakkan langsung ke arah Hengky!
“Heng, awas!” teriak Alex, dia lalu melangkah maju untuk mencoba melindungi Hengky, kemudian mendorong kedua telapak tangannya ke depan dengan sekuat tenaga dan memukul punggung Ehsan tepat di bagian jantung, jurus ini akan merenggut nyawanya!
Jika pukulan telapak tangan Alex karena amarah ini benar-benar terjadi, maka jantung Ehsan pasti akan hancur berkeping-keping!
Namun, mereka berdua tidak menyangka keajaiban akan terjadi!
Tiba-tiba muncul kabut hitam dari sisi Ehsan dan menyebar ke sekitar tempat itu! Alex bergegas menghentikan gerakannya dan kembali melindungi Hengky.
“Eh? Kemana orang itu?” gumam Hengky sebelum merasa pandangannya jadi gelap, lalu akhirnya terjatuh ke tanah dan pingsan!
“Hengky! Kenapa kamu?” Alex segera beranjak ke sana dan memeriksa kondisi Hengky, “Senjata apa yang ditembakkan Ehsan barusan?”
Dia memeriksa kondisi Hengky untuk waktu yang lama, tapi tidak satupun luka yang ditemukannya!
Syut! Alex mengambil kain yang disumbat ke mulut Elis, “Katakan! Kemana si bajingan itu pergi? Gimana dia bisa kabur?”
Elis terbatuk-batuk dan memuntahkan dahak, “Yang Guruku pakai namanya Ilmu Penyelamat Diri, aku juga ngak tahu dia kabur kemana, tapi harusnya ngak jauh dari sini.”
“Ngak jauh itu seberapa jauh?” Alex terus bertanya, dia sangat panik melihat kondisi Hengky yang diam begini, kepanikannya sulit digambarkan.
“Uhm, itu tergantung kemampuan Guru sendiri.” Elis menjelaskannya dengan sangat jelas, dia adalah gadis yang baik hati, hanya saja dia ditipu oleh Ehsan dengan cara lain, tapi kebaikan hatinya tidak akan bisa diubah.
Mengenai Gurunya yang mencelakai orang, Elis merasa sangat jijik di dalam hati.
“Kakinya sudah patah, bisa lari sejauh apa dia?” Alex tidak lagi menggubrisnya, melainkan berlari ke dalam hutan di sekitar seperti orang gila!
Elis sangat terkejut melihat sosok Alex saat ini: Orang ini hebat sekali! Pantas saja aku ngak bisa ngapa-ngapain pas ditangkapnya! Sungguh ajaib.
Alex sudah berlarian selama lebih dari 1 jam dengan kecepatan tercepat dalam 3 hingga 4 km terdekat, tapi hasilnya nihil.
Jelas sekali kalau Ehsan pasti sangat-sangat paham dengan letak geografis di sekitar sini, meskipun kakinya patah, tapi jika dia sembarangan mencari tempat untuk bersembunyi, memang sulit bagi Alex untuk menemukannya.
Alex benar-benar murung, dia membawa Hengky untuk menangkap Ehsan awalnya, tapi sekarang malah Hengky yang jadi korban.
__ADS_1
Sesampainya mereka ke Rumah Sakit Umum, Alex pun membaringkan Hengky di dalam sebuah kamar, lalu segera memanggil Rega dan memintanya untuk pergi ke perusahaan Ehsan terlebih dulu dan pikirkan cara untuk menahan putra Ehsan, sedangkan Alex pergi mencari Larry.
Alex terlebih dulu pergi ke sebuah rumah milik Larry di daerah pusat kota Medan, tak disangka bukan Larry yang ditemukannya, melainkan hanya pekerja bersih-bersih yang bertanggung jawab di sini, dan mereka tidak tahu apapun saat ditanya.
Alex tidak punya pilihan selain terus mencari keberadaan Larry.
Astrid Kuncoro sedang menikmati hidangan lezat sendirian di sebuah villa di pinggiran kota, dia merasa sangat puas melihat para pelayan sibuk melayani dirinya.
Sedangkan perasaan seperti ini, diberikan oleh Pamannya, Larry. Karena villa ini adalah propertinya Larry, tapi biasanya Astrid akan tinggal di sini.
Astrid berasa di sini dengan notabene belajar dengan Pamannya, asalkan Larry berada di sini, maka dia akan terus tinggal berduaan dengannya. Mengenai apa yang keduanya lakukan di belakang, mau pengawal ataupun pelayan di sini tidak berani mengatakannya walaupun punya tebakan.
Semua orang sangat tidak menyukai perilaku Astrid yang seperti ini, tapi tidak ada yang berani melawan.
Meskipun Larry selalu terlihat seperti orang yang berwawasan luas, tapi para pengawal dan pelayan di sini tahu jelas seberapa kejamnya Larry.
Sebelumnya ada seorang pelayan yang dimutilasi menjadi puluhan bagian oleh Larry dan diberi makan anjing karena tidak mau menuruti perintah Astrid. Orang-orang ini hanya berani menahan amarah, tapi tidak berani bersuara. Dengan kekuasaan keluarga Mahari, apa artinya membunuh seseorang?
