
Richard mengangguk, “Buruan! Kalian harus menjaga ketat di berbagai pintu tempat hiburan! Jika ketemu jejak mereka, maka jangan turun tangan dulu, kalian harus menemukan tempat mereka bersembunyi terlebih dahulu! Lalu habisi mereka semua!”
“Baik! Tuan Richard tenang saja!” jawab Rafatar dengan lantang, tiba-tiba dia berkata dengan senang, “Tuan Richard, ada satu kabar baik.”
“Oh? Apa itu?” Richard tercengang.
Rafatar menjawab, “Tuan Stevanus akan kembali dari luar negeri.”
“Hm? Bukankah dia bergabung dengan Korps Marinir di Negara M? Sudah lima tahun nggak ada kabarnya, kenapa dia tiba-tiba kembali?” Richard tercengang sejenak, lalu tersenyum senang, “Bocah ini pasti semakin kekar setelah berlatih lama di Korps Marinir, ‘kan?”
“Iya, Tuan Stevanus nggak kembali sendirian, melainkan juga membawa satu timnya yang terdiri dari 20 orang, mereka semua adalah prajurit terbaik di militer,” kata Rafatar dengan senang.
“Bagus sekali! Pas sekali dia bisa membantuku melawan Dakson!” Seru Richard penuh harapan.
Harus dikatakan kalau kulit Stevanus memang jadi lebih hitam, tapi kegantengannya itu tidak bisa dipalsukan oleh putra orang kaya biasa. Terutama sikap kepahlawanannya yang bisa membuat semua pria di kota Tomohon menghela napas.
“Ayah!” panggil Stevanus setelah melihat Richard, lalu dia berkata dengan sedih, “Yah… Anda sudah tua.”
Richard menyambutnya dengan senyuman, lalu meninju dada Stevanus, “Nak, semakin kekar saja kau! Tampaknya kehidupanmu selama ini sangat baik! Sudah lima tahu kamu nggak menghubungiku.”
Stevanus berkata dengan nada meminta maaf, “Ayah, kami terus melaksanakan misi, jadi saat itu nggak boleh berkomunikasi dengan dunia luar. Ini adalah peraturan kami.”
“Iya, aku mengerti! Baguslah kalau sudah pulang! Cepat makan dulu, lalu istirahat. Besok masih ada hal yang perlu kamu lakukan!” Richard tersenyum.
Stevanus berkata, “Aku sudah tahu kalau Dakson datang ke Tomohon, mereka datang untuk melawanmu, kan? Hmm, menurutku mereka itu benar-benar nggak tahu diri!”
Richard melambaikan tangan sambil berkata, “Nanti saja kita bicarakan ini, kamu makan dan istirahat saja dulu! Hal sepenting apapun tidak sepenting makan sampai kenyang!”
Alhasil, ketika Stevanus sedang makan, Richard yang duduk di sampingnya terus menatapnya seperti tidak pernah melihat Stevanus makan.
“Yah, jangan liatin lagi. Jika terus begini, aku nggak bisa makan!” Stevanus tersenyum tak berdaya, “Teman-temanku juga akan menertawaiku!”
Total mereka ada 20 orang, jadi skalanya cukup besar. Saat mereka semua makan bersama, pemandangannya terlihat sangat mengejutkan.
__ADS_1
Hal terpenting adalah 20 orang ini adalah tentara dari berbagai negara.
“Stev, ayahmu adalah ayah yang baik,” kata seorang pria berkulit putih.
Stevanus pun tertawa, “Turbo, ucapanmu memang benar! Ayahku memang begini, terlalu memanjakanku. Kalau gak, aku nggak akan bersikeras ingin menjadi seorang prajurit di Korps Marinir.”
“Stev, kamu adalah prajurit terhebat di Korps Marinir dalam lima tahun belakangan!” Turbo mengacungkan jempol pada Stevanus dan juga Richard, lalu berkata. “Terima kasih telah mendidik putra dan prajurit sebaik ini untuk Korps Marinir.”
“Ah, jangan berkata begitu,” kata Richard dengan sungkan.
Stevanus memelototinya, “Turbo, jangan asal ngomong.”
Turbo menggeleng, “Yang aku katakan memang kenyataan. Mana ada asal ngomong? Letnan Kolonel Stevanus, kamu memang seorang prajurit yang sangat baik, apa kamu nggak berpikir begitu?”