Namun, Larry tetaplah seorang Guru, meskipun kebutuhan antara pria dan wanitanya tidaklah kuat, akan tetapi Astrid selalu merasa tidak puas. Namun, karena tahu seberapa kejam Pamannya, dia juga tidak berani mencari pria lain untuk memuaskan nafsunya di belakang Paman, jadi dia hanya bisa menahan keinginannya itu setiap malam saat orang-orang sudah tertidur.
Setelah mandi, dia kembali ke kamar tanpa berbalut handuk, “Eh? Si… siapa kamu? Masuk dari mana?”
Astrid melihat seorang pria berpakaian hitam sedang duduk di tepi kasurnya sambil memegang pistol di bawah cahaya remang-remang kamarnya.
Dia secara reflek menutupi bagian berharga tubuhnya, lalu mengumpat dalam hati: Kemana belasan pengawal di luar? Emangnya mereka buta?
Alex menarik selimut yang ada di atas kasur dan melempar ke arahnya, “Aku Alex, aku datang mencari Larry. Cari cara untuk menghubunginya, kalau ngak…” tatapan Alex penuh dengan agresivitas
“Mana pengawal di luar?” ujar Astrid sembari memakai selimut, dia seolah-olah mendapatkan sedikit rasa aman, tapi dia tidak tahu siapa Alex, hanya saja Astrid merasa kalau dia akan sungguh-sungguh menembak dengan pistol di tangannya, jadi dia tidak berani berteriak.
Alex menatapnya dengan tajam, “Jangan banyak bicara! Cepat telpon Larry!”
Sebuah ide muncul di benak Astrid saat melihat moncong pistol yang sudah diarahkan padanya, dia tiba-tiba melepaskan selimut dan berkata, “Kak, Pamanku sangat hebat, kamu harus hati-hati kalau menghadapinya.”
Alex seketika menurunkan pistolnya, lalu maju dan menampar Astrid, “Cepat telpon! Aku ngak tertarik padamu!”
“Hah?” Astrid awalnya ingin menggunakan kecantikannya untuk menenangkan Alex sementara waktu, dia juga ingin memanfaatkan kesempatan untuk memuaskan nafsunya. Akan bagus kalau Pamannya bisa pulang tepat waktu dan menangkap si idiot yang berani melawan keluarga Mahari ini. Tapi, siapa sangka Alex tidak masuk jebakannya!
Oleh karena itu, setelah terjatuh ke lantai, dia segera kembali mengambil selimut dan memakainya, kemudian menyentuh pipinya yang sakit dan berkata terisak-isak, “Ponselku… ada di… lemari dekat kasur.”
Alex melemparkan ponsel padanya, lalu berkata, “Cepat telpon dia, katakan Alex sedang menunggunya.”
“Oke.” Karena tahu Alex bukan orang yang lemah lembut, maka Astrid pun hanya bisa melupakan triknya itu dan menelpon Larry, “Halo, Paman, lagi di mana? Ada yang menerobos masuk ke villa kita nih, dia maksa aku buat nelpon, dia bilang namanya Alex, buruan pulang ya.”
Baru saja dia menyelesaikan kata-katanya, pihak di seberang telpon sudah memutuskan panggilan tersebut, dia jadi punya firasat buruk: Lho, Paman kenapa? Ngak mau ngurusin aku lagi?
Dalam sekejap, berbagai macam pikiran muncul di dalam hatinya: Sialan, sia-sia aku korbankan tubuh mudaku, kamu bahkan ngak kasihan padaku?
“Cepat pakai bajumu!” perintah Alex dengan nada dingin.
“Iya.” Dia berjalan ke samping kasur, melihat Alex sedang memandanginya, dia tiba-tiba memutar badannya, “Gimana aku ganti bajunya kalau kamu menatapku terus?”
Alex membalikkan badannya, lalu berkata sambil membelakanginya, “Cepat ganti, ngak usah banyak ngomong.”
Di saat Astrid berganti pakaian, Alex sungguh tidak menoleh sedikitpun.
__ADS_1
Selesai berganti pakaian, Astrid menyentuh sesuatu di dalam saku bajunya dan tiba-tiba menepiskan tangan ke arah Alex!
Syut! Entah dari mana Alex mendapatkan sebuah papan kayu, dia menggunakannya sebagai tameng, gerakannya sangat akurat.
Kertas yang dilempar Astrid barusan tentu saja tidak dapat menembus papan kayu, jadi kertas itupun berhenti tepat saat menyentuh papan dan terbakar menjadi abu.
Klak! Alex membuang papan kayu tersebut dengan sembarangan, lalu mendekati Astrid dengan marah, “Beraninya mencelakaiku!”
Astrid langsung ketakutan setengah mati, “Ampun! Ampuni aku! Yang kupakai tadi cuma Ilmu Penyelamat Diri, sebenarnya aku bisa kabur, tapi kertas itu tidak mengenaimu tadi, jadi aku juga tidak bisa kabur.”