Dia menunjuk hidungnya sendiri dan berkata, “Aku sudah mengabdi pada Korps Marinir selama empat tahun, tapi sekarang aku hanya seorang letnan.”
“Iya, di Korps Marinir ada aturan nggak tertulis, yaitu pangkat setiap orang diakumulasikan melalui kemenangan peperangan.”
“Stevanus memang pemberani dan sangat hebat, mau itu pertempuran atau keterampilan militernya, dia adalah panutan terbaik bagi kami!”
Semua orang segera menutup mulut setelah dimarahi olehnya.
Turbo dengan cepat menghabiskan makanannya, lalu menyeka mulut dan berdiri, “Tuan Richard, Stevanus sengaja membawa kami kembali untuk membantu karena tahu Anda sedang menangani masalah yang sulit diatasi. Jadi, kami sama sekali nggak perlu beristirahat! Asal Anda memerintah, maka kami akan segera mulai bekerja.”
Stevanus mengangguk, “Ayah, sudah lihat, ‘kan? Teman seperjuanganku ini semuanya nggak sabaran!”
Richard tertawa, “Sikap tentara memang lugas.”
Dia melihat ke arah Rafatar, “Rafatar, karena Stevanus dan temannya nggak butuh waktu istirahat, maka kamu segera beri mereka misi saja!”
Rafatar mengangguk, “Kedatangan Tuan Stevanus memang tepat waktu, sekarang kami berada dalam situasi ditekan oleh dua pihak, bisa dikatakan kalau situasi kami serba salah. Jadi, kuharap tuan bisa membantu kami untuk menyerang para pembuat onar itu.”
“Oke! Semua saudaraku akan mendengar arahan Kak Rafatar!” kata Stevanus dengan tegas setelah selesai makan.
__ADS_1
Turbo tertawa, “Hahaha, akhirnya bisa bertarung lagi!”
Malam harinya, Stevanus membagi 20 orang yang dia bawa menjadi 5 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat orang, lalu tugas mereka adalah berjaga di dalam toko di seberang lima tempat hiburan dan menunggu kedatangan musuh.
Akhirnya pada pukul 21.00, musuh pun muncul!
Setelah masing-masing 2 orang berkulit putih dan hitam tiba di depan KTV, mereka pun menunjuk sana sini seperti sedang mendiskusikan sesuatu.
Tak lama kemudian, seorang tamu keluar dari dalam, lalu kedua orang berkulit hitam itu menghadang mereka, kemudian menampar mereka, dan membuka semua pakaian mereka!
Lalu mereka melemparkan pakaian itu ke jalanan, tetapi mereka berempat tidak terburu-buru untuk melarikan diri, melainkan merasa tindakan ini belumlah cukup.
“Maaf tuan-tuan, sudah mengganggu kalian.” Bahasa Inggris yang lancar mengejutkan keempat orang itu.
Kebetulan Stevanus dan ketiga rekannya berjaga di sini dan bahasa Inggris Stevanus sangat baik.
“Huh!” Kedua pria berkulit putih itu langsung meninju Stevanus.
Stevanus adalah murid Dodo si Raja Kaki Utara sebelum dia berusia 22 tahun! Yang dipelajarinya adalah seni bela diri yang diturunkan dari Raja Kaki Utara secara langsung!
Oleh karena itu, Stevanus hanya mengejek ketika kedua pria kulit putih itu meninjunya, sedangkan ketiga rekannya hanya melihat dan nggak bermaksud untuk membantunya.
Syut! Kaki kanan Stevanus seperti pegas, lalu dia melompat sangat tinggi!
Kemudian, saat tinju kedua pria berkulit putih itu hendak mengenai kakinya, Stevanus yang sedang berdiri dengan satu kaki tiba-tiba meringkuk dan merentangkan kaki kanannya. Duk duk!
Bisa-bisanya Stevanus menggunakan kaki untuk menampar wajah kedua pria berkulit putih itu secara langsung!
“Ukh!” Kedua orang berkulit putih itu menjadi pusing ketika wajahnya ditendang.
Setelah kedua pria berkulit putih itu sadar, mereka pun terus meninju Stevanus!
Stevanus tiba-tiba melompat, sosoknya mengubah gerakan di udara, kakinya tiba-tiba membentang di udara, satu kiri dan satu kanan. Lalu menendang kepala masing-masing pria berkulit putih secara akurat!
__ADS_1
“Ah!” Kedua pria berkulit putih ditendang hingga pingsan dan tergeletak di tanah!