“Ilmu Penyelamat Diri? Apa bahayanya kalau kena?” tanya Alex sambil menahan emosinya.
Astrid berkata, “Pamanku pernah bilang kalau ngak terlalu bahaya, paling-paling orang yang kena akan langsung pingsan, terus aku bisa kabur ke suatu tempat, benar-benar ajaib ‘kan.”
Amarah Alex semakin meluap, “Maksudku, apa yang akan terjadi pada orang yang kena!”
Astrid mengedipkan matanya, lalu berkata, “Ya pingsanlah.”
Alex benar-benar hampir meledak, “Lalu? Kapan bangunnya?”
“Uhm, pertanyaanmu terlalu rumit, aku benar-benar ngak tahu. Kak, nanti kamu tanyakan saja pada Pamanku.” Astrid sungguh-sungguh takut pada Alex, karena dia merasakan aura yang membuatnya takut dari sosok Alex.
Di hadapan Alex, dia awalnya mengira Alex akan membunuhnya.
Melihat Alex tidak berniat membunuhnya, barulah dia bisa tenang, lalu berdiam diri di sudut dan tidak berani lagi berbicara.
Di luar jendela adalah langit malam yang tak terlihat ujung nya, Alex menanti kedatangan Larry dengan sangat gelisah.
“As, mana Alex?” saat suara Larry terdengar, Astrid langsung bergegas bangun. Namun, begitu dia melihat mata Alex, dia kembali terdiam.
Alex berkata, “Beritahu dia!”
“Paman! Aku di kamar lantai 3! Cepat selamatkan aku!” teriak Astrid.
“Oke!” Larry terlalu sombong, sampai-sampai dia merasa kekuatannya lebih dari cukup untuk menghadapi Alex yang hanya seorang pemuda dari luar kota.
Setiap langkahnya sangat pasti, selangkah demi selangkah dia berjalan ke lantai 3, dia memakai jubah pria berwarna lilac dengan rambutnya yang panjang, serta sikapnya yang agung. Setelah muncul di lorong lantai 3, dia pun berteriak, “Alex, keluarlah! Orang yang kamu cari adalah aku, bukan Astrid!”
Klak! Pintu kamar terbuka, Alex muncul seorang diri tanpa membawa Astrid.
“Paman! Akhirnya kamu datang juga!” Astrid berlari keluar dari belakang Alex langsung menuju ke Larry.
Alex dapat mengetahui kalau Larry sudah berumur sekitar 60 tahun, tapi memang dia masih punya aura yang luar biasa. Namun, kasih sayang pada saat dia melihat Astrid justru terdapat hal yang tidak seharusnya ada.
“As, dia ngak ngapa-ngapain kamu ‘kan?” dia berkata sambil merangkul Astrid, Larry menatap Alex dengan tatapan tajam.
“Paman, dia menamparku 2 kali, terus mau melecehkanku, untung saja aku memberontak, kalau ngak habislah.” ujar Astrid manja sambil memeluk Larry erat-erat, dan juga disisipkan dengan kebohongan.
“Beraninya kamu!” ujar Larry sambil melotot, “Kalau kamu bersujud minta ampun sekarang, aku akan berbaik hati untuk tidak membunuhmu.”
“Konyol sekali!”, Alex menatap Larry dengan marah, “Muridmu Ehsan mencelakai Manager kami, kudengar dia menggunakan racun penta. Setelah itu aku mencarinya, lalu dia menggunakan Ilmu Penyelamat Diri untuk melukai rekanku. Sekarang dia sudah kabur, jadi aku hanya bisa datang mencarimu selaku Gurunya untuk meminta keadilan.”
Sebenarnya, Larry terus mendeteksi aura Alex, dengan ketajaman inderanya selama bertahun-tahun, meskipun dia merasakan aura yang sangat kuat dari sosok Alex, tapi auranya tidak menentu, hal ini membuatnya bingung: Apa jangan-jangan kekuatan anak ini sudah melebihiku? Mana mungkin?
Kekuatan Larry juga merupakan yang terhebat di dalam Aliran Elang saat ini, kalau ingin membandingkan tingkatan ilmu bela diri, maka setidaknya dia sudah berada di tingkat master.
Oleh karena itu, dia begitu percaya diri dapat menundukkan Alex.
“Heh, Ehsan hanya pakai racun penta?” ujar Larry sambil tersenyum tipis, “MInta keadilan? Nak, kita bicarakan nanti kalau nyawamu masih selamat!”
Dia mendorong Astrid ke samping, lalu berkata, “As, minggir dulu. Aku akan memberi anak tidak tahu diuntung ini pelajaran.”
Adil? Apa anggota keluarga Mahari perlu membicarakan keadilan dengan orang lain? Mereka selalu menggunakan kekuasaan untuk menekan orang!
Astrid mencium wajah Larry, lalu berkata, “Paman, kamu harus memotongnya jadi ratusan bagian, lalu beri makan anjing!”
__ADS_1
“Oke! Aku akan mengabulkan permintaan Astrid sayang.” Larry melangkah maju dengan pelan, “Nak, ayo!”